Langsung ke konten utama

Dunia itu sempit?

 

DUNIA TERNYATA SEMPIT

Tentang Pertemuan yang Tak Sengaja, Lingkaran yang Saling Terhubung, dan Doa Orang-Orang yang Mungkin Masih Menjaga Kita

Pernah nggak, kamu bertemu seseorang yang baru dikenal, ngobrol ke sana kemari, lalu tiba-tiba menemukan satu titik yang sama?

“Lho, kamu kenal si A?”

“Kenal dong! Dia teman saya.”

“Lho, si A itu adik saya!”

“Serius? Kakaknya si A itu teman kerja bapak saya dulu!”

Lalu percakapan yang awalnya biasa saja mendadak berubah menjadi sesi investigasi silsilah pertemanan. Nama demi nama disebut. Tempat demi tempat dicocokkan. Tahun demi tahun ditarik mundur. Sampai akhirnya, kita semua tertawa karena merasa sedang menyusun kepingan puzzle yang ternyata sudah lama berada di dalam satu kotak yang sama.

Aneh, ya. Dunia ini rasanya luas sekali ketika kita ingin pergi jauh, mencari pengalaman baru, merantau ke kota lain, atau bekerja di tempat yang belum pernah kita kunjungi. Tetapi, begitu berurusan dengan manusia, dunia mendadak terasa seperti kampung kecil yang semua penghuninya punya hubungan dengan penghuni lain.

Kadang hanya satu jabat tangan yang memisahkan kita dari seseorang yang ternyata sudah lama berada di lingkaran kehidupan kita.


Bayangkan begini.

Kita bertemu seseorang di sebuah proyek, entah di tengah panasnya lapangan, di ruang rapat, atau ketika sama-sama menunggu kopi di kantin. Awalnya hanya saling menyapa, bertukar nama, membicarakan pekerjaan, lalu perlahan menjadi akrab.

Beberapa waktu kemudian, obrolan melebar ke urusan keluarga.

“Bapakmu dulu kerja di mana?”

Disebutlah sebuah perusahaan.

“Wah, bapak saya juga pernah kerja di sana! Jangan-jangan kenal sama Pak Budi?”

Ternyata kenal.

Bukan cuma kenal. Mereka pernah satu tim, pernah mengerjakan proyek yang sama, bahkan mungkin pernah makan siang bersama di warung sederhana yang sekarang sudah tidak ada.

Lalu kita berpikir, jangan-jangan dulu bapak kita pernah duduk satu meja, saling berbagi cerita tentang keluarga, pekerjaan, dan anak-anak mereka yang masih kecil.

Anak-anak itu sekarang sudah dewasa. Bertemu di tempat yang berbeda, dalam situasi yang sama sekali tidak direncanakan, tanpa pernah tahu bahwa kehidupan orang tua mereka pernah bersinggungan jauh sebelum mereka saling mengenal.

Lucunya, kita mungkin sudah bertahun-tahun berusaha membangun relasi sendiri, mengikuti berbagai pertemuan, memperluas jaringan, dan mengumpulkan kenalan. Padahal, sebagian jalan menuju orang-orang itu ternyata sudah dibuka oleh generasi sebelum kita.

Kita hanya meneruskan perjalanan di atas jejak yang tidak kita ketahui.


Ada juga cerita yang lebih ajaib.

Kita merantau jauh dari rumah. Kota berbeda, lingkungan berbeda, bahkan logat bicara orang-orangnya pun berbeda. Kita merasa sudah benar-benar keluar dari lingkaran pergaulan lama.

Sampai suatu hari, di kota yang jaraknya ratusan kilometer dari rumah, kita bertemu teman lama.

“Eh, kamu di sini juga?”

Mulailah nostalgia. Mengingat masa sekolah, teman-teman yang sudah lama tak terdengar kabarnya, guru yang galak tetapi ternyata dirindukan, sampai cerita-cerita konyol yang seharusnya sudah pensiun dari ingatan.

Belum selesai tertawa, muncul lagi fakta lain.

“Lho, ternyata kamu kenal juga sama orang ini?”

“Iya. Dia tetangga saya dulu.”

“Lah, rumahnya kan dekat rumah nenek saya!”

Dan begitulah. Pertemuan yang tadinya terasa kebetulan berubah menjadi lorong panjang menuju masa lalu.

Tiba-tiba kita sadar bahwa jarak geografis tidak selalu berarti jarak sosial. Kita bisa berada jauh dari rumah, tetapi tetap dikelilingi oleh orang-orang yang terhubung dengan rumah itu melalui banyak jalan yang tidak terlihat.

Seolah-olah dunia ini memiliki jaringan rahasia yang tidak tercatat di Google Maps, LinkedIn, atau buku alamat mana pun.

Tidak ada garis yang bisa kita lihat. Tidak ada petunjuk yang bisa kita baca. Tetapi ketika waktunya tiba, satu nama membuka pintu ke nama yang lain, satu cerita menyambungkan cerita berikutnya, dan satu pertemuan mengungkap hubungan yang selama ini tersembunyi.


Yang lebih menarik, hubungan itu ternyata tidak berhenti pada teman sebaya.

Kadang kita berteman dengan seseorang, lalu mengetahui bahwa kakaknya adalah teman kerja bapak kita.

Atau bertemu rekan proyek yang ternyata teman kuliah adik kita.

Atau mengenal tetangga baru yang ternyata dahulu pernah menjadi murid guru sekolah kita.

Bahkan bisa jadi, orang yang hari ini membantu kita dalam suatu kesulitan ternyata pernah dibantu oleh orang tua kita puluhan tahun yang lalu.

Kita tidak tahu ceritanya. Kita tidak menyaksikan kejadiannya. Kita bahkan mungkin belum lahir ketika kebaikan itu terjadi.

Namun, entah bagaimana, kehidupan mempertemukan kita kembali dengan orang yang berada dalam lingkaran cerita yang sama.

Di titik itu, kita mulai bertanya-tanya: apakah ini benar-benar kebetulan?

Atau jangan-jangan, kehidupan memang bekerja dengan cara yang jauh lebih rumit sekaligus lebih indah daripada yang mampu kita pahami?

Kita sering menganggap pertemuan sebagai sesuatu yang sederhana. Bertemu karena satu kantor, satu proyek, satu lingkungan, atau satu kepentingan. Padahal, di balik pertemuan itu mungkin ada puluhan tahun sejarah keluarga, persahabatan, pengorbanan, dan kebaikan yang saling bersilang.

Kita hanya melihat satu bab. Padahal, ceritanya sudah dimulai jauh sebelum kita membuka halaman pertama.


Lalu, muncul pertanyaan yang lebih dalam.

Apakah Tuhan memang sudah menggariskan agar kita dikelilingi oleh orang-orang baik?

Apakah orang-orang yang kita temui hari ini sebenarnya merupakan bagian dari perjalanan yang telah dipersiapkan untuk kita, meskipun kita sendiri tidak pernah tahu ke mana arah perjalanan itu?

Kita tidak pernah benar-benar tahu.

Mungkin ada pertemuan yang memang sudah menjadi bagian dari takdir. Mungkin ada pula pertemuan yang terjadi karena pilihan-pilihan kecil yang kita ambil sepanjang hidup. Kita memilih datang ke suatu tempat, menerima suatu pekerjaan, menyapa seseorang, atau sekadar duduk di meja yang kebetulan sama.

Namun, bukankah menarik jika takdir dan ikhtiar ternyata tidak harus saling meniadakan?

Boleh jadi, Tuhan memberi kita jalan, sementara kita sendiri yang melangkah. Tuhan mempertemukan, tetapi kita yang memilih untuk menyapa. Tuhan membuka kesempatan, tetapi kita yang menentukan apakah akan menjadikannya persahabatan atau sekadar perkenalan.

Dan mungkin, yang paling penting bukanlah apakah setiap pertemuan sudah ditentukan sejak awal, melainkan apa yang kita lakukan setelah pertemuan itu terjadi.

Sebab tidak semua orang yang kita temui akan menjadi orang baik bagi kita. Tidak semua hubungan harus dipertahankan. Tetapi di antara begitu banyak wajah yang melintas dalam hidup, selalu ada orang-orang yang kehadirannya terasa seperti pertolongan yang datang tepat waktu.

Mereka muncul ketika kita sedang membutuhkan teman bicara.

Mereka membantu ketika kita sedang kesulitan, tanpa banyak bertanya.

Mereka memberi kesempatan ketika pintu lain tertutup.

Atau mereka sekadar hadir, mengingatkan kita bahwa kita tidak sendirian menghadapi kehidupan yang kadang terasa melelahkan.

Dan sesekali, ketika kita menelusuri asal-usul hubungan itu, ternyata ada benang merah yang membawa kita kembali kepada orang tua, kakek-nenek, guru, atau seseorang yang pernah berbuat baik kepada keluarga kita.

Di situlah hati mulai terasa hangat.


Pernahkah kita berpikir bahwa mungkin, sebagian perlindungan yang kita rasakan hari ini bukan hanya berasal dari apa yang kita lakukan sendiri?

Mungkin ada doa ibu yang dipanjatkan diam-diam ketika kita masih kecil.

Mungkin ada harapan bapak yang diselipkan dalam sujudnya, agar kelak anaknya bertemu orang-orang yang baik, dijauhkan dari bahaya, dan diberi jalan ketika menghadapi kesulitan.

Mungkin ada doa kakek dan nenek yang namanya bahkan sudah lama tidak kita sebut dalam percakapan sehari-hari.

Dan mungkin, ada guru-guru kita yang dahulu pernah menatap kita dengan penuh harapan, lalu mendoakan agar murid-muridnya tumbuh menjadi manusia yang bermanfaat.

Kita mungkin sudah lupa wajah beberapa dari mereka. Kita mungkin bahkan tidak pernah tahu apa yang mereka doakan.

Tetapi, bagaimana jika sebagian kebaikan yang kita temui sepanjang perjalanan hidup ini adalah cara kehidupan mengingatkan kita bahwa kita pernah didoakan?

Bukan berarti setiap orang yang kita temui pasti hadir karena doa seseorang. Kita tidak mungkin mengetahui rahasia Tuhan sedetail itu.

Namun, bukankah doa memang memiliki cara kerja yang sering kali tidak kita pahami?

Barangkali doa tidak selalu membuat hidup kita bebas dari masalah. Barangkali doa tidak selalu menghindarkan kita dari kegagalan, kehilangan, atau perpisahan.

Bisa jadi, doa bekerja dengan cara yang lebih sederhana: ketika masalah datang, ada seseorang yang kebetulan mengenal seseorang yang bisa membantu kita. Ketika kita kehilangan arah, ada teman lama yang muncul membawa kabar baik. Ketika kita merasa sendirian di tempat yang asing, ternyata ada orang yang mengenal keluarga kita dan membuat tempat asing itu terasa sedikit lebih seperti rumah.

Apakah itu jawaban dari doa?

Kita tidak tahu.

Tetapi kita boleh bersyukur.

Sebab ada hal-hal yang tidak perlu kita pahami seluruh rahasianya untuk bisa merasakan keindahannya.


Coba pikirkan juga orang-orang yang pernah kita temui sepanjang hidup.

Teman sekolah yang sekarang menjadi rekan bisnis seseorang yang kita kenal.

Tetangga lama yang ternyata merupakan kerabat dari teman kantor kita.

Sahabat orang tua yang dahulu sering datang ke rumah, lalu bertahun-tahun kemudian kita temui lagi dalam urusan pekerjaan.

Guru yang pernah mengajarkan kita kejujuran, yang ternyata pernah mengajar pula orang yang hari ini menjadi atasan kita.

Atau seseorang yang dahulu pernah ditolong keluarga kita, dan kini tanpa sengaja menjadi orang yang menolong kita.

Jika kita tarik semua benangnya, mungkin akan terlihat bahwa hidup kita bukanlah perjalanan yang sepenuhnya kita tempuh sendirian.

Ada banyak tangan yang pernah ikut membentuk jalan itu. Sebagian kita kenal, sebagian lainnya tidak. Ada yang jasanya kita ingat, ada yang kebaikannya sudah lama terlupakan, dan ada pula yang bahkan tidak pernah kita ketahui.

Kita tumbuh dengan bantuan banyak orang, sering kali tanpa menyadarinya.

Itulah mengapa sesekali kita perlu berhenti sejenak dari kesibukan mengejar pencapaian, mengumpulkan harta, membangun karier, dan memperluas jaringan.

Sebab pada akhirnya, yang membuat hidup terasa kaya bukan hanya berapa banyak orang yang mengenal kita, tetapi berapa banyak kebaikan yang saling terhubung melalui kehidupan kita.

Jaringan profesional bisa dibangun melalui pertemuan dan kepentingan. Namun, hubungan antarmanusia yang bertahan lintas generasi biasanya memiliki sesuatu yang lebih dalam: kepercayaan, kenangan, rasa hormat, dan kebaikan yang diwariskan tanpa pernah ditulis dalam surat wasiat.

Mungkin itulah warisan yang paling sering kita lupakan.

Bukan hanya rumah, tanah, nama keluarga, atau harta benda.

Melainkan reputasi baik yang ditinggalkan orang-orang sebelum kita.

Sebuah nama yang ketika disebut, orang lain tersenyum dan berkata, “Oh, saya kenal keluarganya. Orang baik mereka.”

Bayangkan jika suatu hari anak kita bertemu seseorang di tempat yang jauh, lalu orang itu berkata, “Kamu anaknya siapa? Wah, bapakmu dulu teman baik saya.”

Atau cucu kita bertemu seseorang yang belum pernah dikenalnya, tetapi ternyata orang tersebut pernah menerima kebaikan dari kakek atau neneknya.

Alangkah indahnya jika nama kita kelak menjadi alasan seseorang bersedia membantu anak-anak kita, bukan karena mereka berutang apa pun, melainkan karena dahulu kita pernah meninggalkan kesan baik dalam hidup mereka.

Mungkin itulah salah satu bentuk warisan yang paling bernilai: kebaikan yang tetap berjalan, bahkan ketika kita sendiri sudah tidak lagi berada di sana.


Jadi, apakah dunia memang sempit?

Mungkin bukan dunia yang sempit.

Mungkin kita saja yang selama ini mengira bahwa setiap orang menjalani kehidupannya masing-masing, dengan lingkaran pertemanan yang terpisah-pisah dan cerita keluarga yang tidak saling bersinggungan.

Padahal, jika ditelusuri lebih jauh, kehidupan manusia sering kali seperti anyaman. Satu benang melewati benang lain, bersilangan, menguatkan, lalu membentuk pola yang baru terlihat ketika kita mengambil jarak.

Hari ini kita mengenal seseorang sebagai teman.

Besok kita mengetahui bahwa ia adalah sahabat dari sahabat kita.

Lusa kita tahu bahwa orang tuanya pernah bekerja bersama orang tua kita.

Dan beberapa tahun kemudian, mungkin kita baru memahami bahwa pertemuan itu telah membawa kita ke sebuah kesempatan, persahabatan, atau pertolongan yang mengubah hidup kita.

Kita tertawa sambil berkata, “Dunia memang sempit, ya!”

Namun, setelah tawanya reda, barangkali ada baiknya kita bertanya lebih jauh.

Siapa tahu, orang yang sekarang duduk di sebelah kita bukan sekadar orang asing yang kebetulan hadir.

Siapa tahu, ia terhubung dengan cerita panjang yang sudah dimulai jauh sebelum kita mengenalnya.

Siapa tahu, suatu hari nanti, kita justru menjadi penghubung yang mempertemukan dua orang lain, membuka jalan bagi seseorang, atau menjadi alasan orang lain merasa tidak sendirian.

Sebab kita tidak hanya menerima kebaikan dari kehidupan. Kita juga memiliki kesempatan untuk meneruskannya.

Dan mungkin, di situlah makna terindah dari semua pertemuan ini.

Bukan sekadar menemukan bahwa kita saling mengenal orang yang sama.

Melainkan menyadari bahwa kita semua memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari cerita baik orang lain.


Maka, jika suatu hari nanti kita kembali bertemu seseorang di tempat yang sama sekali tidak kita duga, lalu menemukan bahwa ia mengenal teman kita, keluarga kita, atau bahkan guru kita dahulu, jangan buru-buru menganggapnya sebagai kebetulan yang lucu semata.

Nikmati ceritanya. Dengarkan bagaimana jalan hidup kalian ternyata pernah bersinggungan tanpa disadari.

Lalu, ingatlah orang-orang yang telah lebih dahulu berjalan sebelum kita: orang tua yang membesarkan kita, kakek-nenek yang mewariskan nilai kehidupan, guru yang mendidik kita, dan siapa pun yang pernah menyelipkan nama kita dalam doa mereka.

Mungkin kita tidak akan pernah tahu berapa banyak doa yang telah dipanjatkan untuk kita.

Mungkin kita tidak akan pernah tahu berapa banyak pintu yang terbuka karena kebaikan orang-orang yang datang sebelum kita.

Tetapi kita selalu bisa memilih untuk menghargai semuanya.

Dengan menjaga hubungan baik.

Dengan tidak meremehkan orang lain.

Dengan menolong tanpa selalu menghitung untung-rugi.

Dengan menjaga nama baik keluarga.

Dan dengan menjadi manusia yang kehadirannya membawa ketenangan, bukan kesulitan, bagi orang lain.

Sebab siapa tahu, bertahun-tahun dari sekarang, seseorang akan bertemu dengan anak kita di sebuah proyek, di kota yang jauh, atau di tempat yang tidak pernah kita bayangkan.

Lalu ia akan berkata,

“Eh, kamu anaknya si Budi, ya? Wah, bapakmu dulu orang baik. Saya kenal beliau.”

Dan anak kita akan tersenyum, mungkin dengan sedikit bangga, mungkin juga dengan haru.

Pada saat itu, kita mungkin sudah tidak ada di sana.

Tetapi kebaikan kita masih berjalan.

Nama kita masih menyambung cerita.

Dan orang-orang yang dahulu pernah kita temui, kita bantu, atau kita sayangi, masih menjadi bagian dari perjalanan keluarga kita.

Mungkin dunia memang tidak sesempit yang kita kira. Mungkin yang begitu luas justru hubungan antarmanusia, yang diam-diam saling terhubung oleh waktu, kebaikan, kenangan, dan doa.

Dan mungkin, tanpa kita sadari, selama ini kita tidak pernah benar-benar berjalan sendirian.

Kita hanya sedang menempuh jalan panjang yang telah lebih dahulu dilalui oleh doa orang tua, nasihat guru, kasih sayang keluarga, dan kebaikan orang-orang yang pernah hadir dalam hidup kita.

Siapa tahu, itulah sebabnya di banyak persimpangan kehidupan, selalu ada seseorang yang datang untuk membantu kita melanjutkan perjalanan.

Bukan karena kita mengenalnya sejak lama.

Melainkan karena, entah bagaimana, kehidupan telah membuat jalan kita saling bertemu.

Dan ketika semua itu terjadi, mungkin yang paling pantas kita ucapkan bukan hanya, “Dunia ternyata sempit, ya.”

Melainkan:

“Terima kasih, Tuhan, karena melalui begitu banyak jalan yang tidak kupahami, Engkau masih mempertemukanku dengan orang-orang baik.”

Lalu, semoga suatu hari nanti, ketika giliran kita menjadi bagian dari perjalanan orang lain, kita pun pantas disebut sebagai salah satu orang baik yang pernah mereka temui.


Tentu. Teori Small World sebenarnya jauh lebih dalam daripada sekadar ungkapan "dunia ini sempit". Teori ini adalah salah satu fondasi penting dalam network science (ilmu jaringan) yang digunakan untuk memahami hubungan manusia, internet, penyebaran informasi, bahkan epidemi.

Inti Teorinya

Bayangkan setiap manusia adalah sebuah titik (node).

Setiap hubungan:

  • teman,
  • keluarga,
  • rekan kerja,
  • alumni sekolah,

adalah garis penghubung (edge).

Maka seluruh umat manusia membentuk jaringan raksasa.

Yang mengejutkan adalah:

Meskipun jumlah manusia miliaran, jarak sosial antar manusia ternyata sangat pendek.

Inilah yang disebut fenomena small world.


Eksperimen Stanley Milgram

Pada tahun 1967, psikolog Stanley Milgram melakukan eksperimen terkenal yang kemudian melahirkan istilah:

"Six Degrees of Separation"

Metodenya sederhana:

  • Sejumlah orang di berbagai kota diberi surat.
  • Mereka harus mengirim surat ke seseorang yang tidak mereka kenal.
  • Surat hanya boleh diteruskan kepada orang yang dikenal secara pribadi dan dianggap lebih dekat dengan target.

Hasilnya mengejutkan.

Rata-rata surat yang berhasil sampai hanya melewati sekitar 6 orang.

Dari sinilah lahir ide bahwa:

Hampir semua orang di dunia terhubung melalui sekitar 6 langkah hubungan sosial.

Meski angka "6" bukan hukum pasti, konsep dasarnya tetap relevan sampai sekarang.


Mengapa Dunia Terasa Sempit?

Misalkan:

Anda kenal 300 orang.

Masing-masing kenal 300 orang lagi.

Tingkat pertama:

Anda
↓
300 orang

Tingkat kedua:

300 x 300 = 90.000 orang

Tingkat ketiga:

90.000 x 300
= 27 juta orang

Dalam hanya 3 langkah hubungan, secara teoritis jaringan sudah sangat besar.

Karena itulah sering terjadi:

Anda
 ↓
teman kuliah
 ↓
sepupunya
 ↓
orang yang baru dikenalkan

Lalu ternyata:

orang itu adalah tetangga lama ayah Anda.

Yang terasa sebagai keajaiban sebenarnya adalah akibat sifat jaringan manusia yang sangat rapat.


Kekuatan "Weak Ties"

Ini bagian yang paling menarik.

Sosiolog Mark Granovetter menemukan bahwa hubungan yang paling berpengaruh sering bukan sahabat dekat, tetapi kenalan biasa.

Ada dua jenis hubungan:

Strong Ties

Hubungan kuat:

  • keluarga
  • sahabat
  • pasangan
  • teman dekat

Weak Ties

Hubungan lemah:

  • mantan rekan kerja
  • teman komunitas
  • teman teman
  • kenalan seminar

Justru hubungan lemah inilah yang menghubungkan dunia yang berbeda.

Contoh:

Keluarga Anda
      │
      │
   Anda
      │
Teman SMA
      │
Teman kantornya
      │
Kota lain
      │
Komunitas lain

Satu kenalan biasa bisa membuka akses ke ribuan orang yang tidak ada dalam lingkaran sosial Anda.

Karena itu banyak lowongan kerja, peluang bisnis, atau pertemanan baru datang dari kenalan yang tidak terlalu dekat.


Struktur Jaringan Manusia

Jaringan sosial biasanya membentuk "cluster".

Misalnya:

[Keluarga]
    \
     \
    Anda -------- [Kantor]
       \
        \
      [Komunitas]

Di dalam cluster:

  • semua orang saling mengenal.

Tetapi ada beberapa orang yang berfungsi sebagai bridge (jembatan).

Contoh:

Teman kantor yang aktif di komunitas motor.

Ia menghubungkan:

kantor ↔ komunitas motor

Satu orang seperti ini dapat memperpendek jarak antara dua kelompok yang sebelumnya tidak saling mengenal.


Mengapa Pertemuan Tak Terduga Sering Terjadi?

Misalnya Anda:

  • pergi ke Makassar,
  • bertemu seseorang di hotel,
  • ngobrol santai,
  • ternyata dia pernah bekerja dengan paman Anda.

Perasaan kita:

"Luar biasa, kebetulan sekali!"

Padahal secara jaringan:

Anda
 ↓
Paman
 ↓
Perusahaan
 ↓
Karyawan
 ↓
Orang yang ditemui

Ternyata jaraknya hanya 4 langkah.

Masalahnya kita baru menyadari jalur itu setelah percakapan terjadi.


Small World dan Internet

Internet adalah contoh jaringan small world yang sangat kuat.

Contoh:

Anda posting foto.

Teman melihat.

Teman membagikan.

Dilihat orang lain.

Dalam hitungan jam bisa dilihat jutaan orang.

Mengapa?

Karena jaringan manusia tidak tersebar secara acak.

Ada banyak "hub" atau simpul besar.

Contoh:

  • influencer
  • tokoh masyarakat
  • komunitas besar
  • grup WhatsApp besar

Satu hub mampu menghubungkan ribuan hingga jutaan orang.


Apakah Ini Berarti Tidak Ada Kebetulan?

Nah, ini wilayah yang menarik.

Dari sudut ilmu jaringan:

Peristiwa itu bukan mukjizat statistik.

Jaringan manusia memang membuat pertemuan tak terduga menjadi cukup mungkin.

Dari sudut psikologi dan filsafat:

Manusia memberi makna pada pertemuan tersebut.

Misalnya:

  • bertemu teman lama saat sedang mengalami masalah hidup,
  • bertemu seseorang yang kemudian mengubah karier,
  • bertemu pasangan hidup secara tidak sengaja.

Secara statistik mungkin dapat dijelaskan.

Tetapi makna yang lahir dari pertemuan itu adalah sesuatu yang berbeda.


Analogi yang Saya Sukai

Bayangkan dunia bukan seperti berjuta-juta pulau yang terpisah.

Dunia lebih mirip jaring laba-laba raksasa.

Setiap manusia adalah simpul pada jaring itu.

Kita merasa berdiri jauh dari orang lain karena hanya melihat beberapa benang di sekitar kita.

Namun ketika dilihat dari atas, ternyata hampir semua orang berada hanya beberapa "tarikan benang" saja satu sama lain.

Karena itulah kadang terjadi pengalaman yang membuat kita tercengang:

Pergi ribuan kilometer dari rumah, bertemu orang asing, lalu lima menit kemudian menemukan bahwa sebenarnya kalian sudah terhubung sejak lama melalui jaringan yang tidak pernah kalian sadari.

Dan itulah esensi sebenarnya dari teori Small World: dunia bukan kecil karena jumlah manusianya sedikit, tetapi karena hubungan antar manusia jauh lebih rapat daripada yang terlihat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

anak kecil dan operator telpon, sally & paul

  Saya baca cerita ini sudah lama sekali di internet, cerita ini sederhana, tapi saya suka.  Cerita seorang operator telepon dan anak kecil...  Reader's Digest Classic, originally published in 1966 as "The Voice in the Box" Waktu saya masih amat kecil, ayah sudah memiliki telepon di rumah kami. Inilah telepon masa awal, warnanya hitam, di tempelkan di dinding, dan kalau mau menghubungi operator, kita harus memutar sebuah putaran dan minta disambungkan dengan nomor telepon lain. Sang operator akan menghubungkan secara manual. Dalam waktu singkat, saya menemukan bahwa, kalau putaran di putar, sebuah suara yang ramah, manis, akan berkata : "Operator". Dan si operator ini maha tahu. Ia tahu semua nomor telepon orang lain! Ia tahu nomor telepon restoran, rumah sakit, bahkan nomor telepon toko kue di ujung kota. Pengalaman pertama dengan sang operator terjadi waktu tidak ada seorangpun dirumah, dan jempol kiri saya terjepit pintu. Saya berputar putar kesakitan dan mem...

Radio FM EDP Lib

Radio EDP LIB Cilegon  MEMOAR SEBUNGKUS STIKER BIRU: KISAH RADIO " GELAP " EDPLIB CILEGON Sunyinya Kota Baja dan Desis Gelombang AM Bagi anak-anak Cilegon yang tumbuh di era 80-an akhir dan awal 90-an, pilihan hiburan kami tidak banyak. Kota Baja ini rasanya sepi sekali setelah jam sekolah usai. Kalau mau mendengarkan musik di radio, pilihannya cuma satu: Radio “Top” di frekuensi AM 1152 Khz. Kalau bosan, kami harus memutar *tuning* agak jauh mencari radio “PBS” (Pahla Budi Sakti) AM 648 yang ada di Serang. Mendengarkan radio AM zaman itu butuh kesabaran tingkat dewa. Suaranya jauh dari kata jernih. Begitu ada lampu neon di rumah yang dinyalakan, langsung muncul suara interferensi yang khas: *“Zzzsssrrrrrzzz…”* berisik sekali. Lagunya? Ah, monoton. Putarannya tidak jauh dari Pop mendayu-dayu, Dangdut, Iwan Fals, Pance Pondaag, artis-artis JK Records - lagu cengeng. Tidak ada yang sehitz radio-radio Jakarta. "Bapak lu tuh, tiap hari dengerinnya lagu itu-itu mulu. Kuping ...

Doa sholat hajat

Bacaan Doa Setelah Sholat Hajat Lengkap Beserta Latin dan Artinya Doa Sholat Hajat  - Setiap manusia pasti memiliki hajat atau kebutuhan baik yang bersifat khusus pribadi maupun yang bersifat umum. Namun terkadang hajat kita susah untuk terlaksana oleh karena itu kita di anjurkan untuk mengerjakan sholat hajat agar Allah SWT segera mengabulkan apa yang menjadi hajat kita. Sholat Hajat  ialah sholat sunnah yang dikerjakan untuk meminta kepada Allah SWT supaya yang menjadi hajat kita cepat dikabulkan oleh Allah. Waktu mengerjakannya yang baik menurut para ulama yaitu setelah mengerjakan sholat Isya sampai menjelang sholat Shubuh. Untuk bacaan  niat sholat hajat  adalah sebagai berikut: Niat Sholat Hajat أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْحَاجَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى Ushollii sunnatal haajati rok'aataini lillaahi ta'aala. Artinya: "Aku niat shalat sunah hajat dua rakaat karena Allah Ta'ala." Jumlah rakaat sholat hajat dikerjakan paling sedikit 2 rakaat dan paling banyak t...