DUNIA TERNYATA SEMPIT Tentang Pertemuan yang Tak Sengaja, Lingkaran yang Saling Terhubung, dan Doa Orang-Orang yang Mungkin Masih Menjaga Kita Pernah nggak, kamu bertemu seseorang yang baru dikenal, ngobrol ke sana kemari, lalu tiba-tiba menemukan satu titik yang sama? “Lho, kamu kenal si A?” “Kenal dong! Dia teman saya.” “Lho, si A itu adik saya!” “Serius? Kakaknya si A itu teman kerja saya dulu!” Lalu percakapan yang awalnya biasa saja mendadak berubah menjadi sesi investigasi silsilah pertemanan. Nama demi nama disebut. Tempat demi tempat dicocokkan. Tahun demi tahun ditarik mundur. Sampai akhirnya, kita semua tertawa karena merasa sedang menyusun kepingan puzzle yang ternyata sudah lama berada di dalam satu kotak yang sama. Aneh, ya. Dunia ini rasanya luas sekali ketika kita ingin pergi jauh, mencari pengalaman baru, merantau ke kota lain, atau bekerja di tempat yang belum pernah kita kunjungi. Tetapi, begitu berurusan dengan manusia, dunia mendadak terasa seperti kampung kec...
Kadang, ada masa dalam hidup ketika kita tidak benar-benar tahu apa yang sedang kita rasakan. Bukan sedih sepenuhnya, bukan juga kehilangan harapan. Hanya saja, kepala terasa penuh, sementara hari-hari terus berjalan seperti biasa. Bangun pagi, berangkat kerja, menyelesaikan tanggung jawab, pulang ke rumah, bercengkerama dengan keluarga, lalu tidur dan mengulang semuanya keesokan hari. Dari luar, semuanya terlihat normal. Padahal, di dalam kepala, ada begitu banyak hal yang sedang dipikirkan. Begitulah rasany a ketika kita mulai memasuki usia lima puluh tahun. Usia di mana kita sudah cukup lama mengenal kehidupan, tapi ternyata masih saja bisa dibuat bingung olehnya. Pengalaman sudah banyak, jam terbang sudah tinggi, berbagai masalah pernah dilewati. Namun, entah kenapa, akhir-akhir ini ada saja pertanyaan yang sulit dijawab. Apa yang sebenarnya sedang gue kejar? Sampai kapan gue bisa bertahan seperti ini? Dan kalau suatu hari nanti rutinitas kerja ini berhenti, a...