Saya akan Menjawab Mengunakan Argument nya Ibnu Sina.
Ibnu Sina, filosof Muslim abad ke-11, memiliki jawaban yang mencengangkan. Dia membuktikan keberadaan Tuhan tanpa mengandalkan kitab suci atau wahyu. Murni lewat logika.
Argumen Wajib al-Wujud atau "Wujud yang Wajib Ada" menjadi fondasi pemikirannya.
Bayangkan segalanya yang ada di alam semesta ini.
Pohon, batu, manusia, planet, galaksi.
Semuanya ada karena sebab lain. Tidak ada yang muncul begitu saja tanpa alasan.
Pohon ada karena biji. Biji ada karena pohon sebelumnya. Manusia ada karena orang tuanya. Orang tua ada karena kakek neneknya.
Rantai sebab akibat ini berlanjut terus ke belakang.
Tapi tunggu….
Kalau semua bergantung pada yang lain, dari mana awal mulanya? Tidak mungkin rantai ini tak terhingga ke belakang. Seperti mengharapkan bangunan berdiri tanpa fondasi.
Pasti ada satu titik - satu wujud - yang tidak bergantung pada apapun.
Wujud yang ada dengan sendirinya. Tidak perlu diciptakan. Tidak perlu sebab.
Inilah yang Ibnu Sina sebut Wajib al-Wujud.
Logikanya sederhana namun menohok: kalau tidak ada wujud yang wajib ada, tidak akan ada wujud yang mungkin ada.
Namun kenyataannya, kita semua ada di sini.
Berarti pasti ada Wujud yang Wajib Ada itu.
Tapi apakah Wujud ini harus Tuhan?
Ibnu Sina melangkah lebih jauh. Wajib al-Wujud ini punya sifat-sifat yang hanya dimiliki Tuhan.
Pertama, Dia harus satu. Tidak mungkin ada dua wujud yang sama-sama wajib ada. Kalau ada dua, berarti masing-masing punya pembeda. Pembeda itu berarti keterbatasan. Keterbatasan berarti butuh sebab lain.
Kedua, Dia harus sempurna. Kekurangan apapun berarti butuh sesuatu dari luar untuk melengkapinya. Tapi Wajib al-Wujud tidak bergantung pada apapun.
Ketiga, Dia harus mencakup semua kebaikan dan kesempurnaan. Karena dari Dialah semua wujud lain berasal.
Keempat, Dia harus memiliki pengetahuan dan kehendak. Alam semesta yang teratur dan penuh hikmah tidak mungkin muncul dari wujud yang buta dan tak berkehendak.
Sifat-sifat ini persis yang kita kenal sebagai sifat Tuhan.
Yang menarik, argumen Ibnu Sina ini tidak bergantung pada agama tertentu.
Murni rasional.
Bahkan ateis paling keras sekalipun sulit menolak logika dasar ini: sesuatu yang ada pasti punya sebab, kecuali sebab pertama itu sendiri.
Tentu saja ada kritik terhadap argumen ini.
David Hume mempertanyakan mengapa tidak mungkin ada rantai sebab akibat tak terhingga?
Immanuel Kant berargumen: keberadaan bukan properti yang bisa dibuktikan lewat logika semata.
Tapi hingga kini, belum ada yang berhasil meruntuhkan fondasi argumen Ibnu Sina sepenuhnya.
Bahkan fisika modern memberikan dukungan tak langsung.
Teori Big Bang menunjukkan alam semesta punya awal. Sebelum 13,8 miliar tahun yang lalu, tidak ada ruang, waktu, materi, atau energi.
Dari mana semuanya berasal?
Hukum kekekalan energi bilang energi tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan. Tapi energi alam semesta muncul entah dari mana 13,8 miliar tahun lalu.
Stephen Hawking mencoba menjelaskan lewat fluktuasi kuantum dan gravitasi kuantum. Tapi dia sendiri mengakui: "Karena ada hukum seperti gravitasi, alam semesta bisa dan akan menciptakan dirinya sendiri dari ketiadaan."
Pertanyaannya: dari mana hukum gravitasi itu sendiri berasal?
Mengapa konstanta fisika alam semesta disetel dengan presisi yang luar biasa untuk memungkinkan kehidupan? Kalau konstanta gravitasi lebih besar 0,000000000000000000000000000000000001 persen saja, bintang-bintang tidak akan pernah terbentuk.
Kebetulan? Atau desain?
Ibnu Sina punya jawaban yang elegan: ada Perancang yang sempurna di balik semua ini.
Wajib al-Wujud yang menciptakan dan mengatur segala sesuatu dengan hikmah yang tak terbatas.
Argumen ini bukan sekedar permainan kata-kata filosofis.
Dia menyentuh kebutuhan manusia yang paling mendasar: mencari makna dan tujuan hidup.
Kalau hidup ini cuma kebetulan kosmis yang tak bermakna, mengapa kita merasa ada sesuatu yang lebih besar dari diri kita?
Mengapa kita punya rasa tanggung jawab moral? Mengapa kita terdorong mencari kebenaran dan keadilan?
Ibnu Sina bilang. karena kita semua berasal dari sumber yang sama yakni Wajib al-Wujud yang Maha Sempurna.
Di zaman yang semakin materialistis ini, argumen Ibnu Sina mengingatkan kita bahwa rasionalitas tidak harus bertentangan dengan spiritualitas.
Justru rasionalitas sejati menuntun kita mengakui ada Realitas yang lebih tinggi dari alam materi.
Realitas yang menjadi fondasi segala keberadaan.
Realitas yang kita sebut Tuhan.
Referensi:
Avicenna (Ibn Sina). The Metaphysics of The Healing. Translated by Michael E. Marmura. Provo: Brigham Young University Press, 2005.
Rahman, Fazlur. Avicenna's Psychology: An English Translation of Kitab al-Najat. London: Oxford University Press, 1952.





.webp)






.webp)