Minggu, 31 Mei 2026

Cewek pingsan di kereta

 Jaman krl Ekonomi tahun 2000an emang banyak cerita seru. 

Salah satu pengalaman gue nih, jadi saat itu, krl penuh padat, gue berdiri pegangan hadap jendela, ada cewek dibelakang gue, posisi di stasiun kalibata - cawabg, eh kok  tiba²   nyender ke gue, gue nengok mukanya pucet matanya merem,  waduh,, cepet2 gue tangkep dan teriak : "woi pingsan nih tolongin!" 

Bapak2 yg duduk depan gue, ngomong: "elu aja yg tolongin" 

anjrit! 

Woi ini cewek pingsan goblok

Ibu2 yg duduk sederetan akhirnya ngalah dan bantu nolongin. 

Itu cewek gue gotong, taruh di kursi




Lanjut ntar deh,  belum dapet mood nya

To be continue...


Menenun Waktu, Menyambut Asa

 Menenun Waktu, Menyambut Asa

Kita sering kali terburu-buru, ingin segera menggenggam apa yang belum waktunya tiba, atau meratapi apa yang telah pergi membawa sebungkah rasa kehilangan. 

Padahal, semesta bekerja dalam sebuah harmoni yang tenang: semua ada masanya, semua ada perannya, dan semua ada rezekinya.

Bagian Pahit dan Manis yang Berdampingan

Kehidupan ini tak pernah menjanjikan jalan yang melulu lurus dan bertabur kelopak mawar. 

Ada hari-hari yang terasa begitu ranum dan manis, di mana tawa mengalir tanpa beban dan keberuntungan seolah memeluk kita di setiap tikungan. 

Namun, ada pula hari-hari yang pahit saat langkah kaki terasa begitu berat, udara terasa sesak, dan kecewa menjadi satu-satunya kawan setia.

Rasa pahit dan manis itu bukanlah tanda bahwa hidup ini tidak adil. Keduanya adalah bumbu yang sengaja diracik agar kita tahu caranya bersyukur dan mengerti arti dari sebuah perjuangan.

Tanpa rasa pahit, kita mungkin akan buta terhadap indahnya rasa manis.

Langkah Perlahan dalam Keikhlasan

Maka, jalan satu-satunya untuk terus bertahan adalah dengan jalani hidup ini dengan baik dan legowo. Legowo bukanlah tanda menyerah kalah, melainkan sebuah keberanian tingkat tinggi untuk berdamai dengan kenyataan. 

Ini tentang melapangkan dada, menerima bahwa tidak semua kendali ada di tangan kita.

Teruslah melangkah, walau perlahan.

Tidak perlu berlari jika kakimu sedang lelah, berjalan setapak demi setapak jauh lebih terhormat daripada berhenti lalu berbalik arah.

Setiap jengkat jarak yang kamu tempuh, sekecil apa pun itu, adalah sebuah kemajuan.

Badai dahsyat pun pasti akan kehabisan hujan. Angin kencang akan menjadi sepoi-sepoi yang menyejukkan,  Jalan terjal yang hari ini membuatmu menangis, suatu saat nanti akan melandai. Pada akhirnya, semua fase yang melelahkan ini akan terlewati juga.

Ketika hari itu tiba—saat kamu menoleh ke belakang dari puncak yang baru—semua kepahitan dan air mata itu telah mengkristal. Mereka tidak lagi terasa menyakitkan, melainkan bertransformasi menjadi kenangan indah yang abadi dalam hati. 

Kamu akan tersenyum kecil, memeluk dirimu sendiri, dan berbisik terima kasih karena telah memilih untuk tidak menyerah, sambil menikmati secangkir kopi.

Jumat, 29 Mei 2026

1989, SMP, Penataran & Jurit Malam



Angkot Ijo Kopragon dan Seragam Kekecilan

Tahun 1989, saya resmi naik level: dari anak SD berseragam merah-putih menjadi calon anakSMP yang merasa sudah dewasa. 

Padahal seragam masih kekecilan, hati masih deg-degan, dan dunia baru bernama SMP Negeri Pulomerak sedang menunggu di depan mata.

Di Cilegon jaman itu, dunia persilatan anak SMP terbagi jadi tiga faksi besar: SMP YPWKS, SMP Negeri 1 Cilegon, dan SMP Negeri Pulomerak. 

Teman-teman SD saya yang dulunya kompak main sepeda, main bola, layangan, gobak sodor, dampu dan (kadang) makan biji ketapang, nyolong buah chery dirumah kosong, langsung buyar kesebar ke tiga sekolah itu.

Saya sendiri? Jujur, proses daftarnya gimana saya blas enggak ingat. Kyknya semuanya diurus sama guru-guru SD, dan tahu-tahu nama saya nyangkut di SMP Negeri Pulomerak, yang lokasinya di Jalan Raya Merak KM 7.

Jarak dari rumah ke smp sekitar 3 kilo + 10 menit jalan kaki. Moda transportasi andalan kami adalah angkot Kopragon warna hijau legendaris. Ongkosnya? Cuma Rp.50,- perak! Iya, Anda tidak salah dengar. Bayar pakai koin seratus perak kembalinya masih bisa buat beli gorengan tahu isi atau es mambo di warung bu Toto.

Hari pertama masuk sekolah, rasanya absurd banget. Badannya udah ngerasa segede gaban karena udah "anak SMP", tapi setelannya masih pakai seragam merah-putih SD. Pas pertama kali upacara berbaris di lapangan, saya langsung celingukan nyari sandaran hidup. Untung ketemu komplotan lama.

"Eh, Yok! Lu masuk kelas mana?" tanya Aton Ikhnaton, Dianto Mauriza,  Hendra Dharmawan & Febri Adi Nurcahya sambil benerin topinya yang miring.

"Kagak tahu, ini masih nunggu dibacain," jawab saya lugu.

Pas pengumuman kelas, alhamdulillah, saya masuk kelas 1B. Bareng lagi sama Dody Gunawan, Febri Adi Nurcahya dan Sari Musyarifah Kartika Sari,  Begitu masuk ruangan kelasnya, beuh... posisinya strategis banget tapi menguji nyali. Dekat ruang guru, dan cuma selemparan batu dari jalan raya Merak.

Tiap guru menerangkan pelajaran, backsound kelas kami bukan kicau burung, melainkan
deru truk trailer dan bus antar-kota yang ngebut ke arah pelabuhan merak, yah anggap saja itu musik pengiring masa remaja kami. 

Di Penataran ini kami baru tahu istilah : Wawasan Wiyata Mandala yg artinya  cara pandang atau sikap yang menganggap sekolah sebagai lingkungan atau kawasan khusus penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran. 

Anehnya hari senin, tepat satu hari setelah selesai penataran P4 dan Pramuka , pak Dedi memanggil saya dan saya disuruh pindah ke kelas 1A, wah seru nih,  bisa sekelas sama Reja Nurcahya, Rella Putra Bayunoto, R.M. Dikshie F. dan Jhony Auri yg memang temen jaman sd.

Eh ternyata di 1A seru banget, dan ada seseorang yg menarik perhatian saya, ciee cieee uhuy.

Pasukan Kurawa (Regu Teririt Se-Kecamatan)

Setelah senin sampai jumat kenyang dicekoki butir-butir Pancasila pas penataran P4, tibalah menu utama yang paling ditunggu-tunggu sekaligus ditakuti: Penataran Pramuka.

Sabtu sore, saya sama Raden Muhammad Dikshie Fauzie (namanya panjang bener), teman SD sekaligus tetangga sebelah rumah, udah stand-by di sekolah. Tangan kiri saya menggotong beberapa batang kayu bakar yg diikat tali rafia warna biru, di punggung ada tas gemblok isi baju ganti dan perbekalan konsumsi.

Lapangan upacara sudah ramai. Kakak-kakak penegak dan senior kelas 2 dan 3 yang mukanya diserem-seremin udah mondar-mandi bawa peluit dan tongkat bambu.

"Ayo cepat! Kumpul per regu!" teriak seorang kakak senior berkumis tipis yang berusaha kelihatan sangar. 

Saya pun nyari regu saya. Pas kumpul, saya langsung melongo. Normalnya, satu regu pramuka itu isinya 8 sampai 10 anak. Lah, regu saya? Cuma berempat! Anggotanya saya, Saipul yang badannya mini, Alif yang  juga imut-imut, dan satu lagi anak kecil yang sampai sekarang saya lupa namanya (sebut saja dia 'Si X').

Formasi regu kami ini kalau dilihat dari jauh mirip angka 0111. Saya yang berbadan paling bongsor berdiri paling depan, di belakang saya berjejer tiga anak kecil-kecil yang tingginya cuma se-pundak saya.

"Sur, ini kita fix cuma berempat?" bisik Saipul sambil mendongak melihat saya.

"Iya, Pul. Anggap aja kita regu elite. Sedikit tapi mematikan," kata saya menghibur diri, padahal dalam hati pengen ketawa.

Setelah shalat magrib, petualangan "penderitaan" dimulai. Panitia mengumumkan tempat tidur. Jangan harap kasur empuk atau minimal tikar empuk. Kamar tidur kami adalah ruang kelas bawah di depan warung Bu Toto. Fasilitas tidurnya? beberapa buah meja kayu sekolah yang disatukan. Titik.

"Sur, lu tidur di sebelah mana? Badan lu gede banget, ntar meja kita jomplang," kata Alif khawatir.

"Tenang, Lif. Gue di tengah. Kalau mejanya patah, kita jomplang bareng-bareng," ujar saya sambil menata tas sekolah buat dijadikan bantal.

Setelah makan malam modal bekal dari rumah dan shalat isya, kami kumpul lagi, berbaris melingkar di lapangan.

Beberapa kakak senior terlihat menyiramkan minyak tanah dan melempar batang korek api ke tumpukan kayu yg dibentuk seperti piramid, perlahan muncul api kecil kemerahan merambat melahap tumpukan kayu.

Api unggun menyala!

Suasana yang tadinya ramai perlahan berubah hangat dan syahdu. Wajah para senior yang sejak sore dibuat galak, malam itu terlihat lebih manusiawi.

Diterangi cahaya api unggun dan suara gemeretak kayu yg terbakar, kakak senior beraksi, ada yang menyanyi, ada yang membaca puisi, dan ada juga yang memetik gitar dengan nada yang lebih banyak semangat daripada presisi.

Kak Yusuf, sang pembina pramuka memberi sambutan dan kata penyemangat, beliau juga mengajari kita yel yel dan lagu hymne pramuka, 

Kami Pramuka Indonesia
Manusia Pancasila
Satyaku kudarmakan, darmaku kubaktikan
Agar jaya Indonesia... indonesia tanah airku

Kami jadi pandu muu

Kita juga nyanyi  bersama lagu  ampar² pisang, dan lain-lain 

Ada satu lagu yg menarik buat saya karena baru pertama kali dengar dan bahasanya sangat asing, lagunya gini:

Bumba, bumba, bumba...Bongke sawa sawa sawa bongkewaBongke sawa sawa sawa bongkewaOsela bela, obela selaOsela bela bela sela...Bumba bumba bum!

Dilanjutin kakak penegak bercelana panjang yang menyanyi, ada yang baca renungan suci sok puitis diiringi petikan gitar akustik yang rada fals hehehe

Di tengah temaram api unggun, regu kami kembali jadi tontonan. Gimana enggak, pas berbaris, regu lain panjang bener kayak kereta, sedangkan regu saya imut-imut, isinya raksasa satu sama kurcaci tiga.

Kuburan Jadi Tempat Nyantai

Sekarang... jamnya JURIT MALAM!"

Suara kakak pembina lewat megaphone bikin bulu kuduk tiga anggota regu saya langsung merinding. Tiap regu diwajibkan jalan dengan jeda waktu sekitar 5 menit. Sialnya (atau untungnya), regu kami kebagian urutan paling belakangan.

Rute jurit malam ini luar biasa. Kami harus menyeberang jalan raya, lalu masuk ke area perkampungan desa rawa arum yang makin lama makin gelap dan jalannya makin mengecil. 

Begitu lepas dari rumah warga, suasana berubah total. Kami masuk ke area perkebunan dengan pepohonan rindang yang rimbun banget.

Asli, itu gelapnya kacau. Merem sama melek itu hampir gak ada bedanya! Gelap gulita! Satu-satunya kompas kami adalah kelap-kelip nyala lilin di kejauhan sebagai petunjuk jalan.

Tantangan makin seru karena kami harus melewati area pemakaman. Di saat regu lain mungkin udah komat-kamit baca ayat kursi, regu kami malah beda. Karena badan saya capek bawa beban berat, pas tepat di depan kuburan, saya langsung berhenti.

"Stop, stop... Istirahat dulu, gempor kaki gue," kata saya santai.

"Astagfirullah, Sur! Lu gila ya? Ini kuburan!" bisik Saipul panik sambil megangin lengan baju saya erat-erat.

saya duduk dekat kuburan yg berkeramik hijau dan memang disitu ada nyala lilin, jadi agak terang. 

"Halah, setannya juga capek ngebisikin orang malam-malam begini. Udah, duduk dulu semenit," jawab saya ceplas-ceplos. Tiga temen saya cuma bisa pasrah, jadilah kami ronda malam gratisan di depan kuburan.

Baru juga duduk sebentar, eh ada kakak senior yg datang, "HOI KALIAN NGAPAIN DISINI?? AYO TERUS JALAN!!!"

yah namanya juga capek dan sedikit kesasar hahaha

Sepanjang jalan, ada beberapa pos. Di setiap pos, kami dikasih pertanyaan seputar Pancasila dan kepramukaan. Tapi yang paling seru tentu saja aksi kakak-kakak penegak yang jahil menyamar jadi hantu dan pocong.

Nah, di sinilah keuntungan jadi regu paling buncit. Karena kami jalan belakangan, semua "jebakan batman" para senior itu bocor duluan! Dari kejauhan, di tengah keheningan malam, kami sering dengar suara:

*"AAAARRRGGHH!!! TOLOOONG!!! MAK, ADA POCONG!!!"*

Mendengar teriakan histeris dari regu di depan kami, saya dan anak-anak malah ketawa ketiwi.

"Tuh, Lif, Pul... di depan ada pocong KW super. Entar pas lewat, kita biasa aja ya, jangan kasih panggung," kata saya sok ngasih komando.

Bener aja. Pas kami menyusuri jalan setapak yang gelap, tiba-tiba dari balik pohon pisang muncul sosok putih loncat-loncat sambil bersuara "Hiiiii..hiii....hiii...hiii....".

Kami berempat cuma lewat sambil ngeliatin datar. Kakak kelas yang nyamar jadi pocong mungkin batin: "Ini anak baru kenapa mentalnya baja semua ya?"

Kami pun melewati semua pos dengan mulus, menyusuri lika liku jalan setapak yg gelap, diantara rimbunnya pepohonan, naik turun bukit kecil, sampai akhirnya sayup-sayup melihat cahaya lampu rumah warga lagi. Alhamdulillah, peradaban manusia akhirnya kelihatan! Kami sukses balik ke sekolah dengan selamat dan penuh tawa.


Konspirasi Pintu Terkunci dan Belati Penyelamat

Sampai di sekolah, fisik udah rontok. Badan capek, kaki pegal, bau ketek? Jangan ditanya deh. Hahaha Kami langsung masuk ke kelas bawah depan warung Bu Toto buat tidur. 

Yahh..., tidur di atas meja kayu dengan bantal baju seadanya itu sama sekali gak membuat nyenyak. Badan rasanya encok semua.

Perasaan belum lama kita tidur, eh Tiba-tiba..

 *GEDEBUK! GEDEBUK!* BRAK BRAK BRAK!!!

"BANGUN! BANGUN! CEPAT!!! SEMUA KE LAPANGAN!" Teriakan menggelegar dari kakak senior memecah keheningan dalam kegelapan,  gak tau deh jam berapa,  tapi sayup-sayup terdengar suara adzan subuh dikejauhan.

Di luar riuh suara grasak-grusuk teman-teman dari ruangan lain dan teriakan kakak senior yang berlarian ke lapangan upacara untuk sholat dan olahraga pagi.

CEPAATTTT!! WOY BANGUN DASAR LAMBAN!!

Kami yg masih setengah sadar dan masih di dalam kelas otomatis langsung bangun dan panik. Saipul langsung lari ke pintu dan mencoba memutar gagang pintu.

Klek. Klek. Klek!

"Yok! Pintu gak bisa dibuka! Terkunci dari luar!" ,  Saipul panik.

"Wah, ini pasti dikerjain sama kakak kelas nih! Kurang ajar, kita di prank!" ,  Alif mulai parno.

Di depan pintu kelas itu, ada Mas Donny ( kakak Senior yang juga kakak nya Rella) dia mengamati pintu kelas, sambil memutar gagang pintu.

Lho kok gak bisa dibuka?

WOY SIAPA YANG NGUNCI PINTUNYA?? Mas Donny teriak.

Mas Donny dibantu dua kakak senior lain mencoba mendorong - menarik pintu, memutar gagang, namun tidak juga berhasil. Seperti ada yg aneh.

SIAPA YG PUNYA PISAU  BELATI??

"Saya punya, Mas!" jawab saya sambil menyerahkan pisau belati pramuka andalan saya yg sudah sedikit berkarat.

Mas Donny langsung beraksi. Dengan cekatan, dia mencongkel engsel besi yang macet itu pakai belati saya. *Kreeek... kraak... ngeeek... KLAK!*

Pintu akhirnya terbuka lebar. Alhamdulillah!

Tapi karena drama pintu terkunci itu memakan waktu lama, suasana di luar udah mulai sedikit terang. Alhasil, regu kami sukses absen dari acara olahraga pagi bareng kakak panitia. Sebagai gantinya, kami langsung melipir ke musholla depan sekolah, di samping rumah Ade Muslimat, untuk menunaikan sholat subuh yang agak kesiangan. Selamatlah kami dari siksaan senam subuh!

Epilog: Pulang Bawa Kebanggaan Baru

Hari Minggu itu diisi dengan kegiatan yang lebih santai. Kami diajarin kak Yusuf  tali-temali yang ribetnya minta ampun. Lalu ada sesi belajar baris berbaris, sandi morse, sandi kotak dan sandi semaphore yang dipandu oleh Kak Iyong , kak Dian, kak Nicky, Kak Lusi dan Kak Andi Parno, yang sukses bikin otak kami yang kurang tidur ini makin puyeng.

Sebelum pulang, ada acara seru-seruan: 

*Kontes Kakak Idola*

Jadi kakak-kakak senior dipanggil satu persatu oleh MC, dan berjalan kedepan sambil tersenyum dan bergaya bak model.

Kami selaku anak baru, disuruh memilih kategori kakak-kakak panitia, ditulis dikertas kecil. 

Hasil votenya adalah :.......

Kakak Terbaik jatuh kepada Kak Dian Triadi,

Kakak Terganteng diraih oleh Kak Fani,

Kakak Terfavorit didapatkan oleh Kak Mustaqim, (yg spontan disambut riuh oleh kami dengan tepuk tangan dan sorak sorai bergembira, hahaha , nah sebagai gambaran, kak Mustaqim ini wajahnya lucu, lugu dan polos, berkacamata tebal, hanya dengan melihatnya saja sudah membuat kami merasa terhibur hahahaha, kebayang lah ya)

Dan Kakak Tercantik... (Sial, kok lupaaa.... memori saya blur di bagian ini, mungkin karena efek ngantuk berat waktu itu).

Akhirnya sore hari sekitar jam 4, seluruh rangkaian penataran resmi ditutup. Kami dikumpulkan dilapangan upacara diberi arahan singkat oleh pak guru Sudiro, dan kak Yusuf mengajak untuk ikut ekskul pramuka setiap minggu sore di lapangan Bumper KS. Kita juga dibagikan sertifikat penataran pramuka, dan diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing.

Di gerbang sekolah, diantara keramaian orang lalu lalang, saya melihat Bapak menggunakan celana jeans dan kaos warna biru, berdiri menunggu. Senyumnya lebar, seolah menyambut dengan bangga anaknya yang baru pulang dari medan perang kecil bernama Penataran Pramuka. Saya datang dengan langkah gontai, baju kumal, badan bau matahari, tapi dada rasanya penuh

Hari Sabtu saya berangkat sebagai bocah lulusan SD. Hari Minggu sore itu, saya pulang sebagai anak SMP Negeri Pulomerak, membawa segudang cerita, teman baru, dan sedikit keberanian yang rasanya akan saya ingat dalam jangka waktu yang lama.

-----

Sebuah awal masa remaja di Cilegon yang kalau diingat-ingat sekarang, selalu sukses bikin saya senyum-senyum sendiri di depan secangkir kopi.

-----

Buat teman seregu saya saat penataran pramuka, Saipul, Alif, dan X, dimanapun kalian berada semoga kalian semua sehat bahagia, dirahmati dan diberkahi Allah SWT. Aamiin YRA🙏

-----

#cilegon

#SMP Pulomerak 

#penataran


Kamis, 21 Mei 2026

Band bukan kumpulan pemain. Band adalah percakapan.

 Jack of All Trades, Ikigai, dan Jalan Musisi yang Tidak Sempit



Menemukan Rumah dan Jendela: Perjalanan Musik yang Jujur

Pernah gak sih, pas lagi kumpul bareng anak-anak band, kita ngerasa dilema? Di satu sisi, bisa mainin banyak hal atau jadi orang yang "serba bisa" itu kedengarannya keren banget. Tapi kalau gak hati-hati, kita malah bisa kehilangan karakter atau "suara" unik kita sendiri.

Sebaliknya, kalau kita terlalu saklek dan cuma mau fokus di satu hal, dunia musik kita yang luas ini malah bisa terasa kayak kandang yang sempit.

Makanya, yuk coba kita geser sedikit pertanyaannya. Ini bukan lagi soal 

"Eh, lu mau jadi gitaris, vokalis, drummer, atau produser?"

Pertanyaan yang lebih hangat dan mendalam sebenarnya adalah: semua skill yang kita pelajari ini, sebenarnya lagi kita pakai untuk menyuarakan apa sih?


Jack of All Trades dan Ikigai

Ada pepatah lama yang bilang, Jack of all trades, master of none. Katanya, orang yang bisa banyak hal itu gak bakal bener-bener ahli di satu bidang. Tapi tahu gak? Versi lengkap dari pepatah itu sebenarnya manis banget:

"Jack of all trades, master of none, though oftentimes better than master of one."

Artinya, punya kemampuan lintas bidang itu sering kali jauh lebih membantu daripada kita mengurung diri cuma di satu keahlian aja.

Nah, biar kemampuan serba bisa ini gak bikin kita tersesat, kita butuh teman perjalanan yang namanya Ikigai. Sederhananya, ikigai adalah alasan yang bikin hati kita bergetar pas main musik; sebuah pusat gravitasi yang bikin semua kesibukan kita terasa ada artinya.

Di dunia musik, menjadi jack of all trades berarti kita fleksibel: bisa ngulik beberapa instrumen, paham teori dasar, mengerti rekaman, sampai tahu cara ngetes sound panggung. Tapi ikigai adalah jangkar yang menahan semuanya lewat satu pertanyaan lembut: 

"Untuk apa semua kemampuan ini? Suara jujur seperti apa yang ingin aku lahirkan lewat musik?

Tanpa ikigai, kita cuma bakal jadi kolektor teknik. Hari ini belajar slap bass, besok sweep picking, minggu depan jazz harmony. Semuanya seru, tapi kalau gak ada arahnya, kita cuma punya banyak referensi tanpa punya identitas yang jelas.

Sebaliknya, kalau punya ikigai tapi gak mau membuka diri, kita bisa jadi sempit. Misalnya, seorang gitaris bilang, "Gua cuma mau main blues," lalu nutup kuping dari hip-hop, folk, atau musik tradisi. Spesialisasi itu bagus banget buat bikin kita makin dalem, tapi kalau terlalu cepat menutup diri, kita malah jadi gak tumbuh.


Saat Ego Menjadi Tubuh Bunyi

Di dalam band, obrolan ini pasti sering banget kejadian.

Wajar banget kalau kita pengen kelihatan keren lewat instrumen kita. Gitaris pengen solo panjang, drummer pengen fill-in yang rapat, vokalis pengen selalu di depan. Kita semua punya ego musikal, dan itu manusiawi. Tapi, band kan bukan tempat buat balapan siapa yang paling jago. Band itu seni tentang bagaimana menyatukan ego-ego kita menjadi satu tubuh bunyi yang indah.

Di sinilah kita belajar membedakan antara skill dan musikalitas:

Skill berbicara ke ego: "Seberapa rumit nih yang bisa gua mainin?"

Musikalitas berbicara ke rasa:"Apa sih yang sebenarnya dibutuhkan sama lagu ini?"

Musisi yang matang secara rasa tahu kapan harus mengambil ruang, dan tahu kapan harus diam. Seorang drummer tahu kapan cukup jaga groove sederhana, bassist tahu kapan satu nada dasar sudah cukup mengawal lagu, dan gitaris paham kalau satu nada yang diletakkan dengan hati bisa terasa jauh lebih magis daripada seratus nada yang dipaksakan.

Menjadi "master" di dunia musik akhirnya bukan lagi soal menaklukkan instrumen, melainkan bagaimana kita bisa menaklukkan ego sendiri supaya lagunya bisa bernapas dan hidup.


Genre Sebagai Bahasa, Teori Sebagai Peta

Gimana dengan genre? Genre itu penting, tapi dia bukan harga mati yang gak bisa ditawar. Anggap saja genre itu sebagai bahasa. Rock, jazz, pop, dangdut, indie, keroncong—semuanya punya kosakatanya sendiri. Memilih genre berarti memilih teman mengobrol, tapi menjadi budak genre bikin kita berhenti mendengar keindahan lainnya.

Band yang baru berproses biasanya sibuk nanya, "Kita mau mainin genre apa, nih?" Tapi band yang sudah lebih menyelami rasa akan bertanya, "Energi dan pesan apa yang mau kita sampein, dan bahasa musik mana yang paling jujur buat itu?"

Hal yang sama berlaku saat kita bikin lagu cover atau mengidolakan seseorang. Meniru itu bagian dari belajar—itu sekolah kita buat paham struktur dan emosi lagu. Tapi, jangan sampai idola kita jadi penjara kreatif. Alih-alih meniru cara mereka terdengar secara instan, yuk kita cari tahu: "Kenapa ya kkarya musik mereka bisa menyentuh hati?" Ambil prinsipnya, bukan cuma permukaannya.

Lalu, gimana dengan teori musik? Ada yang bilang teori itu bikin kaku, ada juga yang bilang tanpa teori kita jadi dangkal. Sebenarnya, dua-duanya gak salah. Teori tanpa rasa itu kayak matematika yang kering. Tapi latihan tanpa rasa juga cuma jadi olahraga jari.

Teori itu bukan borgol, melainkan sebuah peta. Peta membantu kita biar gak tersesat, tapi perjalanan aslinya tetap kita yang jalanin lewat telinga, hati, dan jam terbang.


Menemukan Rumah dan Jendela

Biar perjalanan musik kita seimbang, kita bisa pakai filosofi ini: 

Jadikan satu instrumen sebagai rumah, dan instrumen lain sebagai jendela.

Rumah memberi kita akar dan kedalaman. Sementara jendela memberi kita pandangan yang luas. Gitaris yang paham drum akan lebih peka sama ritme. Vokalis yang paham aransemen bakal tahu kapan harus ngasih ruang buat instrumen lain.

Band yang kuat gak butuh semua anggotanya serba bisa dalam hal yang sama. Band yang kuat adalah ruang obrolan di mana setiap orang punya akarnya masing-masing, tapi punya empati yang besar untuk saling mendengarkan.

---

Musik Adalah Percakapan


Pada akhirnya, esensi dari semua perjalanan ini bermuara pada keseimbangan yang indah:

Serba bisa bukan untuk pamer.

Fokus bukan untuk menutup diri.

Teori bukan untuk membunuh rasa.

Genre bukan kandang yang membatasi.

Instrumen bukan tempat ego berdiri.


Band bukan cuma sekadar kumpulan orang yang main alat musik bersama. Band adalah sebuah percakapan.

Dan dalam obrolan yang hangat, kita gak cuma nanya, 

"Gua bisa mainin apa lagi ya di part ini?" tapi kita juga dengan tulus bertanya, 

"Gua harus nahan main di bagian mana ya, supaya musik kita bisa bernapas?"

Mungkin itulah ikigai musikal yang sesungguhnya. Menemukan alasan kenapa kita masih mau terus latihan, bertukar ide, dan berkarya. Bukan demi jadi yang paling cepat atau paling mirip dengan orang lain, tapi demi melahirkan bunyi yang membuat hidup kita—dan orang yang mendengarnya—terasa jauh lebih jujur.


Skill bikin kita mampu berbunyi, tapi ikigai yang bikin bunyi itu punya arti.

Kamis, 14 Mei 2026

Yusuf dan Julaiha


 “Jodoh Tak Kemana”

##

Sebuah kisah nyata dari tetangga saya sendiri, seorang kakek yg sangat bersahaja, hangat, dan ramah, membuat setiap orang yg berada didekatnya terasa damai.

Cerita ini tentang waktu, kehilangan, dan takdir yang akhirnya menemukan jalan pulang.

##

Di sebuah kampung kecil yang damai, hiduplah seorang pemuda sederhana bernama Yusuf. Anak baik, santun, dan dikenal rajin membantu orang tua. Tak jauh dari rumahnya, tinggal seorang gadis lembut bernama Julaiha. Sejak kecil mereka saling mengenal. Orang tua mereka bahkan pernah bersepakat, suatu hari nanti Yusuf dan Julaiha akan dipersatukan dalam ikatan pernikahan.

Bagi orang kampung zaman itu, perjodohan bukan hal aneh. Tapi di balik itu, diam-diam tumbuh rasa yang tak pernah benar-benar diucapkan. Yusuf dan Julaiha saling menyimpan harapan, walau malu untuk berkata.

Namun hidup terkadang punya jalan cerita sendiri.

Yusuf mendapat kesempatan kuliah di luar pulau. Di zaman ketika telepon rumah masih barang mewah, apalagi handphone yang bahkan belum terpikirkan, kabar hanya bisa dikirim lewat surat. Itupun kadang lama sampai, kadang hilang entah ke mana.

“Jaga diri ya…” begitu pesan terakhir Julaiha saat melepas Yusuf pergi, dengan mata yang berusaha kuat menahan sedih.

Yusuf pergi membawa mimpi. Julaiha tinggal membawa harap.

Tahun demi tahun berlalu. Yusuf sibuk kuliah dan berjuang di tanah rantau. Di kampung, keadaan berubah. Orang tua Julaiha khawatir anak gadisnya terlalu lama menunggu tanpa kepastian. Akhirnya, Julaiha dinikahkan dengan seorang lelaki baik bernama Ahmad.

Ketika Yusuf pulang setelah lulus kuliah, langkahnya terasa berat mendengar kabar itu.

“Julaiha sudah menikah…”

Kalimat itu seperti menghentikan waktu sesaat.

Tak ada marah. Tak ada salah siapa-siapa. Hanya ada kenyataan bahwa takdir saat itu membawa jalan berbeda.

Yusuf akhirnya menikah dengan seorang perempuan baik bernama Siti. Mereka membangun rumah tangga, merantau lagi, bekerja keras, membesarkan anak-anak. Julaiha pun menjalani hidup bersama Ahmad. Tahun berganti tahun, anak-anak tumbuh, cucu-cucu lahir. Kehidupan berjalan sebagaimana mestinya.

Dan perlahan, nama yang dulu pernah tinggal di hati, terkubur oleh kesibukan dan usia.

Hingga suatu hari…

Puluhan tahun berlalu.

Usia Yusuf sudah menginjak 60 tahun. Rambut memutih, langkah mulai pelan. Istrinya, Siti, telah lebih dulu berpulang. 

Setelah sekian lama di rantau, Yusuf memutuskan pulang ke kampung halaman. Sekadar mengenang masa kecil, menyapa tempat yang pernah menjadi rumah.

Sore itu, Yusuf berjalan menyusuri jalan kampung yang dulu akrab di matanya.

Tiba-tiba terdengar suara wanita dari belakang.

Assalamualaikum… ini Yusuf kah?

Yusuf menoleh pelan.

Waalaikumsalam…”

Wajah itu terasa tidak asing, tapi waktu telah mengubah banyak hal. Keriput usia menggantikan wajah muda yang dulu ia kenal.

“Saya… Julaiha.”

Seakan waktu berhenti.

Yusuf terdiam beberapa detik. Lalu matanya membesar, perlahan tersenyum.

“Ya Allah… Julaiha?”

Mereka tertawa kecil, lalu saling bertanya kabar. Tentang hidup, anak-anak, cucu, tentang kehilangan, tentang perjalanan panjang yang ternyata sama-sama penuh cerita.

Ternyata....  Ahmad pun telah lama berpulang.

Sejak pertemuan itu, Yusuf dan Julaiha mulai sering mengobrol. Kadang Yusuf datang membawa buah tangan. Kadang Julaiha memasakkan makanan kampung kesukaan Yusuf dulu. Tak ada lagi gengsi anak muda. Yang ada hanya dua hati tua yang merasa nyaman ditemani seseorang yang sudah mengenal akar hidup mereka.

Orang kampung pun tersenyum melihatnya.

Lha… ternyata jodohnya balik lagi…

Dan benar saja.

Di usia senja, ketika rambut sudah memutih dan langkah tak lagi sekuat dulu, Yusuf dan Julaiha akhirnya menikah.

Tak ada pesta mewah. Tak ada gemerlap. Tapi ada kebahagiaan yang tulus. Bahagia yang sederhana yang terpancar dari dua hati yang kembali bercahaya. 

Seolah Tuhan hanya berkata:

"Bukan tidak berjodoh… hanya waktunya belum tiba."

Mereka menjalani hari-hari sebagai kakek nenek dengan hati damai. Menemani satu sama lain sampai akhir hayat.

##

Sejak mendengar kisah itu, saya seperti mendapat pelajaran hidup yang dalam: kadang hidup memisahkan, kadang waktu membuat kita kehilangan arah, tapi kalau memang sudah tertulis, jodoh memang tak akan ke mana.

Karena ada cinta yang bukan hilang… hanya sedang diputar jalannya oleh takdir.

Selasa, 12 Mei 2026

Doa kalo ada masalah dengan orang di kantor

 "Ya Allah, hamba cuma mau kerja baik dan benar. Kalau mmg semuanya terasa salah dan ada hati yg tdk terima pun ternyata tempat ini bukan tempat yg baik utk hamba, tolong bukalah jalanku menemukan tempat mencari rezeki yg Engkau ridhoi...

...Ya Allah, Engkaulah Dzat Yang Maha Membolak Balikkan hati manusia, hamba tdk mengerti, knp ada makhluk ciptaanMu yg sungguh membenci hamba bahkan sebelum mengenal hamba. Kalau kehadiran hamba, nyatanya memilukan bagi seseorang, jauhkan hamba dari pandangannya. Hamba hanya ingin bekerja yg baik dan benar, kiranya ini kesalah pahaman, buatlah dia mengerti, bahwa hamba tidak seburuk dari apa yg ada dipikirannya"

Tentu, kuulang ulang jg menyebut nama org itu dalam doa..

Hidup ini cuma perlu kita yakin sama Pencipta kita. Kalau Dia itu Sang Maha.. 

Kalau Allah yang Janji, ga akan bohong

Kalau Allah yang lakuin, ga akan ada yg mustahil

Alhamdulillah. Makasih ya Allah 🤍

Senin, 11 Mei 2026

Last minute

 Kenapa Pertolongan Allah Datangnya Sering "Last Minute"?


Pernah nggak sih merasa masalah datang bertubi-tubi sampai rasanya mau menyerah? Lalu, tepat saat kita sudah di titik "pasrah total" dan hampir putus asa, tiba-tiba pintu bantuan terbuka lebar.

​Kenapa ya pertolongan Allah seringnya datang di detik-detik terakhir? 

Ternyata, "saat-saat terakhir" itu bukan karena Allah telat menolong. Justru itu adalah momen pembersihan hati.

​Sebelum pertolongan datang, Allah ingin kita menyadari satu hal:

 Bahwa tidak ada satu pun makhluk atau usaha kita yang bisa menyelamatkan kita, kecuali Dia.

Saat masalah baru dimulai, kita sering merasa hebat.

"Tenang, saya punya tabungan."

"Tenang, saya punya koneksi."

"Tenang, saya bisa handle sendiri."

​Di titik ini, hati kita masih menyandarkan harapan pada "sebab-akibat", bukan pada Sang Pencipta.

Allah membiarkan masalah mencapai puncaknya agar semua "sandaran palsu" itu rontok satu per satu.

​Tabungan habis, teman menjauh, usaha buntu. Sampai akhirnya kita benar-benar kosong dan hanya bisa berbisik, "Ya Allah, hanya Engkau yang aku punya."

Dalam ilmu hikmah, ini disebut titik Al-Ithirar (Keterdesakan yang amat sangat).

​Di titik inilah doa kita bukan lagi sekadar lisan, tapi teriakan jiwa. Doa orang yang terdesak itu ibarat anak panah yang tak pernah meleset dari sasaran. Langit langsung terbuka untuknya.

Ingat kisah Nabi Musa di depan Laut Merah?

Di depan laut, di belakang tentara Fir’aun. Secara logika, sudah tamat.

​Tapi justru di puncak keterdesakan itu, perintah "Pukullah laut dengan tongkatmu" datang. Keajaiban tidak muncul saat Musa masih di tengah jalan, tapi saat beliau sudah di depan tembok air.

Jadi, kalau hari ini kamu merasa sudah di "puncak masalah" dan belum ada tanda-tanda jalan keluar:

1. ​Periksa lagi, apakah hatimu masih berharap pada bantuan manusia?

2. ​Lepaskan semua kontrol, pasrahkan hasilnya total pada Allah.

3. ​Tetaplah melangkah, meski hanya satu jengkal.

Pertolongan yang datang di menit terakhir itu rasanya jauh lebih manis. Kenapa? Karena saat itu kita tahu pasti bahwa itu murni pemberian-Nya, bukan karena kehebatan kita.

​Itu adalah momen di mana iman kita naik kelas secara drastis.

Bertahanlah sedikit lagi. Seringkali, saat kamu merasa sudah benar-benar tidak sanggup, itu tandanya jarakmu dengan jawaban hanya tinggal satu sujud lagi.

​"Bukankah pertolongan Allah itu dekat?" (QS. Al-Baqarah: 214).