Lima Puluh Tahun: Belum Selesai, Hanya Sedang Mencari Arah masa dalam hidup ketika seseorang tidak benar-benar tahu apa yang sedang ia rasakan. Bukan sedih sepenuhnya, bukan juga kehilangan harapan. Hanya saja, ada banyak hal yang menumpuk di kepala, sementara hidup tetap berjalan seperti biasa. Bangun pagi, berangkat kerja, menyelesaikan tanggung jawab, pulang ke rumah, bercengkerama dengan keluarga, lalu tidur dan mengulang semuanya keesokan hari. Dari luar, semuanya terlihat normal. Padahal, di dalam kepala, ada begitu banyak hal yang sedang dipikirkan. Begitulah rasanya memasuki usia lima puluh tahun. Usia ketika kita sudah cukup lama mengenal kehidupan, tetapi ternyata masih bisa dibuat bingung olehnya. Pengalaman sudah banyak, jam terbang sudah tinggi, berbagai masalah pernah dilewati. Namun, entah kenapa, belakangan ini ada saja pertanyaan yang sulit dijawab. Apa yang sebenarnya sedang gue kejar? Sampai kapan gue bisa bertahan seperti ini? Dan kalau suatu hari nanti gue berhenti...
Warkop DKI: Bukan Cuma Bikin Ngakak, Tapi Juga Jago Bermusik Sebuah obrolan nostalgia tentang parodi lagu, dangdut, kaset lawak, dan para musisi hebat di balik kegilaan Warkop. Kalau ngomongin Warkop DKI, biasanya yang langsung muncul di kepala ya Dono yang sok pinter, Kasino yang mulutnya nggak ada rem, atau Indro yang ekspresinya kadang lebih lucu daripada dialognya. Kita hafal adegan-adegannya, kutipan filmnya, bahkan suara ketawanya. Tapi ada satu hal yang sering kelewat kalau lagi nostalgia Warkop: musik. Padahal kalau mau jujur, separuh keseruan Warkop justru lahir dari dunia musik. Coba ingat lagi waktu Kasino nyanyi lagu parodi. Lagu yang tadinya melankolis atau keren mendadak berubah jadi bahan ketawaan. Melodinya tetap familiar, tapi liriknya dibelokin ke mana-mana. Kita ngakak bukan cuma karena kata-katanya lucu, tapi karena kita tahu lagu aslinya. Nah, di situlah kehebatan mereka. Yang sering nggak disadari, lagu-lagu parodi Warkop bukan dikerjakan asal tempel lirik l...