Minggu, 28 Juni 2026

Satu ayat yg mengandung seluruh huruf hijaiyah

 Al-Qur'an terdiri dari 114 surah dan ribuan ayat.

Tapi hanya satu ayat yang di dalamnya terdapat seluruh huruf hijaiyah, dari Alif sampai Ya'.

Dan ayat itu bukan sembarang ayat.

Ayat itu adalah QS. Al-Fath: 29.

Para ulama ahli bahasa Al-Qur'an telah meneliti dan mencatatnya, satu ayat ini mengandung seluruh huruf hijaiyah tanpa terkecuali.

Seolah Allah menitipkan seluruh aksara Al-Qur'an dalam satu ayat, lalu mengisinya dengan makna yang luar biasa.

Apa yang Allah firmankan dalam ayat itu?

"Muhammad adalah utusan Allah. Dan orang-orang yang bersamanya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud, mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud..."

(QS. Al-Fath: 29)

Ayat tentang Nabi, para sahabat, dan gambaran jiwa seorang mukmin sejati.

Apa yang bisa kita renungkan?

Allah memilih ayat ini sebagai "rumah" bagi seluruh huruf hijaiyah.

Ayat tentang siapa Nabi ﷺ dan bagaimana seharusnya kita bersikap.

Seakan ada pesan tersembunyi:

bahwa seluruh bahasa, seluruh kata, seluruh ungkapan manusia, semuanya kembali kepada satu pusat:

mengenal Nabinya, dan meneladani akhlaknya.


Surah ini bernama Al-Fath kemenangan, pembukaan jalan.

Dan ayat penutupnya menggambarkan mereka yang mendapatkan kemenangan itu:

Nabi ﷺ yang teguh, para sahabat yang saling menyayangi, dan jiwa-jiwa yang tekun sujud mencari ridha Allah.

Mungkin ada pesan di sini untuk kita 

bahwa jalan menuju fath itu sudah digambarkan.

Tinggal kita yang memilih untuk menjalankan.


Sabtu, 27 Juni 2026

Bojonegoro 27 juni 2026


Sepanjang perjalanan yang kulalui, pulang dan pergi setiap hari, ternyata bukan sekadar tentang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Lebih dari itu, perjalanan ini adalah ruang bagi takdir untuk mempertemukanku dengan jejak-jejak kebaikan.

Di setiap langkah, selalu ada orang-orang baik yang hadir tanpa banyak bicara. Ada senyum yang menghapus lelah, sapaan yang menghangatkan hati, dan ketulusan yang mengingatkanku bahwa dunia masih dipenuhi manusia berhati mulia.

Mungkin kita tidak selalu mengingat seberapa jauh perjalanan yang telah ditempuh. Namun kita akan selalu mengingat orang-orang yang membuat perjalanan itu terasa lebih ringan, lebih bermakna, dan lebih indah.

Semoga setiap langkah yang kita ayunkan selalu dipertemukan dengan hati-hati yang tulus, dipenuhi keberkahan, dijauhkan dari segala keburukan, dan pada akhirnya menjadikan kita pribadi yang juga mampu meninggalkan jejak kebaikan bagi orang lain.

Karena sejatinya, yang paling berharga dari sebuah perjalanan bukanlah seberapa jauh kita melangkah, melainkan seberapa banyak kebaikan yang kita temui, kita syukuri, dan kita tinggalkan di sepanjang jalan.



 

Minggu, 21 Juni 2026

Smansa Penataran p4

Memori transisi dari putih - biru ke putih-abu: Dari Bau Kaos Kaki, Puisi Absurd, Hingga Betis Baja

Aula yang Menguning dan Aroma "Ajaib"

Hari itu, aula sekolah SMANSA mendadak berubah jadi lautan manusia. Bayangkan saja, ruangan panjaaang ukuran  tiga ruang kelas yang sanggup menampung sekitar 300 anak manusia. 

Di langit-langit yang tinggi, empat buah kipas angin besi berukuran raksasa berputar malas, alih-alih mendinginkan ruangan, mereka justru sukses meratakan hawa gerah ke segala penjuru. Lampu-lampu neon berjajar rapi, yang warnanya sudah menguning dimakan usia. saksi bisu bahwa ruangan ini sudah melahirkan banyak cerita.

Di sisi utara, tepat di dekat aroma semerbak dari arah toilet,  lantai aula itu sengaja dibuat lebih tinggi tiga ubin. Ya, semacam panggung gitu deh.

Kami semua duduk lesehan di lantai semen dingin, teraso abu² ukuran 20x20cm,  Karena status kami masih transisi, seragam yang melekat di badan pun masih "putih-biru" legendaris dari SMP masing-masing. 

Di tengah cuaca Serang yang mulai menyengat, tiba-tiba sebuah aroma "ajaib" menyeruak, menyelinap di antara pori-pori udara.

"Woy, bau apaan nih? Badheg amat!" 

bisik saya sambil menutup hidung.

Andi, sohib kental saya sejak zaman SD, langsung menoleh dan tertawa tertahan. 

"Elpiji bocor kalah nih! Aroma kaos kaki jempol *badeg* yang belum dicuci dari zaman kelulusan SMP kayaknya!"

"Hahahaha"

Kami berdua terpingkal. Di sekitar kami, anak-anak dari Cilegon berkumpul membuat barikede pertahanan udara: ada Dianto, Hendra, Kholis, almarhum Jhony Auri, Rio Ceker, Madliyas, Mukti Wibowo, dan Sigit. Meski aroma kaos kaki itu terus meneror, rasa bangga karena resmi menyandang status "Anak SMA" mengalahkan segalanya. Rasanya bangga banget!

Di atas panggung aula, satu per satu pengurus OSIS diperkenalkan. Gaya mereka rapih perlente khas senior 90-an. Ada Kak Dila, Kak Iwan Sugiarto, Kak Alit, Kak Manik, Kak Agam, Kak Olga, Kak Deny, dan entah siapa lagi—pokoknya banyak deh!

Setelah rentetan sambutan dari OSIS, giliran seorang pria berbadan tegap maju membawa mikrofon. Beliau adalah Pak Wawang Sufri, guru olahraga yang legendaris.

"Smansa Serang ini berdiri tahun 1952!

suara Pak Wawang menggelegar, membakar semangat kami. Dengan tata bahasa Indonesia yb rapih dan sangat terstruktur beliau lalu bercerita panjang lebar tentang para alumni yang sudah sukses melanglang buana jadi pejabat tinggi negara. Hebatnya, Pak Wawang ini ternyata alumni Smansa juga yang "pulang kampung" untuk mengabdi.

Saya jadi teringat bisikan Pak Supriyadi, guru agama kami. 

Kamu tahu, Mas? Pak Wawang itu zaman mudanya di Smansa dulu murid yang paling lincah. Jagoan olahraga, nggak ada duanya!

Siang itu, Pak Wawang resmi membuka jalannya Penataran P4 yang akan menyandera kebebasan kami selama seminggu ke depan.

Kelas 1-2 dan Maestro Komedi dari Teater Awan

Dunia ini sempit, atau mungkin takdir memang suka bercanda. Saat pembagian kelas diumumkan, entah menggunakan metode apa, saya kembali terdampar di kelas 1-2 bersama Andi Sufaryanto. Bayangkan, dari zaman main kelereng di SD sampai sekarang rumah kami sama-sama di Kota Depok, kami masih saja satu atap. Luar biasa, bukan? Di kelas baru ini, kami berkenalan dengan kawan dari smp 1 dan smp 2 serang : Rendra, Nila, Nining, Zainur Reza, dan Winny.

Pendamping kelas kami adalah tiga serangkai yang unik: Kak Dila, dan seorang kakak kelas perempuan yang saya lupa namanya tapi semua tahu bokapnya seorang jaksa, dan terakhir... seorang senior bernama Bambang.

Kak Bambang ini... astaga, gokil habis! Mukanya sangat ekspresif, gerak-geriknya komikal mirip karakter kartun yang hidup. Belakangan kami baru tahu kalau doi adalah pentolan Teater Awan, ekstrakurikuler teater kebanggaan Smansa. Kalau saja zaman itu sudah ada kompetisi *Stand Up Comedy* di TV, saya berani taruhan Kak Bambang bakal bawa pulang piala juara satu sambil kayang.

Masa penataran adalah masa-masa paling seru untuk berburu teman baru. Ada yang mendadak nostalgia karena ketemu teman TK atau SD, ada juga yang langsung "tebar pesona" ke teman baru .

Melihat kelas 1-2 yang masih agak canggung, jiwa kepemimpinan saya mendadak bergejolak

"Teman-teman, biar kelas kita kompak, yuk kita pilih ketua kelas sekarang!" 

seru saya mengambil inisiatif.

"Rendra aja! Dia dulu populer dan berprestasi di SMP-nya!" 

usul salah satu teman, yang langsung disetujui lewat koor meriah seisi kelas. Akhirnya Rendra resmi jadi ketua kelas, didampingi Nining sebagai sekretaris yang siap mencatat segala kelakuan ajaib kami.

Selama lima hari, otak kami dijejali dengan butir-butir Pancasila oleh Bapak dan Ibu guru. Namun, penyelamat kewarasan kami tetaplah Kak Bambang. Di sela-sela jam istirahat yang membosankan, doi tiba-tiba duduk di meja guru sambil pasang muka serius.

"Kalian tahu? Kakak itu paling hobi dengerin radio,

buka Kak Bambang.

Zaman itu di Serang, kiblat hiburan malam hari adalah stasiun radio lokal bernama PBS (Pahla Budi Sakti). Setiap Selasa malam, ada acara hits tempat anak muda mengirimkan puisi romantis untuk dibacakan sang penyiar.

"Nah," Kak Bambang melanjutkan dengan mata berbinar-binar. "Malam Rabu kemarin, Kakak coba-coba kirim puisi ke PBS. Biasanya kan isinya curhat cinta-cintaan menye-menye tuh. Puisi Kakak beda. Judulnya: Kelas 1-2."

Beliau kemudian berdiri, berdeklamasi dengan gaya teatrikal yang luar biasa kocak:

"Kelas 1-2...*

"Kami duduk satu bangku dua-dua..."

"Kelas 1-2..."

"Kelas kami satu, lampunya dua..."

"Kelas 1-2..."

"Huahaha"

Kami sekelas langsung pecah. Tawa membahana sampai terdengar ke kelas sebelah. Kebayang nggak sih, para pendengar radio PBS malam itu yang sudah pasang kuping melankolis, mendadak disuguhi puisi se-absurd itu? Pasti langsung pada cekikikan di kamarnya masing-masing. 

Bisa aaee Mas Bambang!

Sayang, sejak beliau lulus, saya kehilangan kontak.  Saya suka penasaran bagaimana kabarnya sekarang. Di mana pun Mas Bambang berada, saya yakin dengan bakat komedi itu, beliau pasti sukses besar di dunia teater, penulisan, atau media kreatif.

Cat Merah Bata dan Kaki Robot 

Gedung Smansa Serang ini punya arsitektur kuno yang khas: ruang-ruang kelasnya berbaris lurus membentuk segi empat, mengepung sebuah lapangan basket yang berada tepat di tengah-tengahnya. Lapangan itulah jantung sekolah. Di sana tempat kami upacara hari Senin, tanding basket, olahraga, sampai sekadar nongkrong saat jam istirahat. Wajar saja kalau cat lantainya sudah pudar tergerus ribuan pasang sepatu.

Sudah jadi tradisi turun-temurun, murid baru harus memberikan "upeti" berupa tenaga untuk mempercantik lapangan ini. Di bawah komando Pak Diah Dirman, guru olahraga kami yang berwajah tegas, proyek pengecatan massal dimulai.

Saya kebagian memegang sekaleng cat warna merah bata dan sebuah kuas, bertugas melapisi warna dasar lapangan. Sementara Andi dapet tugas lebih presisi: memegang cat putih dan kuning untuk membuat garis-garis batas. Selama beberapa hari, di bawah terik matahari, kami berjongkok, bercanda, dan sesekali iseng mencoret baju teman dengan cat. Saat semuanya selesai, hamparan lapangan basket, voli, dan badminton menyatu dalam satu area, hanya dipisahkan oleh warna-warni garis yang kontras. Lelah? Pasti. Tapi ada rasa bangga yang membuncah di dada setiap kali melihat hasil kerja keras itu.

Namun, drama penataran belum selesai. Di sela-sela pengecatan, kami diwajibkan latihan baris-berbaris (PBB). Di sinilah aib terbesar saya terbuka.

"Suryo! Kamu jalan kayak robot rusak!" teriak Kak senior sambil menahan tawa.

Ternyata, koordinasi tubuh saya mendadak korslet kalau urusan PBB. Kaki kiri maju, tangan kiri ikut maju. Kaki kanan maju, tangan kanan ikut maju. Cara berjalan saya persis seperti robot kehabisan batere. Kakak kelas yg nongkrong sambil ngeceng di lapangan basket ngakak menertawakan kelakuan saya yang tidak sinkron ini.

Dampaknya? Jelas berujung berkah. PBB ini sebenarnya ajang seleksi untuk pasukan pawai obor malam 16 Agustus dan upacara bendera 17 Agustus di Alun-alun Serang. Karena cara baris-berbaris saya yang di luar nalar, nama saya langsung dicoret dari daftar.

"Lumayan lah , Nggak usah capek-capek latihan fisik di bawah terik matahari. Dan gak ikut pawai dan upacara, Merdeka!

Betis Baja dari Cilegon

Tapi jalur takdir memang tidak pernah membiarkan saya bersantai begitu saja. Pak Diah Dirman tiba-tiba menepuk pundak saya menjelang hari kemerdekaan. 

"Suryo, kamu ikut lomba sepeda santai tanggal 17 Agustus pagi di Alun-alun. Temani Ismail Arif, Iip, Yan, Muchtar Pinata, dan Muhammad Effendi."

Maka, jam 8 pagi di hari ulang tahun RI itu, saya sudah nangkring di Alun-alun Serang dengan sepeda saya. Di sinilah saya menyaksikan sebuah fenomena manusia yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup: Muhammad Effendi.

Anak ini... asli, gila bener! Rumahnya di PCI (Pondok Cilegon Indah). Jaraknya kurang lebih 10km, Demi ikut lomba ini, subuh-subuh doi sudah gowes dari PCI menuju Serang. Sampai di Serang, langsung gabung bersama kami untuk ikut lomba sepeda santai keliling kota yang rutenya lumayan menguras tenaga. Dan begitu garis  Finish dilewati? Dengan santainya doi pamit:

"Duluan ya, mau langsung balik ke Cilegon lagi," katanya sambil tersenyum tanpa beban, lalu menggenjot sepeda balap warna kuning-hitam andalamnya menjauh dari kerumunan.

Alamakjaaan...! Kami yang melihatnya cuma bisa melongo sambil memegangi betis yang mulai kram. Itu betis atau baja coran? Kuat banget rasanya!

Sekian puluh tahun berlalu, kenangan di lapangan basket yang merah bata itu tetap tersimpan rapi. Bau kaos kaki, tawa absurd di kelas 1-2, jabat tangan pertama dengan teman-teman baru, hingga kayuhan sepeda di Alun-alun Serang, semuanya kini menjelma menjadi kerinduan yang hangat. Kami yang dulu bertingkah konyol dengan seragam putih-abu, kini telah berjalan di rute takdir masing-masing. Tapi di sudut hati yang paling dalam, memori Penataran P4 itu akan selalu menjadi bab pembuka yang paling indah dalam buku masa muda kami.


Sabtu, 20 Juni 2026

Di Samping Smansa



Di samping Sekolah 1992–1994

Persis di sebelah gerbang SMANSA ada satu spot legendaris berukuran 3 x 3 meter. Bukan tempat rental komik atau warung burjo, melainkan sebuah barber shop, istilah kerennya kita saat itu, padahal aslinya mah tempat cukur rambut biasa. Pintunya warna hijau, kontras dengan dindingnya yang memadukan warna hijau dan putih tipis-tipis.

Kalau melongok ke dalam, interiornya minimalis abis dihiasi poster model rambut gaya trendi masa kini. Dua cermin besar yang sudah agak buram di beberapa sudut, menemani dua kursi besi kokoh warna hijau , sandaran tangan kayu, dan beralas duduk busa kulit warna hitam, khas tukang cukur jadul yang kalau diduduki bunyinya ..krieeet... khas banget. Di pojok kiri atas, menempel sebuah kipas angin dinding yang kabelnya menjuntai ke mana-mana. Yang gokil, kipas angin itu terondol alias nggak ada penutupnya sama sekali! Baling-balingnya berputar bebas menyapu angin panas siang hari. Kalau dipikir-pikir sekarang: Nggak bahaya tah? Ngeri-ngeri sedap kalau kepentok kepala! Hahaha.

Di balik pintu, pemandangan standar langsung menyambut: sapu ijuk, pengki, dan tempat sampah yang udah penuh sama tumpukan rambut berbagai model—mulai dari sisa potongan ala vanilla ice, ala lupus sampai potongan cepak semi-tentara. Alhamdulillah, pertanda hari itu lapak cukur lagi ramai lancar jaya.

Maestro Sisir Klimis

Sang eksekutor tunggal di tempat itu bernama Mang Aceng. Penampilannya selalu necis, tipe bapak-bapak rapi yang nggak mau kalah saing sama anak muda. 

Beliau selalu pakai kemeja yang dimasukkan dengan rapi ke dalam celana bahan, lengkap dengan ikat pinggang kulit hitam tipis. Badannya tinggi, agak gemuk, dan punya kumis tebal yang konon menambah karismanya. Rambutnya yang mulai diselingi uban selalu disisir klimis belah kiri, rapi jali tanpa sehelai pun yang mencuat keluar.

Di saku belakang kanan celananya, selalu terselip sapu tangan handuk kecil untuk mengusap keringat. Maklum, zaman itu boro-boro ada AC (Air Conditioner). Pendingin ruangan kami murni mengandalkan sistem KN alias Kaca Nako! Kalau siang lagi terik-teriknya, kaca nako itu dibuka lebar-lebar biar angin luar bisa masuk menjamah ruangan yang pengap oleh bau bedak talek.

"Terserah..."

Saya termasuk salah satu pelanggan setia yang  mampir ke sana kalau rambut sudah mulai menyentuh kerah baju, takut kena razia Guru cuy! Lucunya, tiap kali selesai dicukur dan saya merogoh saku celana abu-abu sambil nanya,

 "Berapa ongkosnya, Mang?" 

Mang Aceng selalu menjawab dengan senyum khas di balik kumis tebalnya:

"Terserah aja, Dek. Seikhlasnya."

Di sinilah seninya. Manajemen keuangan saya diuji berdasarkan kondisi dompet pasca-jajan di warung. 

"Waduh, Mang, sisa duit jajan sama ongkos bis sisa segini. Udah buat beli gorengan juga

kata saya suatu hari sambil menyodorkan selembar uang kertas monyet melompat alias lima ratus perak.

"Nggak apa-apa, Dek" 

Jawabnya sambil tersenyum tulus.

Zaman itu uang 500 udah bisa beli nasi lauk dan sayur yg lengkap di warteg. 

Di hari lain, kalau habis dapat uang saku lebihan dari Bokap, atau ditraktir temen, saya bisa sok keren menyodorkan lembaran seribu perak bergambar Danau Toba. "Nih, Mang, sisanya buat beli bakso!"

Mang Aceng langsung sumringah. Sembari mengibas-ngibas sisa rambut di kain cover bekas cukur, beliau selalu menyelipkan doa yang sama:

 "Hatur nuhun, Dek. Semoga nanti kalian semua sukses jadi orang gede ya. kerjanya mapan. Aamiin."

Kalimat sederhana itu entah kenapa selalu sukses bikin dada terasa hangat tiap kali melangkah keluar dari pintunya yang berwarna hijau.

Sebuah Kabar dari Garut

Batin saya bernostalgia beberapa waktu lalu. Namun, sebuah kabar dari Pak Almasis guru pmp baru-baru ini memutus lamunan itu. 

Ternyata, Mang Aceng sudah lama pulang kampung, mudik selamanya ke Garut. 

Beliau dikabarkan telah meninggal dunia di kampung halamannya. 

Kenangan tentang ruang 3 x 3 meter, kipas angin tanpa penutup, dan doa tulus di balik bedak talek itu mendadak berputar kembali seperti pita kaset yang rewind.

Al-Fatihah buat Mang Aceng, tukang cukur langganan saya semasa di smansa 92-94.

Minggu, 14 Juni 2026

Mobil Box

Suatu sore tahun 1992.  

Langit mulai meredup, berwarna jingga bercampur kelabu, angin sepoi² menerpa.

Di trotoar seberang sekolah, saya berdiri sambil mengusap mata yang berat karena seharian belajar. 

Jalanan ramai: anak-anak berseragam putih abu-abu bertebaran, motor dan mobil lalu-lalang, suara klakson bersahut-sahutan, hiruk pikuk suara bubaran sekolah terasa bagai musik orkestra tanpa partitur yang menyajikan nada tak beraturan namun penuh kenangan.

Seperti biasa, saya nungguin bus kota langganan: Bus Rudi, bus warna hitam, bergaris merah-kuning, jurusan Labuan–Pandeglang–Serang–Merak. 

Tapiii sore itu, kok itu bus gak muncul²,  Badan rasanya capeek, ngantuk, pikiran melayang entah ke mana. Udah kebayang sepiring nasi, telor ceplok + kecap dirumah.

Tiba-tiba, sebuah mobil boks berhenti tepat di depan saya.

Sopirnya menurunkan kaca jendela. Mukanya kusut, tampak jelas penat berpeluh lelah.  

Dek, numpang tanya. Tau alamat ini nggak?” katanya sambil menyodorkan selembar kertas berkop surat sebuah toko elektronik. 

Saya baca..... jalan baja 1 no 22...

Lho, ini mah deket banget sama rumah saya, Pak!”   

Sopir itu langsung berseri-seri. 

Serius, Dek? Wah, kebetulan banget! Ayuk ikut dan antar saya ke alamat ini."

Tanpa pikir panjang, saya naik dan duduk di sampingnya. Zaman itu, gak ada pikiran soal penipuan atau penculikan, Rasanya percaya aja, polos banget ya.

Perjalanan Serang–Cilegon sekitar 30 menit. Sopir bercerita dengan nada frustrasi.  

Aduh, Dek… dari pagi saya muter-muter nyari alamat ini. Udah Tanya sana sini, nggak ada yang tahu. Pusing banget.”  

Saya nyengir, “Ya iya, Pak. Lha wong Bapak salah kota. Alamatnya di Cilegon, bukan di Serang.”  

Sopir itu melotot sebentar, lalu ngakak. “Huahaha Pantesan!  dari tadi kayak gasing muter nggak ketemu-ketemu!”  

Mobil box melaju santai, menelusuri jalur saya pulang, saya masih ingat rute nya : Alun-Alun,  legok, kopasus, tamansari, kramat watu, kopti, pelamunan, wulandira, serdang, pci, simpang tiga, polres cilegon, sd 1 ypwks, panti asuhan.

Monil box melaju... 

Sayup-sayup dikejauhan adzan Magrib berkumandang. Mobil kami melewati bunderan Untirta, masuk komplek KS. Saya jadi navigator dadakan, mengarahkan jalan yang sudah hafal diluar kepala.  

Lurus dulu, didepan putar balik kanan,  Lalu blok kiri, Nah, luruus terus, mentok,  Lalu belok kiri lagi" 

Sopir itu ketawa

“Wih, hafal banget nih jalannya"

Mobil berhenti tepat di depan pagar rumah yang dituju. 

Pak sopir mematikan mesin, dan menghembuskan nafas lega. 

Untung ketemu kamu, Dek. Kalau nggak, entah sampai jam berapa saya muter-muter,” 

Pemilik rumah keluar dengan sumringah. Ternyata dia udah nunggu kiriman barang sejak pagi. 

"Wah akhirnya dateng ya barang saya"

Saya gak ingat barangnya apa, kalo gak kulkas atau mesin cuci electrolux.

Begitu barang selesai dikeluarkan dari box, suasana jadi ceria, sopir lega, pemilik rumah senang, saya ikut tersenyum dan pamit pulang.

Saya dengan riang lanjut jalan kaki ke rumah yg berjarak 6 rumah + 1 lapangan voli dari situ. 

Di saku celana, uang 200 rupiah ongkos bus pun masih utuh.  

Lumayan, besok bisa buat jajan 😁

Saat berjalan kaki menuju rumah,  saya mbatin: 

Allahu Akbar. Allah punya cara yg ajaib sekaligus indah. 

Kok bisa ya,

nunggu bus kota gak dateng², tapi diganti mobil box yg kesasar, kejadian yang justru membahagiakan banyak orang: Sopir sampai tujuan, pemilik rumah menerima barang, dan saya… pulang dengan nyaman (gratis😁✌️).  

Alhamdulillah🙏






Selasa, 02 Juni 2026

Endog Ceprot

Endog Ceprot

Dua kata itu tidak akan pernah lupa dari ingatan kami. 




Singkat, khas, dan langsung melempar ingatan ke ruang kelas yang riuh di masa putih-abu. Dua kata yang hanya keluar dari lisan satu orang di sela-sela pelajaran: Siapa lagi kalau bukan guru Biologi terseru sepanjang masa, Pak Nadria.

Bagi kami, beliau bukan cuma guru yang berdiri di depan papan tulis, tapi magnet keseruan. Gaya mengajarnya ceplas-ceplos, jenaka, dan kadang sedikit "vulgar" dalam batas yang mengundang tawa. Alhasil, materi Biologi yang tadinya penuh hafalan rumit berubah jadi seru dan asyik. 

Apalagi kalau sudah masuk bab reproduksi, wah, seisi kelas otomatis melek, pasang telinga lebar-lebar, lalu berakhir dengan ledakan tawa di sana-sini. Kelas Pak Nadria selalu menjadi jam pelajaran yang paling kami tunggu.

Di sela-sela materi yang seru itu, beliau sering menyelipkan kisah masa mudanya yang tak kalah ajaib. Salah satu cerita yang paling legendaris adalah kilas balik saat beliau masih duduk di bangku SMA.

Suatu hari di ruang laboratorium yang hening, Pak Nadria muda tiba-tiba berteriak panik sekaligus penasaran.

"Pak! Pak! Sini, Pak! Coba lihat ini, kok aneh banget!" panggil Nadria muda dengan wajah serius, melambaikan tangan ke gurunya.

Sang guru lab yang penasaran langsung menghampiri meja praktikum. "Ada apa, Nad? Kamu nemu sel langka?"

"Bukan, Pak. Ini, coba Bapak intip dulu di mikroskop. Bentuknya aneh banget!"

Gurunya pun menempelkan mata ke lensa mikroskop. Dahinya berkerut saking herannya. Di dalam sana, tampak sebuah benda asing berongga, bentuknya tidak beraturan menyerupai deretan gunung misterius yang penuh dengan gua-gua gelap.

"Lho... ini benda apa, Nad? Kok strukturnya unik begini? Kamu dapat sampel dari mana?" tanya sang guru, makin penasaran.

Dengan wajah polos tanpa dosa, Nadria muda menunjuk ke permukaan meja. "Ya dari situ, Pak. Tadi nemu di meja."

Sang guru pulang hari itu dengan membawa misteri besar yang tak terpecahkan.

Hingga akhirnya, berbulan-bulan kemudian menjelang kenaikan kelas, Nadria muda berjalan mengiringi guru lab tersebut di koridor sekolah. Dengan senyum menahan tawa, dia memberanikan diri membuka obrolan.

"Pak, Bapak masih ingat enggak, sama benda aneh penuh gua yang dulu saya temukan di mikroskop?"

Gurunya menoleh, "Oh, yang bikin saya pusing mikirin klasifikasinya itu? Iya, ingat banget. Memangnya kamu sudah tahu itu sel apa?"

Nadria muda menyengir lebar, lalu berbisik, "Maaf ya, Pak... Sebenarnya itu korong (upil) saya yang saya tempel di kaca preparat."

"Astaga, Nadriaaa!" Gurunya spontan mengusap-usap  kepala Nadria muda, lalu keduanya tertawa terbahak-bahak di sepanjang koridor.

Kami yang mendengarkan cerita itu di kelas langsung riuh. Sambil tertawa, kami membatin:

Ah, mungkin gara-gara eksperimen upil itu, Pak Nadria akhirnya malah terjerumus (kualat) jadi guru Biologi. 😁

----

Waktu berlalu begitu cepat. 

Dua puluh dua tahun setelah tawa di kelas itu, kami anak-anak alumni 94 kembali menginjakkan kaki di Smansa di tahun 2016. 

Kedatangan kami hari itu adalah untuk menghibahkan sebuah keyboard sebagai sedikit bentuk sumbangsih dan tanda bakti pada sekolah.



Di antara lorong-lorong sekolah yang membawa kembali ribuan memori, takdir mempertemukan kami kembali dengan beliau. 

Garis-garis wajahnya mungkin sudah berubah dimakan usia, rambutnya memutih,  tapi binar jenaka di matanya masih sama.

Saya melangkah mendekat, menjabat tangannya dengan takzim, lalu kami berpelukan sangat erat. Sebuah pelukan hangat antara guru dan murid yang kini sama-sama sudah dewasa.

Beliau menepuk-nepuk bahu saya, menatap wajah saya lekat-lekat, lalu tersenyum lebar.

"Ini Suryo, kan ya?" sapa beliau, suaranya masih sehangat dulu.

Seketika ada rasa yang membuncah di dada. Alhamdulillah, di antara ribuan murid yang pernah diajarnya, beliau masih mengingat nama saya. 

Di momen itu, jarak waktu dua puluh dua tahun rasanya runtuh seketika. Kami kembali menjadi guru dan murid yang dulu bertukar tawa di ruang kelas.

----

28 April 2023

Saya masih ingat dengan jelas malam itu, di tengah perjalanan arus balik mudik, saya menepi sejenak untuk melepas lelah di Rest Area KM 101 Tol arah Jakarta. 

Diantara riuhnya kendaraan, asap kopi yng masih mengepul,  HP di saku saya tiba-tiba berdenting tanpa henti. Berondongan notifikasi pesan WhatsApp langsung membanjiri grup alumni Smansa-94.

​Layar hp saya buka..., 

seketika suasana rest area yang bising berubah menjadi terasa sunyi.... 

Kalimat itu terpampang jelas di layar:

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un...

Selamat jalan, Pak Nadria "Endog Ceprot".

Ya Allah... 😭

Kami semua bersaksi bahwa Pak Nadria adalah orang baik, guru yang tulus, yang menanamkan ilmu lewat kebahagiaan dan tawa. Terima kasih telah mewarnai masa remaja kami dengan dedikasi dan kehangatan yang tak tergantikan.

Ya Allah, ampunilah segala dosa-dosa Pak Nadria, dan semua guru kami yg telah meninggal,  terimalah setiap butir amal kebaikannya, dan jadikanlah ilmu yang beliau bagikan sebagai penuntun jalannya. Lapangkanlah dan terangkanlah kuburnya, serta wafatkanlah beliau dalam keadaan husnul khotimah.

Aamiin Ya Rabbal 'Alamin. 🙏






#Nadria
#Guru Biologi
# SMANSA SERANG
#SMA
#Angkatan 94


Minggu, 31 Mei 2026

Cewek pingsan di kereta

Cerita KRL Ekonomi 2000-an

Jaman KRL Ekonomi tahun 2000-an emang penuh cerita absurd sekaligus seru. Bayangin aja, kereta penuh sesak, orang berdiri berdesakan kayak ikan sarden, bau keringet campur parfum murahan, plus suara pedagang asongan teriak “Aqua… Aqua… kacang rebus… rokok!” bikin suasana makin rame.


Hari itu gue berdiri di dekat jendela, pegangan besi, posisi di antara Stasiun Kalibata – Cawang. Tiba-tiba, ada cewek di belakang gue nyender. Gue sempet mikir, “Wih, modus nih?” Tapi pas gue nengok, mukanya pucet, matanya merem. Waduh, ternyata dia pingsan!

Refleks gue teriak:  

“Woi! Ada yang pingsan nih, tolongin!”  

Bapak-bapak yang duduk depan gue malah santai sambil nyengir:  

“Ya elu aja yang tolongin, kan deket.”  

Dalam hati gue: anjrit, ini orang bukannya nolong malah ngelempar tanggung jawab.  

Akhirnya gue makin keras teriak:  

“Woi, ini cewek pingsan goblok, bukan pura-pura tidur!”  


Baru deh ibu-ibu yang duduk di deretan kursi mulai gerak. Satu ibu nyeletuk sambil ngelus dada:  

“Astaghfirullah, anak muda jaman sekarang pada cuek amat.”  

Gue pun gotong tuh cewek, taruh di kursi kosong. Ibu-ibu langsung sigap, ada yang ngipas-ngipas pake koran, ada yang ngeluarin minyak kayu putih dari tas.  

“Ini, kasih minyak kayu putih dulu. Biar sadar,” kata seorang ibu sambil nyodorin botol kecil.  

Suasana kereta yang tadinya ribut jadi agak hening, semua mata ngeliatin. Ada bapak-bapak lain yang nyeletuk sok bijak:  

“Makanya jangan naik KRL kalo lagi lapar, pingsan jadinya.”  

Gue cuma melotot, pengen jawab: Pak, ini KRL bukan seminar kesehatan!  

Untungnya si cewek pelan-pelan mulai sadar, matanya kebuka, masih lemes tapi bisa duduk. Ibu-ibu langsung heboh kayak tim medis dadakan. Gue lega, terus turun di stasiun berikutnya sambil mikir:  

“Gila, naik KRL ekonomi tuh kayak reality show gratis. Ada drama, ada komedi, ada tragedi, semua campur jadi satu.”  

Hahahaha