Coba pikir:
Menurut lo? jahat atau baik?
Jahat atau baik?
Jahat atau baik?
Mulai bingung?
Nah… justru di situ menariknya.
Nggak sesimpel baik = baik, jahat = jahat.
Yang ada itu situasi, sudut pandang, alasan, dan akibatnya.
Satu tindakan bisa kelihatan baik dari satu sisi, tapi kelihatan jahat dari sisi lain.
Ibarat koin. Ada dua sisi. Bahkan kadang lebih.
Tergantung siapa yang ngelihat, kapan kejadiannya, dan apa akibatnya.
Friedrich Nietzsche pernah ngomong soal baik dan jahat sebagai sesuatu yang dibentuk manusia. Artinya, standar “baik” dan “buruk” nggak selalu sama buat semua orang.
Yang menurut lo baik, belum tentu dianggap baik sama orang lain.
Contoh gampang.
Baik, dong? ...Eits… tunggu dulu.
Kebaikan lo tadi akhirnya jadi apa?
Sekarang dibalik.
Kejam, dong? ... Eits... Belum tentu.
Karena nggak dapat duit, dia akhirnya terpaksa cari kerja. Hidupnya berubah. Anak-anaknya bisa sekolah. Beberapa tahun kemudian keluarganya malah hidup lebih baik.
Nah…
Kejahatan lo tadi akhirnya jadi apa?
Lucu, ya?
Padahal hidup nggak sesimpel itu.
Jonathan Haidt, penulis The Righteous Mind, menjelaskan bahwa penilaian kita soal benar dan salah banyak dipengaruhi budaya, emosi, pengalaman hidup, dan lingkungan kita.
Jadi bukan cuma soal logika.
Makanya ketika seseorang bilang, “Gue melakukan ini karena gue mau berbuat baik,” sebenarnya dia sedang bertindak berdasarkan kompas moralnya sendiri.
Dan belum tentu kompas moral orang lain nunjuk ke arah yang sama.
Bahkan yang kelihatannya buruk hari ini, bisa aja punya dampak baik di kemudian hari.
Lihat aja sejarah.
Perang Dunia adalah salah satu tragedi paling mengerikan dalam sejarah manusia. Jutaan orang mati.
Tapi dari puing-puing tragedi itu kemudian lahir banyak perubahan besar: PBB, perkembangan konsep hak asasi manusia, kemajuan teknologi medis, teknologi komunikasi, dan berbagai teknologi yang akhirnya mengubah dunia.
Chernobyl juga begitu.
Tapi dari tragedi itu manusia belajar. Standar keselamatan nuklir diperketat. Teknologi dan prosedur berkembang. Kesalahan yang sama diusahakan jangan sampai terulang lagi.
Ironis? Banget.
Tapi begitulah hidup.
Makanya menurut gue, kita jangan terlalu gampang kasih cap:
“Ini orang baik.”
“Ini orang jahat.”
“Ini benar.”
“Ini salah.”
Karena kita nggak pernah tahu cerita lengkapnya.
seluruh jaring ikut bergetar.
Satu tindakan kecil yang lo lakukan hari ini bisa punya efek ke orang lain yang bahkan nggak pernah lo kenal.
Orang yang lo bentak hari ini mungkin justru menjadikan omongan lo sebagai cambuk buat berubah.
Orang yang lo tolong hari ini mungkin malah jadi terlalu nyaman dan akhirnya bergantung sama lo.
Orang yang lo anggap menyebalkan mungkin suatu hari justru jadi orang yang paling banyak ngajarin lo tentang hidup.
bisa jadi justru belajar menjadi manusia yang lebih kuat karena pengalaman itu.
Jadi, jangan buru-buru merasa paling benar.
Jangan juga buru-buru merasa orang lain paling salah.
Karena hidup itu nggak selalu hitam-putih.
Kadang abu-abu.
Kadang malah warna-warni.
Yang paling penting bukan sekadar label “baik” atau “jahat”.
Yang penting :
Dan seberapa tulus lo ketika melakukannya?
Soal hasil akhirnya? Nggak semuanya bisa kita kontrol.
Kadang baru kelihatan bertahun-tahun kemudian.
Kadang bahkan setelah kita udah nggak ada.
Jangan nyakitin orang dengan sengaja, Kalau bisa bantu, bantu.
Kalau bisa bikin orang lain bangkit, jangan malah dijatuhin.
ya udah, belajar, Namanya juga hidup.
Kita semua cuma pemain yang lagi belajar baca skenario.
Selebihnya?
Biar waktu yang jawab.