Selasa, 02 Juni 2026

Endog Ceprot

Endog Ceprot

Dua kata itu tidak akan pernah lupa dari ingatan kami. 

Singkat, khas, dan langsung melempar ingatan ke ruang kelas yang riuh di masa putih-abu. Dua kata yang hanya keluar dari lisan satu orang di sela-sela pelajaran: Siapa lagi kalau bukan guru Biologi terseru sepanjang masa, Pak Nadria.

Bagi kami, beliau bukan cuma guru yang berdiri di depan papan tulis, tapi magnet keseruan. Gaya mengajarnya ceplas-ceplos, jenaka, dan kadang sedikit "vulgar" dalam batas yang mengundang tawa. Alhasil, materi Biologi yang tadinya penuh hafalan rumit berubah jadi seru dan asyik. 

Apalagi kalau sudah masuk bab reproduksi, wah, seisi kelas otomatis melek, pasang telinga lebar-lebar, lalu berakhir dengan ledakan tawa di sana-sini. Kelas Pak Nadria selalu menjadi jam pelajaran yang paling kami tunggu.

Di sela-sela materi yang seru itu, beliau sering menyelipkan kisah masa mudanya yang tak kalah ajaib. Salah satu cerita yang paling legendaris adalah kilas balik saat beliau masih duduk di bangku SMA.

Suatu hari di ruang laboratorium yang hening, Pak Nadria muda tiba-tiba berteriak panik sekaligus penasaran.

"Pak! Pak! Sini, Pak! Coba lihat ini, kok aneh banget!" panggil Nadria muda dengan wajah serius, melambaikan tangan ke gurunya.

Sang guru lab yang penasaran langsung menghampiri meja praktikum. "Ada apa, Nad? Kamu nemu sel langka?"

"Bukan, Pak. Ini, coba Bapak intip dulu di mikroskop. Bentuknya aneh banget!"

Gurunya pun menempelkan mata ke lensa mikroskop. Dahinya berkerut saking herannya. Di dalam sana, tampak sebuah benda asing berongga, bentuknya tidak beraturan menyerupai deretan gunung misterius yang penuh dengan gua-gua gelap.

"Lho... ini benda apa, Nad? Kok strukturnya unik begini? Kamu dapat sampel dari mana?" tanya sang guru, makin penasaran.

Dengan wajah polos tanpa dosa, Nadria muda menunjuk ke permukaan meja. "Ya dari situ, Pak. Tadi nemu di meja."

Sang guru pulang hari itu dengan membawa misteri besar yang tak terpecahkan.

Hingga akhirnya, berbulan-bulan kemudian menjelang kenaikan kelas, Nadria muda berjalan mengiringi guru lab tersebut di koridor sekolah. Dengan senyum menahan tawa, dia memberanikan diri membuka obrolan.

"Pak, Bapak masih ingat enggak, sama benda aneh penuh gua yang dulu saya temukan di mikroskop?"

Gurunya menoleh, "Oh, yang bikin saya pusing mikirin klasifikasinya itu? Iya, ingat banget. Memangnya kamu sudah tahu itu sel apa?"

Nadria muda menyengir lebar, lalu berbisik, "Maaf ya, Pak... Sebenarnya itu korong (upil) saya yang saya tempel di kaca preparat."

"Astaga, Nadriaaa!" Gurunya spontan menjitak pelan kepala Nadria muda, lalu keduanya tertawa terbahak-bahak di sepanjang koridor.

Kami yang mendengarkan cerita itu di kelas langsung riuh. Sambil tertawa, kami membatin, 

Ah, mungkin gara-gara eksperimen upil itu, Pak Nadria akhirnya malah terjerumus jadi guru Biologi. 😁

----

Waktu berlalu begitu cepat. Puluhan tahun setelah tawa di kelas itu mereda, kami anak-anak alumni 94 kembali menginjakkan kaki di Smansa  tahun 2016. 

Kedatangan kami hari itu adalah untuk menghibahkan sebuah keyboard sebagai sedikit bentuk sumbangsih dan tanda bakti pada sekolah.

Di antara lorong-lorong sekolah yang membawa kembali ribuan memori, takdir mempertemukan kami kembali dengan beliau. 

Garis-garis wajahnya mungkin sudah berubah dimakan usia, tapi binar jenaka di matanya masih sama.

Saya melangkah mendekat, menjabat tangannya dengan takzim, lalu kami berpelukan sangat erat. Sebuah pelukan hangat antara guru dan murid yang kini sama-sama sudah dewasa.

Beliau menepuk-nepuk bahu saya, menatap wajah saya lekat-lekat, lalu tersenyum lebar.

"Ini Suryo, kan ya?" sapa beliau, suaranya masih sehangat dulu.

Seketika ada rasa yang membuncah di dada. Alhamdulillah, di antara ribuan murid yang pernah diajarnya, beliau masih mengingat nama saya. 

Di momen itu, jarak waktu puluhan tahun rasanya runtuh seketika. Kami kembali menjadi guru dan murid yang dulu bertukar tawa di ruang kelas.

----

28 April 2023

Saya ingat betul, saat sedang menepi untuk beristirahat sejenak melepas lelah perjalanan arus balik mudik, Rest Area KM 101 arah Jakarta. 

Diantara riuhnya kendaraan, asap kopi masih mengepul,  HP di saku saya tiba-tiba berdenting tanpa henti. Berondongan notifikasi pesan WhatsApp langsung membanjiri grup alumni Smansa-94.

​Layar hp saya buka..., 

seketika suasana rest area yang bising nerubah menjadi terasa sunyi.... 

Kalimat itu terpampang jelas di layar:

Innalillahi wa inna ilaihi raji'un...

Selamat jalan, Pak Nadria "Endog Ceprot".

Ya Allah... 😭

Kami semua bersaksi bahwa Pak Nadria adalah orang baik, seorang guru yang tulus, yang menanamkan ilmu lewat kebahagiaan dan tawa. Terima kasih telah mewarnai masa remaja kami dengan dedikasi dan kehangatan yang tak tergantikan.

Ya Allah, ampunilah segala dosa-dosa Pak Nadria, terimalah setiap butir amal kebaikannya, dan jadikanlah ilmu yang beliau bagikan sebagai penuntun jalannya. Lapangkanlah dan terangkanlah kuburnya, serta wafatkanlah beliau dalam keadaan husnul khotimah.

Aamiin Ya Rabbal 'Alamin. 🙏