Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2026

Satu ayat yg mengandung seluruh huruf hijaiyah

 Al-Qur'an terdiri dari 114 surah dan ribuan ayat. Tapi hanya satu ayat yang di dalamnya terdapat seluruh huruf hijaiyah, dari Alif sampai Ya'. Dan ayat itu bukan sembarang ayat. Ayat itu adalah QS. Al-Fath: 29. Para ulama ahli bahasa Al-Qur'an telah meneliti dan mencatatnya, satu ayat ini mengandung seluruh huruf hijaiyah tanpa terkecuali. Seolah Allah menitipkan seluruh aksara Al-Qur'an dalam satu ayat, lalu mengisinya dengan makna yang luar biasa. Apa yang Allah firmankan dalam ayat itu? "Muhammad adalah utusan Allah. Dan orang-orang yang bersamanya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud, mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud..." (QS. Al-Fath: 29) Al-Fath · Ayat 29 مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِ ۗ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗٓ اَشِدَّاۤءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاۤءُ بَيْنَهُمْ تَرٰىهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَّبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّ...

Bojonegoro 27 juni 2026

BOJONEGORO, JEJAK LANGKAH BAPAK DAN KENANGAN KELUARGA Kadang, perjalanan yang kita anggap sebagai tugas pekerjaan, ternyata menjadi cara Allah mengantarkan kita kembali kepada kenangan. Bapak lahir di Bojonegoro pada tahun 1937. Kakek kami, Mbah Subowo, dahulu bekerja sebagai pegawai Perhutani di Bojonegoro.  Kota ini tentu menyimpan banyak cerita tentang masa kecil Bapak, kehidupan keluarga, serta orang-orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Puluhan tahun berlalu, kehidupan membawaku ke Cilegon,  ke Jakarta dan Depok. Namun, sejak tahun 2024, pekerjaan justru membuka jalan bagiku untuk kembali mendekati kota kelahiran Bapak.  Kantorku mendapat proyek di Pertamina EP Cepu, sekitar 30 menit dari Bojonegoro. Sejak itu, setidaknya dua kali setahun aku bolak-balik Jakarta–Bojonegoro naik kereta api. Perjalanan yang menyenangkan, dengan pemandangan sepanjang jalan dan suasana yang selalu menghadirkan nostalgia. Bagiku, perjalanan ini bukan sekadar urusan pe...

Smansa Penataran P4

Memori transisi dari putih - biru ke putih-abu: Dari Bau Kaos Kaki, Puisi Absurd, Hingga Betis Baja Aula yang Menguning dan Aroma "Ajaib" Hari itu, aula sekolah SMANSA mendadak berubah jadi lautan manusia. Bayangkan saja, ruangan panjaaang ukuran  tiga ruang kelas yang sanggup menampung sekitar 300 anak manusia.  Di langit-langit yang tinggi, empat buah kipas angin besi berukuran raksasa berputar malas, alih-alih mendinginkan ruangan, mereka justru sukses meratakan hawa gerah ke segala penjuru. Lampu-lampu neon berjajar rapi, yang warnanya sudah menguning dimakan usia. saksi bisu bahwa ruangan ini sudah melahirkan banyak cerita. Di sisi utara, tepat di dekat aroma semerbak dari arah toilet,  lantai aula itu sengaja dibuat lebih tinggi tiga ubin. Ya, semacam panggung gitu deh. Kami semua duduk lesehan di lantai semen dingin, teraso abu² ukuran 20x20cm,  Karena status kami masih transisi, seragam yang melekat di badan pun masih "putih-biru" legendaris dari SMP masing-...

Barbershop, Di Samping Smansa

Di samping Sekolah 1992–1994 Persis di sebelah gerbang SMANSA ada satu spot legendaris berukuran 3 x 3 meter. Bukan tempat rental komik atau warung burjo, melainkan sebuah barber shop , istilah kerennya kita saat itu, padahal aslinya mah tempat cukur rambut biasa. Pintunya warna hijau, kontras dengan dindingnya yang memadukan warna hijau dan putih tipis-tipis. Kalau melongok ke dalam, interiornya minimalis abis dihiasi poster model rambut gaya trendi masa kini. Dua cermin besar yang sudah agak buram di beberapa sudut, menemani dua kursi besi kokoh warna hijau , sandaran tangan kayu, dan beralas duduk busa kulit warna hitam, khas tukang cukur jadul yang kalau diduduki bunyinya ..krieeet... khas banget. Di pojok kiri atas, menempel sebuah kipas angin dinding yang kabelnya menjuntai ke mana-mana. Yang gokil, kipas angin itu terondol alias nggak ada penutupnya sama sekali! Baling-balingnya berputar bebas menyapu angin panas siang hari. Kalau dipikir-pikir sekarang: Nggak bahaya tah? Ngeri-...

Mobil Box Kesasar

Suatu sore tahun 1992.   Langit mulai meredup, berwarna jingga bercampur kelabu, angin sepoi² menerpa. Di trotoar seberang sekolah, saya berdiri sambil mengusap mata yang berat karena seharian belajar.  Jalanan ramai: anak-anak berseragam putih abu-abu bertebaran, motor dan mobil lalu-lalang, suara klakson bersahut-sahutan, hiruk pikuk suara bubaran sekolah terasa bagai musik orkestra tanpa partitur yang menyajikan nada tak beraturan namun penuh kegembiraan. Seperti biasa, bersama teman2, saya berdiri di atas trotoar, nungguin bus kota langganan: Bus Rudi, bus warna hitam, bergaris merah-kuning, jurusan Labuan–Pandeglang–Serang–Merak.  Tapiii sore itu, kok itu bus gak muncul²,  Badan rasanya capeek, ngantuk, pikiran melayang entah ke mana. Udah kebayang sepiring nasi, telor ceplok + kecap dirumah. Tiba-tiba, sebuah mobil boks berhenti tepat di depan saya. Sopirnya menurunkan kaca jendela. Mukanya kusut, tampak jelas penat berpeluh lelah.   “ Dek, numpa...

The "Endog Ceprot" Pak Nadria.

Endog Ceprot Dua kata itu tidak akan pernah lupa dari ingatan kami.  Singkat, khas, dan langsung melempar ingatan ke ruang kelas yang riuh di masa putih-abu. Dua kata yang hanya keluar dari lisan satu orang di sela-sela pelajaran: Siapa lagi kalau bukan guru Biologi terseru sepanjang masa, Pak Nadria . Bagi kami, beliau bukan cuma guru yang berdiri di depan papan tulis, tapi magnet keseruan. Gaya mengajarnya ceplas-ceplos, jenaka, dan kadang sedikit "vulgar" dalam batas yang mengundang tawa. Alhasil, materi Biologi yang tadinya penuh hafalan rumit berubah jadi seru dan asyik.  Apalagi kalau sudah masuk bab reproduksi, wah, seisi kelas otomatis melek, pasang telinga lebar-lebar, lalu berakhir dengan ledakan tawa di sana-sini. Kelas Pak Nadria selalu menjadi jam pelajaran yang paling kami tunggu. Di sela-sela materi yang seru itu, beliau sering menyelipkan kisah masa mudanya yang tak kalah ajaib. Salah satu cerita yang paling legendaris adalah kilas balik saat beliau masih dudu...