Sabtu, 21 Desember 2024

Golden Water

 Flashback ke tahun 1992 kelas 1-5

Mengenang masa2 sekolah.







*Pelajaran Sejarah*

kami diajar oleh Pak Guru yang menyenangkan dan akrab, berkulit putih dengan rambut ikal, postur tubuhnya mengingatkan saya dengan pelawak S.Bagyo, beliau sangat bersahaja,

Saya ingat, beliau kalau ke sekolah naik Sepeda gunung warna merah dan selalu pakai topi.

kalo ngajar gaya bicaranya lucu, karena medok jawa banget.


saat pertama kali mengajar kami, pak Dartoyo memperkenalkan diri, 





“Nama saya Pak Dartoyo , asal dari Golden Water”


“Hah? Apa?” kita kan bingung 


“Ada yang tau golden water?” tanya Pak Dartoyo sambil mengangkat tangannya.


Saya nengok ke kanan sambil senyum ke arah Day... eh maksudnya kebarisan anak2 yg paling belakang, ๐Ÿ˜Š

mereka juga cuma cengar cengir, si  Hendra, Roby, Tommy, Dony juga geleng-geleng.


Pak Dartoyo tersenyum lebar menahan tawa, 



“Golden itu emas, Water itu boso jowone Air/Banyu, yaa Banyumas”  


begitulah perkenalan beliau.

Hihihi ๐Ÿ˜„ baru kenalan aja udah lucu si bapak ini.

Pelajaran dimulai… pak Dartoyo ini kalo ngajar seperti dongeng, lha emang pelajaran sejarah kan emang banyak cerita nya ya, tapi tidak membosankan, selalu diselingi humor dan lucu karena medok jawa nya itu

iseng-iseng setiap pak Dartoyo selesai bicara, saya mengetuk-ngetuk meja dengan pulpen,

torok tok tok tok… , torok tok tok tok… 

temen2 yg di sekitar saya, tio,  lia, evi, yuni, kasmudin, endang, pada cekikikan.


Satu kali saat pak Dartoyo bicara, dan suasana cukup hening , ndilalah suara ketukan meja saya  "torok tok tok tok…" kedengeran jelas banget,


spontan pak Dartoyo melihat saya, kirain mau marah, tapi beliau malah tersenyum lebar ๐Ÿ˜€,

“lho kok ? saya ngajar kayak dalang ya?, hahahahaha”

aya salah tingkah lah, sementara yg lain cekikikan. Hihihi hayoo loo suryooo ๐Ÿ˜„

"Yowis ngomong jowo wae",


Lalu Pak Dartoyo pun melanjutkan pelajaran pake Bahasa jawa yg medhok, saya juga  menimpali dengan ketuk meja ”torok tok tok tok… 

jadi mirip pagelaran wayang kulit

hahahahaha,๐Ÿ˜ ini salah satu pengalaman lucu yg tak pernah saya lupakan.





Pak Dartoyo semoga sehat selalu.



Pelajaran jahit menjahit

 Flashback ke tahun 1992, kelas 1-5.

Mesin Jahit dan Nostalgia Kelas 1-5 (1992)

Lonceng sekolah berdentang, dan seketika atmosfer kelas 1-5 berubah tegang—khususnya bagi koloni cowok di barisan belakang. Hari itu adalah jadwal pelajaran Keterampilan. Guru yang mengajar adalah Bu Tatat, seorang guru muda yang cantik, ramah, dan sangat sabar. Saking telatennya, Bu Tatat kadang membawa anaknya yang masih balita ke kelas. Anak perempuan kecil itu dipakaikan jilbab, duduk tenang di dekat meja guru, terlihat sangat imut dan menggemaskan. Kehadiran si kecil biasanya jadi pereda ketegangan di kelas.

Tapi hari itu, imutnya anak Bu Tatat tidak cukup untuk meredakan keresahan kami. Agenda hari ini: praktik jahit-menjahit.

Di atas meja, sudah tersedia "senjata" yang asing bagi jemari kami yang biasa memegang bola basket, sepeda, atau bola kaki: yaitu secarik kain, jarum, dan beberapa gulung benang. Bu Tatat dengan anggun mencontohkan berbagai pola jahit dan teknik tusuk dasar di depan kelas.

Di barisan belakang, bisik-bisik protes mulai bergaung.

"Yaahhh... yang bener aja nih kita disuruh menjahit? Kagak ada keterampilan lain apa? Bikin mobil-mobilan dari kulit jeruk bali gitu?" keluh Ranu dengan wajah ditekuk, tangannya canggung memegang jarum yang sekecil lidi.

"Sudah anak-anak, jangan mengeluh. Menjahit itu keterampilan dasar yang berguna untuk siapa saja," suara lembut Bu Tatat memotong riuh rendah protes kami dari belakang.

Sebelum pelajaran usai, petaka yang sebenarnya tiba. Bu Tatat memberikan tugas untuk diselesaikan di rumah. Tugas menjahit manual dengan tangan! Otomatis, barisan belakang langsung lemas berjamaah.

Melihat secarik kainnya yang masih polos, Ranu mulai melancarkan aksi gerilya. Dia menengok ke arah Wiwin, salah satu siswi di dekatnya, lalu memasang wajah paling melas yang pernah ada dalam sejarah kelas 1-5.

"Eh, Win... Win... bikinin punya gue dong. Plis lah, Win... lu kan baik, pintar menjahit, tidak sombong, dan rajin menabung," bujuk Ranu dengan nada manja yang dipaksakan.

Wiwin menoleh, menatap Ranu dari bawah ke atas, lalu melengos tajam. 

"Enak aja! Bikin sendiri sana!"

Ranu tertunduk lesu. Memang enak ditolak mentah-mentah di siang bolong.

Saat jam pulang sekolah, ketika saya sedang menatap nanar kain tugas itu sambil membayangkan jemari tertusuk jarum, Jhony Perdamean menepuk pundak saya dari belakang. Wajahnya tampak begitu percaya diri, seolah baru saja menemukan mata air di tengah gurun.

"Udah, lu jangan bingung, Sur. Ini kita bisa bikin pakai mesin jahit kok. Cepat, rapi, beres!" bisik Jhony penuh rahasia.

Saya terbelalak. "Ah, yang bener lu, Jon? Emang boleh? Kan kata Bu Tatat pakai tangan?"

"Suwer! ✌️ Siapa yang bakal tahu bedanya? Mesin jahit nyokap gue udah rada ngaco suka lompat2, jadi mirip jahit tangan, Lu ikut deh besok pagi ke rumah gue di Sumampir. Ntar dibikinin sama Nyokap gue," kata Jhony meyakinkan.

Sebagai anak kelas 1 yang pragmatis dan malas ribet, tawaran Jhony terdengar seperti wahyu dari langit. Maka keesokan paginya, sebelum berangkat sekolah, saya melipir ke rumah Jhony. Di sana, sang juru selamat—ibundanya Jhony—sudah bersiap. Dengan lihai, Tante menginjak pedal mesin jahit. Tret-tret-tret-tret... tidak sampai lima menit, tugas jahit kami berdua selesai dengan pola yang sangat rapi, lurus presisi, dan kokoh.

"Cepat dan praktis!" batin saya bangga. Terima kasih banyak, Tante! Kami pun berangkat ke sekolah dengan dada membusung, merasa di atas angin.

Hari pengumpulan tugas pun tiba. Bu Tatat memeriksa hasil jahitan satu per satu di mejanya. Saya dan Jhony duduk tenang, menunggu giliran dengan senyum dikulum. Hingga akhirnya, giliran kain kami berdua yang diperiksa.

Saya melihat dahi Bu Tatat berkerut. Beliau mengelus pinggiran kain kami, membolak-baliknya, lalu pandangannya langsung tertuju ke arah kami. Ramah dan lembutnya Bu Tatat mendadak menguap, berganti kilatan tegas.

Duh Perasaan gue kok gak enak?

kalo kata Han Solo di film Starwars : "i have a bad feeling about this"

"SURYO, JHONY MAJU KEDEPAN!" 

panggil Bu Tatat. Nadanya tidak tinggi, tapi sanggup membuat jantung kami copot.

Kami berdua maju dengan langkah gontai.

"INI KALIAN PASTI PAKAI MESIN JAHIT!!" tembak Bu Tatat langsung, bak peluru tepat sasaran.

"Eh... anu, Bu...bukan begitu maksudnya...." Jhony mendadak gagap.

"TIDAK BOLEH BEGINI! KAN SUDAH SAYA BILANG, JAHITNYA HARUS PAKAI TANGAN BIAR KALIAN BELAJAR PROSESNYA. KALAU MAU DAPAT NILAI, KALIAN BERDUA BIKIN LAGI DARI AWAL, JAHIT PAKAI TANGAN, DAN DIKUMPULKAN MINGGU DEPAN!"

"Tapi Buuu...?" saya mencoba menawar dengan sisa-sisa keberanian.

"TIDAK ADA TAPI-TAPI! SUDAH, SANA KEMBALI DUDUK!" jari Bu Tatat menunjuk tegas ke arah meja kami.

Saat kami berbalik, geng barisan belakang langsung cekikikan tanpa dosa. 

"Makanya... lagian sok ide banget sih pakai mesin!" ledek Ranu, membalas dendam kesumatnya yang kemarin ditolak Wiwin.

Rasa malu, kesal, dan kecewa bercampur aduk jadi satu di dada. Saya berjalan menunduk kembali ke meja, benar-benar tidak berani menatap mahkluk-makhluk manis yang ada di kelas. 

Duh, mau ditaruh di mana muka ini? Level kharisma saya di hadapan cewek-cewek kelas 1-5 langsung terjun bebas ke titik nadir dalam hitungan detik. Hancur sudah reputasi!

Sebenarnya, dari lirikan mata, saya tahu ada beberapa anak cowok lain yang pakai mesin jahit juga. Tapi dasar nasib mereka lagi mujur, Bu Tatat tidak jeli memeriksa punya mereka. Sepanjang sisa jam pelajaran, senyum mereka lebar banget, penuh rasa kemenangan yang mengejek. Siaaaal!

Dan puncaknya, saat pembagian rapot di akhir semester, tebakan saya benar. 

Nilai mata pelajaran Keterampilan saya bertengger dengan anggun di angka "6".

Aduhh, please deh Bu Tatat yang baik hati... kok tega amat sih sama saya yang polos ini? ๐Ÿ˜‚

----

Sekarang, setelah puluhan tahun berlalu, kalau mengingat kejadian itu saya cuma bisa tertawa sendiri. Angka "6" di rapot itu bukan lagi sebuah aib, melainkan sebuah lencana kenangan yang sangat mahal.

Ternyata, ketegasan Bu Tatat hari itu bukan karena beliau benci, tapi karena beliau ingin kami menghargai sebuah proses, sekecil apa pun itu. Terbukti saat saya hidup mandiri di kost saat kuliah, ketika kancing baju copot, atau kantung sobek, bahkan restleting yg rusak, bisa tuh dengan sukses saya jahit sendiri. hehehehe

Terima kasih, Bu Tatat, atas pelajarannya (dan nilai 6-nya yang legendaris). Di mana pun Ibu dan si kecil yang dulu imut berada sekarang, semoga sehat selalu. 

Dan untuk Jhony serta geng barisan belakang... I love You All guys!! kalian adalah bagian dari potongan kisah masa remaja yang seru!

PMP Pak Almasis

 Kisah masa sekolah 1992-1995 , kelas 1-5 


Pelajaran PMP, 



Pak guru PMP ini berbadan tegap, berkacamata,  berkumis tipis dan murah senyum. 

Beliau naik vespa berwarna biru, si vespa di taruh di area parkir yg berada sebelah kanan setelah pintu masuk smansa, yg beratapkan seng awning yg sudah sedikit berkarat.


Beberapa kali bertemu dijalan, beliau selalu senyum dan menganggukkan kepala kepada kami murid²nya.


Nama guru yg pasti selalu saya ingat, karena memiliki nama yg unik, bagaimana tidak,  sepanjang hidup, saya hanya kenal satu orang yg bernama  Pak Almasis,  lengkapnya Pak Almasis Fathoni  


Beliau mengajarnya tenang,  sabar, enak dan santai, kita jadi mudah mengerti butir² Pancasila dengan contoh² di kehidupan sehari², 

Ya tahu sendiri lah, PMP kan bikin ngantuk.


Ada sebuah cerita yg saya ingat sampai sekarang, Pak Almasis waktu muda nya dulu saat KKN di sebuah desa, disana malah disuruh ngajarin ngaji anak², 

akhirnya pak Almasis di desa itu dihormati dan diberi banyak kemudahan dan tidak kesulitan makan, itulah berkahnya mengajar.


Selain itu pak Almasis pernah absen mengajar kita karena terjebak banjir di dekat terowongan tol.


Tidak banyak yg saya ingat mengenai pak Almasis.

Tapi alhamdulillah nilai PMP saya di rapot dapat 8.

Terimakasih ya Pak๐Ÿ™

Semoga Bapak sehat barokah bahagia dan tetap selalu tersenyum.

Pak Gunarto - Kimia

Kimia dan Putih-Abu-Abu 1-5

Ada kalanya, ingatan saya melompat jauh ke belakang. Menembus dinding batas sekian puluh tahun lalu, yang hinggap di selasar sekolah kuno beratap tinggi, dengan tembok warna biru muda kusam yang cat nya sedikit mengelupas.

Suara kapur tulis yang berdecit di papan hitam, dan aroma khas buku pelajaran di ruang kelas 1-5 SMA. Di sinilah kisah ini bermula.

Kimia. 

Pelajaran ini benar-benar barang baru buat kami, anak-anak kelas 1 SMA yang baru saja lulus SMP. Dulu kan tidak ada pelajaran yang bikin pusing ini. 

Tapi untungnya, guru kimia kami waktu itu adalah Pak Gunarto. Masih muda, pintar, dan ceplas-ceplos. Bahasanya gaul, gampang dicerna, bikin pelajaran kimia yang sulit pun jadi terasa asyik.

Kadang Pak Gunarto bercerita tentang kegemarannya naik gunung dan berpetualang, sesaat sebelum mulai pelajaran. Mungkin jaman sekarang, ini namanya teknik ice breaking, jadi kita fresh dan gak ngantuk. 

Ingat tabel periodik unsur?

Nah, salah satu trik yang diajarkan Pak Gunarto  buat kami dalam menghafal golongan 7A (F, Cl, Br, I, At). Dia pakai singkatan legendaris: "Film CiLat BRuce lee iaaATttt!"

Sontak sekelas ketawa ngakak. 

Ajaibnya, gara-gara Pak Gunarto, sampai hari ini saya tidak pernah lupa urutan itu. Setiap melihat tabel periodik, terutama golongan 7A, wajah santai dan penuh senyum Pak Gunarto otomatis muncul di kepala. Beliau bukan cuma guru, tapi sudah seperti teman nongkrong yang asyik.

Suatu hari, entah dari mana asalnya, gosip kencang beredar: Pak Gunarto mau nikah!

Geng kami di pojokan belakang—saya, Imas, Endang, Lia, Evi, Dayana, Kasmudin, Solihin, Aton, Tommy, Donny, Jhoni Pasaribu, dan Madliyas—langsung sibuk pas jam istirahat.

Eh, masa Pak Gunarto bakal melepas masa lajang nih, Kita kudu ngasih kado gak sih?” tanya Lia sambil mengunyah permen relaxa warna ungu.

Wajib dong, biar Pak Gun makin sayang sama kita! Patungan yuk!” seru Kasmudin.

Akhirnya, kesepakatan tercapai. Kelas 1-5 mulai nyicil ngumpulin duit dari sisa uang jajan. Bendahara kelas, Imas Maisaroh, sigap jadi koordinator. 

Kita setor ke Imas kadang 50perak, kadang 100, Nah! Setelah beberapa minggu, wah lumayan juga! Terkumpul beberapa puluh ribu rupiah lho!. Di tahun 90-an, uang segitu sudah bisa buat makan² satu kelas.

Tibalah hari H acara pernikahan Pak Gunarto.

Sebelum berangkat, saya dan Joni Pasaribu mampir ke Toko Edi di Cilegon, nyari kado yang *worth it* dan pas sesuai dana yg kita kumpulin.



Bingung. 

Milih kemeja, takut ukurannya salah. Milih barang elektronik, duitnya kurang. Akhirnya, mata kami tertuju pada satu set cangkir dan piring makan yang cantik. Warna kuning krem lembut dengan motif bunga yang terlihat berkelas di rak kaca.

Ah, ini aja Jon! Bagus deh, pasti kepake buat Pak Gunarto, bisa ngeteh , ngopi sama keluarga,” kata saya optimis.

Joni manggut-manggut setuju, walau wajahnya kelihatan ragu. “Iya sih. Tapi norak gak ya warnanya, Bro? Entar Pak Gunarto ilfil lagi.

Halah! Ini mah seninya tinggi, Jon. Pasti beliau suka!

Kami langsung bayar di kasir, tidak lupa menyelipkan kartu ucapan tulisan tangan: 

"Selamat Berbahagia dari Murid-Murid Kelas 1-5”

Petualangan berlanjut. 

Kami berangkat ke Serang naik bis “Tali Jaya”. Bis ¾ legendaris yang warnanya putih, bergaris biru, dan selalu penuh. Supirnya berambut gondrong berlogat Madura yang kental, sang kenek penuh semangat berteriak-teriak sepanjang jalan, untuk ngasih tau daerah yang dilewati, dan bersiul suit suit dikala menyalip bus lain, Seruu!

"Bor..!! Bor..!!..." kenek bis berteriak pas kami sampai daerah Sumur Bor.

Saya dan Joni turun dengan gaya anak sekolah  gaul. Kami jalan kaki menyusuri jalan yg tidak terlalu besar, tapi mobil bisa lewat lah.  Kami menuju lokasi pernikahan. 

Sampai di sana, suasana sudah ramai. Lucunya, kami berdua doang yang pakai seragam putih-abu-abu lengkap. Maklum, hari itu hari sekolah dan kami masuk siang. Tapi kami tidak peduli, yang penting bisa kasih selamat langsung ke guru favorit kami.

Di pelaminan, Pak Gunarto dan istrinya terlihat bahagia sekali. Pak Gunarto ganteng pakai beskap hitam dan blangkon Jawa asli, kain jarik coklat bermotif kawung. Istrinya pakai kebaya yang warnanya senada.

Kami kasih kado set cangkir itu langsung ke Pak Gunarto. "Wah, makasih ya!" kata beliau, senyumnya sumringah banget.

Seminggu kemudian, saat jam pelajaran kimia, Pak Gunarto datang, Senyumnya lebar sekali sejak melangkah masuk dari pintu kelas.๐Ÿ˜

Beliau berdiri, diam beberapa saat, melihat sekeliling kelas satu per satu, seolah mengingat-ingat wajah-wajah kami yang penuh harapan, dan berkata:

Terimakasih atas kadonya yaaa. Cangkirnya sudah saya pakai buat minum kopi pagi-pagi sama istri.

Sontak, sekelas bersorak gembira. "Samaa-samaa paaaaaak...!!!"

Suara tawa kami bergema di gedung tua itu, memantul di dinding-dinding kusam 1-5. Itulah kehangatan sederhana yang tidak bisa dibeli dengan uang puluhan ribu sekalipun. Kenangan tentang persahabatan, tentang guru yang menginspirasi, dan tentang masa SMA yang selalu bikin rindu untuk kembali.