Langsung ke konten utama

50 tahun

Lima Puluh Tahun: Belum Selesai, Hanya Sedang Mencari Arah

masa dalam hidup ketika seseorang tidak benar-benar tahu apa yang sedang ia rasakan. Bukan sedih sepenuhnya, bukan juga kehilangan harapan. Hanya saja, ada banyak hal yang menumpuk di kepala, sementara hidup tetap berjalan seperti biasa.

Bangun pagi, berangkat kerja, menyelesaikan tanggung jawab, pulang ke rumah, bercengkerama dengan keluarga, lalu tidur dan mengulang semuanya keesokan hari. Dari luar, semuanya terlihat normal. Padahal, di dalam kepala, ada begitu banyak hal yang sedang dipikirkan.

Begitulah rasanya memasuki usia lima puluh tahun.

Usia ketika kita sudah cukup lama mengenal kehidupan, tetapi ternyata masih bisa dibuat bingung olehnya. Pengalaman sudah banyak, jam terbang sudah tinggi, berbagai masalah pernah dilewati. Namun, entah kenapa, belakangan ini ada saja pertanyaan yang sulit dijawab.

Apa yang sebenarnya sedang gue kejar? Sampai kapan gue bisa bertahan seperti ini? Dan kalau suatu hari nanti gue berhenti bekerja, apa yang sudah gue siapkan untuk hari-hari setelahnya?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu muncul saat kita sedang punya masalah besar. Kadang justru datang pada malam yang tenang, ketika semua orang di rumah sudah tidur dan kita akhirnya punya waktu untuk mendengarkan pikiran sendiri.

Tentang pekerjaan dan lelah yang tidak mudah diceritakan

Ada masa ketika pekerjaan terasa seperti perjalanan yang jelas arahnya. Kita bekerja, belajar, mengumpulkan pengalaman, mengejar tanggung jawab yang lebih besar, dan berharap suatu hari semua usaha itu membawa kita pada kehidupan yang lebih baik.

Namun, perjalanan tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Ada saatnya pekerjaan yang dulu kita jalani dengan semangat mulai terasa melelahkan. Tekanan semakin besar, tuntutan terus bertambah, sementara dukungan yang kita harapkan tidak selalu datang. Kita mulai bertanya-tanya apakah yang kita kerjakan masih dihargai, apakah kemampuan kita masih dibutuhkan, atau jangan-jangan kita hanya sedang bertahan karena tidak tahu kemana harus melangkah.

Mau bicara kepada atasan, rasanya sulit. Mau menyampaikan keberatan, takut dianggap mengeluh. Mau membicarakan kenaikan gaji, malah berpikir berkali-kali sebelum membuka percakapan.

Padahal, kebutuhan hidup tidak ikut berhenti hanya karena kita sedang lelah. Harga-harga terus bergerak, kebutuhan keluarga bertambah, dan masa depan semakin dekat.

Kadang kita bukan tidak berani memperjuangkan diri sendiri. Kita hanya sedang menimbang banyak hal sekaligus. Ada tanggung jawab, ada risiko, ada kebutuhan untuk tetap memiliki penghasilan, dan ada keluarga yang ikut bergantung pada keputusan kita.

Di usia ini, mengambil keputusan memang tidak sesederhana dulu. Kalau masih muda, mungkin kita bisa berkata, "Kalau nggak cocok, ya pindah saja." Sekarang, kita harus berpikir lebih panjang. Bukan karena tidak punya keberanian, melainkan karena ada lebih banyak hal yang harus dijaga.

Tetapi, satu hal yang perlu kita ingat: bertahan bukan berarti harus diam selamanya, dan berubah bukan berarti kita telah gagal.

Mungkin yang kita butuhkan bukan keputusan besar yang diambil secara terburu-buru, melainkan keberanian untuk mulai mengevaluasi keadaan. 

Apa yang masih bisa diperbaiki? 

Apa yang perlu dibicarakan? 

Kemampuan apa yang masih bisa dikembangkan? 

Dan kesempatan apa yang selama ini belum sempat kita lihat karena terlalu sibuk bertahan?

Tidak semua pintu harus dibuka hari ini. Namun, tidak ada salahnya mulai mencari kuncinya.

Tentang keluarga dan peran sebagai seorang ayah

Menjadi ayah mengajarkan kita banyak hal, terutama tentang tanggung jawab yang sering kali tidak terlihat.

Ada kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi, pendidikan anak yang harus dipikirkan, kesehatan keluarga yang harus dijaga, dan berbagai kebutuhan kecil yang kalau dikumpulkan ternyata tidak pernah benar-benar kecil.

Kita mungkin bisa menunda keinginan pribadi. Sepatu yang sudah lama diincar bisa ditunda, liburan bisa menunggu, hobi bisa dikurangi. Tetapi, ketika menyangkut kebutuhan keluarga, rasanya sulit untuk berkata, "Nanti dulu, ya."

Kadang tetap tersenyum meski pikiran sedang penuh. Tetap bercanda meski hati sedang tidak terlalu nyaman. Tetap menjawab, "Aman, kok," ketika seseorang bertanya bagaimana keadaan kita, padahal di kepala sedang ada banyak hal yang belum menemukan jalan keluar.

Bukan karena kita ingin berpura-pura kuat. Mungkin kita hanya belum tahu bagaimana menjelaskan semuanya.

Kita khawatir kalau terlalu banyak bercerita, keluarga ikut cemas. Kita takut kalau menunjukkan kegelisahan, orang-orang yang kita sayangi kehilangan rasa aman.

Padahal, menjadi ayah bukan berarti harus selalu punya jawaban. Menjadi suami bukan berarti tidak boleh merasa takut. Dan menjadi kepala keluarga bukan berarti harus menyelesaikan seluruh persoalan seorang diri.

Keluarga bukan hanya alasan kita untuk terus kuat. Keluarga juga bisa menjadi tempat kita mengakui bahwa ada hari-hari ketika kita tidak sekuat biasanya.

Mungkin kita perlu belajar berbicara sedikit lebih terbuka. Bukan dengan menumpahkan semua kekhawatiran sekaligus, tetapi dengan mulai mengajak keluarga memahami keadaan yang sebenarnya. Membicarakan kebutuhan, rencana, dan keterbatasan bukan berarti membebani mereka. Justru itu bagian dari membangun kehidupan bersama.

Sebab, keluarga yang baik bukan keluarga yang tidak pernah menghadapi kesulitan. Keluarga yang baik adalah keluarga yang perlahan belajar menghadapi kesulitan tanpa harus saling menyalahkan.

 Tentang usia, masa pensiun, dan waktu yang terasa semakin cepat

Ada sesuatu yang berbeda ketika usia lima puluh tahun mulai mendekat atau bahkan sudah kita lewati.

Dulu, pensiun terasa seperti sesuatu yang masih jauh. Seolah-olah ada banyak sekali waktu untuk mempersiapkan semuanya. Kita merasa masih punya kesempatan untuk menabung lebih banyak, membangun aset, merintis usaha, atau menyusun rencana untuk hari tua.

Tahu-tahu, waktu berjalan begitu cepat.

Kita mulai menghitung tahun, memperhatikan tabungan, memikirkan biaya hidup, dan bertanya-tanya apakah semua yang sudah dilakukan cukup untuk menghadapi masa depan.

Ada kecemasan yang sulit dihindari. Bagaimana kalau nanti pekerjaan berakhir sebelum keuangan siap? Bagaimana kalau kesehatan tidak lagi sekuat sekarang? Bagaimana kalau kemampuan yang selama ini menjadi sumber penghasilan tidak lagi banyak dibutuhkan?

Wajar kalau pertanyaan-pertanyaan itu membuat kita gelisah.

Namun, ada satu hal yang mungkin perlu kita ubah: jangan sampai kekhawatiran tentang masa depan mengambil seluruh ketenangan yang masih kita miliki hari ini.

Kita memang tidak bisa memutar waktu. Kita tidak bisa kembali ke usia tiga puluh tahun untuk mengambil keputusan yang berbeda. Kita juga tidak bisa mengulang semua kesempatan yang mungkin pernah terlewat.

Tetapi, kita masih punya hari ini.

Kita masih bisa memeriksa kondisi keuangan, menghitung kebutuhan setelah pensiun, mengurangi pengeluaran yang tidak perlu, memperbaiki keterampilan, membangun sumber penghasilan tambahan, atau mulai menyusun rencana hidup yang lebih realistis.

Mungkin hasilnya tidak akan langsung terlihat. Mungkin kita harus memulai dari jumlah yang kecil dan langkah yang sederhana.

Tidak apa-apa.

Pohon yang ditanam hari ini memang tidak langsung memberi keteduhan. Tetapi, jauh lebih baik mulai menanam sekarang daripada terus menyesali mengapa kita belum menanamnya kemarin.

Kita tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi kita masih bisa membuat masa depan sedikit lebih baik daripada jika kita tidak melakukan apa-apa.

Tentang melihat orang lain yang tampaknya lebih berhasil

Sejujurnya, salah satu hal yang paling melelahkan dalam hidup adalah membandingkan perjalanan kita dengan perjalanan orang lain.

Melihat teman sebaya sudah punya usaha sendiri, rumah yang lebih bagus, tabungan yang lebih besar, jabatan yang lebih tinggi, atau kehidupan yang terlihat begitu mapan.

Lalu, tanpa sadar, kita mulai bertanya kepada diri sendiri.

Kok dia sudah sampai di sana, sementara gue masih begini-begini saja?

Bukankah kita sama-sama mulai bekerja pada masa yang kurang lebih sama? Bukankah kita juga sama-sama berjuang? Lalu, di mana letak perbedaannya?

Pertanyaan itu manusiawi. Kita semua pernah mengukur diri sendiri menggunakan pencapaian orang lain, terutama ketika sedang merasa kurang puas dengan kehidupan kita.

Tetapi, semakin bertambah usia, seharusnya kita semakin memahami bahwa hidup bukan perlombaan dengan garis awal, lintasan, dan bekal yang sama.

Ada orang yang sejak awal memiliki dukungan keluarga lebih besar. Ada yang mendapatkan kesempatan lebih baik. Ada yang berani mengambil risiko karena tidak banyak tanggungan. Ada juga yang harus mengutamakan kebutuhan orang lain sebelum memikirkan dirinya sendiri.

Bahkan, apa yang terlihat dari kehidupan orang lain belum tentu menceritakan seluruh kenyataannya.

Kita melihat hasilnya, tetapi tidak selalu tahu harga yang dibayar. Kita melihat rumahnya, tetapi tidak tahu beban pikirannya. Kita melihat keberhasilannya, tetapi tidak tahu bagian hidup mana yang harus ia korbankan.

Jadi, tidak perlu membenci keberhasilan orang lain. Kita boleh mengaguminya, belajar darinya, bahkan menjadikannya inspirasi. Namun, jangan sampai keberhasilan mereka berubah menjadi alasan untuk merendahkan perjalanan sendiri.

Barangkali selama ini kita tidak berjalan secepat yang diharapkan karena ada banyak hal yang harus kita pikul. Barangkali energi kita terbagi untuk membesarkan anak, mendampingi pasangan, membantu keluarga, dan mempertahankan kehidupan agar tetap berjalan.

Itu juga perjuangan.

Mungkin tidak menghasilkan tepuk tangan. Tidak selalu terlihat dalam foto atau cerita kesuksesan. Namun, bukan berarti tidak memiliki nilai.

Jangan sampai terlalu sibuk menghitung apa yang sudah dimiliki orang lain, sampai lupa menghargai apa yang sudah berhasil kita jaga selama ini.

Tentang diri sendiri yang juga perlu diperhatikan

Selama bertahun-tahun, mungkin kita terlalu terbiasa memikirkan apa yang dibutuhkan orang lain.

Apa yang harus dibayar bulan ini. Apa yang perlu diselesaikan di kantor. Apa yang harus disiapkan untuk anak. Apa yang perlu diperbaiki di rumah. Apa yang harus dilakukan agar semuanya tetap berjalan.

Sampai-sampai, ketika ditanya apa yang sebenarnya kita inginkan untuk diri sendiri, kita justru kesulitan menjawab.

Padahal, kita juga punya kehidupan di luar pekerjaan dan tanggung jawab keluarga.

Kita punya hal-hal yang dulu membuat kita bersemangat. Hobi yang lama ditinggalkan. Teman-teman yang sudah jarang ditemui. Musik yang dulu sering dimainkan. Percakapan sederhana yang membuat hati terasa ringan. Atau sekadar keinginan untuk duduk santai tanpa memikirkan pekerjaan selama beberapa jam.

Mungkin hal-hal seperti itu terdengar kecil dibandingkan persoalan keuangan dan masa depan. Tetapi, manusia tidak hanya hidup dari angka, target, dan tanggung jawab.

Kita juga membutuhkan kegembiraan. Kita membutuhkan hubungan yang hangat. Kita membutuhkan waktu untuk kembali mengenali diri sendiri.

Tidak semua kebahagiaan harus menunggu sampai kita punya tabungan yang cukup besar atau pekerjaan yang lebih baik. Ada kebahagiaan sederhana yang bisa kita hadirkan sekarang, tanpa mengabaikan tanggung jawab yang harus diselesaikan.

Sesekali bertemu teman lama. Menikmati musik favorit. Berjalan pagi. Meluangkan waktu bersama pasangan. Atau melakukan sesuatu yang membuat kita merasa menjadi diri sendiri lagi, bukan sekadar orang yang terus-menerus menyelesaikan kewajiban.

Kita tidak sedang melarikan diri dari kenyataan. Kita sedang mengisi kembali tenaga agar bisa menghadapi kenyataan dengan pikiran yang lebih jernih.

Sebab, hidup yang baik bukan hanya tentang seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi juga tentang apakah kita masih bisa menikmati sebagian dari kehidupan yang sedang kita perjuangkan.

 Lima puluh tahun bukan garis akhir

Kalau dipikir-pikir, mungkin yang membuat usia lima puluh tahun terasa berat bukan semata-mata angka itu sendiri.

Melainkan kesadaran bahwa waktu tidak lagi terasa tak terbatas.

Kita mulai memahami bahwa tidak semua impian akan tercapai, tidak semua orang akan menghargai usaha kita, dan tidak semua keputusan akan membawa hasil seperti yang diharapkan.

Ada kesempatan yang datang terlambat. Ada perjuangan yang hasilnya tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan. Ada harapan yang harus disesuaikan dengan kenyataan.

Namun, bukankah itu bagian dari menjadi manusia?

Kita tumbuh bukan hanya melalui keberhasilan, tetapi juga melalui hal-hal yang tidak berjalan sesuai rencana. Kita belajar mengenali batas diri, memahami prioritas, dan membedakan mana yang benar-benar penting dengan mana yang selama ini hanya kita kejar karena merasa harus memilikinya.

Di usia yang lebih muda, kita mungkin ingin membuktikan bahwa kita bisa menjadi seseorang. Di usia lima puluh tahun, mungkin kita mulai ingin memastikan bahwa hidup yang kita jalani benar-benar memiliki arti.

Kita tidak lagi harus memenangkan semua perdebatan. Tidak harus mengejar semua peluang. Tidak harus membuktikan keberhasilan kepada setiap orang yang meragukan kita.

Kita boleh memilih pekerjaan yang lebih sesuai dengan keadaan, selama memungkinkan. Kita boleh menyusun ulang prioritas. Kita boleh belajar sesuatu yang baru, memulai usaha kecil, atau mengubah cara mengelola keuangan. Kita juga boleh mengakui bahwa ada hal-hal yang perlu diperbaiki tanpa menganggap seluruh perjalanan sebelumnya sebagai kegagalan.

Yang penting, kita tidak berhenti mengambil bagian dalam kehidupan sendiri.

Mulailah dari hal yang bisa dilakukan. Bicarakan apa yang perlu dibicarakan. Hitung apa yang perlu dihitung. Perbaiki apa yang masih bisa diperbaiki. Dan kalau ada keputusan besar yang harus diambil, berikan waktu kepada diri sendiri untuk mempertimbangkannya dengan tenang.

Kita tidak harus menyelesaikan seluruh persoalan hidup dalam satu malam.

Kadang, satu langkah kecil yang konsisten jauh lebih berarti daripada seratus rencana besar yang hanya berputar di kepala.

Dan yang tidak kalah penting, jangan terlalu keras kepada diri sendiri hanya karena perjalanan hidup kita belum sesuai dengan gambaran yang dulu pernah kita buat.

Kita sudah sampai sejauh ini. Ada banyak hal yang mungkin belum berhasil kita raih, tetapi ada juga banyak hal yang sudah kita lewati, kita pelajari, dan kita pertahankan.

Berikan diri sendiri sedikit penghargaan untuk itu.

Bukan untuk berpuas diri, melainkan supaya kita punya cukup ketenangan untuk melanjutkan perjalanan.

Pada akhirnya, kita hanya sedang mencari cara untuk melanjutkan hidup dengan lebih baik

Mungkin pekerjaan kita memang sedang berada di persimpangan. Mungkin dukungan yang diharapkan belum datang. Mungkin penghasilan belum sesuai dengan kebutuhan. Mungkin persiapan pensiun masih jauh dari ideal.

Kita tidak perlu berpura-pura bahwa semua itu bukan masalah.

Tetapi, kita juga tidak perlu menyimpulkan bahwa semuanya sudah terlambat.

Usia lima puluh tahun bukan usia ketika semua pintu otomatis tertutup. Memang, beberapa pilihan mungkin menjadi lebih terbatas. Kita harus lebih realistis, lebih berhati-hati, dan lebih cermat dalam mengambil keputusan.

Namun, pengalaman yang kita miliki hari ini juga merupakan bekal yang tidak kita punya ketika berusia dua puluh atau tiga puluh tahun.

Kita lebih mengenal karakter manusia. Lebih memahami risiko. Lebih tahu apa yang penting bagi keluarga. Lebih mampu membedakan keinginan sesaat dengan kebutuhan yang benar-benar mendasar.

Gunakan semua itu untuk menyusun babak berikutnya.

Tidak perlu selalu dengan perubahan besar. Tidak perlu pula dengan target yang membuat kita semakin tertekan. Cukup mulai dengan arah yang lebih jelas, langkah yang masuk akal, dan kesediaan untuk memperbaiki keadaan sedikit demi sedikit.

Kalau hari ini belum bisa mengambil keputusan, tidak apa-apa. Gunakan waktu untuk mencari informasi dan mempertimbangkan pilihan.

Kalau hari ini masih merasa lelah, beristirahatlah tanpa merasa bersalah.

Kalau sesekali merasa tertinggal ketika melihat keberhasilan orang lain, tarik napas dan ingatkan diri sendiri bahwa kita sedang menjalani kehidupan yang berbeda.

Dan kalau suatu malam pikiran kembali dipenuhi kecemasan tentang pekerjaan, keluarga, dan masa depan, cobalah berkata kepada diri sendiri:

Gue memang belum sampai di tempat yang gue harapkan. Masih ada yang harus dibenahi, masih ada yang harus dipersiapkan, dan masih banyak hal yang belum gue ketahui. Tapi bukan berarti semuanya sudah terlambat.

Gue masih punya kesempatan untuk belajar, memperbaiki keadaan, dan membuat keputusan yang lebih baik. Gue tidak harus menyelesaikan semuanya sekaligus. Gue hanya perlu terus bergerak, satu langkah demi satu langkah.

Sebab, pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, siapa yang paling banyak memiliki, atau siapa yang paling terlihat berhasil di mata orang lain.

Hidup adalah tentang bagaimana kita menjalani waktu yang diberikan kepada kita, menjaga orang-orang yang kita sayangi, memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki, dan menemukan ketenangan di tengah segala sesuatu yang tidak selalu berjalan sesuai keinginan.

Lima puluh tahun bukan berarti kesempatan sudah habis. Mungkin justru sekarang waktunya berhenti berlari tanpa arah, melihat kembali perjalanan yang sudah ditempuh, lalu memilih langkah berikutnya dengan lebih bijaksana.

Kita tidak tahu persis bagaimana hari esok akan berjalan. Tetapi, kita tidak harus menunggu hari esok menjadi pasti untuk mulai melakukan sesuatu yang baik hari ini.


Pelan-pelan saja.

Kita sudah cukup lama berjuang untuk membuktikan sesuatu kepada dunia. Sekarang, mari belajar berjuang dengan cara yang lebih tenang, lebih terukur, dan lebih ramah kepada diri sendiri.

Kita masih punya keluarga untuk dicintai, pengalaman untuk dibagikan, kesempatan untuk diperbaiki, dan hari-hari yang belum kita jalani.

Dan selama kita masih punya kemauan untuk melangkah, cerita ini belum selesai.

Kita bukan sedang terlambat menjalani hidup. Kita hanya sedang belajar menjalani babak berikutnya dengan cara yang berbeda.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

anak kecil dan operator telpon, sally & paul

  Saya baca cerita ini sudah lama sekali di internet, cerita ini sederhana, tapi saya suka.  Cerita seorang operator telepon dan anak kecil...  Reader's Digest Classic, originally published in 1966 as "The Voice in the Box" Waktu saya masih amat kecil, ayah sudah memiliki telepon di rumah kami. Inilah telepon masa awal, warnanya hitam, di tempelkan di dinding, dan kalau mau menghubungi operator, kita harus memutar sebuah putaran dan minta disambungkan dengan nomor telepon lain. Sang operator akan menghubungkan secara manual. Dalam waktu singkat, saya menemukan bahwa, kalau putaran di putar, sebuah suara yang ramah, manis, akan berkata : "Operator". Dan si operator ini maha tahu. Ia tahu semua nomor telepon orang lain! Ia tahu nomor telepon restoran, rumah sakit, bahkan nomor telepon toko kue di ujung kota. Pengalaman pertama dengan sang operator terjadi waktu tidak ada seorangpun dirumah, dan jempol kiri saya terjepit pintu. Saya berputar putar kesakitan dan mem...

Radio FM EDP Lib

Radio EDP LIB Cilegon  MEMOAR SEBUNGKUS STIKER BIRU: KISAH RADIO " GELAP " EDPLIB CILEGON Sunyinya Kota Baja dan Desis Gelombang AM Bagi anak-anak Cilegon yang tumbuh di era 80-an akhir dan awal 90-an, pilihan hiburan kami tidak banyak. Kota Baja ini rasanya sepi sekali setelah jam sekolah usai. Kalau mau mendengarkan musik di radio, pilihannya cuma satu: Radio “Top” di frekuensi AM 1152 Khz. Kalau bosan, kami harus memutar *tuning* agak jauh mencari radio “PBS” (Pahla Budi Sakti) AM 648 yang ada di Serang. Mendengarkan radio AM zaman itu butuh kesabaran tingkat dewa. Suaranya jauh dari kata jernih. Begitu ada lampu neon di rumah yang dinyalakan, langsung muncul suara interferensi yang khas: *“Zzzsssrrrrrzzz…”* berisik sekali. Lagunya? Ah, monoton. Putarannya tidak jauh dari Pop mendayu-dayu, Dangdut, Iwan Fals, Pance Pondaag, artis-artis JK Records - lagu cengeng. Tidak ada yang sehitz radio-radio Jakarta. "Bapak lu tuh, tiap hari dengerinnya lagu itu-itu mulu. Kuping ...

Doa sholat hajat

Bacaan Doa Setelah Sholat Hajat Lengkap Beserta Latin dan Artinya Doa Sholat Hajat  - Setiap manusia pasti memiliki hajat atau kebutuhan baik yang bersifat khusus pribadi maupun yang bersifat umum. Namun terkadang hajat kita susah untuk terlaksana oleh karena itu kita di anjurkan untuk mengerjakan sholat hajat agar Allah SWT segera mengabulkan apa yang menjadi hajat kita. Sholat Hajat  ialah sholat sunnah yang dikerjakan untuk meminta kepada Allah SWT supaya yang menjadi hajat kita cepat dikabulkan oleh Allah. Waktu mengerjakannya yang baik menurut para ulama yaitu setelah mengerjakan sholat Isya sampai menjelang sholat Shubuh. Untuk bacaan  niat sholat hajat  adalah sebagai berikut: Niat Sholat Hajat أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْحَاجَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى Ushollii sunnatal haajati rok'aataini lillaahi ta'aala. Artinya: "Aku niat shalat sunah hajat dua rakaat karena Allah Ta'ala." Jumlah rakaat sholat hajat dikerjakan paling sedikit 2 rakaat dan paling banyak t...