Minggu, 29 Oktober 2023

urusan hati yang tidak pernah selesai

Urusan yang melibatkan hati itu gak pernah mudah. 

Dan (mungkin) gak pernah selesai. 

ya kecuali elu benar2 kecewa dan sudah move on membuka lembaran baru.

kagak ada tuh rumus pasti gimana cara berhenti suka sama seseorang, karena melepaskan itu mudah tapi merelakan itu sulit. terutama kalo ada memory bersamanya tul gak?

trus trus..? ya terima aja kenyataan, lanjutkan hidup, sadar broo ada beda  jatuh cinta dan saling cinta. Jatuh cinta itu sepihak - sendiri, saling cinta itu dua-duanya - bareng-bareng. pernah denger istilah bertepuk sebelah tangan?

Gue suka banget pelajaran dari Tom Hansen di film [500] Days of Summer.

emang klise, tapi percaya atau enggak cuma waktu lah yg obat luka. Tom  butuh 500 hari hingga sepenuhnya sadar bahwa selama ini dia hanya jatuh cinta tapi tidak saling cinta.

Tom mulai jatuh cinta sejak bertemu dengan Summer Fin di lift. Summer ikut nyanyiin lirik dari band The Smiths yang dia dengarkan di earphone-nya.

"To die by your side is such a heavenly way to die" Summer meniruin lirik lagu berjudul There is Light that Never Goes Out.

Tom jadi buta dan tuli sejak saat itu, 

nyatanya Summer sudah memberi isyarat bahwa dia gak bisa janjiin apapun.

Tom  jatuh-sejatuh-jatuhnya-jatuh dalam ekspektasi yang dia buat sendiri. Hidup dalam khayalan rasa antara hubungannya dengan Summer yang aslinya cuma bertepuk sebelah tangan.

Sebuah realitas semu diatas kebenaran.

Setelah capek muter-muter dengan perasaannya sendiri, Tom akhirnya menerima kenyataan bahwa ada sesuatu yang diluar kehendaknya. Sesuatu yang tak bisa dipaksakan, sekuat apapun usaha, sekeras apapun doa.



"You know what sucks? Realizing that everything you believe in is complete and utter bullshit" - Tom Hansen.

Di titik itulah Tom sadar  selama ini dia cuma jatuh cinta tapi tidak saling cinta. Dia-pun mulai keluar dari ekspektasinya. Mengikhlaskan Summer.

500 Days of Summer bukanlah film cinta tapi beneran bagus buat belajar ilmu hidup, di awal film, “maybe playing it safe is the wrong approach”. Kalau nggak berani melakukan sesuatu untuk masa depanmu sendiri, apalagi untuk pasangan.

Menerima kenyataan dengan gentle, sepahit apapun. Semua akan baik baik saja.

Menerima kenyataan pahit itu memang sulit. Dunia terus berputar, apapun pilihan hidupmu, pagi pasti akan kembali. 

Waktu terus berjalan,  musim berganti. Akhirnya semua hanya akan menjadi masa lalu.

Summer sudah menikah, Tom memulai hidup baru dengan Autumn. Ada kehidupan lain yang memang harus dijalani, 

begitu juga dengan kita. 

Ada garis hidup yang menunggu untuk ditemukan - dijalani - dinikmati - disyukuri.

kamu pasti bisa ! 😁 



Jumat, 27 Oktober 2023

Jam Pemberian Bapak


Detik-Detik yang Pulang ke Pergelangan Tangan

Aroma Cilegon di masa lalu selalu punya cara unik untuk pulang ke ingatan: deru pelan pabrik Krakatau Steel (KS), angin sepoi sepoi, rimbunnya pepohonan hijau,  lampu-lampu jalanan yang orange temaram, wangi martabak di prapatan, asap sate pak jangkung di simpang tiga, pisang molen gurih di kotabumi, cireng dan combro di depan kcc, bakwan goreng di kolam renang bawah, burger dan nasi goreng teri di coffee shop, dan aroma cingkong kepiting dan sop asparagus yang mengepul hangat di Resto New Saiki. 

Di sanalah, saat saya masih mengenakan seragam merah-putih, perjalanan jam ini dimulai.

Malam itu, seorang ekspatriat Jepang yang sedang menangani proyek di KS mengajak kami sekeluarga makan malam. Tanpa ada alasan khusus, hanya bincang santai bapak dan si jepang, ramah tamah dengan senyum yang khas, ia melepas sebuah jam tangan digital dan memberikannya begitu saja kepada saya. Di tali jamnya, tercetak tulisan "KOBELCO" dengan warna biru terang yang mencolok. 

Bagi seorang anak SD, jam Casio digital itu adalah benda paling keren di dunia. Ia setia melingkar di pergelangan tangan saya, melewati masa-masa akhir sekolah dasar, hingga akhirnya menyerah pada waktu dan rusak saat saya menginjak bangku SMP. Dua tahun yang singkat, namun cukup untuk menanamkan rasa cinta saya pada ketangguhan Casio.
jam casio kobelco saya waktu SD

Waktu terus berjalan, dan tahun 1992 membawa saya ke gerbang masa remaja. Sebagai hadiah ulang tahun saat saya menginjak kelas 1 SMA, Bapak membawa pulang sebuah kotak berwarna biru. Di dalamnya ada Casio G-Shock DW-5750. Ukurannya cukup besar dan bentuknya unik. Jujur saja, di zaman itu, memakai jam tersebut membuat rasa percaya diri langsung melesat. Kalau melihat foto lama, tubuh saya waktu itu kurus banget, kontras sekali dengan jamnya yang gagah. Tapi saya tidak peduli, saya merasa sangat keren.
kelas 1 sma, kurus banget yak hahaha

Masa-masa SMA adalah masa di mana energi saya seolah tidak ada habisnya. Mulai dari berenang, bersepeda, voli, basket, hingga penjelahan pramuka, jam itu tidak pernah absen menemani. Bahkan dalam sebuah foto ikonik masa SMA  saat saya bangga memakai rompi hasil berburu di bazar Alun-Alun Serang G-Shock DW-5750 itu tampak melingkar gagah, menjadi saksi bisu masa muda yang aktif dinamis.

Ketangguhannya berlanjut hingga masa kuliah antara tahun 1994 sampai 1999. Jam itu seolah menolak untuk menua, tetap berfungsi dengan sangat baik.
zaman sma mau kuliah nih, pake gshock dw5750 dan itu rompi beli di bazar alun2 serang hahaha 

Suatu hari, Bapak sempat memperhatikan pergelangan tangan saya yang tidak pernah berganti aksesoris sejak SMA. Beliau bertanya lembut, *"Itu jam kamu udah lama, gak bosen pakenya?"*

Saya hanya melempar senyum hangat, 
"Belum, Pak." 
"Ini masih bagus kok"

Singkat, tapi dalam hati saya tahu, jam ini bukan lagi sekadar penunjuk waktu, melainkan bagian dari diri saya. Lagipula, ia masih berdetak dengan sangat baik.

Memasuki tahun 2000, dunia saya berubah. Status mahasiswa berganti menjadi pekerja.
 
Dan di tahun-tahun awal bekerja itulah, sang G-Shock mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan setelah bertahun-tahun bertempur.

Tali jamnya mulai retak-retak dimakan usia, dan pelindung plastik (bezel) bagian atasnya mulai gompal. 

Bukannya dibuang, saya justru mempreteli seluruh bodi plastiknya yang hancur. Jam itu kini "telanjang", menyisakan cangkang besi stainless steel bodi dalamnya yang kokoh. 
Di luar dugaan, tampilannya justru terlihat sangat estetik dan tangguh.
foto tahun 2000, udah kerja , jam gshock dw5750 masih setia menemani


Namun, setiap kisah pengabdian pasti menemui titik akhirnya. Di tahun 2003, setelah sebelas tahun yang luar biasa mengawal nadi di tangan kiri saya, jam itu akhirnya mati total. Mungkin hanya baterainya yang habis, tapi saya memilih untuk tidak menghidupkannya lagi. Saya meletakkannya dengan takzim di dalam kotak penyimpanan. Ia sudah layak diistirahatkan sebagai "museum kecil" yang menyimpan seluruh keringat, tawa, dan kenangan masa muda saya.
Casio DW-5750, yg kiri waktu masih utuh, yg kanan body nya sudah hancur, jadi telanjang

Terima kasih, Bapak. Terima kasih, Casio G-Shock DW-5750. Sebelas tahun itu sungguh luar biasa.

---

19 April 2026

Lebih dari dua dekade berlalu sejak jam itu berhenti berdetak. 

Hari itu, saya sedang berjalan santai di antara hilir mudik pengunjung FX Sudirman, Jakarta. 

Langkah saya mendadak terhenti di depan sebuah etalase. Jantung saya berdesir hangat.

Di balik kaca, seolah menembus lorong waktu....., 

Ooh jam itu...!!! dia masih ada...!!!

Ia adalah seri reissue resmi dari Casio, tipenya sama: DW-5750!!! 

Saya hafal betul, bentuknya, lekukannya, hingga detail kecilnya benar-benar persis seperti jam yang diberikan Bapak kepada saya 34 tahun yang lalu. 
Kenangan tentang Masa itu, Naik sepeda, basket, renang, pramuka,  naik angkot, bergelantungan di bus serang-merak, Alun-Alun Serang, rompi bazar, tawa masa kuliah, hingga wajah Bapak seketika berputar di kepala.

Tanpa ragu, saya membelinya. Saat melingkarkannya kembali, ada rasa hangat yang menjalar. Sentuhan materialnya terasa sangat akrab. 

Kini, setelah sekian lama, saya bisa merasakan kembali jam yang sama, mendekap erat pergelangan tangan kiri ini dan membawa pulang kembali semua detik-detik kenangan yang pernah mendewasakan saya. 

Alhamdulillah.

19 april 2026, tangan ini kembali memakai casio DW5750, serasa balik ke 1992,  
masa SMA, hahaha












Jumat, 20 Oktober 2023

anak kecil dan operator telpon, sally & paul

 

Saya baca cerita ini sudah lama sekali, cerita ini sederhana, tapi saya suka dan nempel di kepala. 

Cerita seorang operator telepon dan anak kecil...

 Reader's Digest Classic, originally published in 1966 as "The Voice in the Box"




Waktu saya masih amat kecil, ayah sudah memiliki telepon di rumah kami. Inilah telepon masa awal, warnanya hitam, di tempelkan di dinding, dan kalau mau menghubungi operator, kita harus memutar sebuah putaran dan minta disambungkan dengan nomor telepon lain. Sang operator akan menghubungkan secara manual.

Dalam waktu singkat, saya menemukan bahwa, kalau putaran di putar, sebuah suara yang ramah, manis, akan berkata : "Operator". Dan si operator ini maha tahu.

Ia tahu semua nomor telepon orang lain!
Ia tahu nomor telepon restoran, rumah sakit, bahkan nomor telepon toko kue di ujung kota.

Pengalaman pertama dengan sang operator terjadi waktu tidak ada seorangpun dirumah, dan jempol kiri saya terjepit pintu. Saya berputar putar kesakitan dan memasukkan jempol ini kedalam mulut tatakala saya ingat .... Operator!!!

Segera saya putar bidai pemutar dan menanti suaranya.
" Disini operator..."
" Jempol saya kejepit pintu..." kata saya sambil menangis. Kini emosi bisa meluap, karena ada yang mendengarkan.

" Apakah ibumu ada di rumah ? " tanyanya.
" Tidak ada orang "
" Apakah jempolmu berdarah ?"
" Tidak , cuma warnanya merah, dan sakiiit sekali "
" Bisakah kamu membuka lemari es? " tanyanya.
" Bisa, naik di bangku. "
" Ambillah sepotong es dan tempelkan pada jempolmu..."

Sejak saat itu saya selalu menelpon operator kalau perlu sesuatu.

Waktu tidak bisa menjawab pertanyaan ilmu bumi, apa nama ibu kota sebuah Negara, tanya tentang matematik. Ia juga menjelaskan bahwa tupai yang saya tangkap untuk dijadikan binatang peliharaan , makannya kacang atau buah.

Suatu hari, burung peliharaan saya mati.
Saya telpon sang operator dan melaporkan berita duka cita ini.

Ia mendengarkan semua keluhan, kemudian mengutarakan kata kata hiburan yang biasa diutarakan orang dewasa untuk anak kecil yang sedang sedih. Tapi rasa belasungkawa saya terlalu besar. 
Saya tanya : 
" Kenapa burung yang pintar menyanyi dan menimbulkan sukacita sekarang tergeletak tidak bergerak di kandangnya ?"

Ia berkata pelan : 
" Karena ia sekarang menyanyi di dunia lain..." 
Kata - kata ini tidak tahu bagaimana bisa menenangkan saya.

Lain kali saya telpon dia lagi.
" Disini operator "
" Bagaimana mengeja kata kukuruyuk?"

Kejadian ini berlangsung sampai saya berusia 9 tahun. Kami sekeluarga kemudian pindah kota lain. Saya sangat kehilangan " Disini operator "

Saya tumbuh jadi remaja, kemudian anak muda, dan kenangan masa kecil selalu saya nikmati. Betapa sabarnya wanita ini. Betapa penuh pengertian dan mau meladeni anak kecil.

Beberapa tahun kemudian, saat jadi mahasiswa, saya studi trip ke kota asal.
Segera sesudah saya tiba, saya menelpon kantor telepon, dan minta bagian "
operator "
" Disini operator "
Suara yang sama. Ramah tamah yang sama.
Saya tanya : 
" bagaimana mengeja kata kukuruyuk "
Hening sebentar. Kemudian ada pertanyaan : 
"Jempolmu yang kejepit pintu sudah sembuh kan ?"
Saya tertawa. 
" Itu Anda.... Wah waktu berlalu begitu cepat ya "
Saya terangkan juga betapa saya berterima kasih untuk semua pembicaraan waktu masih kecil. Saya selalu menikmatinya. 
Ia berkata serius : 
" Saya yang menikmati pembicaraan dengan mu. Saya selalu menunggu mu menelpon "

Saya ceritakan bahwa , ia menempati tempat khusus di hati saya. Saya bertanya apa lain kali boleh menelponnya lagi.
 " Tentu, nama saya Saly "

Tiga bulan kemudian saya balik ke kota asal. Telpon operator. Suara yang sangat beda dan asing. Saya minta bicara dengan operator yang namanya Saly.
Suara itu bertanya 
" Apa Anda temannya ?"
" Ya teman sangat lama "
" Maaf untuk kabarkan hal ini, Saly beberapa tahun terakhir bekerja paruh waktu karena sakit sakitan. Ia meninggal lima minggu yang lalu..."

Sebelum saya meletakkan telepon, tiba tiba suara itu bertanya : "Maaf, apakah Anda bernama Paul ?"
"Ya "
" Saly meninggalkan sebuah pesan buat Anda. Dia menulisnya di atas sepotong kertas, sebentar ya....."

Ia kemudian membacakan pesan Saly :
" Bilang pada Paul, bahwa IA SEKARANG MENYANYI DI DUNIA LAIN... 
Paul akan mengerti kata kata ini...."

Saya mengucapkan terimakasih dan  meletakkan gagang telepon. Saya tahu persis apa yang Saly maksud.
..................

Jangan sekali sekali mengabaikan, bagaimana Anda menyentuh hidup orang lain...!

Cerita aslinya:

GÉRARD DUBOIS FOR READER'S DIGEST

When I was quite young, my family had one of the first telephones in the neighborhood. I remember well the polished oak case fastened to the wall on the lower stair landing. The shiny receiver hung on the side of the box. I even remember the number: 105. I was too little to reach the telephone, but I used to listen with fascination when my mother talked to it. Once she lifted me up to speak to my father, who was away on business. Magic!

Then I discovered that somewhere inside that wonderful device lived an amazing person—her name was “Information Please,” and there was nothing that she did not know. My mother could ask her for anybody’s number; when our clock ran down, Information Please immediately supplied the correct time.

My first personal experience with this genie-in-the-receiver came one day while my mother was visiting a neighbor. Amusing myself at the tool bench in the basement, I whacked my finger with a hammer. The pain was terrible, but there didn’t seem to be much use crying, because there was no one home to offer sympathy. I walked around the house sucking my throbbing finger, finally arriving at the stairway. The telephone! Quickly I ran for the footstool in the parlor and dragged it to the landing. Climbing up, I unhooked the receiver and held it to my ear. “Information Please,” I said into the mouthpiece just above my head.

A click or two, and a small, clear voice spoke into my ear. “Information.

I hurt my fingerrrr—” I wailed into the phone. The tears came readily enough, now that I had an audience.

Isn’t your mother home?” came the question.

Nobody’s home but me,” I blubbered.

Are you bleeding?”

No,” I replied. “I hit it with the hammer, and it hurts.”

Can you open your icebox?” she asked. 

I said I could. 

Then chip off a little piece of ice, and hold it on your finger. That will stop the hurt. Be careful when you use the ice pick,” she admonished. “And don’t cry. You’ll be all right.”

After that, I called Information Please for everything. I asked her for help with my geography, and she told me where Philadelphia was, and the Orinoco, the romantic river that I was going to explore when I grew up. She helped me with my arithmetic, and she told me that my pet chipmunk—I had caught him in the park just the day before—would eat fruit and nuts.

And there was the time that my pet canary passed away. I called Information Please and told her the sad story. She listened, then said the usual things that grown-ups say to soothe a child. But I was unconsoled: 

Why was it that birds should sing so beautifully and bring joy to whole families, only to end as a heap of feathers, feet up, on the bottom of a cage?

She must have sensed my deep concern, for she said quietly, “Paul, always remember that there are other worlds to sing in.”

Somehow I felt better.

Another day I was at the telephone. “Information,” said the now familiar voice.

“How do you spell fix?” I asked.

“Fix something? F-i-x.”

At that instant, my sister, who took unholy joy in scaring me, jumped off the stairs at me with a banshee shriek—”Yaaaaaaaaa!” I fell off the stool, pulling the receiver out of the box by its roots. We were both terrified—Information Please was no longer there, and I was not at all sure that I hadn’t hurt her when I pulled the receiver out.

Minutes later, there was a man on the porch. “I’m a telephone repairman,” he said. “I was working down the street, and the operator said there might be some trouble at this number.” He reached for the receiver in my hand. “What happened?”

I told him.

“Well, we can fix that in a minute or two.” He opened the telephone box, exposing a maze of wires, and coiled and fiddled for a while with the end of the receiver cord, tightening things with a small screwdriver. He jiggled the hook up and down a few times, then spoke into the phone. “Hi, this is Pete. Everything’s under control at 105. The kid’s sister scared him, and he pulled the cord out of the box.”

He hung up, smiled, gave me a pat on the head, and walked out the door.

All this took place in a small town in the Pacific Northwest. Then, when I was nine years old, we moved across the country to Boston—and I missed my mentor acutely. Information Please belonged in that old wooden box back home, and I somehow never thought of trying the tall, skinny new phone that sat on a small table in the hall.

Yet, as I grew into my teens, the memories of those childhood conversations never really left me; often in moments of doubt and perplexity, I would recall the serene sense of security I had when I knew that I could call Information Please and get the right answer. I appreciated how very patient, understanding, and kind she was to have wasted her time on a little boy.

A few years later, on my way west to college, my plane put down at Seattle. I had about half an hour between plane connections, and I spent 15 minutes or so on the phone with my sister, who lived there now, happily mellowed by marriage and motherhood. Then, really without thinking what I was doing, 

I dialed my hometown operator and said, “Information Please.”

Miraculously, I heard again the small, clear voice I knew so well: “Information.”

I hadn’t planned this, but I heard myself saying, 

Could you tell me, please, how to spell the word fix?”

There was a long pause. Then came the softly spoken answer. “I guess,” said Information Please, “that your finger must have healed by now.”

I laughed. “So it’s really still you,” I said. “I wonder if you have any idea how much you meant to me during all that time … ”

I wonder,” she replied, “if you know how much you meant to me? I never had any children, and I used to look forward to your calls. Silly, wasn’t it?

It didn’t seem silly, but I didn’t say so. Instead I told her how often I had thought of her over the years, and I asked if I could call her again when I came back to visit my sister after the first semester was over.

Please do. Just ask for Sally.”

“Goodbye, Sally.” It sounded strange for Information Please to have a name. “If I run into any chipmunks, I’ll tell them to eat fruit and nuts.”

“Do that,” she said. “And I expect one of these days, you’ll be off for the Orinoco. Well, goodbye.”

Just three months later, I was back again at the Seattle airport. A different voice answered, “Information,” and I asked for Sally.

Are you a friend?”

Yes,” I said. “An old friend.”

Then I’m sorry to have to tell you. Sally had been working only part-time in the last few years because she was ill. She died five weeks ago.” But before I could hang up, she said, “Wait a minute. Did you say your name was Paul Villiard?”

“Yes.”

“Well, Sally left a message for you. She wrote it down.”

“What was it?” I asked, almost knowing in advance what it would be.

“Here it is; I’ll read it—’Tell him I still say there are other worlds to sing in. He’ll know what I mean.'”

I thanked her and hung up. 

I did know what Sally meant.

Kamis, 19 Oktober 2023

Rumah Tekukur, TK II & SD I

flasback ke Cilegon tahun 1975-1994

Jalan Tekukur. Cerita bapak saya, kita belum punya rumah, kita juga belum dapat rumah dinas, dan rumah tekukur ini aslinya adalah rumah dinas Pak Sugiri Bapaknya Rama, namun karena pak Giri sedang training  untuk waktu yg lama, maka kami diperbolehkan menempati rumah ini untuk sementara.

foto rumah jalan tekukur

Gak banyak ingatan saya di rumah kami yg pertama ini, karena ya emang masih terlalu kecil. hanya ada beberapa foto saya & adik merayakan ultah umur 1 tahun (1977-1980)

Rumah kami jalan Tekukur ini dekat ke sekolah saya TK II & SD I tinggal naik becak atau jalan kaki. 

masa2 TK gak banyak yg saya ingat, guru tk waktu itu ada bu Enen, bu Kasti bu Rahadi, 

temen TK saya Hendra, evi, prima, dhani, dian, dikshie...


foto TK II

kalau lihat foto diatas (foto 2017), kondisi bentuk nya tidak berubah sedikitpun dibanding tahun 1980,  masih sama! TK II ini ada taman bermain, ayunan, jungkat jungkit , perosotan, dan ada bak pasir yg anehnya di kasing kerangkeng besi kyk penjara hahahaha , ini jadi bahan ledekan TK lain, kalo TK 1 istilahnya TK soang karena ada patung soang gede banget, TK II itu dijulukin kandang monyet hahahaha karena ada kerangkeng itu.

kami duduk di kelas dengan meja kotak, duduk melingkar saya lupa 1 meja kita duduk ber 4 kalo gak salah. kegiatan  anak2 tk ya intinya main , nyanyi dan keterampilan / gambar. 

ada momen yg saya inget saat kita main angklung, saya kebagian nada "6" (La) dan kita pentas entah acara apa ya saya lupa.

terus momen hari kartini, kita pakai baju daerah dan saya pakai baju bali, didandanin sama evi yuliasari anaknya pak sulaiman dan satu lagi namanya Melati yg orang bali di jalan madani.

bersambung...




SD I YPWKS

lanjut sekolah, masuk SD, sd nya pas disebelah TK II, waktu itu saya inget ada bis jemputan anak sekolah, dan kalau ketemu bis sekolah lain kita akan saling ledek, SD II keokan, hahahaha

SD saya sekelas sama Hendra, alm. Jhony auri, heru, ani, budi astuti, nama nama ini kelak ketemu lagi saat kita sekolah di sman 1 serang



SD 1 YPWKS, 
karena ada beberapa teman2 TK yg sekelas, tentunya jadi gak canggung lagi bermain bersama di SD.

SD 1 , temboknya orange bata merah, papan tulisnya berwarna hijau. 
gak banyak nama guru yg saya ingat, yg saya ingat cuma Pak Munadi, Pak Sam'un Haris, Pak Ramto.

warung sekolah jajanan nya saya suka makan gula palu.


ada momen yg saya ingat dan cukup jahil, 
jadi waktu itu ada penelitian soal kotoran / eek, saya sendiri rasanya aneh dan jijik. jadi kita diberi wadah seperti wadah remason, lalu saat kita eek, kita ambil sampel dari eek dimasukkan kedalam wadah itu dan dikumpulkan di sekolah. saya terus terang jijik, dan mengelabui guru dengan mengisi wadah tsb dengan air putih 😄wakakakaka
sempat dipanggil guru, dan diwanti2 agar besoknya bawa sampel, tapi tetap tidak saya lakukan. 
prinsip saya sekali jijik tetap jijik. ya sudah lah. saya gak mau ngumpulin sampel. pokoknya saya ogah!

ada momen juga dimana waktu itu gak sengaja saya nginjek bola pingpong , saya lagi jalan , eeh bola pingpong nya nyamperin, ya keinjek, penyok. gitu saya disuruh ganti beliin yg baru.
ogah! kan gak sengaja. mau dilaporin ortu , ya sono laporin aja, siapa takut wkwkwkwkwk

ternyata saya keras kepala juga ya.

nonton bareng bioskop di KR krakatau ria juga pernah,


kita disuruh guru nonton rame2 sama temen2 dari SD lain di KR, nonton film "wulan disarang penculik" alur ceritanya saya lupa, mungkin sedikit mirip2 petualangan sherina.

https://id.wikipedia.org/wiki/Wulan_di_Sarang_Penculik

Sinopsis[sunting | sunting sumber]

Karena sibuk mempersiapkan peragaan pakaian ciptaannya, Ny. Surya (Nani Widjaja) mengirimkan anaknya Wulan (Yiyik Trisulo) ke villanya di pegunungan ditemani oleh pengasuhnya Nunung (Titik Qadarsih) Tidak jauh dari tempat itu sedang berlangsung perkemahan pramuka. Tono (Yoyok Trisulo) dan Budi (Bono Sudibyo) ikut dalam perkemahan itu.

Suatu hari saat Wulan sedang jalan-jalan di kebunnya yang luas ia diculik. Penculik minta tebusan sebesar Rp. 25 juta, bersamaan dengan itu Tono dan Budi ter[pisah dari regunya saat melakukan tugas mencari jejak. Tono dan Budi sampai ke gubuk tempat Wulan disekap, Wulan lalu diajak melarikan diri, polisi berhasil menggrebek penculik tetapi Tono, Budi dan Wulan tak dijumpai.

Begitu sampai jalan raya mereka menumpang mobil sayur sampai ke Jakarta dan lalu "ditangkap" polisi saat bermain-main di air mancur. Polisi menelpon keluarga Surya, Wulan di jemput ayahnya.[1]

lucunya beberapa temen saya tanya di grup WA SD YPWKS, apa masih inget nonton bareng di KR?  ternyata sudah pada lupa. maklum sudah lebih dari 30 tahun berlalu (sekitar 1984-87) hihihihi

Tahun 1980,  kami pindah dari rumah jalan tikukur ke rumah jalan oxygen, agak jauh dari SD akhirnya bapak ibu menyewa becak untuk saya antar jemput sekolah. tukang becak namanya Pak Tukul, orang nya jawa banget, dengan sabar perlahan mengayuhkan becaknya dari SD ke rumah jalan oxygen, disini saya sering bareng sama Hendra, karena satu arah, tapi karena saya gemuk, saya duduk di jok , hendra duduk di bawah tempat pijakan kaki hahaha 



Hendra biasanya turun di prapatan, saya lanjut sampe rumah.









tahun 1980, kami pindah ke rumah jalan Oxygen III no.18.
saya bertetangga Pak Parman,  saya masih ingat anak2 nya mas Dody, Mbak Dini, Mba Deny rumahnya  ada warung dewi fortuna. beberapa kali saya dan tetangga suka diputerin film charlie chaplin sama pak Parman. pake kamera proyektor jaman dulu.

tetangga sederetan jalan oxygen,  mba Yuli, deni dumil,  mba desy, mba nely, hasan husen hamdan, uut, nadia iyak,  mas... aduh lupa yg belakangan saya inget jadi kakak pramuka di smp pm.  setiap hari kita main bareng, main karet, engklek, ular naga panjangnya, petak umpet , layangan, sepeda seru sekali ya, rasanya tiada hari tanpa main.


inilah jalan oxygen III, tempat masa main jaman tk-sd (1980-1983)