Catatan pendengar rock klasik yang mencoba memahami selera musik generasi sekarang.
Ada satu hal yang sering bikin saya bertanya-tanya ketika mendengarkan musik Indonesia belakangan ini. Nama-nama seperti Hindia, .Feast, dan FSTVLST punya banyak penggemar, liriknya ramai dikutip di media sosial, dan konsernya dipenuhi orang yang hafal lagu nyanyi bareng dari awal sampai akhir.
Saya tidak menyangkal daya tarik mereka. Ada energi, ada karakter, dan ada lirik yang terasa dekat dengan kehidupan anak muda sekarang. Namun, sebagai pendengar yang tumbuh bersama Europe, Van Halen, Gary Moore, Journey, sampai Bon Jovi, saya juga punya pertanyaan yang mungkin terdengar agak kuno bagi sebagian orang.
Musik rock sekarang terasa makin pelit unjuk kemampuan?
Dulu, mendengarkan band rock bukan cuma soal menikmati lagu. Ada sensasi menyaksikan gitaris mengolah nada menjadi cerita, drummer bermain dengan tenaga sekaligus presisi, dan bassist membangun fondasi yang membuat seluruh band terdengar hidup. Kita bisa menikmati lagu sekaligus mengagumi keterampilan orang-orang yang memainkannya.
Coba dengarkan nada solo gitar Ritchie Sambora, melodius Yngwie, tapping Eddie Van Halen, atau ekspresi blues Gary Moore. Mereka bukan sekadar memainkan banyak nada. Ada teknik, karakter, kontrol, dan keberanian mengambil risiko. Bahkan ketika sebuah lagu sederhana, kualitas pemainnya tetap terasa.
Ketika berhadapan dengan sebagian musik alternatif generasi sekarang, sensasinya berbeda. Gitar sering memainkan riff yang diulang-ulang, drum menjaga pola yang relatif sederhana, dan bass lebih banyak menopang ritme. Tidak banyak momen instrumental yang membuat saya ingin memutar ulang lagu hanya untuk mendengarkan permainan seorang musisi.
Tapi anehnya, musiknya tetap asyik.
Di situlah dilema saya sebagai pendengar rock klasik: saya bisa menikmati lagunya, tetapi belum tentu terkesan dengan permainan bandnya.
Musiknya sebenarnya masuk genre apa?
Hindia banyak bergerak di wilayah indie pop, alternative pop, dan alternative rock, dengan sentuhan elektronik serta produksi modern. Musiknya cenderung personal, seperti percakapan seseorang dengan dirinya sendiri.
.Feast lebih dekat dengan alternative rock, indie rock, dan post-hardcore, dengan unsur punk serta lirik yang sering membawa kritik sosial. Musiknya lebih agresif dan konfrontatif.
FSTVLST bermain di wilayah alternative rock dan indie rock dengan pendekatan yang lebih eksperimental, teatrikal, dan ekspresif.
Ketiganya tidak bisa disamaratakan. Namun, mereka punya kecenderungan yang sama: kekuatan musiknya lebih banyak dibangun melalui karakter, suasana, lirik, dan energi daripada demonstrasi keterampilan instrumental.
Pengaruhnya pun beragam, mulai dari alternative rock, punk, post-punk, emo, hingga indie pop. Tradisi band seperti Nirvana, Radiohead, The Strokes, dan Arctic Monkeys memperlihatkan bahwa rock bisa tampil dengan pendekatan yang jauh berbeda dari hard rock atau arena rock era 1970-an dan 1980-an.
Saya bisa memahami perubahan itu. Musik memang tidak wajib mengikuti formula masa lalu. Tetapi memahami arah perkembangan musik bukan berarti kita harus berhenti membandingkan kualitasnya.
Sederhana itu pilihan, tetapi sampai kapan menjadi pembenaran?
Di sinilah saya mulai agak cerewet.
Bagi saya, kemampuan teknis bukan aksesori yang bisa dianggap tidak penting begitu sebuah band punya lirik bagus. Teknik adalah bagian dari bahasa musik. Cara gitaris membunyikan nada, cara drummer mengatur dinamika, dan cara bassist mengunci groove bisa menentukan apakah sebuah lagu terasa hidup atau sekadar berjalan.
Tentu saja, saya tidak sedang menuntut setiap band memainkan solo gitar dua menit. Saya juga tidak menganggap semua lagu harus serumit musik progresif. Bahkan riff tiga kunci bisa menjadi sangat ikonik.
Namun, ada perbedaan antara memainkan sesuatu yang sederhana karena memang itulah pilihan musikal terbaik dan memainkan sesuatu yang sederhana karena keterbatasan kemampuan.
Dari rekaman saja, kita tidak selalu bisa membedakan keduanya. Produksi modern, lapisan suara, penyuntingan, dan aransemen dapat membuat musik terdengar solid. Karena itu, saya tidak akan buru-buru menyimpulkan bahwa pemain band tertentu tidak terampil hanya berdasarkan sedikitnya variasi permainan dalam sebuah lagu.
Meski begitu, pertanyaan tentang musikalitas tetap sah diajukan.
Apakah riff-nya punya karakter? Apakah permainan ritmenya benar-benar solid? Apakah dinamika lagunya berkembang? Apakah setiap instrumen punya peran yang jelas? Apakah aransemen itu akan tetap menarik jika kita mengupas lapisan produksinya?
Bagi saya, pertanyaan seperti ini justru membuat pembicaraan tentang musik lebih menarik daripada sekadar menyebut sebuah band keren karena sedang populer.
Kesederhanaan bisa menjadi estetika. Tetapi kesederhanaan tidak otomatis menjadi keunggulan.
Kalau permainannya biasa saja, kenapa tetap enak didengar?
Karena saya juga harus mengakui bahwa musik tidak melulu soal siapa yang paling jago memainkan instrumen.
.Feast punya energi yang bisa terasa seperti ledakan emosi. Hindia punya kemampuan menyampaikan cerita dengan bahasa yang dekat dengan keseharian. FSTVLST bisa membangun suasana lewat repetisi dan pendekatan yang teatrikal.
Di konser, semua itu bisa bekerja dengan sangat efektif. Ribuan orang bernyanyi bersama, melompat, dan meluapkan emosi. Riff yang sederhana justru memudahkan penonton untuk masuk ke dalam lagu.
Ada kekuatan dalam repetisi, groove, dan rasa kebersamaan yang tidak bisa diukur hanya dengan kecepatan jari gitaris.
Saya bisa mengerti mengapa generasi sekarang menyukai musik seperti ini. Tidak semua orang datang ke konser untuk menyaksikan demonstrasi teknik. Banyak yang datang untuk menemukan lagu yang mewakili isi kepala mereka.
Namun, saya tetap membedakan antara band yang berhasil membangun pengalaman emosional dan band yang unggul secara musikal. Keduanya bisa bertemu dalam satu karya, tetapi tidak selalu.
Konser yang meledak-ledak belum tentu menunjukkan kualitas komposisi yang luar biasa. Lagu yang membuat pendengar menangis pun belum tentu memiliki aransemen paling matang.
Musik bisa berhasil dengan berbagai cara. Hanya saja, kita sebaiknya tahu apa yang sedang kita apresiasi.
Dari solo gitar ke seni curhat
Salah satu hal yang paling terasa berbeda adalah posisi lirik.
Pada masa ketika saya banyak mendengarkan rock klasik, kekuatan sebuah lagu bisa datang dari banyak unsur sekaligus: riff yang ikonik, melodi vokal, aransemen, permainan instrumental, hingga solo gitar yang menjadi puncak emosi.
Dalam banyak lagu alternatif sekarang, lirik justru menjadi pintu masuk utama.
Hindia berbicara tentang kegelisahan personal dan usaha memahami diri sendiri. .Feast kerap membawa keresahan ke wilayah sosial dan politik. FSTVLST menyampaikan gagasan dengan pendekatan yang lebih ekspresif dan eksperimental.
Kegalauan generasi sekarang juga lebih luas daripada urusan cinta. Ada tekanan pekerjaan, kecemasan terhadap masa depan, tuntutan keluarga, perasaan tertinggal, dan kelelahan menghadapi kehidupan sehari-hari.
Saya tidak menganggap tema-tema ini remeh. Justru kemampuan mengubah keresahan menjadi lagu yang bisa dinyanyikan bersama merupakan sesuatu yang patut dihargai.
Tetapi saya juga melihat kecenderungan yang menarik: semakin mudah sebuah lagu dikaitkan dengan pengalaman pribadi pendengarnya, semakin besar peluang lagu itu mendapat tempat.
Kalimat yang terasa seperti curahan hati bisa menyebar lebih cepat daripada pembahasan tentang kualitas aransemen atau permainan instrumen.
Akibatnya, pembicaraan tentang musik kadang bergeser dari bagaimana lagu itu dibuat menjadi seberapa dekat liriknya dengan kehidupan kita.
Padahal, lirik yang bagus bukan hanya lirik yang membuat kita : “Ini gue banget.” Ia juga bisa memperlihatkan sesuatu yang belum pernah kita pikirkan, menyampaikan pengalaman dengan cara yang segar, atau membuka perspektif baru.
Saya hanya berharap kegelisahan tidak menjadi satu-satunya mata uang dalam musik populer. Hidup memang penuh tekanan, tetapi juga punya humor, keberanian, kebahagiaan, dan harapan. Semua itu sama layaknya untuk dijadikan bahan lagu.
Apakah rock sekarang mengalami kemunduran?
Saya tidak akan mengatakan bahwa musik sekarang lebih buruk hanya karena tidak terdengar seperti rock yang saya kenal. Itu sama saja dengan memaksa generasi baru hidup dalam selera generasi lama.
Namun, saya juga menolak anggapan bahwa musik harus selalu dinilai berdasarkan relevansi lirik atau kedekatan emosionalnya saja.
Rock punya tradisi panjang dalam mempertemukan komposisi, karakter, energi, dan keterampilan. Menghargai perkembangan musik seharusnya tidak membuat kita melupakan unsur-unsur tersebut.
Ada musisi masa kini yang mampu memainkan instrumen dengan luar biasa sekaligus menulis lagu yang kuat. Ada juga band yang punya gagasan menarik tetapi masih bisa berkembang dalam hal permainan dan aransemen. Hal yang sama berlaku pada generasi sebelumnya.
Karena itu, saya tidak merasa perlu memilih antara Van Halen dan Hindia, antara Journey dan .Feast, atau antara Winger dan FSTVLST. Saya bisa menikmati mereka dengan ukuran yang berbeda.
Tetapi ketika membicarakan kualitas sebuah band, saya tetap ingin mempertanyakan bukan hanya apa yang mereka katakan, melainkan juga bagaimana mereka menyampaikannya melalui musik.
Sebab, pesan yang bagus tidak otomatis membuat semua aspek musikal menjadi bagus pula.
Saya tidak menuntut rock kembali ke masa lalu
Saya hanya ingin musik memberi lebih banyak alasan untuk dikagumi.
Kalau sebuah band punya lirik yang kuat, bagus. Kalau musiknya membuat ribuan orang bernyanyi bersama, itu juga pencapaian. Tetapi akan lebih menarik jika kekuatan tersebut berjalan beriringan dengan permainan instrumen yang matang, aransemen yang kaya, dan perkembangan musikal yang terasa dari satu lagu ke lagu berikutnya.
Saya tidak membutuhkan setiap gitaris menjadi Eddie Van Halen. Saya hanya ingin mendengar permainan yang punya karakter, groove yang benar-benar mantap, atau aransemen yang membuat saya menemukan sesuatu setiap kali memutar lagunya.
Musik tidak harus rumit untuk menjadi hebat. Namun, musik juga tidak perlu merendahkan arti keterampilan demi membuktikan bahwa kesederhanaan adalah sesuatu yang keren.
Hindia, .Feast, dan FSTVLST punya karakter serta daya tarik masing-masing. Mereka pantas dinilai berdasarkan karya mereka sendiri, bukan semata-mata dibandingkan dengan band-band masa lalu. Tetapi mereka juga tidak kebal dari kritik hanya karena mewakili keresahan generasinya.
Pada akhirnya, mungkin perbedaan kita terletak pada apa yang dicari ketika menyalakan musik.
Ada yang mencari cerita untuk memahami dirinya sendiri. Ada yang mencari energi untuk meluapkan emosi. Dan ada pula yang, seperti saya, masih menikmati sensasi ketika mendengar gitaris memainkan sebuah frase dengan sempurna, drummer mengubah groove menjadi sesuatu yang istimewa, atau seluruh band terdengar begitu padu hingga tidak ada satu nada pun terasa sia-sia.
Saya tidak keberatan jika musik rock berubah. Saya hanya berharap, dalam perubahan itu, keahlian bermusik tidak dianggap sebagai sesuatu yang sudah tidak penting.
Sebab, lirik yang bagus bisa membuat kita merasa dipahami. Musik yang asyik bisa membuat kita bergerak. Tetapi ketika penulisan lagu, karakter, dan kemampuan bermain bertemu dalam satu karya, di situlah musik punya kesempatan untuk menjadi lebih dari sekadar teman curhat.
Dan sebagai pendengar rock klasik, saya kira saya masih boleh berharap menemukan lebih banyak band yang mampu melakukan ketiganya.
Komentar
Posting Komentar