Sabtu, 26 Agustus 2023

Radio FM EDP Lib

Radio EDP LIB Cilegon 




MEMOAR SEBUNGKUS STIKER BIRU: KISAH RADIO "GELAP" EDPLIB CILEGON

Sunyinya Kota Baja dan Desis Gelombang AM

Bagi anak-anak Cilegon yang tumbuh di era 80-an akhir dan awal 90-an, pilihan hiburan kami tidak banyak. Kota Baja ini rasanya sepi sekali setelah jam sekolah usai. Kalau mau mendengarkan musik di radio, pilihannya cuma satu: Radio “Top” di frekuensi AM 1152 Khz. Kalau bosan, kami harus memutar *tuning* agak jauh mencari radio “PBS” (Pahla Budi Sakti) AM 648 yang ada di Serang.

Mendengarkan radio AM zaman itu butuh kesabaran tingkat dewa. Suaranya jauh dari kata jernih. Begitu ada lampu neon di rumah yang dinyalakan, langsung muncul suara interferensi yang khas: *“Zzzsssrrrrrzzz…”* berisik sekali.

Lagunya? Ah, monoton. Putarannya tidak jauh dari Pop mendayu-dayu, Dangdut, Iwan Fals, Pance Pondaag, artis-artis JK Records - lagu cengeng. Tidak ada yang sehitz radio-radio Jakarta.

"Bapak lu tuh, tiap hari dengerinnya lagu itu-itu mulu. Kuping gua bisa jamuran," celoteh Aton suatu siang saat kami nongkrong di depan teras.

"Yee, mending. Lu bayangin aja, gue pernah denger lagu Astaga dari Ruth Sahanaya diputar Radio TOP sampai tiga kali sehari! Bisa hapal luar kepala," timpal saya sambil terkekeh.

Sinyal radio FM keren dari Jakarta seperti Mustang atau Prambors? Jangan harap bisa menembus Cilegon. Kalau kami benar-benar kebelet pengen mendengarkan lagu tren terbaru, modalnya harus nekat: kita mendaki ke gunung pemancar TVRI. Baru diatas sana sinyal Jakarta tertangkap. Agak melelahkan memang, demi sebuah gengsi anak muda.

Keajaiban dari Knob Toshiba Boombeat
Sore itu, segalanya berubah. Pulang sekolah dengan kondisi badan yang kemproh dan lengket oleh keringat, 
saya langsung merebahkan diri di lantai berkarpet merah, rumah yang adem. Seragam kemeja osis kuning SMP sudah di keranjang cucian, menyisakan kaos dalam dan celana pendek. 
Di samping saya, sudah siap satu gelas belimbing dan botol kaca berisi sirup ABC dingin rasa jeruk yang menyegarkan tenggorokan.


Iseng-iseng, tangan saya meraih knob "tuning" radio compo Toshiba Boombeat SX20 kesayangan. Saya putar pelan-pelan ke arah jalur FM.
Sreeek... sreeek...

Tiba-tiba, sebuah gelombang tertangkap. 

Loud and clear!

Suaranya jernih tanpa desis jahanam khas AM. 
Dan yang membuat saya hampir tersedak sirup adalah lagu yang sedang mengalun:
Bohemian Rhapsody milik Queen! 
Disusul kemudian oleh Elvis,  The Beatles, Guns N' Roses, dan Bon Jovi.

"Gokil... ini radio  apa?!" gumam saya sendirian di kamar, mata terbelalak menatap speaker Toshiba.

Selama beberapa hari, radio misterius ini terus mengudara tanpa jeda iklan. Uniknya, sama sekali tidak ada penyiarnya. Hanya lagu-lagu Rock dan Top 40 keren yang diputar non-stop.

Baru setelah satu minggu, mulai terdengar suara manusia di balik mic. Ada obrolan santai, kuis tebak lagu, hingga sesi kirim-kirim salam.
Di sekolah, radio baru ini langsung jadi topik super hangat.

"Eh, lu pada denger radio FM baru kagak? 

Yang sering setel GNR, Bon Jovi sama Europe?" tanya saya antusias saat jam istirahat.

"Yoi! Nama radionya EDP LIB. 

Asli, penyegaran banget buat kuping kita. 

Tapi itu pemancarnya di mana, ya? Kok misterius amat," sahut Dianto penasaran.

"Jangan-jangan radio amatir, nih? Cuma muter tape doang," canda Reza.

Kami semua penasaran setengah mati. Sampai pada suatu sore, saat saya sedang menikmati radio yang memutar lagu Sweet Child O' Mine, sang penyiar tiba-tiba berceloteh setelah lagu usai.

"Ya, itulah tadi lagu "Sweet Child" lagu kebangsaan anak-anak SMA Kavling! Hahaha..."

Saya langsung bangkit dari rebahan. Suara bariton itu... gaya tertawanya... sangat tidak asing.

"Lho, ini kan suaranya Mas Agung? Kakak kelas kita pas di SMP yang sekarang sekolah di SMA Kavling!" batin saya.

Secercah titik terang akhirnya benderang. Setelah mengorek informasi sana-sini, kami berhasil mendapatkan alamat rahasia studio tersebut.

Markas Rahasia dan Sersan Prambors

Berbekal rasa penasaran yang membubung tinggi, saya, Aton, Dianto, Reza, dan Andi langsung meluncur. Jalurnya melintasi ujung Jalan Semang Raya. 

Tepat sebelum area gerbang Palm Hills, kami belok kiri. Sekitar 200 meter di sebelah kanan jalan, berdirilah sebuah rumah sederhana bertembok putih yang tampak biasa dari luar, namun menyimpan 'magis' di dalamnya.
Itulah studio Radio EDPLIB.

foto rumah studio radio edplib (jalan terusan madani-palm hills)

Saat melangkah masuk, aroma kreativitas langsung terasa. Kami disambut hangat oleh para kru operator. Di sana, kami berkenalan dengan seorang mas-mas yang nama panggilannya sangat ikonik dan *catchy*: Mas Obeng, Mas Budi, Mas Iwan.

Ruang operatornya terbilang sederhana namun sangat taktis untuk ukuran zaman itu:
dua buah tape deck, 
satu power amplifier, 
sebuah mixer kecil, 
dua buah mic, 
sepasang speaker, 
perangkat pemancar FM yang berkedip-kedip, beberapa kursi kayu, 
rak-rak yang penuh sesak oleh ratusan kaset pita. 

Bagi kami, ruangan itu adalah surga dunia.

 
ruang studio nya mirip kyk gini

rak kaset

"Wah, sering-sering main ke sini yach, bikin Ramee," ujar Mas Obeng ramah sambil mengisap rokoknya.

Sejak hari itu, studio EDPLIB resmi jadi tongkrongan tetap kami sepulang sekolah. Kami berkenalan sesama pendengar dari berbagai sekolah, menulis secarik kertas untuk titip salam buat gebetan, atau sekadar me-request lagu.

Bahkan, ada momen di mana saya diberi kesempatan emas: ikut siaran langsung! Gemetar tapi luar biasa bangga. 
Saya sengaja membawa kaset dari rumah. Bukan kaset rock, melainkan kaset lawak Sersan Prambors. 
Saat on air, mic menyala, saya putar lagu-lagu jenaka seperti *Cipika Cipikong*, *Gadis Bisu*, hingga *Bebi Kambek*.
"Gila lu, Yok! Malah muter lagu ginian!" bisik Aton di dalam studio sambil menahan tawa agar tidak bocor ke mic.


Lagu-lagu konyol itu sukses besar membuat pendengar tersenyum simpul dan membuat seisi studio ngakak jungkir balik.

Tapi dasarnya kru EDPLIB itu asik dan jahil, keisengan saya dibalas di hari lain. 

Suatu sore saya me-request lagu "Runaway" Bon Jovi yang gahar. 
Begitu lagunya diputar, yang keluar dari speaker malah lagu: *"Cipikaaa... cipikoooong..."*


Senyapnya Udara dan Kenangan Berwarna Biru

Hampir setahun EDPLIB menjadi detak jantung hiburan anak muda Cilegon. Kehadiran mereka membuat kota kecil ini terasa lebih hidup dan modern. Namun, sebuah hukum tak tertulis di dunia penyiaran bersiap menghampiri kami.

Suatu sore, saya duduk di depan Toshiba Boombeat. 
Tangan saya memutar knob ke kanan dan ke kiri, mencari koordinat frekuensi EDPLIB yang biasa.
Putar ke kiriiii,  putar ke kanan, Sreeek... sreeek...*
Hanya ada suara angin kosong. 
Kosong melompong....
Tidak ada siaran radio...

"Lhoo? Kok gak ada? Wah... ada yang gak beres nih," firasat saya mulai tidak enak.



Besoknya di sekolah, kabar burung berembus kencang:

EDPLIB DIGEREBEK POLISI!

Sontak kami terkejut. 
Sepulang sekolah, kami langsung memacu sepeda menuju stasiun radio kesayangan. 

Begitu sampai, dada kami rasanya amblas. 
Rumah itu sudah sepi, di halaman hanya ada satu motor, sendal jepit,  dan pintu yang terbuka, memperlihatkan ruangan yang sudah melompong. 

Mixer, tape deck, kaset, pemancar, kabel-kabel, hingga antena tinggi yang biasa gagah berdiri, semuanya lenyap!

Kami hanya bertemu salah satu kru radio: Mas Budi, ciri khasnya tidak berubah, masih memakai jaket longgar yang dijahit dari kain sarung kotak-kotak warna hijau dan motor Honda GL 100. Wajahnya nampak lesu.

"Tiba-tiba kemarin polisi datang," ceritanya dengan suara pelan, matanya menatap ruang studio yang kosong. 
"Semua alat disita. Teman-teman yang kemarin titip kaset di studio juga cuma bisa pasrah, semua dibawa polisi."

Kami semua terdiam, diselimuti rasa kehilangan yang mendalam. 
Kami tahu, sejak awal radio ini memang radio ilegal alias radio gelap. cuman gak nyangka aja kok akhirnya seperti ini 😞

EDPLib sendiri merupakan kepanjangan dari Electronic Data Processing Librarian PT Krakatau Steel. Awalnya, ini hanyalah proyek iseng-iseng kreatif para karyawan muda di bagian IT tersebut untuk mengisi waktu luang. Siapa sangka, keisengan itu justru menjelma menjadi oase bagi dahaga hiburan anak-anak Cilegon.

Kisah Radio EDPLib resmi berakhir di hari itu. Udara Cilegon kembali ke desis kemeresek gelombang AM yang membosankan.

Beberapa minggu setelah kejadian itu, saya sedang mengayuh sepeda di sekitar Jalan Kotasari. Dari arah depan, sebuah becak melintas. Di atasnya, duduk seorang pria yang sangat saya kenal.

"Yok! Sini, Yok!" panggilnya melambaikan tangan.

"wah! Mas Obeng!"

Becak itu berhenti sejenak. Mas Obeng tersenyum, lalu merogoh tas dan menyerahkan selembar sticker berukuran 10 x 20 cm berwarna biru dengan font EDPLIB warna putih ke tangan saya.

"Buat kenang-kenangan. Jangan lupain EDPLib, ya," katanya ramah.

Itu adalah sebuah stiker resmi Radio EDPLIB. Sederhana, namun nilainya luar biasa bagi saya. 


Bertahun-tahun stiker itu menempel erat di meja belajar saya, menjadi saksi bisu masa remaja yang penuh cerita.

Sayangnya, stiker bersejarah itu hilang entah ke mana saat keluarga kami pindah rumah beberapa tahun kemudian.

Stikernya mungkin sudah hilang, studionya sudah kosong melompong dimakan waktu, dan perangkatnya mungkin sudah jadi rongsokan.

Namun, satu hal yang tidak akan pernah bisa disita polisi adalah kenangan hangat yang pernah mereka pancarkan ke atmosfer Cilegon.

Terima kasih, Mas Obeng, Mas Agung, Mas Budi, Mas Iwan, dan seluruh kru EDPLIB. 
Kalian telah mengajari kami arti kreativitas, persahabatan, dan memberi warna indah di masa remaja kami. 
Di mana pun kalian berada saat ini, semoga kehidupan kalian selalu bahagia, sehat, dan senantiasa diberkahi Allah SWT. 

....EDPLib....Sign off....

 

#radio

#edplib

#cilegon

#electronic data processing librarian

#krakatau steel





Tidak ada komentar:

Posting Komentar