Memori transisi dari putih - biru ke putih-abu: Dari Bau Kaos Kaki, Puisi Absurd, Hingga Betis Baja
Aula yang Menguning dan Aroma "Ajaib"
Hari itu, aula sekolah SMANSA mendadak berubah jadi lautan manusia. Bayangkan saja, ruangan panjaaang ukuran tiga ruang kelas yang sanggup menampung sekitar 300 anak manusia.
Di langit-langit yang tinggi, empat buah kipas angin besi berukuran raksasa berputar malas, alih-alih mendinginkan ruangan, mereka justru sukses meratakan hawa gerah ke segala penjuru. Lampu-lampu neon berjajar rapi, yang warnanya sudah menguning dimakan usia. saksi bisu bahwa ruangan ini sudah melahirkan banyak cerita.
Di sisi utara, tepat di dekat aroma semerbak dari arah toilet, lantai aula itu sengaja dibuat lebih tinggi tiga ubin. Ya, semacam panggung gitu deh.
Kami semua duduk lesehan di lantai semen dingin, teraso abu² ukuran 20x20cm, Karena status kami masih transisi, seragam yang melekat di badan pun masih "putih-biru" legendaris dari SMP masing-masing.
Di tengah cuaca Serang yang mulai menyengat, tiba-tiba sebuah aroma "ajaib" menyeruak, menyelinap di antara pori-pori udara.
"Woy, bau apaan nih? Badheg amat!"
bisik saya sambil menutup hidung.
Andi, sohib kental saya sejak zaman SD, langsung menoleh dan tertawa tertahan.
"Elpiji bocor kalah nih! Aroma kaos kaki jempol *badeg* yang belum dicuci dari zaman kelulusan SMP kayaknya!"
"Hahahaha"
Kami berdua terpingkal. Di sekitar kami, anak-anak dari Cilegon berkumpul membuat barikede pertahanan udara: ada Dianto, Hendra, Kholis, almarhum Jhony Auri, Rio Ceker, Madliyas, Mukti Wibowo, dan Sigit. Meski aroma kaos kaki itu terus meneror, rasa bangga karena resmi menyandang status "Anak SMA" mengalahkan segalanya. Rasanya bangga banget!
Di atas panggung aula, satu per satu pengurus OSIS diperkenalkan. Gaya mereka rapih perlente khas senior 90-an. Ada Kak Dila, Kak Iwan Sugiarto, Kak Alit, Kak Manik, Kak Agam, Kak Olga, Kak Deny, dan entah siapa lagi—pokoknya banyak deh!
Setelah rentetan sambutan dari OSIS, giliran seorang pria berbadan tegap maju membawa mikrofon. Beliau adalah Pak Wawang Sufri, guru olahraga yang legendaris.
"Smansa Serang ini berdiri tahun 1952! Pak Wawang membuka pembicaraan"
suara Pak Wawang menggelegar, membakar semangat kami. Dengan tata bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai EYD, rapih dan sangat terstruktur, beliau lalu bercerita panjang lebar tentang para alumni yang sudah sukses melanglang buana jadi pejabat tinggi negara. Hebatnya, Pak Wawang ini ternyata alumni Smansa juga yang "pulang kampung" untuk mengabdi menjadi guru olahraga.
Saya jadi teringat bisikan Pak Supriyadi saat kelas 3 SMA, Pak Supriyadi adalah guru agama kami.
“Kamu tahu, Mas? Pak Wawang itu zaman mudanya di Smansa dulu murid yang paling lincah. Jagoan olahraga, nggak ada duanya, voli, basket, sepakbola itu Pak Wawang Jagonya,!”
Siang itu, Pak Wawang resmi membuka jalannya Penataran P4 yang akan menyandera kebebasan kami selama seminggu ke depan.
Kelas 1-2 dan Maestro Komedi dari Teater Awan
Dunia ini sempit, atau mungkin takdir memang suka bercanda. Saat pembagian kelas diumumkan, entah menggunakan metode apa, saya kembali terdampar di kelas 1-2 bersama Andi Sufaryanto. Bayangkan, dari zaman main kelereng di SD, SMP, bahkan rumah kami sama-sama di jalan Besi Cilegon, kami masih saja satu atap. Luar biasa, bukan? Di kelas baru ini, kami berkenalan juga dengan kawan dari smp 1 dan smp 2 serang : Rendra, Nila, Nining, Zainur Reza, dan Winny.
Pendamping kelas kami adalah tiga serangkai yang unik: Kak Dila, dan seorang kakak kelas perempuan yang saya lupa namanya tapi semua tahu bokapnya seorang jaksa, dan terakhir... seorang kakak senior bernama Bambang.
Kak Bambang ini... astaga, gokil habis!
Mukanya sangat ekspresif, gerak-geriknya komikal mirip karakter kartun yang hidup. Belakangan kami baru tahu kalau doi adalah pentolan Teater Awan, ekstrakurikuler teater kebanggaan Smansa. Kalau saja zaman itu sudah ada kompetisi *Stand Up Comedy* di TV, saya berani taruhan Kak Bambang bakal bawa pulang piala juara satu sambil kayang.
Masa penataran adalah masa-masa paling seru untuk berburu teman baru. Ada yang mendadak nostalgia karena ketemu teman TK atau SD, ada juga yang langsung "tebar pesona" ke teman baru .
Melihat kelas 1-2 yang suasananya masih kaku kayak kanebo kering, jiwa usil gue mendadak memberontak. Urusan milih ketua kelas di zaman putih-abu itu kan sejatinya ajang nyari tumbal biar nggak disuruh bolak-balik ruang guru.
"Woy kawan-kawan! Daripada tegang nunggu giliran disuruh nyebutin butir² Pancasila, mending kita cari ketua kelas dulu!" seru gue sambil berdiri sok karismatik.
"Rendra aja! Tampangnya alim, pinter, cocok dijadiin umpan kalau ada guru galak!" celetuk seseorang dari pojokan yg sepertinya teman smp Rendra.
Satu kelas langsung bersorak koor tanpa ampun: "Setujuuu!"
Rendra cuma bisa pasrah menerimanya dengan senyum pepsodent yang terpaksa, sementara Nining langsung divonis jadi sekretaris buat mencatat segala kelakuan ajaib kami.
Selama lima hari, otak kami dijejali dengan butir-butir Pancasila oleh Bapak dan Ibu guru. Namun, penyelamat kewarasan kami tetaplah Kak Bambang. Di sela-sela jam istirahat yang membosankan, doi tiba-tiba duduk di meja guru sambil pasang muka serius.
"Kalian tahu? Kakak itu paling hobi dengerin radio,"
celoteh Kak Bambang.
Zaman itu di Serang, kiblat hiburan malam hari adalah stasiun radio lokal bernama PBS (Pahla Budi Sakti). Setiap Selasa malam, ada acara hits tempat anak muda mengirimkan puisi romantis untuk dibacakan sang penyiar.
"Nah," Kak Bambang melanjutkan dengan mata berbinar-binar.
"Malam Rabu kemarin, Kakak coba-coba kirim puisi ke PBS.
"Biasanya kan isinya curhat cinta-cintaan menye-menye tuh. Puisi Kakak beda. Judulnya: Kelas 1-2."
Beliau kemudian berdiri, berdeklamasi dengan gaya teatrikal yang luar biasa kocak:
"Kelas 1-2...*
"Kami duduk satu bangku dua-dua..."
"Kelas 1-2..."
"Kelas kami satu, lampunya dua..."
"Kelas 1-2..."
"Pulpen kami satu, buku nya dua..."
"Huahaha"
Kami sekelas langsung pecah. Tawa membahana sampai terdengar ke kelas sebelah. Kebayang nggak sih, para pendengar radio PBS malam itu yang sudah pasang kuping melankolis, mendadak disuguhi puisi se-absurd itu? Pasti langsung pada cekikikan di kamarnya masing-masing.
Bisa aaee Mas Bambang!
Sayang, sejak beliau lulus, saya kehilangan kontak. Saya suka penasaran bagaimana kabarnya sekarang. Di mana pun Mas Bambang berada, saya yakin dengan bakat komedi itu, beliau pasti sukses besar di dunia teater, penulisan, atau media kreatif.
Oya, di sela penataran ada tugas super ajaib: disuruh nulis surat cinta buat kakak senior. Lah, buset! Kenal aje belom lima menit, mau nulis apaan brooo? Akhirnya jurus kepepet keluar. Gue obrak-abrik majalah Hai sama majalah Gadis punya adek gue, nyontek mentah-mentah rayuan gombal buat modal nulis beberapa lembar surat cinta absurd.
Gue pikir tulisan gue udah paling bucin, taunya pas pengumuman lomba, pemenangnya cewek bernama Ima Rahmawati yang nulis surat cinta panjangnya SEMBILAN LEMBAR folio! Gile bener, itu surat cinta apa proposal renovasi mesjid?!
Cat Merah Bata dan Kaki Robot
Gedung Smansa Serang ini punya arsitektur kuno yang khas: ruang-ruang kelasnya berbaris lurus membentuk segi empat, mengepung sebuah lapangan basket yang berada tepat di tengah-tengahnya. Lapangan itulah jantung sekolah. Di sana tempat kami upacara hari Senin, tanding basket, olahraga, sampai sekadar nongkrong saat jam istirahat. Wajar saja kalau cat lantainya sudah pudar tergerus ribuan pasang sepatu.
Sudah jadi tradisi turun-temurun, murid baru harus memberikan "upeti" berupa tenaga untuk mempercantik lapangan ini. Di bawah komando Pak Diah Dirman, guru olahraga kami yang berwajah teduh, proyek pengecatan massal dimulai.
Saya kebagian memegang sekaleng cat warna merah bata dan sebuah kuas, bertugas melapisi warna dasar lapangan. Sementara Andi dapet tugas lebih presisi: memegang cat putih dan kuning untuk membuat garis-garis batas. Selama beberapa hari, di bawah terik matahari, kami berjongkok, bercanda, dan sesekali iseng mencoret baju teman dengan cat. Saat semuanya selesai, hamparan lapangan basket, voli, dan badminton menyatu dalam satu area, hanya dipisahkan oleh warna-warni garis yang kontras. Lelah? Pasti. Tapi ada rasa bangga yang membuncah di dada setiap kali melihat hasil kerja keras itu.
Namun, drama penataran belum selesai. Di sela-sela pengecatan, kami diwajibkan latihan baris-berbaris (PBB). Di sinilah aib terbesar saya terbuka.
"Suryo! Lu jalan kayak robot rusak?!" bentak seorang kakak senior sambil menahan urat ketawanya biar nggak putus.
Ternyata sistem operasi motorik di otak gue mendadak error 404.
Kaki kiri maju, tangan kiri ikut maju dengan gagah perkasa. Begitu kaki kanan maju, tangan kanan nyusul. Irama jalan gue persis kayak Robocop yang baterenya sisa dua persen dan korslet kena air hujan.
Kakak-kakak kelas yang tadinya lagi jaim ngeceng di pinggir lapangan basket mendadak buyar, ngakak berjemaah sampai ada yang keselek es teh.
Dampaknya? Jelas berujung berkah. PBB ini sebenarnya ajang seleksi untuk pasukan pawai obor malam 16 Agustus dan upacara bendera 17 Agustus di Alun-alun Serang. Karena cara baris-berbaris saya yang di luar standar ilmu kedokteran, nama saya langsung dicoret dari daftar.
"Lumayan lah , Nggak usah capek-capek latihan fisik di bawah terik matahari. Dan gak ikut pawai dan upacara, Merdeka!
Betis Baja dari Cilegon
Tapi jalur takdir memang tidak pernah membiarkan saya bersantai begitu saja. Pak Diah Dirman tiba-tiba menepuk pundak saya menjelang hari kemerdekaan.
"Suryo, kamu ikut lomba sepeda santai tanggal 17 Agustus pagi di Alun-alun. Temani Ismail Arif, Iip, Yan, Muchtar Pinata, dan Muhammad Effendi."
Maka, jam 8 pagi di hari ulang tahun RI itu, saya sudah nangkring di Alun-alun Serang dengan sepeda federal warna biru muda-putih saya. Di sinilah saya menyaksikan sebuah fenomena manusia yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup: Muhammad Effendi.
Anak ini... asli, gila bener! Rumahnya di PCI (Pondok Cilegon Indah). Jaraknya kurang lebih 10km, Demi ikut lomba ini, subuh-subuh doi sudah gowes dari PCI menuju Serang. Sampai di Serang, langsung gabung bersama kami untuk ikut lomba sepeda santai keliling kota yang rutenya lumayan menguras tenaga.
Dan begitu garis Finish dilewati.... dan kami-kami lagi terkapar megap-megap di bawah pohon rindang kantor Karesidenan Serang—napas kembang-kempis dan betis udah cenat-cenut kayak abis dicubit tang jepit—Effendi malah nyamperin dengan muka segar benderang tanpa setetes pun keringat rasa bersalah.
"Duluan ya, cuy. Mau langsung gowes balik ke Cilegon lagi," pamitnya enteng banget.
Detik berikutnya, dia udah menggenjot sepeda balap kuning-hitamnya melesat bak roket Apollo. Kami yang ditinggal cuma bisa melongo bego. Itu betis manusia apa cor-coran tiang jembatan?
Sekian puluh tahun berlalu, kenangan di lapangan basket yang merah bata itu tetap tersimpan rapi. Bau kaos kaki, tawa absurd di kelas 1-2, jabat tangan pertama dengan teman-teman baru, hingga kayuhan sepeda di Alun-alun Serang, semuanya kini menjelma menjadi kerinduan yang hangat. Kami yang dulu bertingkah konyol dengan seragam putih-abu, kini telah berjalan di rute takdir masing-masing. Tapi di sudut hati yang paling dalam, memori Penataran P4 itu akan selalu menjadi bab pembuka yang paling indah dalam buku masa muda SMA.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar