Sabtu, 20 Juni 2026

Di Samping Smansa

Di samping Sekolah 1992–1994

Persis di sebelah gerbang SMANSA ada satu spot legendaris berukuran 3 x 3 meter. Bukan tempat rental komik atau warung burjo, melainkan sebuah barber shop, istilah kerennya kita saat itu, padahal aslinya mah tempat cukur rambut biasa. Pintunya warna hijau, kontras dengan dindingnya yang memadukan warna hijau dan putih tipis-tipis.

Kalau melongok ke dalam, interiornya minimalis abis dihiasi poster model rambut gaya trendi masa kini. Dua cermin besar yang sudah agak buram di beberapa sudut, menemani dua kursi besi kokoh warna hijau , sandaran tangan kayu, dan beralas duduk busa kulit warna hitam, khas tukang cukur jadul yang kalau diduduki bunyinya ..krieeet... khas banget. Di pojok kiri atas, menempel sebuah kipas angin dinding yang kabelnya menjuntai ke mana-mana. Yang gokil, kipas angin itu terondol alias nggak ada penutupnya sama sekali! Baling-balingnya berputar bebas menyapu angin panas siang hari. Kalau dipikir-pikir sekarang: Nggak bahaya tah? Ngeri-ngeri sedap kalau kepentok kepala! Hahaha.

Di balik pintu, pemandangan standar langsung menyambut: sapu ijuk, pengki, dan tempat sampah yang udah penuh sama tumpukan rambut berbagai model—mulai dari sisa potongan ala vanilla ice, ala lupus sampai potongan cepak semi-tentara. Alhamdulillah, pertanda hari itu lapak cukur lagi ramai lancar jaya.

Maestro Sisir Klimis

Sang eksekutor tunggal di tempat itu bernama Mang Aceng. Penampilannya selalu necis, tipe bapak-bapak rapi yang nggak mau kalah saing sama anak muda. 

Beliau selalu pakai kemeja yang dimasukkan dengan rapi ke dalam celana bahan, lengkap dengan ikat pinggang kulit hitam tipis. Badannya tinggi, agak gemuk, dan punya kumis tebal yang konon menambah karismanya. Rambutnya yang mulai diselingi uban selalu disisir klimis belah kiri, rapi jali tanpa sehelai pun yang mencuat keluar.

Di saku belakang kanan celananya, selalu terselip sapu tangan handuk kecil untuk mengusap keringat. Maklum, zaman itu boro-boro ada AC (Air Conditioner). Pendingin ruangan kami murni mengandalkan sistem KN alias Kaca Nako! Kalau siang lagi terik-teriknya, kaca nako itu dibuka lebar-lebar biar angin luar bisa masuk menjamah ruangan yang pengap oleh bau bedak talek.

"Terserah Aja, Dek..."

Saya termasuk salah satu pelanggan setia yang  mampir ke sana kalau rambut sudah mulai menyentuh kerah baju, takut kena razia Guru cuy! Lucunya, tiap kali selesai dicukur dan saya merogoh saku celana abu-abu sambil nanya, "Berapa ongkosnya, Mang?" Mang Aceng selalu menjawab dengan senyum khas di balik kumis tebalnya:

"Terserah aja, Dek. Seikhlasnya."

Di sinilah seninya. Manajemen keuangan saya diuji berdasarkan kondisi dompet pasca-jajan di warung. 

"Waduh, Mang, sisa duit jajan sama ongkos bis sisa segini. Udah buat beli gorengan," kata saya suatu hari sambil menyodorkan selembar uang kertas monyet melompat alias lima ratus perak.

"Nggak apa-apa, Dek. Mang Aceng terima," jawabnya sambil tersenyum tulus.

Zaman itu uang 500 udah bisa beli nasi lauk dan sayur yg lengkap di warteg. 

Di hari lain, kalau habis dapat uang saku lebihan dari Bokap, atau ditraktir temen, saya bisa sok keren menyodorkan lembaran seribu perak bergambar Danau Toba. "Nih, Mang, sisanya buat beli bakso!"

Mang Aceng langsung sumringah. Sembari mengibas-ngibas sisa rambut di kain cover bekas cukur, beliau selalu menyelipkan doa yang sama:

 "Hatur nuhun, Dek. Semoga nanti kalian semua sukses jadi orang gede ya. kerjanya mapan. Aamiin."

Kalimat sederhana itu entah kenapa selalu sukses bikin dada terasa hangat tiap kali melangkah keluar dari pintunya yang berwarna hijau.

Sebuah Kabar dari Garut

Batin saya bernostalgia beberapa waktu lalu. Namun, sebuah kabar dari Pak Almasis guru pmp baru-baru ini memutus lamunan itu. Ternyata, Mang Aceng sudah lama pulang kampung, mudik selamanya ke Garut. Beliau dikabarkan telah meninggal dunia di kampung halamannya. 

Kenangan tentang ruang 3 x 3 meter, kipas angin tanpa penutup, dan doa tulus di balik bedak talek itu mendadak berputar kembali seperti pita kaset yang diputar ulang.

Al-Fatihah buat Mang Aceng, tukang cukur langganan saya semasa di smansa 92-94.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar