Suatu sore tahun 1992.
Langit mulai meredup, berwarna jingga bercampur kelabu, angin sepoi² menerpa.
Di trotoar seberang sekolah, saya berdiri sambil mengusap mata yang berat karena seharian belajar.
Jalanan ramai: anak-anak berseragam putih abu-abu bertebaran, motor dan mobil lalu-lalang, suara klakson bersahut-sahutan, hiruk pikuk suara bubaran sekolah terasa bagai musik orkestra tanpa partitur yang menyajikan nada tak beraturan namun penuh kenangan.
Seperti biasa, saya nungguin bus kota langganan: Bus Rudi, bus warna hitam, bergaris merah-kuning, jurusan Labuan–Pandeglang–Serang–Merak.
Tapiii sore itu, kok itu bus gak muncul², Badan rasanya capeek, ngantuk, pikiran melayang entah ke mana. Udah kebayang sepiring nasi, telor ceplok + kecap dirumah.
Tiba-tiba, sebuah mobil boks berhenti tepat di depan saya.
Sopirnya menurunkan kaca jendela. Mukanya kusut, tampak jelas penat berpeluh lelah.
“Dek, numpang tanya. Tau alamat ini nggak?” katanya sambil menyodorkan selembar kertas berkop surat sebuah toko elektronik.
Saya baca..... jalan baja 1 no 22...
“Lho, ini mah deket banget sama rumah saya, Pak!”
Sopir itu langsung berseri-seri.
“Serius, Dek? Wah, kebetulan banget! Ayuk ikut dan antar saya ke alamat ini."
Tanpa pikir panjang, saya naik dan duduk di sampingnya. Zaman itu, gak ada pikiran soal penipuan atau penculikan, Rasanya percaya aja, polos banget ya.
Perjalanan Serang–Cilegon sekitar 30 menit. Sopir bercerita dengan nada frustrasi.
“Aduh, Dek… dari pagi saya muter-muter nyari alamat ini. Udah Tanya sana sini, nggak ada yang tahu. Pusing banget.”
Saya nyengir, “Ya iya, Pak. Lha wong Bapak salah kota. Alamatnya di Cilegon, bukan di Serang.”
Sopir itu melotot sebentar, lalu ngakak. “Huahaha Pantesan! dari tadi kayak gasing muter nggak ketemu-ketemu!”
Mobil box melaju santai, menelusuri jalur saya pulang, saya masih ingat rute nya : Alun-Alun, legok, kopasus, tamansari, kramat watu, kopti, pelamunan, wulandira, serdang, pci, simpang tiga, polres cilegon, sd 1 ypwks, panti asuhan.
Monil box melaju...
Sayup-sayup dikejauhan adzan Magrib berkumandang. Mobil kami melewati bunderan Untirta, masuk komplek KS. Saya jadi navigator dadakan, mengarahkan jalan yang sudah hafal diluar kepala.
“Lurus dulu, didepan putar balik kanan, Lalu blok kiri, Nah, luruus terus, mentok, Lalu belok kiri lagi"
Sopir itu ketawa,
“Wih, hafal banget nih jalannya"
Mobil berhenti tepat di depan pagar rumah yang dituju.
Pak sopir mematikan mesin, dan menghembuskan nafas lega.
“Untung ketemu kamu, Dek. Kalau nggak, entah sampai jam berapa saya muter-muter,”
Pemilik rumah keluar dengan sumringah. Ternyata dia udah nunggu kiriman barang sejak pagi.
"Wah akhirnya dateng ya barang saya"
Saya gak ingat barangnya apa, kalo gak kulkas atau mesin cuci electrolux.
Begitu barang selesai dikeluarkan dari box, suasana jadi ceria, sopir lega, pemilik rumah senang, saya ikut tersenyum dan pamit pulang.
Saya dengan riang lanjut jalan kaki ke rumah yg berjarak 6 rumah + 1 lapangan voli dari situ.
Di saku celana, uang 200 rupiah ongkos bus pun masih utuh.
Lumayan, besok bisa buat jajan 😁
Saat berjalan kaki menuju rumah, saya mbatin:
Allahu Akbar. Allah punya cara yg ajaib sekaligus indah.
Kok bisa ya,
nunggu bus kota gak dateng², tapi diganti mobil box yg kesasar, kejadian yang justru membahagiakan banyak orang: Sopir sampai tujuan, pemilik rumah menerima barang, dan saya… pulang dengan nyaman (gratis😁✌️).
Alhamdulillah🙏

Tidak ada komentar:
Posting Komentar