Jumat, 29 Mei 2026

Masuk SMP 1989

Angkot Ijo Kopragon dan Seragam Kekecilan

Kelulusan SD itu rasanya kayak naik pangkat jadi next level. Masalahnya, di Cilegon jaman itu, dunia persilatan anak SMP terbagi jadi tiga faksi besar: SMP YPWKS, SMP Negeri 1 Cilegon, dan SMP Negeri Pulomerak. 

Teman-teman SD saya yang dulunya kompak main sepeda, main bola, layangan, gobak sodor, dampu dan (kadang) makan biji ketapang, nyolong buah chery dirumah kosong, langsung buyar kesebar ke tiga sekolah itu.

Saya sendiri? Jujur, proses daftarnya gimana saya blas enggak ingat. Kyknya semuanya diurus sama guru-guru SD, dan tahu-tahu nama saya nyangkut di SMP Negeri Pulomerak, yang lokasinya di Jalan Raya Merak KM 7.

Jarak dari rumah ke smp sekitar 3 kilo. Moda transportasi andalan kami adalah angkot Kopragon warna hijau legendaris. Ongkosnya? Cuma Rp.50,- perak! Iya, Anda tidak salah dengar. Bayar pakai koin seratus perak kembalinya masih bisa buat beli tahu isi atau es sirop di warung bu toto.

Hari pertama masuk sekolah, rasanya absurd banget. Badannya udah ngerasa segede gaban karena udah "anak SMP", tapi setelannya masih pakai seragam merah-putih SD. Pas upacara berbaris di lapangan, saya langsung celingukan nyari sandaran hidup. Untung ketemu komplotan lama.

"Eh, Sur! Lu masuk kelas mana?" tanya Aton, Dianto,  Hendra & Febri sambil benerin topinya yang miring.

"Kagak tahu, ini masih nunggu dibacain," jawab saya lugu.

Pas pengumuman kelas, alhamdulillah, saya masuk kelas 1B. Bareng lagi sama Dody, Febri dan Sari. Begitu masuk ruangan kelasnya, beuh... posisinya strategis banget tapi menguji nyali. Dekat ruang guru, dan cuma selemparan batu dari jalan raya besar. Jadi, tiap kali guru lagi nerangin, backsound-nya adalah deru mesin truk trailer segede rumah dan bus antar-kota yang ngebut ke arah pelabuhan. --Ngeeeeeng... ngeeeng!--  Anggap saja itu musik pengiring masa remaja kami. Di Penataran ini kami baru tahu istilah : Wawasan Wiyata Mandala yg artinya  cara pandang atau sikap yang menganggap sekolah sebagai lingkungan atau kawasan khusus penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran. 

Anehnya satu hari setelah selesai penataran P4 , pak Dedi memanggil saya dan saya disuruh pindah ke kelas 1A, wah seru nih,  bisa sekelas sama Reja, Rella, Dikshie dan Jhony Auri yg memang temen jaman sd.


Pasukan Kurawa (Regu Teririt Se-Kecamatan)

Setelah senin sampai jumat kenyang dicekoki butir-butir Pancasila pas penataran P4, tibalah menu utama yang paling ditunggu-tunggu sekaligus ditakuti: Penataran Pramuka.

Sabtu sore, saya sama dikshie, teman sekaligus tetangga sebelah rumah udah stand-by di sekolah. Di tangan menggotong beberapa batang kayu bakar yg diikat tali rafia warna biru, di punggung ada tas gemblok isi baju ganti dan bekal makan minum.

Lapangan upacara sudah ramai. Kakak-kakak penegak dan senior kelas 2 dan 3 yang mukanya diserem-seremin udah mondar-mandi bawa peluit dan tongkat bambu.

"Ayo cepat! Kumpul per regu!" teriak seorang kakak senior berkumis tipis yang berusaha kelihatan sangar. 

Saya pun nyari regu saya. Pas kumpul, saya langsung melongo. Normalnya, satu regu pramuka itu isinya 8 sampai 10 anak. Lah, regu saya? Cuma berempat! Anggotanya saya, Saipul yang badannya mini, Alif yang  juga imut-imut, dan satu lagi anak kecil yang sampai sekarang saya lupa namanya (sebut saja dia 'Si X').

Formasi regu kami ini kalau dilihat dari jauh mirip angka 0111. Saya yang berbadan paling bongsor berdiri paling depan, di belakang saya berjejer tiga anak kecil-kecil yang tingginya cuma se-pundak saya.

"Sur, ini kita fix cuma berempat?" bisik Saipul sambil mendongak melihat saya.

"Iya, Pul. Anggap aja kita regu elite. Sedikit tapi mematikan," kata saya menghibur diri, padahal dalam hati pengen ketawa.

Setelah shalat magrib, petualangan "penderitaan" dimulai. Panitia mengumumkan tempat tidur. Jangan harap kasur empuk atau minimal tikar empuk. Kamar tidur kami adalah ruang kelas bawah di depan warung Bu Toto. Fasilitas tidurnya? beberapa buah meja kayu sekolah disatukan. Titik.

"Sur, lu tidur di sebelah mana? Badan lu gede banget, ntar meja kita jomplang," kata Alif khawatir.

"Tenang, Lif. Gue di tengah. Kalau mejanya patah, kita jomplang bareng-bareng," ujar saya sambil menata tas sekolah buat dijadikan bantal.

Setelah makan malam modal bekal dari rumah dan shalat isya, kami kumpul lagi di lapangan buat acara api unggun. Ternyata inilah kenapankami disuruh bawa kayu, buat api unggun.

nah suasana mulai syahdu. 

Diawali sambutan kak Yusuf , beliau mengajari kita yel yel dan lagu hymne pramuka, 

Kami Pramuka Indonesia
Manusia Pancasila
Satyaku kudarmakan, darmaku kubaktikan
Agar jaya Indonesia... indonesia tanah airku

Kami jadi pandu muu

Kita juga nyanyi  bersama lagu  ampar² pisang, dan lain-lain 

Ada satu lagu yg menarik buat saya karena baru pertama kali dengar dan bahasanya sangat asing, lagunya gini:

Bumba, bumba, bumba...Bongke sawa sawa sawa bongkewaBongke sawa sawa sawa bongkewaOsela bela, obela selaOsela bela bela sela...Bumba bumba bum!

Dilanjutin kakak penegak dan senior yang menyanyi, ada yang baca puisi sok puitis diiringi petikan gitar akustik yang rada fals hehehe

Di tengah temaram api unggun, regu kami kembali jadi tontonan. Gimana enggak, pas berbaris, regu lain panjang bener kayak kereta, sedangkan regu saya imut-imut, isinya raksasa satu sama kurcaci tiga.


Kuburan Jadi Tempat Nyantai

Sekarang... jamnya JURIT MALAM!"

Suara kakak pembina lewat megaphone bikin bulu kuduk tiga anggota regu saya langsung merinding. Tiap regu diwajibkan jalan dengan jeda waktu sekitar 5 menit. Sialnya (atau untungnya), regu kami kebagian urutan paling belakangan.

Rute jurit malam ini luar biasa. Kami harus menyeberang jalan raya, lalu masuk ke area perkampungan desa rawa arum yang makin lama makin gelap dan jalannya makin mengecil. 

Begitu lepas dari rumah warga, suasana berubah total. Kami masuk ke area perkebunan dengan pepohonan rindang yang rimbun banget.

Asli, itu gelapnya kacau. Merem sama melek itu hampir gak ada bedanya! Gelap gulita! Satu-satunya kompas kami adalah kelap-kelip nyala lilin di kejauhan sebagai petunjuk jalan.

Tantangan makin seru karena kami harus melewati area pemakaman. Di saat regu lain mungkin udah komat-kamit baca ayat kursi, regu kami malah beda. Karena badan saya capek bawa beban berat, pas tepat di depan kuburan, saya langsung berhenti.

"Stop, stop... Istirahat dulu, gempor kaki gue," kata saya santai.

"Astagfirullah, Sur! Lu gila ya? Ini kuburan!" bisik Saipul panik sambil megangin lengan baju saya erat-erat.

saya duduk dekat kuburan yg berkeramik hijau dan memang disitu ada nyala lilin, jadi agak terang. 

"Halah, setannya juga capek ngebisikin orang malam-malam begini. Udah, duduk dulu semenit," jawab saya ceplas-ceplos. Tiga temen saya cuma bisa pasrah, jadilah kami ronda malam gratisan di depan kuburan.

Eh ada kakak senior yg datang, "HOI NGAPAIN DISINI, AYO TERUS JALAN!!!"

yah namanya juga capek dan sedikit kesasar hahaha

Sepanjang jalan, ada beberapa pos. Di setiap pos, kami dikasih pertanyaan seputar Pancasila dan kepramukaan. Tapi yang paling seru tentu saja aksi kakak-kakak penegak yang jahil menyamar jadi hantu dan pocong.

Nah, di sinilah keuntungan jadi regu paling buncit. Karena kami jalan belakangan, semua "jebakan batman" para senior itu bocor duluan! Dari kejauhan, di tengah keheningan malam, kami sering dengar suara:

*"AAAARRRGGHH!!! TOLOOONG!!! MAK, ADA POCONG!!!"*

Mendengar teriakan histeris dari regu di depan kami, saya dan anak-anak malah ketawa ketiwi.

"Tuh, Lif, Pul... di depan ada pocong KW super. Entar pas lewat, kita biasa aja ya, jangan kasih panggung," kata saya ngasih komando.

Bener aja. Pas kami menyusuri jalan setapak yang gelap, tiba-tiba dari balik pohon pisang muncul sosok putih loncat-loncat sambil bersuara *"Hiiiii...".

Kami berempat cuma lewat sambil ngeliatin datar. Kakak kelas yang nyamar jadi pocong mungkin batin: "Ini anak baru kenapa mentalnya baja semua ya?"

Kami pun melewati semua pos dengan mulus, menyusuri jalan setapak yg gelap, diantara rombunnya pepohonan, naik turun bukit kecil, sampai akhirnya sayup-sayup melihat cahaya lampu rumah warga lagi. Alhamdulillah, peradaban manusia akhirnya kelihatan! Kami sukses balik ke sekolah dengan selamat dan penuh tawa.


Konspirasi Pintu Terkunci dan Belati Penyelamat

Sampai di sekolah, fisik udah rontok. Kami langsung masuk ke kelas bawah depan warung Bu Toto tadi buat tidur. Sekali lagi, tidur di atas meja kayu dengan bantal baju seadanya itu sama sekali gak membuat nyenyak. Badan rasanya encok semua.

Perasaan belum lama kita tidur, eh Tiba tiba..

 *GEDEBUK! GEDEBUK!* BRAK BRAK BRAK!!!

"BANGUN! BANGUN! CEPAT!!! SEMUA KE LAPANGAN!" Teriakan menggelegar dari kakak senior memecah keheningan subuh sekitar jam 5 pagi. 

Di luar terdengar suara grasak-grusuk teman-teman dari ruangan lain yang berlarian ke lapangan upacara untuk olahraga pagi. Kami yg masih setengah sadar dan masih di dalam kelas otomatis langsung bangun dan panik. Saipul langsung lari ke pintu dan mencoba memutar gagang pintu.

Klek. Klek. Klek!

"Sur! Pintu gak bisa dibuka! Terkunci dari luar!" ,  Saipul panik.

"Wah, ini pasti dikerjain sama kakak kelas nih! Kurang ajar, kita dijebak!" ,  Alif mulai parno.

Di depan pintu kelas itu, ada Mas Donny (kakaknya Rella, senior kami). Mendengar keributan, Mas Donny langsung maju ke depan pintu. Dia gedor-gedor pintunya sekencang mungkin. 

Lho kok pintunya gak bisa dibuka?

"WOI! INI PINTU TERKUNCI GAK BISA DIBUKA! SIAPA YANG NGUNCI ?!" teriak Mas Donny garang.

Beberapa kakak panita mencoba membuka pintu, tapi gak berhasil juga.

Kami para anak baru udah mikir, 'Wah, ini sih kyknya bagian dari ospek/penataran , kita disuruh nyari jalan keluar.' Tapi setelah Mas Donny meriksa engsel pintunya dengan teliti, mukanya langsung berubah serius. Ternyata ini bukan prank! Engsel pintunya emang beneran rusak dan seret parah!

"Sial, ini macet! Ada yang punya pisau atau belati gak?!" teriak Mas Donny ke arah kami.

Mendengar itu, saya langsung merogoh tas pramuka saya. "Saya punya, Mas!" jawab saya sambil menyerahkan pisau belati pramuka andalan saya.

Mas Donny langsung beraksi. Dengan cekatan, dia mencongkel engsel besi yang macet itu pakai belati saya. *Kreeek... ngeeek... KLAK!*

Pintu akhirnya terbuka lebar. Alhamdulillah!

Tapi karena drama pintu terkunci itu memakan waktu lama, suasana di luar udah mulai sedikit terang. Alhasil, regu kami sukses absen dari acara olahraga pagi bareng kakak panitia. Sebagai gantinya, kami langsung melipir ke musholla depan sekolah, di samping rumah Ade Muslimat, untuk menunaikan shalat subuh yang agak kesiangan. Selamatlah kami dari siksaan senam subuh!


Epilog: Pulang Bawa Kebanggaan Baru

Hari Minggu itu diisi dengan kegiatan yang lebih santai. Kami diajarin barus berbaris, juga tali-temali yang ribetnya minta ampun sama Kak Yusuf. Lalu ada sesi belajar sandi morse, sandi kotak dan sandi semaphore yang dipandu oleh Kak Iyong dan Kak Andi Parno—yang sukses bikin otak kami yang kurang tidur ini makin puyeng.

Sebelum pulang, ada acara seru-seruan: Kontes Kakak idola. Jadi kakak senior dipanggil satu persatu oleh mc, dan berjalan kedepan sambil tersenyum dan bergaya bak model.

Kami selaku anak baru, disuruh memilih kategori kakak-kakak panitia, ditulis dikertas kecil. 

Hasil votenya adalah :.......

Kakak Terbaik jatuh kepada Kak Dian Triadi,

Kakak Terganteng diraih oleh Kak Fani,

Kakak Terfavorit didapatkan oleh Kak Mustaqim, (yg spontan disambut riuh oleh kami dengan tepuk tangan dan sorak sorai, hahaha , nah sebagai gambaran, kak mustaqim ini wajahnya lucu, lugu dan polos, dengan melihatnya saja , membuat kami merasa terhibur hahahaha, kebayang lah ya)

Dan Kakak Tercantik... (Sial, kok lupaaa.... memori saya blur di bagian ini, mungkin karena efek ngantuk berat waktu itu).

Akhirnya sore hari sekitar jam 4, seluruh rangkaian penataran resmi ditutup. Kami dikumpulkan dilapangan upacara diberi arahan singkat oleh pak guru sudiro, dan kak yusuf bahwa ada ekskul pramuka setiap minggu sore di lapangan bumper ks. Kita juga dibagikan sertifikat penataran pramuka, dan diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing.

Saat berjalan keluar gerbang sekolah dengan langkah gontai, baju pramuka kumal, dan bau matahari bercampur minyak kayu putih, saya melihat sosok yg amat saya kenal di kejauhan. Bapak saya yang sedang menunggu sambil tersenyum lebar melihat anak bujangnya pulang "berperang".

Saya berjalan menghampiri Beliau dengan rasa bangga yang membuncah. Rasanya beda. Hari Sabtu kemarin saya berangkat sebagai bocah lulusan SD yang polos, tapi hari Minggu sore ini, saya pulang sebagai seorang anak SMP Negeri Pulomerak yang punya cerita seru, teman-teman baru, dan mental yang (sedikit) lebih tangguh.

Sebuah awal masa remaja di Cilegon yang kalau diingat-ingat sekarang, selalu sukses bikin saya senyum-senyum sendiri di depan secangkir kopi.

Buat teman seregu saya saat penataran pramuka, Saipul, Alif, dan X, dimanapun kalian berada semoga kalian semua sehat bahagia, dirahmati dan diberkahi Allah SWT. Aamiin YRA🙏

Tidak ada komentar:

Posting Komentar