Kamis, 14 Mei 2026

Yusuf dan Julaiha


 “Jodoh Tak Kemana”

##

Sebuah kisah nyata dari tetangga saya sendiri, seorang kakek yg sangat bersahaja, hangat, dan ramah, membuat setiap orang yg berada didekatnya terasa damai.

Cerita ini tentang waktu, kehilangan, dan takdir yang akhirnya menemukan jalan pulang.

##

Di sebuah kampung kecil yang damai, hiduplah seorang pemuda sederhana bernama Yusuf. Anak baik, santun, dan dikenal rajin membantu orang tua. Tak jauh dari rumahnya, tinggal seorang gadis lembut bernama Julaiha. Sejak kecil mereka saling mengenal. Orang tua mereka bahkan pernah bersepakat, suatu hari nanti Yusuf dan Julaiha akan dipersatukan dalam ikatan pernikahan.

Bagi orang kampung zaman itu, perjodohan bukan hal aneh. Tapi di balik itu, diam-diam tumbuh rasa yang tak pernah benar-benar diucapkan. Yusuf dan Julaiha saling menyimpan harapan, walau malu untuk berkata.


Namun hidup sering punya jalan cerita sendiri.


Yusuf mendapat kesempatan kuliah di luar pulau. Di zaman ketika telepon rumah masih barang mewah, apalagi handphone yang bahkan belum terpikirkan, kabar hanya bisa dikirim lewat surat. Itupun kadang lama sampai, kadang hilang entah ke mana.


“Jaga diri ya…” begitu pesan terakhir Julaiha saat melepas Yusuf pergi, dengan mata yang berusaha kuat menahan sedih.


Yusuf pergi membawa mimpi. Julaiha tinggal membawa harap.


Tahun demi tahun berlalu. Yusuf sibuk kuliah dan berjuang di tanah rantau. Di kampung, keadaan berubah. Orang tua Julaiha khawatir anak gadisnya terlalu lama menunggu tanpa kepastian. Akhirnya, Julaiha dinikahkan dengan seorang lelaki baik bernama Ahmad.


Ketika Yusuf pulang setelah lulus kuliah, langkahnya terasa berat mendengar kabar itu.


“Julaiha sudah menikah…”


Kalimat itu seperti menghentikan waktu sesaat.


Tak ada marah. Tak ada salah siapa-siapa. Hanya ada kenyataan bahwa takdir saat itu membawa jalan berbeda.


Yusuf akhirnya menikah dengan seorang perempuan baik bernama Siti. Mereka membangun rumah tangga, merantau lagi, bekerja keras, membesarkan anak-anak. Julaiha pun menjalani hidup bersama Ahmad. Tahun berganti tahun, anak-anak tumbuh, cucu-cucu lahir. Kehidupan berjalan sebagaimana mestinya.


Dan perlahan, nama yang dulu pernah tinggal di hati, terkubur oleh kesibukan dan usia.


Hingga suatu hari…


Puluhan tahun berlalu.


Usia Yusuf sudah menginjak 70 tahun. Rambut memutih, langkah mulai pelan. Istrinya, Siti, telah lebih dulu berpulang. 

Setelah sekian lama di rantau, Yusuf memutuskan pulang ke kampung halaman. Sekadar mengenang masa kecil, menyapa tempat yang pernah menjadi rumah.


Sore itu, Yusuf berjalan menyusuri jalan kampung yang dulu akrab di matanya.


Tiba-tiba terdengar suara perempuan dari belakang.


Assalamualaikum… ini Yusuf kah?


Yusuf menoleh pelan.


Waalaikumsalam…”


Wajah itu terasa tidak asing, tapi waktu telah mengubah banyak hal. Keriput usia menggantikan wajah muda yang dulu ia kenal.


“Saya… Julaiha.”


Seakan waktu berhenti.


Yusuf terdiam beberapa detik. Lalu matanya membesar, perlahan tersenyum.


“Ya Allah… Julaiha?”


Mereka tertawa kecil, lalu saling bertanya kabar. Tentang hidup, anak-anak, cucu, tentang kehilangan, tentang perjalanan panjang yang ternyata sama-sama penuh cerita.


Ternyata Ahmad pun telah lama berpulang.


Sejak pertemuan itu, Yusuf dan Julaiha mulai sering mengobrol. Kadang Yusuf datang membawa buah tangan. Kadang Julaiha memasakkan makanan kampung kesukaan Yusuf dulu. Tak ada lagi gengsi anak muda. Yang ada hanya dua hati tua yang merasa nyaman ditemani seseorang yang sudah mengenal akar hidup mereka.


Orang kampung pun tersenyum melihatnya.


“Lha… ternyata jodohnya balik lagi…”


Dan benar saja.


Di usia senja, ketika rambut sudah memutih dan langkah tak lagi sekuat dulu, Yusuf dan Julaiha akhirnya menikah.


Tak ada pesta mewah. Tak ada gemerlap. Tapi ada kebahagiaan yang tulus. Bahagia yang sederhana. 

Seolah Tuhan hanya berkata:

"Bukan tidak berjodoh… hanya waktunya belum tiba."


Mereka menjalani hari-hari sebagai kakek nenek dengan hati damai. Menemani satu sama lain sampai akhir hayat.


Sejak mendengar kisah itu, saya seperti mendapat pelajaran hidup yang dalam: kadang hidup memisahkan, kadang waktu membuat kita kehilangan arah, tapi kalau memang sudah tertulis, jodoh memang tak akan ke mana.


Karena ada cinta yang bukan hilang… hanya sedang diputar jalannya oleh takdir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar