Flashback ke tahun 1992, kelas 1-5.
Mesin Jahit dan Nostalgia Kelas 1-5 (1992)
Lonceng sekolah berdentang, dan seketika atmosfer kelas 1-5 berubah tegang—khususnya bagi koloni cowok di barisan belakang. Hari itu adalah jadwal pelajaran Keterampilan. Guru yang mengajar adalah Bu Tatat, seorang guru muda yang cantik, ramah, dan sangat sabar. Saking telatennya, Bu Tatat kadang membawa anaknya yang masih balita ke kelas. Anak perempuan kecil itu dipakaikan jilbab, duduk tenang di dekat meja guru, terlihat sangat imut dan menggemaskan. Kehadiran si kecil biasanya jadi pereda ketegangan di kelas.
Tapi hari itu, imutnya anak Bu Tatat tidak cukup untuk meredakan keresahan kami. Agenda hari ini: praktik jahit-menjahit.
Di atas meja, sudah tersedia "senjata" yang asing bagi jemari kami yang biasa memegang bola basket, sepeda, atau bola kaki: yaitu secarik kain, jarum, dan beberapa gulung benang. Bu Tatat dengan anggun mencontohkan berbagai pola jahit dan teknik tusuk dasar di depan kelas.
Di barisan belakang, bisik-bisik protes mulai bergaung.
"Yaahhh... yang bener aja nih kita disuruh menjahit? Kagak ada keterampilan lain apa? Bikin mobil-mobilan dari kulit jeruk bali gitu?" keluh Ranu dengan wajah ditekuk, tangannya canggung memegang jarum yang sekecil lidi.
"Sudah anak-anak, jangan mengeluh. Menjahit itu keterampilan dasar yang berguna untuk siapa saja," suara lembut Bu Tatat memotong riuh rendah protes kami dari belakang.
Sebelum pelajaran usai, petaka yang sebenarnya tiba. Bu Tatat memberikan tugas untuk diselesaikan di rumah. Tugas menjahit manual dengan tangan! Otomatis, barisan belakang langsung lemas berjamaah.
Melihat secarik kainnya yang masih polos, Ranu mulai melancarkan aksi gerilya. Dia menengok ke arah Wiwin, salah satu siswi di dekatnya, lalu memasang wajah paling melas yang pernah ada dalam sejarah kelas 1-5.
"Eh, Win... Win... bikinin punya gue dong. Plis lah, Win... lu kan baik, pintar menjahit, tidak sombong, dan rajin menabung," bujuk Ranu dengan nada manja yang dipaksakan.
Wiwin menoleh, menatap Ranu dari bawah ke atas, lalu melengos tajam.
"Enak aja! Bikin sendiri sana!"
Ranu tertunduk lesu. Memang enak ditolak mentah-mentah di siang bolong.
Saat jam pulang sekolah, ketika saya sedang menatap nanar kain tugas itu sambil membayangkan jemari tertusuk jarum, Jhony Perdamean menepuk pundak saya dari belakang. Wajahnya tampak begitu percaya diri, seolah baru saja menemukan mata air di tengah gurun.
"Udah, lu jangan bingung, Sur. Ini kita bisa bikin pakai mesin jahit kok. Cepat, rapi, beres!" bisik Jhony penuh rahasia.
Saya terbelalak. "Ah, yang bener lu, Jon? Emang boleh? Kan kata Bu Tatat pakai tangan?"
"Suwer! ✌️ Siapa yang bakal tahu bedanya? Mesin jahit nyokap gue udah rada ngaco suka lompat2, jadi mirip jahit tangan, Lu ikut deh besok pagi ke rumah gue di Sumampir. Ntar dibikinin sama Nyokap gue," kata Jhony meyakinkan.
Sebagai anak kelas 1 yang pragmatis dan malas ribet, tawaran Jhony terdengar seperti wahyu dari langit. Maka keesokan paginya, sebelum berangkat sekolah, saya melipir ke rumah Jhony. Di sana, sang juru selamat—ibundanya Jhony—sudah bersiap. Dengan lihai, Tante menginjak pedal mesin jahit. Tret-tret-tret-tret... tidak sampai lima menit, tugas jahit kami berdua selesai dengan pola yang sangat rapi, lurus presisi, dan kokoh.
"Cepat dan praktis!" batin saya bangga. Terima kasih banyak, Tante! Kami pun berangkat ke sekolah dengan dada membusung, merasa di atas angin.
Hari pengumpulan tugas pun tiba. Bu Tatat memeriksa hasil jahitan satu per satu di mejanya. Saya dan Jhony duduk tenang, menunggu giliran dengan senyum dikulum. Hingga akhirnya, giliran kain kami berdua yang diperiksa.
Saya melihat dahi Bu Tatat berkerut. Beliau mengelus pinggiran kain kami, membolak-baliknya, lalu pandangannya langsung tertuju ke arah kami. Ramah dan lembutnya Bu Tatat mendadak menguap, berganti kilatan tegas.
Duh Perasaan gue kok gak enak?
kalo kata Han Solo di film Starwars : "i have a bad feeling about this"
"SURYO, JHONY MAJU KEDEPAN!"
panggil Bu Tatat. Nadanya tidak tinggi, tapi sanggup membuat jantung kami copot.
Kami berdua maju dengan langkah gontai.
"INI KALIAN PASTI PAKAI MESIN JAHIT!!" tembak Bu Tatat langsung, bak peluru tepat sasaran.
"Eh... anu, Bu...bukan begitu maksudnya...." Jhony mendadak gagap.
"TIDAK BOLEH BEGINI! KAN SUDAH SAYA BILANG, JAHITNYA HARUS PAKAI TANGAN BIAR KALIAN BELAJAR PROSESNYA. KALAU MAU DAPAT NILAI, KALIAN BERDUA BIKIN LAGI DARI AWAL, JAHIT PAKAI TANGAN, DAN DIKUMPULKAN MINGGU DEPAN!"
"Tapi Buuu...?" saya mencoba menawar dengan sisa-sisa keberanian.
"TIDAK ADA TAPI-TAPI! SUDAH, SANA KEMBALI DUDUK!" jari Bu Tatat menunjuk tegas ke arah meja kami.
Saat kami berbalik, geng barisan belakang langsung cekikikan tanpa dosa.
"Makanya... lagian sok ide banget sih pakai mesin!" ledek Ranu, membalas dendam kesumatnya yang kemarin ditolak Wiwin.
Rasa malu, kesal, dan kecewa bercampur aduk jadi satu di dada. Saya berjalan menunduk kembali ke meja, benar-benar tidak berani menatap mahkluk-makhluk manis yang ada di kelas.
Duh, mau ditaruh di mana muka ini? Level kharisma saya di hadapan cewek-cewek kelas 1-5 langsung terjun bebas ke titik nadir dalam hitungan detik. Hancur sudah reputasi!
Sebenarnya, dari lirikan mata, saya tahu ada beberapa anak cowok lain yang pakai mesin jahit juga. Tapi dasar nasib mereka lagi mujur, Bu Tatat tidak jeli memeriksa punya mereka. Sepanjang sisa jam pelajaran, senyum mereka lebar banget, penuh rasa kemenangan yang mengejek. Siaaaal!
Dan puncaknya, saat pembagian rapot di akhir semester, tebakan saya benar.
Nilai mata pelajaran Keterampilan saya bertengger dengan anggun di angka "6".
Aduhh, please deh Bu Tatat yang baik hati... kok tega amat sih sama saya yang polos ini? 😂
----
Sekarang, setelah puluhan tahun berlalu, kalau mengingat kejadian itu saya cuma bisa tertawa sendiri. Angka "6" di rapot itu bukan lagi sebuah aib, melainkan sebuah lencana kenangan yang sangat mahal.
Ternyata, ketegasan Bu Tatat hari itu bukan karena beliau benci, tapi karena beliau ingin kami menghargai sebuah proses, sekecil apa pun itu. Terbukti saat saya hidup mandiri di kost saat kuliah, ketika kancing baju copot, atau kantung sobek, bahkan restleting yg rusak, bisa tuh dengan sukses saya jahit sendiri. hehehehe
Terima kasih, Bu Tatat, atas pelajarannya (dan nilai 6-nya yang legendaris). Di mana pun Ibu dan si kecil yang dulu imut berada sekarang, semoga sehat selalu.
Dan untuk Jhony serta geng barisan belakang... I love You All guys!! kalian adalah bagian dari potongan kisah masa remaja yang seru!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar