Kimia dan Putih-Abu-Abu 1-5
Ada kalanya, ingatan saya melompat jauh ke belakang. Menembus dinding batas sekian puluh tahun lalu, yang hinggap di selasar sekolah kuno beratap tinggi, dengan tembok warna biru muda kusam yang cat nya sedikit mengelupas.
Suara kapur tulis yang berdecit di papan hitam, dan aroma khas buku pelajaran di ruang kelas 1-5 SMA. Di sinilah kisah ini bermula.
Kimia.
Pelajaran ini benar-benar barang baru buat kami, anak-anak kelas 1 SMA yang baru saja lulus SMP. Dulu kan tidak ada pelajaran yang bikin pusing ini.
Tapi untungnya, guru kimia kami waktu itu adalah Pak Gunarto. Masih muda, pintar, dan ceplas-ceplos. Bahasanya gaul, gampang dicerna, bikin pelajaran kimia yang sulit pun jadi terasa asyik.
Kadang Pak Gunarto bercerita tentang kegemarannya naik gunung dan berpetualang, sesaat sebelum mulai pelajaran. Mungkin jaman sekarang, ini namanya teknik ice breaking, jadi kita fresh dan gak ngantuk.
Ingat tabel periodik unsur?
Nah, salah satu trik yang diajarkan Pak Gunarto buat kami dalam menghafal golongan 7A (F, Cl, Br, I, At). Dia pakai singkatan legendaris: "Film CiLat BRuce lee iaaATttt!"
Sontak sekelas ketawa ngakak.
Ajaibnya, gara-gara Pak Gunarto, sampai hari ini saya tidak pernah lupa urutan itu. Setiap melihat tabel periodik, terutama golongan 7A, wajah santai dan penuh senyum Pak Gunarto otomatis muncul di kepala. Beliau bukan cuma guru, tapi sudah seperti teman nongkrong yang asyik.
Suatu hari, entah dari mana asalnya, gosip kencang beredar: Pak Gunarto mau nikah!
Geng kami di pojokan belakang—saya, Imas, Endang, Lia, Evi, Dayana, Kasmudin, Solihin, Aton, Tommy, Donny, Jhoni Pasaribu, dan Madliyas—langsung sibuk pas jam istirahat.
“Eh, masa Pak Gunarto bakal melepas masa lajang nih, Kita kudu ngasih kado gak sih?” tanya Lia sambil mengunyah permen relaxa warna ungu.
“Wajib dong, biar Pak Gun makin sayang sama kita! Patungan yuk!” seru Kasmudin.
Akhirnya, kesepakatan tercapai. Kelas 1-5 mulai nyicil ngumpulin duit dari sisa uang jajan. Bendahara kelas, Imas Maisaroh, sigap jadi koordinator.
Kita setor ke Imas kadang 50perak, kadang 100, Nah! Setelah beberapa minggu, wah lumayan juga! Terkumpul beberapa puluh ribu rupiah lho!. Di tahun 90-an, uang segitu sudah bisa buat makan² satu kelas.
Tibalah hari H acara pernikahan Pak Gunarto.
Sebelum berangkat, saya dan Joni Pasaribu mampir ke Toko Edi di Cilegon, nyari kado yang *worth it* dan pas sesuai dana yg kita kumpulin.
Bingung.
Milih kemeja, takut ukurannya salah. Milih barang elektronik, duitnya kurang. Akhirnya, mata kami tertuju pada satu set cangkir dan piring makan yang cantik. Warna kuning krem lembut dengan motif bunga yang terlihat berkelas di rak kaca.
“Ah, ini aja Jon! Bagus deh, pasti kepake buat Pak Gunarto, bisa ngeteh , ngopi sama keluarga,” kata saya optimis.
Joni manggut-manggut setuju, walau wajahnya kelihatan ragu. “Iya sih. Tapi norak gak ya warnanya, Bro? Entar Pak Gunarto ilfil lagi.”
“Halah! Ini mah seninya tinggi, Jon. Pasti beliau suka!”
Kami langsung bayar di kasir, tidak lupa menyelipkan kartu ucapan tulisan tangan:
"Selamat Berbahagia dari Murid-Murid Kelas 1-5”
Petualangan berlanjut.
Kami berangkat ke Serang naik bis “Tali Jaya”. Bis ¾ legendaris yang warnanya putih, bergaris biru, dan selalu penuh. Supirnya berambut gondrong berlogat Madura yang kental, sang kenek penuh semangat berteriak-teriak sepanjang jalan, untuk ngasih tau daerah yang dilewati, dan bersiul suit suit dikala menyalip bus lain, Seruu!
"Bor..!! Bor..!!..." kenek bis berteriak pas kami sampai daerah Sumur Bor.
Saya dan Joni turun dengan gaya anak sekolah gaul. Kami jalan kaki menyusuri jalan yg tidak terlalu besar, tapi mobil bisa lewat lah. Kami menuju lokasi pernikahan.
Sampai di sana, suasana sudah ramai. Lucunya, kami berdua doang yang pakai seragam putih-abu-abu lengkap. Maklum, hari itu hari sekolah dan kami masuk siang. Tapi kami tidak peduli, yang penting bisa kasih selamat langsung ke guru favorit kami.
Di pelaminan, Pak Gunarto dan istrinya terlihat bahagia sekali. Pak Gunarto ganteng pakai beskap hitam dan blangkon Jawa asli, kain jarik coklat bermotif kawung. Istrinya pakai kebaya yang warnanya senada.
Kami kasih kado set cangkir itu langsung ke Pak Gunarto. "Wah, makasih ya!" kata beliau, senyumnya sumringah banget.
Seminggu kemudian, saat jam pelajaran kimia, Pak Gunarto datang, Senyumnya lebar sekali sejak melangkah masuk dari pintu kelas.😁
Beliau berdiri, diam beberapa saat, melihat sekeliling kelas satu per satu, seolah mengingat-ingat wajah-wajah kami yang penuh harapan, dan berkata:
“Terimakasih atas kadonya yaaa. Cangkirnya sudah saya pakai buat minum kopi pagi-pagi sama istri.”
Sontak, sekelas bersorak gembira. "Samaa-samaa paaaaaak...!!!"
Suara tawa kami bergema di gedung tua itu, memantul di dinding-dinding kusam 1-5. Itulah kehangatan sederhana yang tidak bisa dibeli dengan uang puluhan ribu sekalipun. Kenangan tentang persahabatan, tentang guru yang menginspirasi, dan tentang masa SMA yang selalu bikin rindu untuk kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar