Sabtu, 18 Juli 2026

Masa awal SMANSA

Pagi itu...

hawa dingin dan awan berwarna jingga di ufuk timur Cilegon perlahan terusir oleh deru mesin bus antar-kota yang saya tumpangi dengan berdiri, bus nya penuh, sebagian besar adalah anak sekolah, yg duduk di bangku kebanyakan ibu-ibu, mungkin guru atau PNS yg berangkat kerja. 

Rutinitas baru sebagai anak SMA dimulai dengan perjalanan 35 menit membelah jalan raya Cilegon - Serang, berganti dengan aroma minyak solar bus kota, sebelum akhirnya menyambung naik Kopas (Koperasi Angkutan Serang). 

Begitu kaki melangkah turun tepat di depan gerbang SMA 1 Serang, saya terpaku sejenak. Saya menarik napas dalam-dalam. Ada getaran yang berbeda, sebuah rasa campur aduk antara bangga, asing, dan penasaran yang menyelinap saat melangkahkan kaki untuk kali pertama ke dalam koridor sekolah yang dibangun tahun 1952 ini.

Sebelah kanan ada parkir motor yang didominasi oleh vespa. ada warna merah, putih krem, dan biru. Konon zaman itu ada insentif atau discount dari vespa untuk para guru, sehingga masa itu vespa identik dengan motor guru.

Suasana khas sekolahan zaman 90-an langsung menyambut. Lantai abu-abunya ukura 20x20cm tampak sedikit berdebu oleh jejak-jejak sepatu. Di kanan-kiri, tembok bangunan kuno peninggalan Belanda berwarna kuning kusam dengan beberapa bagian cat yang sudah terkelupas, dihiasi lubang-lubang bekas paku. 

Di sebelah kiri koridor, sebuah papan mading yang tertutup kaca, dipenuhi aneka tulisan tangan, potongan kertas warna-warni, ada lomba, ada puisi, ada foto2  dan lembar pengumuman yang menginformasikan berbagai kegiatan seru Smansa. Di sebelah kanan, sebuah karton manila besar berwarna merah jambu mentereng langsung mencuri perhatian. Karton itu berisi deretan foto 3x4 dan nama alumni yang berhasil menembus Perguruan Tinggi Negeri, juga Akabri/Akpol, sebuah monumen kebanggaan sekolah dan ajang pembuktian para guru.

Baru dua-tiga langkah berjalan menyusuri selasar, mata saya tertuju pada sebuah pintu kayu coklat tua di samping mading. Kayunya tampak sangat kokoh, dengan gurat-gurat usia dan beberapa tambalan dempul di beberapa bagian. Di atas kusen pintu itu, terpasang papan nama kayu: M. Erry Sahuri. Saya mengernyitkan dahi sambil bergumam lirih, "Hmm... siapa ya? Kepala sekolah kah?" 

"Woi, Yok! Ngapin Lu Bengong di depan pintu!"

Sebuah tepukan mendarat di bahu saya. Begitu menoleh, langkah saya langsung terhenti. Di hadapan saya berdiri seorang anak dengan senyum lebar yang sangat familiar. Badannya tinggi, kulit putih, rambut ikal,  mengingatkan saya pada seseorang...

"Kholis? 

Kholis Purwandi, kan?!" 

saya setengah tidak percaya. Tak disangka, saya malah bertemu kembali dengan teman sekelas saat di SD 1 YPWKS dulu. Dunia ternyata sesempit ini.

"Hahaha sama-sama terdampar di Serang ya! Gimana kabar lo? Masuk kelas mana?" tanya Kholis heboh, langsung menjabat tangan saya erat-erat.

"Belum tahu nih, ini baru mau nyari aula," jawab saya sambil tertawa lepas. Rasa canggung yang tadi sempat menggelayut langsung sirna digantikan kehangatan nostalgia zaman SD.

Sembari mengobrol kesana-kemari dan melempar candaan lama, kami berjalan beriringan menuju aula. Kami melintasi area tengah sekolah, tempat sebuah lapangan basket berada. Lantai lapangannya dicat warna-warni, walau di banyak bagian warnanya sudah kusam dan luntur termakan cuaca. Fasilitasnya begitu sederhana: ring basketnya terbuat dari besi batangan biasa dan papannya hanyalah beberapa bilah kayu yang terlihat sudah cukup lawas. Meski tua, ring itu tampak masih kokoh untuk menahan lemparan bola dari anak-anak yang bersemangat.

Saya lihat kakak2 kelas yg saya kenal , ya karena dulu mereka juga kakak kelas di sd ypwks atau smp pulomerak, seperti , Alm. Yoga, Oman, Olga, Iyonk, Danang, dan lucu banget deh, mereka kompak pakai tas koper president yg dulu ngetrend di jaman SD.

Kami terus menyusuri koridor bangunan kolonial yang beratap miring. Pintu-pintu kelasnya yang besar terbuat dari kayu tua berwarna merah. Di bagian atas pintu dan jendela, terdapat ventilasi udara bermotif kawat kotak-kotak yang sangat khas. Sambil berjalan, sesekali kami iseng mengintip ke dalam ruangan melalui jendela kaca besar yang agak buram tidak bisa dibuka.

"Ssst, Yok, liat deh kelas yang itu," 

bisik Kholis sambil menyikut lengan saya, mengisyaratkan ke arah dalam jendela kelas.

Saya melirik ke dalam. Di pojok ruangan, di antara deretan bangku kayu, terlihat dua orang kakak kelas sedang asyik mengobrol berduaan dengan jarak yang agak mencurigakan. Sementara di baris depan, beberapa murid lain sedang tekun memperhatikan papan tulis kayu. 

"Hus, jangan dilihatin terus, lagi kasmaran tuh," 

bisik saya tertawa geli, mempercepat langkah kaki.

Suasana pagi itu terasa makin ramai dan unik. Di antara gelombang seragam putih-abu-abu, ada pemandangan takjub tersendirnya melihat sekumpulan anak-anak berseragam putih-biru yang juga mondar-mandir, anak baru seperti saya. Tepat sebelum kaki kami melangkah masuk ke dalam aula besar, mata saya menangkap sebuah pemandangan yang sangat ikonik di sebelah kanan selasar, tepat dibawah papan pengumuman : Sebuah sepeda balap klasik merek olympic, bersandaran pasrah di tembok kuning kusam. Yang membuatnya sangat unik dan mengundang tawa adalah sebuah klakson pencet bulat berbahan karet alias klakson 'tetot' tukang roti yang terpasang gagah di stangnya yang melengkung.

"Gila, keren sih sepeda balapnya. Tapi klaksonnya kagak nahan, jadul banget," 

celetuk Kholis yang langsung disambut tawa renyah kami berdua sebelum akhirnya melebur ke dalam keramaian aula bersama anak-anak lain.

(tahun 2026, karena terinspirasi kisah ini , sepeda saya pun akhirnya dipasang klakson tetot khas tukang roti hahahaha)

Waktu pun bergulir, hari pertama yang penuh cerita itu akhirnya usai seiring dentang lonceng besi terbuat dari velg mobil yang berbunyi nyaring.

Sore harinya, perjalanan pulang kembali membawa saya pada rutinitas yang sama, namun dengan rasa yang berbeda. Saya kembali berjalan kaki menuju seberang sekolah untuk mencegat bus.

Di dalam bus yang berjalan lambat menuju Cilegon, jendela sengaja dibuka lebar-lebar demi membiarkan angin sore berembus masuk menghalau gerah. Sambil menyandarkan kepala di bingkai kursi bus yang , saya memandangi jalanan yang perlahan bergerak mundur.

Di telinga saya, sayup-sayup terdengar lagu rock era 80-an yang diputar dari tape roadstar sang sopir bus, berbaur riuh dengan obrolan penumpang lain. Ada rasa lelah yang nikmat. Seragam putih-abu-abu, tas ransel Alpina abu-abu yang terus saya pakai sejak SMP tersampir di pangkuan, dan di dalam kepala ini, kenangan tentang tembok terkelupas, ring basket tua, klakson sepeda yang jenaka, serta tawa bersama Kholis pagi tadi terus berputar. 

Hari pertama di SMA 1 Serang telah lewat, meninggalkan sebuah kehangatan yang meyakinkan saya bahwa tiga tahun ke depan akan menjadi petualangan masa muda yang seruuu dan tidak akan pernah terlupakan.

Doa rezeki

 















Minggu, 28 Juni 2026

Satu ayat yg mengandung seluruh huruf hijaiyah

 Al-Qur'an terdiri dari 114 surah dan ribuan ayat.

Tapi hanya satu ayat yang di dalamnya terdapat seluruh huruf hijaiyah, dari Alif sampai Ya'.

Dan ayat itu bukan sembarang ayat.

Ayat itu adalah QS. Al-Fath: 29.

Para ulama ahli bahasa Al-Qur'an telah meneliti dan mencatatnya, satu ayat ini mengandung seluruh huruf hijaiyah tanpa terkecuali.

Seolah Allah menitipkan seluruh aksara Al-Qur'an dalam satu ayat, lalu mengisinya dengan makna yang luar biasa.

Apa yang Allah firmankan dalam ayat itu?

"Muhammad adalah utusan Allah. Dan orang-orang yang bersamanya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud, mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud..."

(QS. Al-Fath: 29)

Ayat tentang Nabi, para sahabat, dan gambaran jiwa seorang mukmin sejati.

Apa yang bisa kita renungkan?

Allah memilih ayat ini sebagai "rumah" bagi seluruh huruf hijaiyah.

Ayat tentang siapa Nabi ﷺ dan bagaimana seharusnya kita bersikap.

Seakan ada pesan tersembunyi:

bahwa seluruh bahasa, seluruh kata, seluruh ungkapan manusia, semuanya kembali kepada satu pusat:

mengenal Nabinya, dan meneladani akhlaknya.


Surah ini bernama Al-Fath kemenangan, pembukaan jalan.

Dan ayat penutupnya menggambarkan mereka yang mendapatkan kemenangan itu:

Nabi ﷺ yang teguh, para sahabat yang saling menyayangi, dan jiwa-jiwa yang tekun sujud mencari ridha Allah.

Mungkin ada pesan di sini untuk kita 

bahwa jalan menuju fath itu sudah digambarkan.

Tinggal kita yang memilih untuk menjalankan.


Sabtu, 27 Juni 2026

Bojonegoro 27 juni 2026


Sepanjang perjalanan yang kulalui, pulang dan pergi setiap hari, ternyata bukan sekadar tentang berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Lebih dari itu, perjalanan ini adalah ruang bagi takdir untuk mempertemukanku dengan jejak-jejak kebaikan.

Di setiap langkah, selalu ada orang-orang baik yang hadir tanpa banyak bicara. Ada senyum yang menghapus lelah, sapaan yang menghangatkan hati, dan ketulusan yang mengingatkanku bahwa dunia masih dipenuhi manusia berhati mulia.

Mungkin kita tidak selalu mengingat seberapa jauh perjalanan yang telah ditempuh. Namun kita akan selalu mengingat orang-orang yang membuat perjalanan itu terasa lebih ringan, lebih bermakna, dan lebih indah.

Semoga setiap langkah yang kita ayunkan selalu dipertemukan dengan hati-hati yang tulus, dipenuhi keberkahan, dijauhkan dari segala keburukan, dan pada akhirnya menjadikan kita pribadi yang juga mampu meninggalkan jejak kebaikan bagi orang lain.

Karena sejatinya, yang paling berharga dari sebuah perjalanan bukanlah seberapa jauh kita melangkah, melainkan seberapa banyak kebaikan yang kita temui, kita syukuri, dan kita tinggalkan di sepanjang jalan.



 

Minggu, 21 Juni 2026

Smansa Penataran P4

Memori transisi dari putih - biru ke putih-abu: Dari Bau Kaos Kaki, Puisi Absurd, Hingga Betis Baja




Aula yang Menguning dan Aroma "Ajaib"

Hari itu, aula sekolah SMANSA mendadak berubah jadi lautan manusia. Bayangkan saja, ruangan panjaaang ukuran  tiga ruang kelas yang sanggup menampung sekitar 300 anak manusia. 

Di langit-langit yang tinggi, empat buah kipas angin besi berukuran raksasa berputar malas, alih-alih mendinginkan ruangan, mereka justru sukses meratakan hawa gerah ke segala penjuru. Lampu-lampu neon berjajar rapi, yang warnanya sudah menguning dimakan usia. saksi bisu bahwa ruangan ini sudah melahirkan banyak cerita.

Di sisi utara, tepat di dekat aroma semerbak dari arah toilet,  lantai aula itu sengaja dibuat lebih tinggi tiga ubin. Ya, semacam panggung gitu deh.

Kami semua duduk lesehan di lantai semen dingin, teraso abu² ukuran 20x20cm,  Karena status kami masih transisi, seragam yang melekat di badan pun masih "putih-biru" legendaris dari SMP masing-masing. 

Di tengah cuaca Serang yang mulai menyengat, tiba-tiba sebuah aroma "ajaib" menyeruak, menyelinap di antara pori-pori udara.

"Woy, bau apaan nih? Badheg amat!" 

bisik saya sambil menutup hidung.

Andi, sohib kental saya sejak zaman SD, langsung menoleh dan tertawa tertahan. 

"Elpiji bocor kalah nih! Aroma kaos kaki jempol *badeg* yang belum dicuci dari zaman kelulusan SMP kayaknya!"

"Hahahaha"

Kami berdua terpingkal. Di sekitar kami, anak-anak dari Cilegon berkumpul membuat barikede pertahanan udara: ada Dianto, Hendra, Kholis, almarhum Jhony Auri, Rio Ceker, Madliyas, Mukti Wibowo, dan Sigit. Meski aroma kaos kaki itu terus meneror, rasa bangga karena resmi menyandang status "Anak SMA" mengalahkan segalanya. Rasanya bangga banget!

Di atas panggung aula, satu per satu pengurus OSIS diperkenalkan. Gaya mereka rapih perlente khas senior 90-an. Ada Kak Dila, Kak Iwan Sugiarto, Kak Alit, Kak Manik, Kak Agam, Kak Olga, Kak Deny, dan entah siapa lagi—pokoknya banyak deh!

Setelah rentetan sambutan dari OSIS, giliran seorang pria berbadan tegap maju membawa mikrofon. Beliau adalah Pak Wawang Sufri, guru olahraga yang legendaris.

"Smansa Serang ini berdiri tahun 1952! Pak Wawang membuka pembicaraan" 

suara Pak Wawang menggelegar, membakar semangat kami. Dengan tata bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai EYD, rapih dan sangat terstruktur, beliau lalu bercerita panjang lebar tentang para alumni yang sudah sukses melanglang buana jadi pejabat tinggi negara. Hebatnya, Pak Wawang ini ternyata alumni Smansa juga yang "pulang kampung" untuk mengabdi menjadi guru olahraga.

Saya jadi teringat bisikan Pak Supriyadi saat kelas 3 SMA, Pak Supriyadi adalah guru agama kami. 

Kamu tahu, Mas? Pak Wawang itu zaman mudanya di Smansa dulu murid yang paling lincah. Jagoan olahraga, nggak ada duanya, voli, basket, sepakbola itu Pak Wawang Jagonya,!

Siang itu, Pak Wawang resmi membuka jalannya Penataran P4 yang akan menyandera kebebasan kami selama seminggu ke depan.

Kelas 1-2 dan Maestro Komedi dari Teater Awan

Dunia ini sempit, atau mungkin takdir memang suka bercanda. Saat pembagian kelas diumumkan, entah menggunakan metode apa, saya kembali terdampar di kelas 1-2 bersama Andi Sufaryanto. Bayangkan, dari zaman main kelereng di SD, SMP,  bahkan rumah kami sama-sama di jalan Besi Cilegon, kami masih saja satu atap. Luar biasa, bukan? Di kelas baru ini, kami berkenalan juga dengan kawan dari smp 1 dan smp 2 serang : Rendra, Nila, Nining, Zainur Reza, dan Winny.

Pendamping kelas kami adalah tiga serangkai yang unik: Kak Dila, dan seorang kakak kelas perempuan yang saya lupa namanya tapi semua tahu bokapnya seorang jaksa, dan terakhir... seorang kakak senior bernama Bambang.

Kak Bambang ini... astaga, gokil habis! 

Mukanya sangat ekspresif, gerak-geriknya komikal mirip karakter kartun yang hidup. Belakangan kami baru tahu kalau doi adalah pentolan Teater Awan, ekstrakurikuler teater kebanggaan Smansa. Kalau saja zaman itu sudah ada kompetisi *Stand Up Comedy* di TV, saya berani taruhan Kak Bambang bakal bawa pulang piala juara satu sambil kayang.

Masa penataran adalah masa-masa paling seru untuk berburu teman baru. Ada yang mendadak nostalgia karena ketemu teman TK atau SD, ada juga yang langsung "tebar pesona" ke teman baru .

Melihat kelas 1-2 yang suasananya masih kaku kayak kanebo kering, jiwa usil gue mendadak memberontak. Urusan milih ketua kelas di zaman putih-abu itu kan sejatinya ajang nyari tumbal biar nggak disuruh bolak-balik ruang guru.

​"Woy kawan-kawan! Daripada tegang nunggu giliran disuruh nyebutin butir² Pancasila, mending kita cari ketua kelas dulu!" seru gue sambil berdiri sok karismatik.

​"Rendra aja! Tampangnya alim, pinter, cocok dijadiin umpan kalau ada guru galak!" celetuk seseorang dari pojokan yg sepertinya teman smp Rendra.

​Satu kelas langsung bersorak koor tanpa ampun: "Setujuuu!"

​Rendra cuma bisa pasrah menerimanya dengan senyum pepsodent yang terpaksa, sementara Nining langsung divonis jadi sekretaris buat mencatat segala kelakuan ajaib kami.

Selama lima hari, otak kami dijejali dengan butir-butir Pancasila oleh Bapak dan Ibu guru. Namun, penyelamat kewarasan kami tetaplah Kak Bambang. Di sela-sela jam istirahat yang membosankan, doi tiba-tiba duduk di meja guru sambil pasang muka serius.

"Kalian tahu? Kakak itu paling hobi dengerin radio,

celoteh Kak Bambang.

Zaman itu di Serang, kiblat hiburan malam hari adalah stasiun radio lokal bernama PBS (Pahla Budi Sakti). Setiap Selasa malam, ada acara hits tempat anak muda mengirimkan puisi romantis untuk dibacakan sang penyiar.

"Nah," Kak Bambang melanjutkan dengan mata berbinar-binar. 

"Malam Rabu kemarin, Kakak coba-coba kirim puisi ke PBS. 

"Biasanya kan isinya curhat cinta-cintaan menye-menye tuh. Puisi Kakak beda. Judulnya: Kelas 1-2."

Beliau kemudian berdiri, berdeklamasi dengan gaya teatrikal yang luar biasa kocak:

"Kelas 1-2...*

"Kami duduk satu bangku dua-dua..."

"Kelas 1-2..."

"Kelas kami satu, lampunya dua..."

"Kelas 1-2..."

"Pulpen kami satu, buku nya dua..."

"Huahaha"

Kami sekelas langsung pecah. Tawa membahana sampai terdengar ke kelas sebelah. Kebayang nggak sih, para pendengar radio PBS malam itu yang sudah pasang kuping melankolis, mendadak disuguhi puisi se-absurd itu? Pasti langsung pada cekikikan di kamarnya masing-masing. 

Bisa aaee Mas Bambang!

Sayang, sejak beliau lulus, saya kehilangan kontak.  Saya suka penasaran bagaimana kabarnya sekarang. Di mana pun Mas Bambang berada, saya yakin dengan bakat komedi itu, beliau pasti sukses besar di dunia teater, penulisan, atau media kreatif.

Oya, di sela penataran ada tugas super ajaib: disuruh nulis surat cinta buat kakak senior. Lah, buset! Kenal aje belom lima menit, mau nulis apaan brooo? Akhirnya jurus kepepet keluar. Gue obrak-abrik majalah Hai sama majalah Gadis punya adek gue, nyontek mentah-mentah rayuan gombal buat modal nulis beberapa lembar surat cinta absurd. 

Gue pikir tulisan gue udah paling bucin, taunya pas pengumuman lomba, pemenangnya cewek bernama Ima Rahmawati yang nulis surat cinta panjangnya SEMBILAN LEMBAR folio! Gile bener, itu surat cinta apa proposal renovasi mesjid?!

Cat Merah Bata dan Kaki Robot 

Gedung Smansa Serang ini punya arsitektur kuno yang khas: ruang-ruang kelasnya berbaris lurus membentuk segi empat, mengepung sebuah lapangan basket yang berada tepat di tengah-tengahnya. Lapangan itulah jantung sekolah. Di sana tempat kami upacara hari Senin, tanding basket, olahraga, sampai sekadar nongkrong saat jam istirahat. Wajar saja kalau cat lantainya sudah pudar tergerus ribuan pasang sepatu.

Sudah jadi tradisi turun-temurun, murid baru harus memberikan "upeti" berupa tenaga untuk mempercantik lapangan ini. Di bawah komando Pak Diah Dirman, guru olahraga kami yang berwajah teduh, proyek pengecatan massal dimulai.



Saya kebagian memegang sekaleng cat warna merah bata dan sebuah kuas, bertugas melapisi warna dasar lapangan. Sementara Andi dapet tugas lebih presisi: memegang cat putih dan kuning untuk membuat garis-garis batas. Selama beberapa hari, di bawah terik matahari, kami berjongkok, bercanda, dan sesekali iseng mencoret baju teman dengan cat. Saat semuanya selesai, hamparan lapangan basket, voli, dan badminton menyatu dalam satu area, hanya dipisahkan oleh warna-warni garis yang kontras. Lelah? Pasti. Tapi ada rasa bangga yang membuncah di dada setiap kali melihat hasil kerja keras itu.

Namun, drama penataran belum selesai. Di sela-sela pengecatan, kami diwajibkan latihan baris-berbaris (PBB). Di sinilah aib terbesar saya terbuka.

​"Suryo! Lu  jalan kayak robot rusak?!" bentak seorang kakak senior sambil menahan urat ketawanya biar nggak putus.

​Ternyata sistem operasi motorik di otak gue mendadak error 404. 

Kaki kiri maju, tangan kiri ikut maju dengan gagah perkasa. Begitu kaki kanan maju, tangan kanan nyusul. Irama jalan gue persis kayak Robocop yang baterenya sisa dua persen dan korslet kena air hujan. 

Kakak-kakak kelas yang tadinya lagi jaim ngeceng di pinggir lapangan basket mendadak buyar, ngakak berjemaah sampai ada yang keselek es teh.



Dampaknya? Jelas berujung berkah. PBB ini sebenarnya ajang seleksi untuk pasukan pawai obor malam 16 Agustus dan upacara bendera 17 Agustus di Alun-alun Serang. Karena cara baris-berbaris saya yang di luar standar ilmu kedokteran, nama saya langsung dicoret dari daftar.

"Lumayan lah , Nggak usah capek-capek latihan fisik di bawah terik matahari. Dan gak ikut pawai dan upacara, Merdeka!

Betis Baja dari Cilegon

Tapi jalur takdir memang tidak pernah membiarkan saya bersantai begitu saja. Pak Diah Dirman tiba-tiba menepuk pundak saya menjelang hari kemerdekaan. 

"Suryo, kamu ikut lomba sepeda santai tanggal 17 Agustus pagi di Alun-alun. Temani Ismail Arif, Iip, Yan, Muchtar Pinata, dan Muhammad Effendi."

Maka, jam 8 pagi di hari ulang tahun RI itu, saya sudah nangkring di Alun-alun Serang dengan sepeda federal warna biru muda-putih saya. Di sinilah saya menyaksikan sebuah fenomena manusia yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup: Muhammad Effendi.

Anak ini... asli, gila bener! Rumahnya di PCI (Pondok Cilegon Indah). Jaraknya kurang lebih 10km, Demi ikut lomba ini, subuh-subuh doi sudah gowes dari PCI menuju Serang. Sampai di Serang, langsung gabung bersama kami untuk ikut lomba sepeda santai keliling kota yang rutenya lumayan menguras tenaga. 

Dan begitu garis  Finish dilewati.... dan kami-kami lagi terkapar megap-megap di bawah pohon rindang kantor Karesidenan Serang—napas kembang-kempis dan betis udah cenat-cenut kayak abis dicubit tang jepit—Effendi malah nyamperin dengan muka segar benderang tanpa setetes pun keringat rasa bersalah.

​"Duluan ya, cuy. Mau langsung gowes balik ke Cilegon lagi," pamitnya enteng banget.

​Detik berikutnya, dia udah menggenjot sepeda balap kuning-hitamnya melesat bak roket Apollo. Kami yang ditinggal cuma bisa melongo bego. Itu betis manusia apa cor-coran tiang jembatan?




Sekian puluh tahun berlalu, kenangan di lapangan basket yang merah bata itu tetap tersimpan rapi. Bau kaos kaki, tawa absurd di kelas 1-2, jabat tangan pertama dengan teman-teman baru, hingga kayuhan sepeda di Alun-alun Serang, semuanya kini menjelma menjadi kerinduan yang hangat. Kami yang dulu bertingkah konyol dengan seragam putih-abu, kini telah berjalan di rute takdir masing-masing. Tapi di sudut hati yang paling dalam, memori Penataran P4 itu akan selalu menjadi bab pembuka yang paling indah dalam buku masa muda SMA.


Sabtu, 20 Juni 2026

Barbershop, Di Samping Smansa



Di samping Sekolah 1992–1994

Persis di sebelah gerbang SMANSA ada satu spot legendaris berukuran 3 x 3 meter. Bukan tempat rental komik atau warung burjo, melainkan sebuah barber shop, istilah kerennya kita saat itu, padahal aslinya mah tempat cukur rambut biasa. Pintunya warna hijau, kontras dengan dindingnya yang memadukan warna hijau dan putih tipis-tipis.

Kalau melongok ke dalam, interiornya minimalis abis dihiasi poster model rambut gaya trendi masa kini. Dua cermin besar yang sudah agak buram di beberapa sudut, menemani dua kursi besi kokoh warna hijau , sandaran tangan kayu, dan beralas duduk busa kulit warna hitam, khas tukang cukur jadul yang kalau diduduki bunyinya ..krieeet... khas banget. Di pojok kiri atas, menempel sebuah kipas angin dinding yang kabelnya menjuntai ke mana-mana. Yang gokil, kipas angin itu terondol alias nggak ada penutupnya sama sekali! Baling-balingnya berputar bebas menyapu angin panas siang hari. Kalau dipikir-pikir sekarang: Nggak bahaya tah? Ngeri-ngeri sedap kalau kepentok kepala! Hahaha.

Di balik pintu, pemandangan standar langsung menyambut: sapu ijuk, pengki, dan tempat sampah yang udah penuh sama tumpukan rambut berbagai model—mulai dari sisa potongan ala vanilla ice, ala lupus sampai potongan cepak semi-tentara. Alhamdulillah, pertanda hari itu lapak cukur lagi ramai lancar jaya.

Maestro Sisir Klimis

Sang eksekutor tunggal di tempat itu bernama Mang Aceng. Penampilannya selalu necis, tipe bapak-bapak rapi yang nggak mau kalah saing sama anak muda. 

Beliau selalu pakai kemeja yang dimasukkan dengan rapi ke dalam celana bahan, lengkap dengan ikat pinggang kulit hitam tipis. Badannya tinggi, agak gemuk, dan punya kumis tebal yang konon menambah karismanya. Rambutnya yang mulai diselingi uban selalu disisir klimis belah kiri, rapi jali tanpa sehelai pun yang mencuat keluar.

Di saku belakang kanan celananya, selalu terselip sapu tangan handuk kecil untuk mengusap keringat. Maklum, zaman itu boro-boro ada AC (Air Conditioner). Pendingin ruangan kami murni mengandalkan sistem KN alias Kaca Nako! Kalau siang lagi terik-teriknya, kaca nako itu dibuka lebar-lebar biar angin luar bisa masuk menjamah ruangan yang pengap oleh bau bedak talek.

"Terserah..."

Saya termasuk salah satu pelanggan setia yang  mampir ke sana kalau rambut sudah mulai menyentuh kerah baju, takut kena razia Guru cuy! Lucunya, tiap kali selesai dicukur dan saya merogoh saku celana abu-abu sambil nanya,

 "Berapa ongkosnya, Mang?" 

Mang Aceng selalu menjawab dengan senyum khas di balik kumis tebalnya:

"Terserah aja, Dek. Seikhlasnya."

Di sinilah seninya. Manajemen keuangan saya diuji berdasarkan kondisi dompet pasca-jajan di warung. 

"Waduh, Mang, sisa duit jajan sama ongkos bis sisa segini. Udah buat beli gorengan juga

kata saya suatu hari sambil menyodorkan selembar uang kertas monyet melompat alias lima ratus perak.

"Nggak apa-apa, Dek" 

Jawabnya sambil tersenyum tulus.

Zaman itu uang 500 udah bisa beli nasi lauk dan sayur yg lengkap di warteg. 

Di hari lain, kalau habis dapat uang saku lebihan dari Bokap, atau ditraktir temen, saya bisa sok keren menyodorkan lembaran seribu perak bergambar Danau Toba. "Nih, Mang, sisanya buat beli bakso!"

Mang Aceng langsung sumringah. Sembari mengibas-ngibas sisa rambut di kain cover bekas cukur, beliau selalu menyelipkan doa yang sama:

 "Hatur nuhun, Dek. Semoga nanti kalian semua sukses jadi orang gede ya. kerjanya mapan. Aamiin."

Kalimat sederhana itu entah kenapa selalu sukses bikin dada terasa hangat tiap kali melangkah keluar dari pintunya yang berwarna hijau.

Sebuah Kabar dari Garut

Batin saya bernostalgia beberapa waktu lalu. Namun, sebuah kabar dari Pak Almasis guru pmp baru-baru ini memutus lamunan itu. 

Ternyata, Mang Aceng sudah lama pulang kampung, mudik selamanya ke Garut. 

Beliau dikabarkan telah meninggal dunia di kampung halamannya. 

Kenangan tentang ruang 3 x 3 meter, kipas angin tanpa penutup, dan doa tulus di balik bedak talek itu mendadak berputar kembali seperti pita kaset yang rewind.

Al-Fatihah buat Mang Aceng, tukang cukur langganan saya semasa di smansa 92-94.

Minggu, 14 Juni 2026

Mobil Box Kesasar

Suatu sore tahun 1992.  

Langit mulai meredup, berwarna jingga bercampur kelabu, angin sepoi² menerpa.

Di trotoar seberang sekolah, saya berdiri sambil mengusap mata yang berat karena seharian belajar. 

Jalanan ramai: anak-anak berseragam putih abu-abu bertebaran, motor dan mobil lalu-lalang, suara klakson bersahut-sahutan, hiruk pikuk suara bubaran sekolah terasa bagai musik orkestra tanpa partitur yang menyajikan nada tak beraturan namun penuh kegembiraan.

Seperti biasa, bersama teman2, saya berdiri di atas trotoar, nungguin bus kota langganan: Bus Rudi, bus warna hitam, bergaris merah-kuning, jurusan Labuan–Pandeglang–Serang–Merak. 

Tapiii sore itu, kok itu bus gak muncul²,  Badan rasanya capeek, ngantuk, pikiran melayang entah ke mana. Udah kebayang sepiring nasi, telor ceplok + kecap dirumah.

Tiba-tiba, sebuah mobil boks berhenti tepat di depan saya.

Sopirnya menurunkan kaca jendela. Mukanya kusut, tampak jelas penat berpeluh lelah.  

Dek, numpang tanya. Tau alamat ini nggak?” katanya sambil menyodorkan selembar kertas berkop surat sebuah toko elektronik. 

Saya baca..... jalan baja 1 no 22...

Lho, ini mah deket banget sama rumah saya, Pak!”   

Sopir itu langsung berseri-seri. 

Serius, Dek? Wah, kebetulan banget! Ayuk ikut dan antar saya ke alamat ini."

Tanpa pikir panjang, saya naik dan duduk di sampingnya. Zaman itu, gak ada pikiran soal penipuan atau penculikan, Rasanya percaya aja, polos banget deh ya.

Perjalanan Serang–Cilegon sekitar 30 menit. Sopir bercerita dengan nada frustrasi.  

Aduh, Dek… dari pagi saya muter-muter nyari alamat ini. Udah Tanya sana sini, nggak ada yang tahu. Pusing banget.”  

Saya nyengir, “Ya iya, Pak. Lha wong Bapak salah kota. Ini alamatnya di Cilegon, bukan di Serang.”  

Mulut pak Sopir itu menganga, matanya membesar, lalu ngakak. “Huahaha Pantesan!  dari tadi kayak gasing muter nggak ketemu-ketemu!”  

Mobil box melaju santai, menelusuri jalur saya pulang, saya masih ingat rute nya : Alun-Alun,  legok, kopasus, tamansari, kramat watu, kopti, pelamunan, wulandira, serdang, pci, simpang tiga, polres cilegon, sd 1 ypwks, panti asuhan...

Langit pun meredup, cahaya lembayung jingga menghiasi langit yang syahdu... 

Angin sepoi sepoi dengan santun menerpa wajahku... 

Sayup-sayup dikejauhan terdengar adzan Magrib berkumandang, saya kenal betul suara ini, 

Suara khas Pak Subhi dari masjid AL-Qodar, masjid kebanggaan kami yg ada di jalan kawat. 

Mobil kami melewati bunderan Untirta, masuk jalan Semang Raya, komplek KS. Saya pun jadi navigator dadakan, mengarahkan jalan yang sudah hafal diluar kepala.  

Lurus dulu, didepan putar balik kanan,  Lalu belok kiri, abis itu luruus teruss, sampe mentok,  Lalu belok kiri"

Sopir itu ketawa“Wih, hafal banget nih jalannya"

akhirnya....

Mobil berhenti tepat di depan pagar rumah yang dituju:  Jalan Baja 1 No.22. 

Pak sopir mematikan mesin, dan menghembuskan nafas lega. 

Untung ketemu kamu, Dek. Kalau nggak, entah sampai jam berapa saya muter-muter,” 

Pemilik rumah keluar dengan sumringah. Ternyata dia udah nunggu kiriman barang sejak tadi. 

"Wah akhirnya dateng ya barang saya"

Saya gak ingat barangnya apa, kalo gak salah kulkas atau mesin cuci merek ternama. 

Begitu barang selesai dikeluarkan dari mobil box, suasana jadi ceria, sopir lega, pemilik rumah senang, saya ikut tersenyum dan pamit pulang.

Saya dengan riang lanjut jalan kaki ke rumah yg berjarak 7 rumah + 1 lapangan voli. 

Di saku celana, uang 200 rupiah ongkos bus pun masih utuh.  

Lumayan, besok bisa buat jajan 😁

Saat berjalan kaki menuju rumah,  saya mbatin: 

Allahu Akbar. Allah punya cara yg ajaib sekaligus indah. 

Kok bisa ya,

nunggu bus kota gak dateng², tapi diganti mobil box yg kesasar, 

kejadian yang justru membahagiakan banyak orang: 

Sopir sampai tujuan, pemilik rumah menerima barang, dan saya… pulang dengan nyaman (gratis😁✌️).  

Alhamdulillah🙏