Langsung ke konten utama

Masa awal SMANSA

Pagi itu...

hawa dingin dan awan berwarna jingga di ufuk timur Cilegon perlahan terusir oleh deru mesin bus antar-kota yang saya tumpangi dengan berdiri, bus nya penuh, sebagian besar adalah anak sekolah, yg duduk di bangku kebanyakan ibu-ibu, mungkin guru atau PNS yg berangkat kerja. 

Rutinitas baru sebagai anak SMA dimulai dengan perjalanan 35 menit membelah jalan raya Cilegon - Serang, berganti dengan aroma minyak solar bus kota, sebelum akhirnya menyambung naik Kopas (Koperasi Angkutan Serang). 

Begitu kaki melangkah turun tepat di depan gerbang SMA 1 Serang, saya terpaku sejenak. Saya menarik napas dalam-dalam. Ada getaran yang berbeda, sebuah rasa campur aduk antara bangga, asing, dan penasaran yang menyelinap saat melangkahkan kaki untuk kali pertama ke dalam koridor sekolah yang dibangun tahun 1952 ini.

Sebelah kanan ada parkir motor yang didominasi oleh vespa. ada warna merah, putih krem, dan biru. Konon zaman itu ada insentif atau discount dari vespa untuk para guru, sehingga masa itu vespa identik dengan motor guru.

Suasana khas sekolahan zaman 90-an langsung menyambut. Lantai abu-abunya ukura 20x20cm tampak sedikit berdebu oleh jejak-jejak sepatu. Di kanan-kiri, tembok bangunan kuno peninggalan Belanda berwarna kuning kusam dengan beberapa bagian cat yang sudah terkelupas, dihiasi lubang-lubang bekas paku. 

Di sebelah kiri koridor, sebuah papan mading yang tertutup kaca, dipenuhi aneka tulisan tangan, potongan kertas warna-warni, ada lomba, ada puisi, ada foto2  dan lembar pengumuman yang menginformasikan berbagai kegiatan seru Smansa. Di sebelah kanan, sebuah karton manila besar berwarna merah jambu mentereng langsung mencuri perhatian. Karton itu berisi deretan foto 3x4 dan nama alumni yang berhasil menembus Perguruan Tinggi Negeri, juga Akabri/Akpol, sebuah monumen kebanggaan sekolah dan ajang pembuktian para guru.

Baru dua-tiga langkah berjalan menyusuri selasar, mata saya tertuju pada sebuah pintu kayu coklat tua di samping mading. Kayunya tampak sangat kokoh, dengan gurat-gurat usia dan beberapa tambalan dempul di beberapa bagian. Di atas kusen pintu itu, terpasang papan nama kayu: M. Erry Sahuri. Saya mengernyitkan dahi sambil bergumam lirih, "Hmm... siapa ya? Kepala sekolah kah?" 

"Woi, Yok! Ngapin Lu Bengong di depan pintu!"

Sebuah tepukan mendarat di bahu saya. Begitu menoleh, langkah saya langsung terhenti. Di hadapan saya berdiri seorang anak dengan senyum lebar yang sangat familiar. Badannya tinggi, kulit putih, rambut ikal,  mengingatkan saya pada seseorang...

"Kholis? 

Kholis Purwandi, kan?!" 

saya setengah tidak percaya. Tak disangka, saya malah bertemu kembali dengan teman sekelas saat di SD 1 YPWKS dulu. Dunia ternyata sesempit ini.

"Hahaha sama-sama terdampar di Serang ya! Gimana kabar lo? Masuk kelas mana?" tanya Kholis heboh, langsung menjabat tangan saya erat-erat.

"Belum tahu nih, ini baru mau nyari aula," jawab saya sambil tertawa lepas. Rasa canggung yang tadi sempat menggelayut langsung sirna digantikan kehangatan nostalgia zaman SD.

Sembari mengobrol kesana-kemari dan melempar candaan lama, kami berjalan beriringan menuju aula. Kami melintasi area tengah sekolah, tempat sebuah lapangan basket berada. Lantai lapangannya dicat warna-warni, walau di banyak bagian warnanya sudah kusam dan luntur termakan cuaca. Fasilitasnya begitu sederhana: ring basketnya terbuat dari besi batangan biasa dan papannya hanyalah beberapa bilah kayu yang terlihat sudah cukup lawas. Meski tua, ring itu tampak masih kokoh untuk menahan lemparan bola dari anak-anak yang bersemangat.

Saya lihat kakak2 kelas yg saya kenal , ya karena dulu mereka juga kakak kelas di sd ypwks atau smp pulomerak, seperti , Alm. Yoga, Oman, Olga, Iyonk, Danang, dan lucu banget deh, mereka kompak pakai tas koper president yg dulu ngetrend di jaman SD.

Kami terus menyusuri koridor bangunan kolonial yang beratap miring. Pintu-pintu kelasnya yang besar terbuat dari kayu tua berwarna merah. Di bagian atas pintu dan jendela, terdapat ventilasi udara bermotif kawat kotak-kotak yang sangat khas. Sambil berjalan, sesekali kami iseng mengintip ke dalam ruangan melalui jendela kaca besar yang agak buram tidak bisa dibuka.

"Ssst, Yok, liat deh kelas yang itu," 

bisik Kholis sambil menyikut lengan saya, mengisyaratkan ke arah dalam jendela kelas.

Saya melirik ke dalam. Di pojok ruangan, di antara deretan bangku kayu, terlihat dua orang kakak kelas sedang asyik mengobrol berduaan dengan jarak yang agak mencurigakan. Sementara di baris depan, beberapa murid lain sedang tekun memperhatikan papan tulis kayu. 

"Hus, jangan dilihatin terus, lagi kasmaran tuh," 

bisik saya tertawa geli, mempercepat langkah kaki.

Suasana pagi itu terasa makin ramai dan unik. Di antara gelombang seragam putih-abu-abu, ada pemandangan takjub tersendirnya melihat sekumpulan anak-anak berseragam putih-biru yang juga mondar-mandir, anak baru seperti saya. Tepat sebelum kaki kami melangkah masuk ke dalam aula besar, mata saya menangkap sebuah pemandangan yang sangat ikonik di sebelah kanan selasar, tepat dibawah papan pengumuman : Sebuah sepeda balap klasik merek olympic, bersandaran pasrah di tembok kuning kusam. Yang membuatnya sangat unik dan mengundang tawa adalah sebuah klakson pencet bulat berbahan karet alias klakson 'tetot' tukang roti yang terpasang gagah di stangnya yang melengkung.

"Gila, keren sih sepeda balapnya. Tapi klaksonnya kagak nahan, jadul banget," 

celetuk Kholis yang langsung disambut tawa renyah kami berdua sebelum akhirnya melebur ke dalam keramaian aula bersama anak-anak lain.

(tahun 2026, karena terinspirasi kisah ini , sepeda saya pun akhirnya dipasang klakson tetot khas tukang roti hahahaha)

Waktu pun bergulir, hari pertama yang penuh cerita itu akhirnya usai seiring dentang lonceng besi terbuat dari velg mobil yang berbunyi nyaring.

Sore harinya, perjalanan pulang kembali membawa saya pada rutinitas yang sama, namun dengan rasa yang berbeda. Saya kembali berjalan kaki menuju seberang sekolah untuk mencegat bus.

Di dalam bus yang berjalan lambat menuju Cilegon, jendela sengaja dibuka lebar-lebar demi membiarkan angin sore berembus masuk menghalau gerah. Sambil menyandarkan kepala di bingkai kursi bus yang , saya memandangi jalanan yang perlahan bergerak mundur.

Di telinga saya, sayup-sayup terdengar lagu rock era 80-an yang diputar dari tape roadstar sang sopir bus, berbaur riuh dengan obrolan penumpang lain. Ada rasa lelah yang nikmat. Seragam putih-abu-abu, tas ransel Alpina abu-abu yang terus saya pakai sejak SMP tersampir di pangkuan, dan di dalam kepala ini, kenangan tentang tembok terkelupas, ring basket tua, klakson sepeda yang jenaka, serta tawa bersama Kholis pagi tadi terus berputar. 

Hari pertama di SMA 1 Serang telah lewat, meninggalkan sebuah kehangatan yang meyakinkan saya bahwa tiga tahun ke depan akan menjadi petualangan masa muda yang seruuu dan tidak akan pernah terlupakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

anak kecil dan operator telpon, sally & paul

  Saya baca cerita ini sudah lama sekali di internet, cerita ini sederhana, tapi saya suka.  Cerita seorang operator telepon dan anak kecil...  Reader's Digest Classic, originally published in 1966 as "The Voice in the Box" Waktu saya masih amat kecil, ayah sudah memiliki telepon di rumah kami. Inilah telepon masa awal, warnanya hitam, di tempelkan di dinding, dan kalau mau menghubungi operator, kita harus memutar sebuah putaran dan minta disambungkan dengan nomor telepon lain. Sang operator akan menghubungkan secara manual. Dalam waktu singkat, saya menemukan bahwa, kalau putaran di putar, sebuah suara yang ramah, manis, akan berkata : "Operator". Dan si operator ini maha tahu. Ia tahu semua nomor telepon orang lain! Ia tahu nomor telepon restoran, rumah sakit, bahkan nomor telepon toko kue di ujung kota. Pengalaman pertama dengan sang operator terjadi waktu tidak ada seorangpun dirumah, dan jempol kiri saya terjepit pintu. Saya berputar putar kesakitan dan mem...

Radio FM EDP Lib

Radio EDP LIB Cilegon  MEMOAR SEBUNGKUS STIKER BIRU: KISAH RADIO " GELAP " EDPLIB CILEGON Sunyinya Kota Baja dan Desis Gelombang AM Bagi anak-anak Cilegon yang tumbuh di era 80-an akhir dan awal 90-an, pilihan hiburan kami tidak banyak. Kota Baja ini rasanya sepi sekali setelah jam sekolah usai. Kalau mau mendengarkan musik di radio, pilihannya cuma satu: Radio “Top” di frekuensi AM 1152 Khz. Kalau bosan, kami harus memutar *tuning* agak jauh mencari radio “PBS” (Pahla Budi Sakti) AM 648 yang ada di Serang. Mendengarkan radio AM zaman itu butuh kesabaran tingkat dewa. Suaranya jauh dari kata jernih. Begitu ada lampu neon di rumah yang dinyalakan, langsung muncul suara interferensi yang khas: *“Zzzsssrrrrrzzz…”* berisik sekali. Lagunya? Ah, monoton. Putarannya tidak jauh dari Pop mendayu-dayu, Dangdut, Iwan Fals, Pance Pondaag, artis-artis JK Records - lagu cengeng. Tidak ada yang sehitz radio-radio Jakarta. "Bapak lu tuh, tiap hari dengerinnya lagu itu-itu mulu. Kuping ...

Doa sholat hajat

Bacaan Doa Setelah Sholat Hajat Lengkap Beserta Latin dan Artinya Doa Sholat Hajat  - Setiap manusia pasti memiliki hajat atau kebutuhan baik yang bersifat khusus pribadi maupun yang bersifat umum. Namun terkadang hajat kita susah untuk terlaksana oleh karena itu kita di anjurkan untuk mengerjakan sholat hajat agar Allah SWT segera mengabulkan apa yang menjadi hajat kita. Sholat Hajat  ialah sholat sunnah yang dikerjakan untuk meminta kepada Allah SWT supaya yang menjadi hajat kita cepat dikabulkan oleh Allah. Waktu mengerjakannya yang baik menurut para ulama yaitu setelah mengerjakan sholat Isya sampai menjelang sholat Shubuh. Untuk bacaan  niat sholat hajat  adalah sebagai berikut: Niat Sholat Hajat أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْحَاجَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى Ushollii sunnatal haajati rok'aataini lillaahi ta'aala. Artinya: "Aku niat shalat sunah hajat dua rakaat karena Allah Ta'ala." Jumlah rakaat sholat hajat dikerjakan paling sedikit 2 rakaat dan paling banyak t...