Sabtu, 18 Juli 2026

Masa awal SMANSA

Pagi itu...

hawa dingin dan awan berwarna jingga di ufuk timur Cilegon perlahan terusir oleh deru mesin bus antar-kota yang saya tumpangi dengan berdiri, bus nya penuh, sebagian besar adalah anak sekolah, yg duduk di bangku kebanyakan ibu-ibu, mungkin guru atau PNS yg berangkat kerja. 

Rutinitas baru sebagai anak SMA dimulai dengan perjalanan 35 menit membelah jalan raya Cilegon - Serang, berganti dengan aroma minyak solar bus kota, sebelum akhirnya menyambung naik Kopas (Koperasi Angkutan Serang). 

Begitu kaki melangkah turun tepat di depan gerbang SMA 1 Serang, saya terpaku sejenak. Saya menarik napas dalam-dalam. Ada getaran yang berbeda, sebuah rasa campur aduk antara bangga, asing, dan penasaran yang menyelinap saat melangkahkan kaki untuk kali pertama ke dalam koridor sekolah yang dibangun tahun 1952 ini.

Sebelah kanan ada parkir motor yang didominasi oleh vespa. ada warna merah, putih krem, dan biru. Konon zaman itu ada insentif atau discount dari vespa untuk para guru, sehingga masa itu vespa identik dengan motor guru.

Suasana khas sekolahan zaman 90-an langsung menyambut. Lantai abu-abunya ukura 20x20cm tampak sedikit berdebu oleh jejak-jejak sepatu. Di kanan-kiri, tembok bangunan kuno peninggalan Belanda berwarna kuning kusam dengan beberapa bagian cat yang sudah terkelupas, dihiasi lubang-lubang bekas paku. 

Di sebelah kiri koridor, sebuah papan mading yang tertutup kaca, dipenuhi aneka tulisan tangan, potongan kertas warna-warni, ada lomba, ada puisi, ada foto2  dan lembar pengumuman yang menginformasikan berbagai kegiatan seru Smansa. Di sebelah kanan, sebuah karton manila besar berwarna merah jambu mentereng langsung mencuri perhatian. Karton itu berisi deretan foto 3x4 dan nama alumni yang berhasil menembus Perguruan Tinggi Negeri, juga Akabri/Akpol, sebuah monumen kebanggaan sekolah dan ajang pembuktian para guru.

Baru dua-tiga langkah berjalan menyusuri selasar, mata saya tertuju pada sebuah pintu kayu coklat tua di samping mading. Kayunya tampak sangat kokoh, dengan gurat-gurat usia dan beberapa tambalan dempul di beberapa bagian. Di atas kusen pintu itu, terpasang papan nama kayu: M. Erry Sahuri. Saya mengernyitkan dahi sambil bergumam lirih, "Hmm... siapa ya? Kepala sekolah kah?" 

"Woi, Yok! Ngapin Lu Bengong di depan pintu!"

Sebuah tepukan mendarat di bahu saya. Begitu menoleh, langkah saya langsung terhenti. Di hadapan saya berdiri seorang anak dengan senyum lebar yang sangat familiar. Badannya tinggi, kulit putih, rambut ikal,  mengingatkan saya pada seseorang...

"Kholis? 

Kholis Purwandi, kan?!" 

saya setengah tidak percaya. Tak disangka, saya malah bertemu kembali dengan teman sekelas saat di SD 1 YPWKS dulu. Dunia ternyata sesempit ini.

"Hahaha sama-sama terdampar di Serang ya! Gimana kabar lo? Masuk kelas mana?" tanya Kholis heboh, langsung menjabat tangan saya erat-erat.

"Belum tahu nih, ini baru mau nyari aula," jawab saya sambil tertawa lepas. Rasa canggung yang tadi sempat menggelayut langsung sirna digantikan kehangatan nostalgia zaman SD.

Sembari mengobrol kesana-kemari dan melempar candaan lama, kami berjalan beriringan menuju aula. Kami melintasi area tengah sekolah, tempat sebuah lapangan basket berada. Lantai lapangannya dicat warna-warni, walau di banyak bagian warnanya sudah kusam dan luntur termakan cuaca. Fasilitasnya begitu sederhana: ring basketnya terbuat dari besi batangan biasa dan papannya hanyalah beberapa bilah kayu yang terlihat sudah cukup lawas. Meski tua, ring itu tampak masih kokoh untuk menahan lemparan bola dari anak-anak yang bersemangat.

Kami terus menyusuri koridor bangunan kolonial yang beratap miring. Pintu-pintu kelasnya yang besar terbuat dari kayu tua berwarna merah. Di bagian atas pintu dan jendela, terdapat ventilasi udara bermotif kawat kotak-kotak yang sangat khas. Sambil berjalan, sesekali kami iseng mengintip ke dalam ruangan melalui jendela kaca besar yang agak buram tidak bisa dibuka.

"Ssst, Yok, liat deh kelas yang itu," 

bisik Kholis sambil menyikut lengan saya, mengisyaratkan ke arah dalam jendela kelas.

Saya melirik ke dalam. Di pojok ruangan, di antara deretan bangku kayu, terlihat dua orang kakak kelas sedang asyik mengobrol berduaan dengan jarak yang agak mencurigakan. Sementara di baris depan, beberapa murid lain sedang tekun memperhatikan papan tulis kayu. 

"Hus, jangan dilihatin terus, lagi kasmaran tuh," 

bisik saya tertawa geli, mempercepat langkah kaki.

Suasana pagi itu terasa makin ramai dan unik. Di antara gelombang seragam putih-abu-abu, ada pemandangan takjub tersendirnya melihat sekumpulan anak-anak berseragam putih-biru yang juga mondar-mandir, anak baru seperti saya. Tepat sebelum kaki kami melangkah masuk ke dalam aula besar, mata saya menangkap sebuah pemandangan yang sangat ikonik di sebelah kanan selasar, tepat dibawah papan pengumuman : Sebuah sepeda balap klasik merek olympic, bersandaran pasrah di tembok kuning kusam. Yang membuatnya sangat unik dan mengundang tawa adalah sebuah klakson pencet bulat berbahan karet alias klakson 'tetot' tukang roti yang terpasang gagah di stangnya yang melengkung.

"Gila, keren sih sepeda balapnya. Tapi klaksonnya kagak nahan, jadul banget," 

celetuk Kholis yang langsung disambut tawa renyah kami berdua sebelum akhirnya melebur ke dalam keramaian aula bersama anak-anak lain.

(tahun 2026, karena terinspirasi kisah ini , sepeda saya pun akhirnya dipasang klakson tetot khas tukang roti hahahaha)

Waktu pun bergulir, hari pertama yang penuh cerita itu akhirnya usai seiring dentang lonceng besi terbuat dari velg mobil yang berbunyi nyaring.

Sore harinya, perjalanan pulang kembali membawa saya pada rutinitas yang sama, namun dengan rasa yang berbeda. Saya kembali berjalan kaki menuju seberang sekolah untuk mencegat bus.

Di dalam bus yang berjalan lambat menuju Cilegon, jendela sengaja dibuka lebar-lebar demi membiarkan angin sore berembus masuk menghalau gerah. Sambil menyandarkan kepala di bingkai kursi bus yang , saya memandangi jalanan yang perlahan bergerak mundur.

Di telinga saya, sayup-sayup terdengar lagu rock era 80-an yang diputar dari tape roadstar sang sopir bus, berbaur riuh dengan obrolan penumpang lain. Ada rasa lelah yang nikmat. Seragam putih-abu-abu, tas ransel Alpina abu-abu yang terus saya pakai sejak SMP tersampir di pangkuan, dan di dalam kepala ini, kenangan tentang tembok terkelupas, ring basket tua, klakson sepeda yang jenaka, serta tawa bersama Kholis pagi tadi terus berputar. 

Hari pertama di SMA 1 Serang telah lewat, meninggalkan sebuah kehangatan yang meyakinkan saya bahwa tiga tahun ke depan akan menjadi petualangan masa muda yang seruuu dan tidak akan pernah terlupakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar