Tadi menjelang belanja untuk buka puasa, saya tidak sengaja bertemu teman kuliah.
Dulu kami satu kos. Satu perjuangan. Satu warung jajanan mie , burjo, dan warteg.
Sekarang dia datang bersama istri dan anaknya.
Saya pun berdiri di samping istri saya.
Kami mengobrol cukup lama. Tertawa. Mengulang cerita-cerita lama yang dulu rasanya biasa saja, tapi sekarang terdengar berharga.
Dulu…
kita pernah duduk bersama di lantai kamar kos yang dingin
Bercerita membagi mimpi yang bahkan belum punya bentuk.
Uang pas-pasan.
Makan seadanya.
Belajar sambil bercanda.
Kadang sok yakin soal masa depan, padahal aslinya sama-sama tidak tahu akan jadi apa.
Tidak pernah terpikir waktu itu, hidup akan membawa kami sejauh ini.
Saat kami berpisah dan saya melihat mereka berjalan bertiga dari kejauhan, entah kenapa dada terasa hangat.
Bukan sedih. Bukan juga haru yang meledak.
Hanya rasa yang pelan… tapi dalam.
“Oalah… ternyata kita sudah sampai di sini.”
Dulu cuma dua anak kos dengan mimpi dan doa.
Sekarang masing-masing sudah punya dunia kecil yang harus dijaga.
Waktu memang tidak terasa jalannya.
Tahu-tahu rambut mulai beruban, obrolan mulai serius, dan doa-doa kita lebih banyak menyebut nama anak dan orang tua kita yang telah tiada.
Mungkin benar…
Semakin tua, kita bukan semakin hebat.
Kita hanya semakin paham bahwa semuanya adalah titipan.
Dan hari itu saya pulang dengan satu perasaan sederhana:
Syukur.
Alhamdulillah.
Terimakasih Ya Allah Ya Robb Ya Rahman Ya Rohim.
Karena dulu kita tidak tahu nasib ini akan dibawa ke mana.
Dan sekarang, kita berdiri di tempat yang dulu hanya bisa kita bayangkan.
Kadang hidup tidak perlu pencapaian besar untuk terasa berarti.
Cukup melihat teman lama berjalan bersama keluarganya… dan menyadari, kita semua sudah tumbuh di dunia masing-masing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar