Selasa, 24 Februari 2026

Dompet Alpina

 


Namanya Suryo.

Kalau datang ke kantor, penampilannya selalu sama: kemeja diskonan , atau kemeja reject beli di ramayana, agak pudar, celana bahan  yang garis setrika nya gak simetris, sepatu kulit bata,  Rambutnya tidak pernah benar-benar rapi.

Asesoris di badan? Gak ada, cuma jam tangan gshock yg usmurnya sudah 10 tahun, mp3 player merek gak jelas  dengan earphone kabel philips.

 Cuek. Kuno, minimalis, std style kata sebagian orang.

Di saku belakangnya, ada dompet kanvas Alpina warna hijau yang sudah sedikit berbulu di ujung-ujungnya. Dompet lipat dua yang sederhana, tanpa logo besar, tanpa kulit mengilap, tanpa kesan “mahal”.

Suatu hari, dikantor, bersama rekan-rekan yang tampil necis dengan kemeja merek luar,  sepatu mengkilap dan dompet kulit branded, suryo mengeluarkan dompetnya untuk membayar. Seseorang tertawa kecil.

“Bro… dompet lu masih model begitu? Kayak anak SMA naik gunung.”

Yang lain ikut tersenyum tipis.

Suryo cuma ikut tersenyum. Bukan karena malu. Lebih karena ia memang tak merasa ada yang perlu dipermalukan. Biasa saja.

Memang benar, ia belum punya banyak uang. Gajinya cukup untuk orang tua, belinalat musik, dan sedikit tabungan untuk  nikah.

 Dompet kanvas itu bukan simbol kemiskinan baginya—itu simbol prioritas, simpel minimalis.

Dompet itu selalu ikut dalam perjalnan hidupnya, naik bus, kereta, ojek, motor,  kehujanan kepanasan, walau pernah juga diajak pak bos naik baby benz, volvo 960 dan pugeot 806,

Pernah terjatuh di tanah, Pernah menyimpan uang terakhirnya saat harus bertahan sampai akhir bulan. Ia tidak mewah, tapi setia.

Suryo tahu, ia bisa aja beli dompet kulit ratusan ribu. Tapi sadar, harga sebuah barang tidak pernah menentukan harga diri seseorang.

Ia memang tidak fashion. Ia memang tidak mengikuti tren. Ia memang terlihat sederhana, bahkan kuno di mata sebagian orang. 

Bodo amat.

Tapi ia juga orang yang tidak pernah berusaha demi terlihat kaya. Tidak pernah memaksakan gaya demi validasi. Tidak pernah lupa dari mana ia berasal.

Kadang yang terlihat sederhana itu bukan karena tidak mampu bermimpi.

Hanya saja, ia sedang memilih untuk membangun pondasi dulu.

Dan suatu hari nanti, ketika rezeki sudah lebih lapang, mungkin dompetnya akan berganti.

Tapi satu hal yang tidak akan berubah:

ia tetap orang yang sama—sederhana, simpel, dan tidak silau oleh penilaian orang lain.

Dan Suryo yang sekarang udah gak lagi pakai dompet alpina, tapi dompet kulit gratisan dari bank BNI 

Hahahaha 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar