Kenapa di Al-Fatihah (yang kita baca minimal 17x sehari), doanya bunyinya:
ihdinas sirotol mustaqim ("tunjukilah kami jalan yang lurus")
Kenapa bukan "masukkanlah kami ke surga"?
Bukannya tujuan akhirnya surga? Kenapa Allah malah nyuruh kita fokus ke jalan-nya, bukan destinasi-nya?
Ini mind-blowing banget penjelasannya.
Di podcast Ustadz Felix & Bang Pandji, ada point of view menarik:
Kalau kita cuma fokus sama "ujung"-nya (surga/neraka), kita bakal jadi manusia yang angkuh & judgmental.
Kita bakal sibuk nyetempel jidat orang:
"Ah dia mah ahli neraka, ibadahnya bolong."
"Wah gue ahli surga nih, sedekah kenceng, sholatnya rajin."
Kita jadi sibuk misahin siapa finish duluan, padahal peluit finish-nya aja belum ditiup.
Tapi karena doanya adalah minta "Jalan", mindset-nya kita jadi berubah total.
Hidup itu bukan balapan lari perorangan. Hidup itu seperti konvoi bareng-bareng di satu jalan raya.
Mungkin kamu di depan (lebih alim), temenmu di belakang (baru belajar), atau ada yang agak mepet ke kiri (lagi bandel dikit).
Tapi intinya, kita masih di jalan yang sama. Kita rombongan.
Allah seolah bilang:
"Udah, kamu gak usah pusingin ending-nya, itu urusan-Ku. Tugas kamu cuma pastiin kamu tetep jalan di trek yang bener."
Kalau fokus ke "jalan", kita jadi gak sibuk nge-judge.
Kalau liat temen yang jalannya lambat atau agak melenceng, tugas kita bukan nendang dia keluar.
tugas kita gandeng dia, bilang: "Eh mas/mbak, agak tengah yuk, biar gak jatuh ke jurang."
Jadi buat yang sekarang ngerasa "jauh" banget dari surga, tenang aja. Selama kamu masih mau berusaha nyari jalan yang lurus, kamu insyaAllah aman.
Nikmati prosesnya, jangan stress sama ending-nya.
Karena kekuatan terbesar kita bukan pada siapa yang paling suci, tapi pada seberapa mau kita jalan bareng-bareng sampai tujuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar