Jumat, 24 April 2026

Puasa bersama ibu

 #Jejak Hangat di Dapur

Ramadhan selalu punya aroma yang khas, namun bagiku, aromanya paling tajam tercium dari dapur rumah lama. Ingatan itu masih tersimpan rapi—tentang bagaimana ibu menjadi pejuang paling tangguh di tengah sunyinya malam.

Terbangun di jam sahur bukan sekadar ritual makan, melainkan momen menyaksikan ibu bergelut dengan kepul uap masakan. Suara denting sutil yang beradu dengan wajan menjadi alarm alami yang jauh lebih hangat dari dering ponsel mana pun. 

Begitu juga saat sore menjelang; dapur berubah menjadi medan kesibukan yang riuh. Ada tawa yang terselip di antara aroma tumisan bumbu dan kesegaran es buah, sebuah keriuhan yang membuat rasa lapar seolah tak berarti.

Puncaknya adalah seminggu sebelum kemenangan tiba. Ruang tamu dipenuhi stoples-stoples kosong yang perlahan terisi nastar dan kastengel. Wangi margarin yang dipanggang menyatu dengan aroma gurih santan dari kuali besar berisi opor. Di sudut ruangan, tumpukan janur kuning siap dianyam menjadi ketupat, simbol syukur yang paling dinanti.

Namun, waktu adalah pencuri yang paling ulung. Kini, semua kesibukan itu telah menjelma menjadi kenangan yang sunyi. Tak ada lagi suara parutan kelapa, blender sedang mengaduk bumbu, atau diskusi kecil tentang kurangnya garam di opor atau bawang goreng yang kurang garing. 

Dapur itu kini tenang, menyisakan kerinduan yang hanya bisa dibayar dengan doa di setiap sujud. Puasa tetap datang setiap tahun, namun jejak tangan ibu di setiap hidangannya adalah bagian dari masa lalu yang akan selalu aku peluk dengan rindu.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar