Jumat, 27 Oktober 2023

Jam Pemberian Bapak


Detik-Detik yang Pulang ke Pergelangan Tangan

Aroma Cilegon di masa lalu selalu punya cara unik untuk pulang ke ingatan: deru pelan pabrik Krakatau Steel (KS), angin sepoi sepoi, rimbunnya pepohonan hijau,  lampu-lampu jalanan yang orange temaram, wangi martabak di prapatan, asap sate pak jangkung di simpang tiga, pisang molen gurih di kotabumi, cireng dan combro di depan kcc, bakwan goreng di kolam renang bawah, burger dan nasi goreng teri di coffee shop, dan aroma cingkong kepiting dan sop asparagus yang mengepul hangat di Resto New Saiki. 

Di sanalah, saat saya masih mengenakan seragam merah-putih, perjalanan jam ini dimulai.

Malam itu, seorang ekspatriat Jepang yang sedang menangani proyek di KS mengajak kami sekeluarga makan malam. Tanpa ada alasan khusus, hanya bincang santai bapak dan si jepang, ramah tamah dengan senyum yang khas, ia melepas sebuah jam tangan digital dan memberikannya begitu saja kepada saya. Di tali jamnya, tercetak tulisan "KOBELCO" dengan warna biru terang yang mencolok. 

Bagi seorang anak SD, jam Casio digital itu adalah benda paling keren di dunia. Ia setia melingkar di pergelangan tangan saya, melewati masa-masa akhir sekolah dasar, hingga akhirnya menyerah pada waktu dan rusak saat saya menginjak bangku SMP. Dua tahun yang singkat, namun cukup untuk menanamkan rasa cinta saya pada ketangguhan Casio.
jam casio kobelco saya waktu SD

Waktu terus berjalan, dan tahun 1992 membawa saya ke gerbang masa remaja. Sebagai hadiah ulang tahun saat saya menginjak kelas 1 SMA, Bapak membawa pulang sebuah kotak berwarna biru. Di dalamnya ada Casio G-Shock DW-5750. Ukurannya cukup besar dan bentuknya unik. Jujur saja, di zaman itu, memakai jam tersebut membuat rasa percaya diri langsung melesat. Kalau melihat foto lama, tubuh saya waktu itu kurus banget, kontras sekali dengan jamnya yang gagah. Tapi saya tidak peduli, saya merasa sangat keren.
kelas 1 sma, kurus banget yak hahaha

Masa-masa SMA adalah masa di mana energi saya seolah tidak ada habisnya. Mulai dari berenang, bersepeda, voli, basket, hingga penjelahan pramuka, jam itu tidak pernah absen menemani. Bahkan dalam sebuah foto ikonik masa SMA  saat saya bangga memakai rompi hasil berburu di bazar Alun-Alun Serang G-Shock DW-5750 itu tampak melingkar gagah, menjadi saksi bisu masa muda yang aktif dinamis.

Ketangguhannya berlanjut hingga masa kuliah antara tahun 1994 sampai 1999. Jam itu seolah menolak untuk menua, tetap berfungsi dengan sangat baik.
zaman sma mau kuliah nih, pake gshock dw5750 dan itu rompi beli di bazar alun2 serang hahaha 

Suatu hari, Bapak sempat memperhatikan pergelangan tangan saya yang tidak pernah berganti aksesoris sejak SMA. Beliau bertanya lembut, *"Itu jam kamu udah lama, gak bosen pakenya?"*

Saya hanya melempar senyum hangat, 
"Belum, Pak." 
"Ini masih bagus kok"

Singkat, tapi dalam hati saya tahu, jam ini bukan lagi sekadar penunjuk waktu, melainkan bagian dari diri saya. Lagipula, ia masih berdetak dengan sangat baik.

Memasuki tahun 2000, dunia saya berubah. Status mahasiswa berganti menjadi pekerja.
 
Dan di tahun-tahun awal bekerja itulah, sang G-Shock mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan setelah bertahun-tahun bertempur.

Tali jamnya mulai retak-retak dimakan usia, dan pelindung plastik (bezel) bagian atasnya mulai gompal. 

Bukannya dibuang, saya justru mempreteli seluruh bodi plastiknya yang hancur. Jam itu kini "telanjang", menyisakan cangkang besi stainless steel bodi dalamnya yang kokoh. 
Di luar dugaan, tampilannya justru terlihat sangat estetik dan tangguh.
foto tahun 2000, udah kerja , jam gshock dw5750 masih setia menemani


Namun, setiap kisah pengabdian pasti menemui titik akhirnya. Di tahun 2003, setelah sebelas tahun yang luar biasa mengawal nadi di tangan kiri saya, jam itu akhirnya mati total. Mungkin hanya baterainya yang habis, tapi saya memilih untuk tidak menghidupkannya lagi. Saya meletakkannya dengan takzim di dalam kotak penyimpanan. Ia sudah layak diistirahatkan sebagai "museum kecil" yang menyimpan seluruh keringat, tawa, dan kenangan masa muda saya.
Casio DW-5750, yg kiri waktu masih utuh, yg kanan body nya sudah hancur, jadi telanjang

Terima kasih, Bapak. Terima kasih, Casio G-Shock DW-5750. Sebelas tahun itu sungguh luar biasa.

---

19 April 2026

Lebih dari dua dekade berlalu sejak jam itu berhenti berdetak. 

Hari itu, saya sedang berjalan santai di antara hilir mudik pengunjung FX Sudirman, Jakarta. 

Langkah saya mendadak terhenti di depan sebuah etalase. Jantung saya berdesir hangat.

Di balik kaca, seolah menembus lorong waktu....., 

Ooh jam itu...!!! dia masih ada...!!!

Ia adalah seri reissue resmi dari Casio, tipenya sama: DW-5750!!! 

Saya hafal betul, bentuknya, lekukannya, hingga detail kecilnya benar-benar persis seperti jam yang diberikan Bapak kepada saya 34 tahun yang lalu. 
Kenangan tentang Masa itu, Naik sepeda, basket, renang, pramuka,  naik angkot, bergelantungan di bus serang-merak, Alun-Alun Serang, rompi bazar, tawa masa kuliah, hingga wajah Bapak seketika berputar di kepala.

Tanpa ragu, saya membelinya. Saat melingkarkannya kembali, ada rasa hangat yang menjalar. Sentuhan materialnya terasa sangat akrab. 

Kini, setelah sekian lama, saya bisa merasakan kembali jam yang sama, mendekap erat pergelangan tangan kiri ini dan membawa pulang kembali semua detik-detik kenangan yang pernah mendewasakan saya. 

Alhamdulillah.

19 april 2026, tangan ini kembali memakai casio DW5750, serasa balik ke 1992,  
masa SMA, hahaha












Tidak ada komentar:

Posting Komentar