Rabu, 03 April 2024

Doa ziarah kubur

Sumber:

https://lampung.nu.or.id/syiar/berikut-doa-ziarah-kubur-yang-dibaca-rasulullah-x0SXd

Rasulullah saw, termasuk orang yang tak hanya mempraktikkan ziarah kubur tapi mengajarkan apa yang hendaknya dibaca saat seseorang berkunjung ke tempat pembaringan terakhir itu. Dilansir dari NU Online, dalam Shahih Muslim dipaparkan bahwa setiap kali keluar rumah pada akhir malam menuju Baqi’ (makam para sahabat di Madinah yang kini menjadi makam Rasulullah sendiri), Rasulullah menyapa penduduk makam dengan kalimat berikut:


السَّلامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنينَ وَأتاكُمْ ما تُوعَدُونَ غَداً مُؤَجَّلُونَ وَإنَّا إنْ شاءَ اللَّهُ بِكُمْ لاحقُونَ 


Assalâmu‘alaikum dâra qaumin mu’minîn wa atâkum mâ tû‘adûn ghadan mu’ajjalûn, wa innâ insyâ-Allâhu bikum lâhiqûn 


Artinya: Assalamu’alaikum, hai tempat bersemayam kaum mukmin. Telah datang kepada kalian janji Tuhan yang sempat ditangguhkan besok, dan kami insyaallah akan menyusul kalian. 


Usai membaca salam ini, Rasulullah lalu menyambungnya dengan berdoa “Ya Allah, ampunilah orang-orang yang disemayamkan di Baqi’.” Doa ini bisa kita ganti dengan memohonkan ampun kepada para ahli kubur tempat peziarah berkunjung. Istri Baginda Nabi, Siti A’isyah pernah bertanya tentang apa yang seharusnya dibaca kala ia pergi ke kuburan. 


Rasulullah mengajarkan bacaan dengan redaksi lain, namun dengan substansi yang tetap mirip, yakni mengucapkan salam, mendoakan kebaikan bagi ahli kubur, dan menyadari bahwa peziarah pun suatu saat akan berbaring di dalam tanah. Berikut jawaban Rasulullah:


السَّلامُ على أهْلِ الدّيارِ مِنَ المُؤْمنينَ وَالمُسْلمينَ وَيَرْحَمُ اللَّهُ المُسْتَقْدِمِينَ مِنْكُمْ وَمِنَّا وَالمُسْتأخِرِين وَإنَّا إنْ شاءَ اللَّه بِكُمْ لاحِقُونَ 


Assalâmu ‘alâ ahlid diyâr minal mu’minîna wal muslimîn yarhamukumuLlâhul-mustaqdimîn minkum wa minnâ wal musta’khirîn, wa wa innâ insyâ-Allâhu bikum lâhiqûn 


Artinya: Assalamu’alaikum, hai para mukmin dan muslim yang bersemayam dalam kubur. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka yang telah mendahului dan yang akan menyusul kalian dan [yang telah mendahului dan akan menyusul] kami.  Sesungguhnya kami insyaallah akan menyusul kalian. 


Jawaban Nabi atas pertanyaan Siti A’isyah yang terekam dalam Shahih Muslim itu sekaligus memberi isyarat bahwa ziarah juga bisa dilakukan oleh kaum perempuan. Hanya saja, para peziarah dilarang menangis di atas kuburan. 


Imam Nawawi dalam Al-Adzkâr mengatakan, para peziarah disunnahkan memperbanyak baca Al-Qur'an, dzikir, dan doa untuk penghuni kubur yang diziarahi serta seluruh umat Islam yang telah meninggal dunia. Ziarah dianjurkan dilaksanakan sesering mungkin dan diutamakan ke kuburan orang-orang saleh. 


Adapun berikut ini adalah sejumlah lafal yang dapat dibaca seseorang untuk mendoakan kedua orang tuanya yang sudah tiada. 


رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا 


Rabbighfir lī, wa li wālidayya, warham humā kamā rabbayānī shaghīrā.  


Artinya: Tuhanku, ampunilah dosaku dan (dosa) kedua orang tuaku. Sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu aku kecil. 


doa permohonan ampunan yang diajukan kepada Allah untuk umat Islam secara umum dan khususnya kepada kedua orang tua, guru, mereka yang berjasa, dan mereka yang memiliki hak tertentu atas diri kita yang belum sempat terselesaikan karena beberapa hal.


اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ مِنْ مَشَارِقِ الْاَرْضِ إِلَى مَغَارِبِهَا بَرِّهَا وَبَحْرِهَا، خُصُوْصًا إِلَى آبَاءِنَا وَاُمَّهَاتِنَا وَأَجْدَادِنَا وَجَدَّاتِنَا وَأَسَاتِذَتِنَا وَمُعَلِّمِيْنَا وَلِمَنْ أَحْسَنَ إِلَيْنَا وَلِأَصْحَابِ الحُقُوْقِ عَلَيْنَا 


Allāhummaghfir lil muslimīna wal muslimāt, wal mukminīna wal mukmināt, al-ahyā’i minhum wal amwāt, min masyāriqil ardhi ilā maghāribihā, barrihā wa bahrihā, khushūshan ilā ābā’inā, wa ummahātinā, wa ajdādinā, wa jaddātinā, wa asātidzatinā, wa mu‘allimīnā, wa li man ahsana ilainā, wa li ashhābil huquqi ‘alaynā.   


Artinya: Ya Allah, ampunilah mukminin, mukminat, muslimin, muslimat, yang masih hidup, yang telah wafat, yang tersebar dari timur hingga barat, di darat dan di laut, khususnya bapak, ibu, kakek, nenek, ustadz, guru, mereka yang telah berbuat baik terhadap kami, dan mereka yang masih memiliki hak terhadap kami.


Berikut ini adalah lanjutan doa yang dapat dibaca sebagai permohonan rahmat, ampunan, dan syafaat bagi mereka yang bersyahadat secara umum. 


اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَعَافِهِمْ وَاعْفُ عَنْهُمْ. اللَّهُمَّ اَنْزِلِ الرَّحْمَةَ وَالْمَغْفِرَةَ وَالشَّفَاعَةَ عَلَى أَهْلِ الْقُبُوْرِ مِنْ أَهْلِ لَاالَهَ اِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللهِ. 


Allāhummaghfir lahum, warhamhum, wa ‘āfihim, wa‘fu ‘anhum. Allāhumma anzilir rahmata, wal maghfirata, was syafā’ata ‘alā ahlil qubūri min ahli lā ilāha illallāhu Muhammadun rasūlullāh.   


Artinya: Ya Allah, berikanlah ampunan, kasih sayang, afiat, dan maaf untuk mereka. Ya Allah, turunkanlah rahmat, ampunan, syafa’at bagi ahli kubur penganut dua kalimat syahadat.   


Doa untuk kedua orang tua yang telah meninggal ada baiknya ditutup dengan doa sapu jagad, shalawat nabi, dan pembacaan Surat Al-Fatihah. 


رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، سًبْحَانَ رَبَّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَصَلَّى اللهُ علَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ. اَلْفَاتِحَةْ … 


Rabbanā ātina fid duniā hasanah, wa fil ākhirati hasanah, wa qinā ‘adzāban nār. Subhāna rabbika rabbil ‘izzati ‘an mā yashifūna, wa salāmun ‘alal mursalīna, wa shallallāhu ‘alā sayyidinā Muhammadin, wa ‘alā ālihī, wa shahbihī, wa sallama, wal hamdulillāhi rabbil ‘alamīn. Al-Fatihah.   


Artinya: Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Lindungi kami dari siksa api neraka. Maha suci Tuhanmu, Tuhan pemilik kemuliaan, dari segala yang mereka gambarkan. Semoga kesejahteraan melimpah untuk para rasul. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad saw, keluarga, dan sahabatnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam (baca Surat Al-Fatihah).


Doa ini dikutip dari pelbagai sumber, yaitu Kitab Maslakul Akhyar karya Sayyid Utsman bin Yahya (1822 M-1913 M), Perukunan Melayu, dan Majmuk Syarif dengan penyesuaian sejumlah redaksional.


Membaca doa ziarah kubur

Allahummaghfirlahu war hamhu wa'aafihii wa'fu anhu, wa akrim nuzuulahu wawassi'madholahu, waghsilhu bil maa'i watssalji walbaradi, wa naqqihi, minaddzzunubi wal khathaya kamaa yunaqqatssaubul abyadhu minad danasi


Wabdilhu daaran khairan min daarihi wa zaujan khairan min zaujihi. Wa adkhilhul jannata wa aidzu min adzabil qabri wa min adzabinnaari wafsah lahu fi qabrihi wa nawwir lahu fihi


Artinya: "Ya Allah, berilah ampun dan rahmat kepadanya. Berikanlah keselamatan dan berikanlah maaf kepadanya. Berikanlah kehormatan untuknya, luaskanlah tempat masuknya. Mandikanlah dia dengan air, es, dan embun. Bersihkanlah dia dari kesalahan sebagaimana Engkau bersihkan baju yang putih dari kotoran."


"Gantikanlah untuknya rumah yang lebih baik dari rumahnya, istri yang lebih baik dari istrinya. Masukkanlah dia ke dalam surga, berikanlah pelindungan kepadanya dari azab kubur dan azab neraka. Lapangkanlah baginya dalam kuburnya dan terangilah dia di dalamnya (HR.Muslim)." 

Selasa, 02 April 2024

Doa dalam AL Quran yang pakai "Robbana..."

 

40 doa-doa dengan diawali kata “Robbana”

 

1. Rabbanaa aatinaa fid dunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa ‘adzaban naar (Al Baqarah 201)

Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka

 

2. Rabbanaa taqabbal minnaa innaka antas samii’ul ‘aliim (Al Baqarah 127) Ya Rabb kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.

 

3. Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa wahab lanaa min ladunka rahmah innaka antal wahhaab (Ali Imran 8) Ya Rabb kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.

 

4. Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wa in lam taghfirlanaa watarhamnaa lanakunannaa minal khaasiriin (Al A’raf 23) Ya Rabb kami, kami telah menzhalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang2 yg rugi.

 

5. Rabbanaaghfirlanaa wa li ikhwaaninaa alladziina sabaquuna bil iimaani wa la taj’al fii quluubinaa ghillal lilladziina aamanu rabbanaa innaka rauufur rahiim. Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara2 kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang2 yg beriman. Ya Rabb kami, sungguh Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.

 

6. Rabbanaa laa tuaakhidznaa in-nasiina au akhta’na (Al Baqarah 286) Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan.

 

7. Rabbana wala tahmil ‘alainaa isran kamaa hamaltahuu ‘alal-ladziina min qablinaa (Al Baqarah 286)

Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang2 sebelum kami.

 

8. Rabbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa thaqata lanaa bih wa’fu ‘annaa waghfirlanaa warhamnaa anta maulaanaa fanshurnaa ‘alal qaumil kaafiriin (Al Baqarah 286) Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yg kami tidak sanggup memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang2 kafir.

 

9. Rabbanaa aamannaa bimaa anzalta wattaba’nar-rasuula faktubnaa ma’asy-syaahidiin (Ali Imran 53)

Ya Rabb kami, kami telah beriman kepada apa yg Engkau turunkan dan kami telah mengikuti Rasul, karena itu tetapkanlah kami bersama golongan org yg memberi kesaksian.

 

10. Rabbanaa afrigh ‘alainaa shabran wa tawaffanaa muslimiin ( Al A’raf 126) Ya Rabb kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan matikanlah kami dalam keadaan berserah diri kepada-Mu.

 

11. Rabbanaa laa taj’alnaa ma ‘al-qaumizh zhaalimiin(Al A’raf 47) Wahai Rabb kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama orang2 zalim itu.

 

12. Rabbanaa anzil ‘alainaa maa-idatan minas-samaa-i takunu lanaa ‘iidan li-awwalinaa wa aakhirinaa wa aayatan minka war-zuqnaa wa anta khairur-raaziqin ( Al Maidah 114) Wahai Rabb kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang2 yg sekarang bersama kami maupun yg datang setelah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaaan Engkau, berilah kami rezeki, dan Engkaulah sebaik2 pemberi rezeki.

 

13. Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa zurriyyaatinaa qurrata a’yunin waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa( Al Furqan 74) Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami, pasangan kami, dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi org2 yg bertakwa.

 

14. Rabbanaa atmim lanaa nuuranaa waghfirlanaa, innaka ‘alaa kulli syain qadir (At Tahrim 8) Wahai Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami, sungguh Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

 

15. Rabbanaa ‘alaika tawakalnaa wa ilaika anabnaa wa ilaikal mashiir ( Al Mumtahanah 4) Wahai Rabb kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal dan hanya kepada Engkau kamu bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali

 

16. Rabbanaa aatinaa min ladunka rahmatan wa hayyi’ lanaa min amrinaa rasyadaa (Al Kahfi 10)

Wahai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.

 

17. Rabbanagh-firlii wa liwaalidayya wa lilmu’miniina yauma yaqumul hisaab

(Ibrahim 41) Wahai Rabb kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (hari kiamat)

 

18. Rabbanaa innaka ta’lamu maa nukhfii wa maa nu’linuu, wa maa yakhfaa ‘ala-llaahi min syain fiil- ardhi wa laa fis-samaa-i(Ibrrahim 30) Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yg kami sembunyikan dan ala yg kami tampakkan, dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi Allah, baik yg ada di bumi maupun yg ada di langit

 

19. Rabbanagh-firlanaa dzunuubanaa wa israafanaa fii amrinaa wa tsabbit aqdaamanaa wan shurnaa ‘alal qaumil kaafiriin( Ali Imran 147)

Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan (dalam) urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.

 

20. Rabbanaa innaka jaami’un- naasi li yaumin laa raiba fiihi innallaaha laa yukhliful-mii’aad(Ali Imran 9)

Wahai Rabb kami, Engkaulah yang mengumpulkan manusia pada hari yang tidak ada keraguan padanya. Sungguh Allah tidak menyalahi janji

 

21. Rabbanaa maa khalaqta haadzaa baathilaa subhaanaka faqinaa ‘adzaaban-naar

(Ali Imran 191) Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

 

22. Rabbanaa innaka man tudkhilin-naara faqad akhzaitah wa maa lizh-zhaalimiina min Anshaar(Ali Imran 192)

Ya Rabb kami, sesungguhnya orang yg Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh Engkau telah menghinakannya, dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang2 yg zhalim

 

23. Rabbanaa innanaa sami’naa munaadiyan yunaadi lil iimani an aaminuu birabbikum fa aamannaa(Ali Imran 193) Ya Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu) “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman.”

 

24. Rabbanaa fagh-firlanaa dzunuubanaa wa kaffir ‘annaa sayyiaatinaa wa tawaffanaa ma’al abraar(Ali Imran 193) Ya Rabb kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti

 

25. Rabbanaa laa taj’alnaa fitnatan lil qaumizh-zhaalimiin. Wa najjinaa bi rahmatika minal qaumil kaafiriin(Yunus 85-86) Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran kezhaliman oleh kaum yg zholim. Dan selamatkanlah kami dengan rahmat-Mu dari kaum yg kafir.

 

26. Rabbanaa wa adkhilhum jannaati ‘adnil-latii wa ‘adtahum wa man shalaha min aabaa-ihim wa azwaajihim wa dzurriyyatihim innaka antal ‘aziizul hakiim

Ya Rabb kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan org2 yg shaleh di antara bapak2 mereka, dan istri2 mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana

 

27. Rabbanaa innaka raufurrahiim(Al Hasr 10)

Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang

 

28. Rabbanaa laghafuurun syakuur ()Sesungguhnya Rabb kami benar2 Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri

 

29. Rabbanaa wa taqabbal du’aa (Ibrahim 40) Ya Rabb kami perkenanlah doaku

 

30. Rabbana wasi’ta kulla syai-in rahmatan wa ‘ilman faghfir lilladziina taabuu wattaba’uu sabiilaka wa qihim ‘adzaabal jahiim (Ghaafir 7)

Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada org2 yg bertobat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yg menyala2

 

31. Rabbanaa innanaa nakhaafu an yafrutha ‘alainaa au an yathghaa(Thaha 45) Keduanya berkata, “Ya Rabb kami, sungguh kami khawatir dia (Fir’aun) akan menyiksa kami atau bertambah melampaui batas

 

32. Rabbanaa aamannaa faghfirlanaa warhamnaa wa anta khairur raahiimiin(Al Mu’minuun 109)

Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah sebaik2 pemberi rahmat.

 

33. Rabbanaa aamannaa fak tubnaa ma’asy syaahidiin(Al Maidah 83) Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang2 yg mjd saksi (atas kebenaran Al qur’an dan kenabian Muhammad)

 

34. Rabbanaf-tah bainanaa wa baina qauminaa bil haqqi wa anta khairul faatihiin

(Al A’raf 89) Ya Tuhah kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik2nya yakni Engkau sebaik2 hakim

 

35. Rabbanaa wa aatinaa maa wa’ad tanaa ‘alaa rusulika wa laa tukhzinaa yaumal qiyaamati, innaka laa tukhliful mi’aad(Ali Imran 194)

Ya Rabb kami, berilah kami apa yg telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul2 Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.

 

36. Rabbanaa-shrif ‘annaa ‘adzaaba jahannama inna ‘adzaabahaa kaana gharaama. Innahaa saa-at mustaqarra wa muqaama(Al Furqan 65-66)

Ya Rabb kami, jauhkan azab jahanam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yg kekal. Sesungguhnya jahannam itu seburuk2 tempat menetap dan tempat kediaman

 

37. Rabbanaa waj’alnaa muslimain laka wa min dzurriyatina ummatan muslimatan laka, wa arinaa manaasikanaa watub’alainaa innaka antat-tawwaabur-rahiiim (Al Baqarah 128)

Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yg tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yg tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara2 dan tempat2 ibadah haji kami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.

 

38. Rabbanaa afrigh ‘alainaa shabran wa tsabbit aqdaamanaa wan shurnaa ‘alal qaumil kaafiriin(Al Baqarah 250) Ya Rabb kami limpahkanlah kesabaran kepada kami, kokohkanlah langkah kami, dan tolonglah kami menghadapi org2 kafir

 

39. Rabbanaa innanaa aamannaa faghfirlanaa dzunuubanaa wa qinaa ‘adzaaban naar

(Ali Imran 16)

Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka

 

40. Rabbanaa laa taj-alnaa fitnatan lilladziina kafaruu waghfirlanaa rabbanaa innaka antal ‘azizul hakiim(Mumtahanah 5)

Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang2 kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Senin, 27 November 2023

Lirik Lagu Pengantar Minum Racun (PMR)

Judul Judulan

***********
Neng ayok neng ayo maen pacar-pacaran
Neng ayok neng ayo maen pacar-pacaran
Daripada pacar beneran
Pikiran pusing tidak karuan
Kumpul kebo, ya cuma kebo-keboan

Neng ayok neng ayok maen kawin-kawinan
Neng ayok neng ayok maen kawin-kawinan
Daripada kawin beneran
Pikiran pusing tidak karuan
Naik ranjang, ya cuma ranjang-ranjangan

Habis sudah pacar-pacaran
Habis sudah kawin-kawinan
Punya anak, namanya... Anak-anakan
Ini lagu lagu-laguan
Judulnyapun judul-judulan
Maaf ya neng,...
Inikan cuma mainan

Neng ayok neng ayok maen cium-ciuman
Neng ayok neng ayok maen cium-ciuman
Daripada cium beneran
Pikiran pusing tidak karuan
Belom dicium, kok eneng nyosor duluan

Torerojing, torejing, torejing
Habis sudah pacar-pacaran
Habis sudah kawin-kawinan
Punya anak, namanya... Anak-anakan
Ini lagu lagu-laguan
Judulnyapun judul-judulan
Maaf ya neng,...
Inikan boong-boongan

Neng ayok neng ayok maen peluk-pelukan
Neng ayok neng ayok maen peluk-pelukan
Daripada peluk beneran
Pikiran pusing tidak karuan
Belom dipeluk, kok eneng meluk duluan
Belom dipeluk, kok eneng meluk duluan
Belom dipeluk, kok eneng meluk duluan

Bintangku Bintangmu

**********
Sya la li la li
Mana bintangmu
Sya la li la li
Ini bintangku
Marilah kita tebak tebakan
Pribadimu pribadiku

Boleh percaya boleh curiga
Kalau percaya kita berdosa
Kalaulah ada kata yang salah
Janganlah simpan di hati

Bintang virgo
Sekolah tapi masih bodoh
Bintang scorpio
Suka nonton pilm porno
Bintang libra
Suka lirik mbak mbak
Bintang sagitario....
Suka makan laler ijo....

Sya la li la li
Mana bintangmu
Sya la li la li
Ini bintangku
Marilah kita tebak tebakan
Pribadimu pribadiku

Boleh percaya boleh curiga
Kalau percaya kita berdosa
Kalaulah ada kata yang salah
Janganlah simpan di hati

Bintang taurus
Pikirannya masih polos
Bintang le-o
Bila hormat suka disanjung
Bintang gemini
Maunya menang sendiri
Bintang aquarius....
Kalo tidur suka ngiler

Bintang pices
Pikirannya ngeres ngeres
Bintang aries
Maunya nyari yang gratis
Bintang cancer
Kalo makan paling rakus
Bintang capricornus
Kalo mengigit bisa tetanus

Sya la li la li
Mana bintangmu
Sya la li la li
Ini bintangku
Marilah kita tebak tebakan
Pribadimu pribadiku
Kalaulah ada dongkol di hati
Bolehlah kita engkau maafi
Kalaulah ada umurku panjang
Kita tebak tebakan lagi...

BANJIR

***************
Yang hujan turun lagi
Angkatin jemurannya yang kau cuci

Yang panas datang lagi
Jemur pakaian yang kau angakat tadi

Kalau hujan lagi
Engkau angkat lagi
Sebaiknya kau bakar di api

Yang tidurlah di dapur
Didalam kamar air apda ngucur

Kita bercerita
Tentang orang kaya
Yang tidur diatas kasur mewah

Banjir banjir banjir datang lagi sayang
Yuk kita ngungsi kerumah orang

Aduh aduh aduh tidak ada lowongan
Tempatnya dipakai penuh barang

Lebih baik tidur
Dalam hotel saja
Disana kita berfoya-foya

Yang enakan disini
Tempatnya bersih dan teratur rapih

Soal bayar nanti jangan pikir lagi
Kita pulang tunggu orang sepi

(Yang... kita bagaimana nih pulangnya
Kan kita gak punya duit untuk bayar hotelnya... hayoo
Aduh nggak usah khawatir deh
Kita kan udah punya teorinya
Tinggal praktekin
Kalo begitu kita praktekin ajah sekarang yang yok
Ayok, kita mo pulang neh yah
Itung 1 2 3
Ada satpamnya gak?
Oh iya, tunggu yah gwe liat dulu yah
Oh udah tidur satpamnya
Udah tidur?
Oke deh, eh tar dulu, (Aapaan?)
Itu asbak kita bawa pulang, enak tuh
Wah boleh juga tuh
Kasurnya empuk
Wah boleh
Kita buat tidur dirumah (Okeh sip)
Kita pulang... (Hayoooo)
Yah masih banjir.....)

Banjir banjir banjir datang lagi sayang
Yuk kita ngungsi kerumah orang

Aduh aduh aduh tidak ada lowongan
Tempatnya dipakai penuh barang

Lebih baik tidur
Dalam hotel saja
Disana kita berfoya-foya

Yang enakan disini
Tempatnya bersih dan teratur rapih
Soal bayar nanti jangan pikir lagi
Kita pulang tunggu orang sepi
Soal bayar nanti jangan pikir lagi
Kita pulang tunggu orang sepi

Gubuk Derita

***********
Aku rela hidup bersamanya
Asal saja aku bahagia
Walaupun kau tua
Sudah bau tanah

Ku tak rela kalau hidup susah
Ku tak rela hidup menderita
Walaupun kau tua
Asal kaya raya

Pagi berenang, Sore jalan-jalan
Keluar masuk, Disco dan restoran
Baju satu made in jepang
Sekali pake lalu kubuang

Mumpung banyak uang
Sambil tunggu warisan
Aku rela hidup bersamanya
Asal saja aku bahagia
Walaupun kau tua
Sudah bau tanah

Pagi berenang, Sore jalan-jalan
Keluar masuk, Disco dan restoran
Baju satu made in jepang
Sekali pake lalu kubuang

Mumpung banyak uang
Sambil tunggu warisan
Ku tak rela kalau hidup susah
Ku tak rela hidup menderita
Walaupun kau tua
Asal kaya raya
Walaupun kau tua
Sudah bau tanah

Boneka India

**********
Hatiku gelisah, Risau tak terkira
Perut hamil tua, Sama yang pertama
Yang kedua tiba, Dari Arabia
Membawa seekor onta, Sebagai hadiah
Mertua...

La la la la
Lihat mertua, Pergi kepesta
Membawa onta, Untuk hadiah
Aku tertawa, Gembira ria
Karna mertua, Setengah gila

Ontanya mengamuk, Ditengah jalanan
Mertua ku pulang, Kepalanya peyang
Dengan muka garang
Mertuaku bilang
(Hey mantuku sayang
Kau harus dikemplang)
Kemplang lagi

Lihat mertua, Pergi kepesta
Membawa onta,Untuk hadiah
Aku tertawa, Gembira ria
Karna mertua, Setengah gila

Ontanya mengamuk, Ditengah jalanan
Mertua ku pulang, Kepalanya peyang
Dengan muka garang
Mertuaku bilang
(Hey mantuku sayang
Kau harus dikemplang)
Kemplang lagi
La la la la

(Dasar mantu sialan
Ngasih onta, eh ontanya kesurupan
Gua kemplang, eh malah dia mbales
Aki dikatain setengah gila
Padahal sih baru seper-empat
Mantu sialan, mantu mati rodhok lu
Sialan luh, mantu binatang lu
Mantu kebon binatang
Jelek lu, awas lu, sial banget

Minggu, 29 Oktober 2023

urusan hati yang tidak pernah selesai

Urusan yang melibatkan hati itu gak pernah mudah. 

Dan (mungkin) gak pernah selesai. 

ya kecuali elu benar2 kecewa dan sudah move on membuka lembaran baru.

kagak ada tuh rumus pasti gimana cara berhenti suka sama seseorang, karena melepaskan itu mudah tapi merelakan itu sulit. terutama kalo ada memory bersamanya tul gak?

trus trus..? ya terima aja kenyataan, lanjutkan hidup, sadar broo ada beda  jatuh cinta dan saling cinta. Jatuh cinta itu sepihak - sendiri, saling cinta itu dua-duanya - bareng-bareng. pernah denger istilah bertepuk sebelah tangan?

Gue suka banget pelajaran dari Tom Hansen di film [500] Days of Summer.

emang klise, tapi percaya atau enggak cuma waktu lah yg obat luka. Tom  butuh 500 hari hingga sepenuhnya sadar bahwa selama ini dia hanya jatuh cinta tapi tidak saling cinta.

Tom mulai jatuh cinta sejak bertemu dengan Summer Fin di lift. Summer ikut nyanyiin lirik dari band The Smiths yang dia dengarkan di earphone-nya.

"To die by your side is such a heavenly way to die" Summer meniruin lirik lagu berjudul There is Light that Never Goes Out.

Tom jadi buta dan tuli sejak saat itu, 

nyatanya Summer sudah memberi isyarat bahwa dia gak bisa janjiin apapun.

Tom  jatuh-sejatuh-jatuhnya-jatuh dalam ekspektasi yang dia buat sendiri. Hidup dalam khayalan rasa antara hubungannya dengan Summer yang aslinya cuma bertepuk sebelah tangan.

Sebuah realitas semu diatas kebenaran.

Setelah capek muter-muter dengan perasaannya sendiri, Tom akhirnya menerima kenyataan bahwa ada sesuatu yang diluar kehendaknya. Sesuatu yang tak bisa dipaksakan, sekuat apapun usaha, sekeras apapun doa.



"You know what sucks? Realizing that everything you believe in is complete and utter bullshit" - Tom Hansen.

Di titik itulah Tom sadar  selama ini dia cuma jatuh cinta tapi tidak saling cinta. Dia-pun mulai keluar dari ekspektasinya. Mengikhlaskan Summer.

500 Days of Summer bukanlah film cinta tapi beneran bagus buat belajar ilmu hidup, di awal film, “maybe playing it safe is the wrong approach”. Kalau nggak berani melakukan sesuatu untuk masa depanmu sendiri, apalagi untuk pasangan.

Menerima kenyataan dengan gentle, sepahit apapun. Semua akan baik baik saja.

Menerima kenyataan pahit itu memang sulit. Dunia terus berputar, apapun pilihan hidupmu, pagi pasti akan kembali. 

Waktu terus berjalan,  musim berganti. Akhirnya semua hanya akan menjadi masa lalu.

Summer sudah menikah, Tom memulai hidup baru dengan Autumn. Ada kehidupan lain yang memang harus dijalani, 

begitu juga dengan kita. 

Ada garis hidup yang menunggu untuk ditemukan - dijalani - dinikmati - disyukuri.

kamu pasti bisa ! 😁 



Jumat, 27 Oktober 2023

Jam Pemberian Bapak


Detik-Detik yang Pulang ke Pergelangan Tangan

Aroma Cilegon di masa lalu selalu punya cara unik untuk pulang ke ingatan: deru pelan pabrik Krakatau Steel (KS), angin sepoi sepoi, rimbunnya pepohonan hijau,  lampu-lampu jalanan yang orange temaram, wangi martabak di prapatan, asap sate pak jangkung di simpang tiga, pisang molen gurih di kotabumi, cireng dan combro di depan kcc, bakwan goreng di kolam renang bawah, burger dan nasi goreng teri di coffee shop, dan aroma cingkong kepiting dan sop asparagus yang mengepul hangat di Resto New Saiki. 

Di sanalah, saat saya masih mengenakan seragam merah-putih, perjalanan jam ini dimulai.

Malam itu, seorang ekspatriat Jepang yang sedang menangani proyek di KS mengajak kami sekeluarga makan malam. Tanpa ada alasan khusus, hanya bincang santai bapak dan si jepang, ramah tamah dengan senyum yang khas, ia melepas sebuah jam tangan digital dan memberikannya begitu saja kepada saya. Di tali jamnya, tercetak tulisan "KOBELCO" dengan warna biru terang yang mencolok. 

Bagi seorang anak SD, jam Casio digital itu adalah benda paling keren di dunia. Ia setia melingkar di pergelangan tangan saya, melewati masa-masa akhir sekolah dasar, hingga akhirnya menyerah pada waktu dan rusak saat saya menginjak bangku SMP. Dua tahun yang singkat, namun cukup untuk menanamkan rasa cinta saya pada ketangguhan Casio.
jam casio kobelco saya waktu SD

Waktu terus berjalan, dan tahun 1992 membawa saya ke gerbang masa remaja. Sebagai hadiah ulang tahun saat saya menginjak kelas 1 SMA, Bapak membawa pulang sebuah kotak berwarna biru. Di dalamnya ada Casio G-Shock DW-5750. Ukurannya cukup besar dan bentuknya unik. Jujur saja, di zaman itu, memakai jam tersebut membuat rasa percaya diri langsung melesat. Kalau melihat foto lama, tubuh saya waktu itu kurus banget, kontras sekali dengan jamnya yang gagah. Tapi saya tidak peduli, saya merasa sangat keren.
kelas 1 sma, kurus banget yak hahaha

Masa-masa SMA adalah masa di mana energi saya seolah tidak ada habisnya. Mulai dari berenang, bersepeda, voli, basket, hingga penjelahan pramuka, jam itu tidak pernah absen menemani. Bahkan dalam sebuah foto ikonik masa SMA  saat saya bangga memakai rompi hasil berburu di bazar Alun-Alun Serang G-Shock DW-5750 itu tampak melingkar gagah, menjadi saksi bisu masa muda yang aktif dinamis.

Ketangguhannya berlanjut hingga masa kuliah antara tahun 1994 sampai 1999. Jam itu seolah menolak untuk menua, tetap berfungsi dengan sangat baik.
zaman sma mau kuliah nih, pake gshock dw5750 dan itu rompi beli di bazar alun2 serang hahaha 

Suatu hari, Bapak sempat memperhatikan pergelangan tangan saya yang tidak pernah berganti aksesoris sejak SMA. Beliau bertanya lembut, *"Itu jam kamu udah lama, gak bosen pakenya?"*

Saya hanya melempar senyum hangat, 
"Belum, Pak." 
"Ini masih bagus kok"

Singkat, tapi dalam hati saya tahu, jam ini bukan lagi sekadar penunjuk waktu, melainkan bagian dari diri saya. Lagipula, ia masih berdetak dengan sangat baik.

Memasuki tahun 2000, dunia saya berubah. Status mahasiswa berganti menjadi pekerja.
 
Dan di tahun-tahun awal bekerja itulah, sang G-Shock mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan setelah bertahun-tahun bertempur.

Tali jamnya mulai retak-retak dimakan usia, dan pelindung plastik (bezel) bagian atasnya mulai gompal. 

Bukannya dibuang, saya justru mempreteli seluruh bodi plastiknya yang hancur. Jam itu kini "telanjang", menyisakan cangkang besi stainless steel bodi dalamnya yang kokoh. 
Di luar dugaan, tampilannya justru terlihat sangat estetik dan tangguh.
foto tahun 2000, udah kerja , jam gshock dw5750 masih setia menemani


Namun, setiap kisah pengabdian pasti menemui titik akhirnya. Di tahun 2003, setelah sebelas tahun yang luar biasa mengawal nadi di tangan kiri saya, jam itu akhirnya mati total. Mungkin hanya baterainya yang habis, tapi saya memilih untuk tidak menghidupkannya lagi. Saya meletakkannya dengan takzim di dalam kotak penyimpanan. Ia sudah layak diistirahatkan sebagai "museum kecil" yang menyimpan seluruh keringat, tawa, dan kenangan masa muda saya.
Casio DW-5750, yg kiri waktu masih utuh, yg kanan body nya sudah hancur, jadi telanjang

Terima kasih, Bapak. Terima kasih, Casio G-Shock DW-5750. Sebelas tahun itu sungguh luar biasa.

---

19 April 2026

Lebih dari dua dekade berlalu sejak jam itu berhenti berdetak. 

Hari itu, saya sedang berjalan santai di antara hilir mudik pengunjung FX Sudirman, Jakarta. 

Langkah saya mendadak terhenti di depan sebuah etalase. Jantung saya berdesir hangat.

Di balik kaca, seolah menembus lorong waktu....., 

Ooh jam itu...!!! dia masih ada...!!!

dibalik kaca itu.... ada seri reissue resmi dari Casio, tipenya sama: DW-5750!!! 

Saya hafal betul, bentuknya, lekukannya, hingga detail kecilnya benar-benar persis seperti jam yang diberikan Bapak kepada saya 34 tahun yang lalu. 

Kenangan tentang Masa itu, Naik sepeda, basket, renang, pramuka,  naik angkot, bergelantungan di bus serang-merak, Alun-Alun Serang, rompi bazar, tawa masa kuliah, hingga wajah Bapak seketika berputar di kepala.

Tanpa ragu, saya membelinya. Saat melingkarkannya kembali, ada rasa hangat yang menjalar. Sentuhan materialnya terasa sangat akrab. 

Kini, setelah sekian lama, saya bisa merasakan kembali jam yang sama, mendekap erat pergelangan tangan kiri ini dan membawa pulang kembali semua detik-detik kenangan yang pernah mendewasakan saya. 

Alhamdulillah.

19 april 2026, tangan ini kembali memakai casio DW5750, serasa balik ke 1992,  
masa SMA, alhamdulillah.












Jumat, 20 Oktober 2023

anak kecil dan operator telpon, sally & paul

 

Saya baca cerita ini sudah lama sekali, cerita ini sederhana, tapi saya suka dan nempel di kepala. 

Cerita seorang operator telepon dan anak kecil...

 Reader's Digest Classic, originally published in 1966 as "The Voice in the Box"




Waktu saya masih amat kecil, ayah sudah memiliki telepon di rumah kami. Inilah telepon masa awal, warnanya hitam, di tempelkan di dinding, dan kalau mau menghubungi operator, kita harus memutar sebuah putaran dan minta disambungkan dengan nomor telepon lain. Sang operator akan menghubungkan secara manual.

Dalam waktu singkat, saya menemukan bahwa, kalau putaran di putar, sebuah suara yang ramah, manis, akan berkata : "Operator". Dan si operator ini maha tahu.

Ia tahu semua nomor telepon orang lain!
Ia tahu nomor telepon restoran, rumah sakit, bahkan nomor telepon toko kue di ujung kota.

Pengalaman pertama dengan sang operator terjadi waktu tidak ada seorangpun dirumah, dan jempol kiri saya terjepit pintu. Saya berputar putar kesakitan dan memasukkan jempol ini kedalam mulut tatakala saya ingat .... Operator!!!

Segera saya putar bidai pemutar dan menanti suaranya.
" Disini operator..."
" Jempol saya kejepit pintu..." kata saya sambil menangis. Kini emosi bisa meluap, karena ada yang mendengarkan.

" Apakah ibumu ada di rumah ? " tanyanya.
" Tidak ada orang "
" Apakah jempolmu berdarah ?"
" Tidak , cuma warnanya merah, dan sakiiit sekali "
" Bisakah kamu membuka lemari es? " tanyanya.
" Bisa, naik di bangku. "
" Ambillah sepotong es dan tempelkan pada jempolmu..."

Sejak saat itu saya selalu menelpon operator kalau perlu sesuatu.

Waktu tidak bisa menjawab pertanyaan ilmu bumi, apa nama ibu kota sebuah Negara, tanya tentang matematik. Ia juga menjelaskan bahwa tupai yang saya tangkap untuk dijadikan binatang peliharaan , makannya kacang atau buah.

Suatu hari, burung peliharaan saya mati.
Saya telpon sang operator dan melaporkan berita duka cita ini.

Ia mendengarkan semua keluhan, kemudian mengutarakan kata kata hiburan yang biasa diutarakan orang dewasa untuk anak kecil yang sedang sedih. Tapi rasa belasungkawa saya terlalu besar. 
Saya tanya : 
" Kenapa burung yang pintar menyanyi dan menimbulkan sukacita sekarang tergeletak tidak bergerak di kandangnya ?"

Ia berkata pelan : 
" Karena ia sekarang menyanyi di dunia lain..." 
Kata - kata ini tidak tahu bagaimana bisa menenangkan saya.

Lain kali saya telpon dia lagi.
" Disini operator "
" Bagaimana mengeja kata kukuruyuk?"

Kejadian ini berlangsung sampai saya berusia 9 tahun. Kami sekeluarga kemudian pindah kota lain. Saya sangat kehilangan " Disini operator "

Saya tumbuh jadi remaja, kemudian anak muda, dan kenangan masa kecil selalu saya nikmati. Betapa sabarnya wanita ini. Betapa penuh pengertian dan mau meladeni anak kecil.

Beberapa tahun kemudian, saat jadi mahasiswa, saya studi trip ke kota asal.
Segera sesudah saya tiba, saya menelpon kantor telepon, dan minta bagian "
operator "
" Disini operator "
Suara yang sama. Ramah tamah yang sama.
Saya tanya : 
" bagaimana mengeja kata kukuruyuk "
Hening sebentar. Kemudian ada pertanyaan : 
"Jempolmu yang kejepit pintu sudah sembuh kan ?"
Saya tertawa. 
" Itu Anda.... Wah waktu berlalu begitu cepat ya "
Saya terangkan juga betapa saya berterima kasih untuk semua pembicaraan waktu masih kecil. Saya selalu menikmatinya. 
Ia berkata serius : 
" Saya yang menikmati pembicaraan dengan mu. Saya selalu menunggu mu menelpon "

Saya ceritakan bahwa , ia menempati tempat khusus di hati saya. Saya bertanya apa lain kali boleh menelponnya lagi.
 " Tentu, nama saya Saly "

Tiga bulan kemudian saya balik ke kota asal. Telpon operator. Suara yang sangat beda dan asing. Saya minta bicara dengan operator yang namanya Saly.
Suara itu bertanya 
" Apa Anda temannya ?"
" Ya teman sangat lama "
" Maaf untuk kabarkan hal ini, Saly beberapa tahun terakhir bekerja paruh waktu karena sakit sakitan. Ia meninggal lima minggu yang lalu..."

Sebelum saya meletakkan telepon, tiba tiba suara itu bertanya : "Maaf, apakah Anda bernama Paul ?"
"Ya "
" Saly meninggalkan sebuah pesan buat Anda. Dia menulisnya di atas sepotong kertas, sebentar ya....."

Ia kemudian membacakan pesan Saly :
" Bilang pada Paul, bahwa IA SEKARANG MENYANYI DI DUNIA LAIN... 
Paul akan mengerti kata kata ini...."

Saya mengucapkan terimakasih dan  meletakkan gagang telepon. Saya tahu persis apa yang Saly maksud.
..................

Jangan sekali sekali mengabaikan, bagaimana Anda menyentuh hidup orang lain...!

Cerita aslinya:

GÉRARD DUBOIS FOR READER'S DIGEST

When I was quite young, my family had one of the first telephones in the neighborhood. I remember well the polished oak case fastened to the wall on the lower stair landing. The shiny receiver hung on the side of the box. I even remember the number: 105. I was too little to reach the telephone, but I used to listen with fascination when my mother talked to it. Once she lifted me up to speak to my father, who was away on business. Magic!

Then I discovered that somewhere inside that wonderful device lived an amazing person—her name was “Information Please,” and there was nothing that she did not know. My mother could ask her for anybody’s number; when our clock ran down, Information Please immediately supplied the correct time.

My first personal experience with this genie-in-the-receiver came one day while my mother was visiting a neighbor. Amusing myself at the tool bench in the basement, I whacked my finger with a hammer. The pain was terrible, but there didn’t seem to be much use crying, because there was no one home to offer sympathy. I walked around the house sucking my throbbing finger, finally arriving at the stairway. The telephone! Quickly I ran for the footstool in the parlor and dragged it to the landing. Climbing up, I unhooked the receiver and held it to my ear. “Information Please,” I said into the mouthpiece just above my head.

A click or two, and a small, clear voice spoke into my ear. “Information.

I hurt my fingerrrr—” I wailed into the phone. The tears came readily enough, now that I had an audience.

Isn’t your mother home?” came the question.

Nobody’s home but me,” I blubbered.

Are you bleeding?”

No,” I replied. “I hit it with the hammer, and it hurts.”

Can you open your icebox?” she asked. 

I said I could. 

Then chip off a little piece of ice, and hold it on your finger. That will stop the hurt. Be careful when you use the ice pick,” she admonished. “And don’t cry. You’ll be all right.”

After that, I called Information Please for everything. I asked her for help with my geography, and she told me where Philadelphia was, and the Orinoco, the romantic river that I was going to explore when I grew up. She helped me with my arithmetic, and she told me that my pet chipmunk—I had caught him in the park just the day before—would eat fruit and nuts.

And there was the time that my pet canary passed away. I called Information Please and told her the sad story. She listened, then said the usual things that grown-ups say to soothe a child. But I was unconsoled: 

Why was it that birds should sing so beautifully and bring joy to whole families, only to end as a heap of feathers, feet up, on the bottom of a cage?

She must have sensed my deep concern, for she said quietly, “Paul, always remember that there are other worlds to sing in.”

Somehow I felt better.

Another day I was at the telephone. “Information,” said the now familiar voice.

“How do you spell fix?” I asked.

“Fix something? F-i-x.”

At that instant, my sister, who took unholy joy in scaring me, jumped off the stairs at me with a banshee shriek—”Yaaaaaaaaa!” I fell off the stool, pulling the receiver out of the box by its roots. We were both terrified—Information Please was no longer there, and I was not at all sure that I hadn’t hurt her when I pulled the receiver out.

Minutes later, there was a man on the porch. “I’m a telephone repairman,” he said. “I was working down the street, and the operator said there might be some trouble at this number.” He reached for the receiver in my hand. “What happened?”

I told him.

“Well, we can fix that in a minute or two.” He opened the telephone box, exposing a maze of wires, and coiled and fiddled for a while with the end of the receiver cord, tightening things with a small screwdriver. He jiggled the hook up and down a few times, then spoke into the phone. “Hi, this is Pete. Everything’s under control at 105. The kid’s sister scared him, and he pulled the cord out of the box.”

He hung up, smiled, gave me a pat on the head, and walked out the door.

All this took place in a small town in the Pacific Northwest. Then, when I was nine years old, we moved across the country to Boston—and I missed my mentor acutely. Information Please belonged in that old wooden box back home, and I somehow never thought of trying the tall, skinny new phone that sat on a small table in the hall.

Yet, as I grew into my teens, the memories of those childhood conversations never really left me; often in moments of doubt and perplexity, I would recall the serene sense of security I had when I knew that I could call Information Please and get the right answer. I appreciated how very patient, understanding, and kind she was to have wasted her time on a little boy.

A few years later, on my way west to college, my plane put down at Seattle. I had about half an hour between plane connections, and I spent 15 minutes or so on the phone with my sister, who lived there now, happily mellowed by marriage and motherhood. Then, really without thinking what I was doing, 

I dialed my hometown operator and said, “Information Please.”

Miraculously, I heard again the small, clear voice I knew so well: “Information.”

I hadn’t planned this, but I heard myself saying, 

Could you tell me, please, how to spell the word fix?”

There was a long pause. Then came the softly spoken answer. “I guess,” said Information Please, “that your finger must have healed by now.”

I laughed. “So it’s really still you,” I said. “I wonder if you have any idea how much you meant to me during all that time … ”

I wonder,” she replied, “if you know how much you meant to me? I never had any children, and I used to look forward to your calls. Silly, wasn’t it?

It didn’t seem silly, but I didn’t say so. Instead I told her how often I had thought of her over the years, and I asked if I could call her again when I came back to visit my sister after the first semester was over.

Please do. Just ask for Sally.”

“Goodbye, Sally.” It sounded strange for Information Please to have a name. “If I run into any chipmunks, I’ll tell them to eat fruit and nuts.”

“Do that,” she said. “And I expect one of these days, you’ll be off for the Orinoco. Well, goodbye.”

Just three months later, I was back again at the Seattle airport. A different voice answered, “Information,” and I asked for Sally.

Are you a friend?”

Yes,” I said. “An old friend.”

Then I’m sorry to have to tell you. Sally had been working only part-time in the last few years because she was ill. She died five weeks ago.” But before I could hang up, she said, “Wait a minute. Did you say your name was Paul Villiard?”

“Yes.”

“Well, Sally left a message for you. She wrote it down.”

“What was it?” I asked, almost knowing in advance what it would be.

“Here it is; I’ll read it—’Tell him I still say there are other worlds to sing in. He’ll know what I mean.'”

I thanked her and hung up. 

I did know what Sally meant.