Sabtu, 26 Agustus 2023

Radio FM EDP Lib

Radio EDP LIB Cilegon 




MEMOAR SEBUNGKUS STIKER BIRU: KISAH RADIO "GELAP" EDPLIB CILEGON

Sunyinya Kota Baja dan Desis Gelombang AM

Bagi anak-anak Cilegon yang tumbuh di era 80-an akhir dan awal 90-an, pilihan hiburan kami tidak banyak. Kota Baja ini rasanya sepi sekali setelah jam sekolah usai. Kalau mau mendengarkan musik di radio, pilihannya cuma satu: Radio “Top” di frekuensi AM 1152 Khz. Kalau bosan, kami harus memutar *tuning* agak jauh mencari radio “PBS” (Pahla Budi Sakti) AM 648 yang ada di Serang.

Mendengarkan radio AM zaman itu butuh kesabaran tingkat dewa. Suaranya jauh dari kata jernih. Begitu ada lampu neon di rumah yang dinyalakan, langsung muncul suara interferensi yang khas: *“Zzzsssrrrrrzzz…”* berisik sekali.

Lagunya? Ah, monoton. Putarannya tidak jauh dari Pop mendayu-dayu, Dangdut, Iwan Fals, Pance Pondaag, artis-artis JK Records - lagu cengeng. Tidak ada yang sehitz radio-radio Jakarta.

"Bapak lu tuh, tiap hari dengerinnya lagu itu-itu mulu. Kuping gua bisa jamuran," celoteh Aton suatu siang saat kami nongkrong di depan teras.

"Yee, mending. Lu bayangin aja, gue pernah denger lagu Astaga dari Ruth Sahanaya diputar Radio TOP sampai tiga kali sehari! Bisa hapal luar kepala," timpal saya sambil terkekeh.

Sinyal radio FM keren dari Jakarta seperti Mustang atau Prambors? Jangan harap bisa menembus Cilegon. Kalau kami benar-benar kebelet pengen mendengarkan lagu tren terbaru, modalnya harus nekat: kita mendaki ke gunung pemancar TVRI. Baru diatas sana sinyal Jakarta tertangkap. Agak melelahkan memang, demi sebuah gengsi anak muda.

Keajaiban dari Knob Toshiba Boombeat
Sore itu, segalanya berubah. Pulang sekolah dengan kondisi badan yang kemproh dan lengket oleh keringat, 
saya langsung merebahkan diri di lantai berkarpet merah, rumah yang adem. Seragam kemeja osis kuning SMP sudah di keranjang cucian, menyisakan kaos dalam dan celana pendek. 
Di samping saya, sudah siap satu gelas belimbing dan botol kaca berisi sirup ABC dingin rasa jeruk yang menyegarkan tenggorokan.


Iseng-iseng, tangan saya meraih knob "tuning" radio compo Toshiba Boombeat SX20 kesayangan. Saya putar pelan-pelan ke arah jalur FM.
Sreeek... sreeek...

Tiba-tiba, sebuah gelombang tertangkap. 

Loud and clear!

Suaranya jernih tanpa desis jahanam khas Gelombang AM. 
Dan yang membuat saya hampir tersedak sirup adalah lagu yang sedang mengalun:
Bohemian Rhapsody milik Queen! 
Disusul kemudian oleh Elvis,  The Beatles, Guns N' Roses, dan Bon Jovi.

"Gokil... ini radio  apa?!" gumam saya sendirian di kamar, mata terbelalak menatap speaker Toshiba.

Selama beberapa hari, radio misterius ini terus mengudara tanpa jeda iklan. Uniknya, sama sekali tidak ada penyiarnya. Hanya lagu-lagu Rock dan Top 40 keren yang diputar non-stop.

Baru setelah satu minggu, mulai terdengar suara manusia di balik mic. Ada obrolan santai, kuis tebak lagu, hingga sesi kirim-kirim salam.
Di sekolah, radio baru ini langsung jadi topik super hangat.

"Eh, lu pada denger radio FM baru kagak? 

Yang sering setel GNR, Bon Jovi sama Europe?" tanya saya antusias saat jam istirahat.

"Yoi! Nama radionya EDP LIB. 

Asli, penyegaran banget buat kuping kita. 

Tapi itu pemancarnya di mana, ya? Kok misterius amat," sahut Dianto penasaran.

"Jangan-jangan radio amatir, nih? Cuma muter tape doang," canda Reza.

Kami semua penasaran setengah mati. 
Suatu sore, saat saya sedang menikmati radio FM ini,  mengalun lah lagu Sweet Child O' Mine, sang penyiar tiba-tiba berceloteh setelah lagu usai.

"Ya, itulah tadi lagu "Sweet Child" lagu kebangsaan anak-anak SMA Kavling! Hahaha..."

Saya langsung bangkit dari rebahan. Suara bariton itu... gaya tertawanya... sangat tidak asing.

"Lho, ini kan suaranya Mas Agung? Kakak kelas kita pas di SMP yang sekarang sekolah di SMA Kavling!" batin saya.

Secercah titik terang akhirnya benderang. Setelah mengorek informasi sana-sini, kami berhasil mendapatkan alamat rahasia studio tersebut.

Markas Rahasia dan Sersan Prambors

Berbekal rasa penasaran yang membubung tinggi, saya, Aton, Dianto, Reza, dan Andi langsung meluncur. Jalurnya melintasi ujung Jalan Semang Raya. 

Tepat sebelum area gerbang Palm Hills, kami belok kiri. Sekitar 200 meter di sebelah kanan jalan, berdirilah sebuah rumah sederhana bertembok putih yang tampak biasa dari luar, namun menyimpan 'magis' di dalamnya.
Itulah studio Radio EDPLIB.

foto rumah studio radio edplib (jalan terusan madani-palm hills)

Saat melangkah masuk, aroma kreativitas langsung terasa. Kami disambut hangat oleh para kru operator. Di sana, kami berkenalan dengan seorang mas-mas yang nama panggilannya sangat ikonik dan *catchy*: Mas Obeng, Mas Budi, Mas Iwan.

Ruang operatornya terbilang sederhana namun sangat taktis untuk ukuran zaman itu:
dua buah tape deck, 
satu power amplifier, 
sebuah mixer kecil, 
dua buah mic, 
sepasang speaker, 
perangkat pemancar FM yang berkedip-kedip, beberapa kursi kayu, 
rak-rak yang penuh sesak oleh ratusan kaset pita. 

Bagi kami, ruangan itu adalah surga dunia.

 
ruang studio nya mirip kyk gini

rak kaset

"Wah, sering-sering main ke sini yach, bikin Ramee," ujar Mas Obeng ramah sambil mengisap rokoknya.

Sejak hari itu, studio EDPLIB resmi jadi tongkrongan tetap kami sepulang sekolah. Kami berkenalan sesama pendengar dari berbagai sekolah, menulis secarik kertas untuk titip salam buat gebetan, atau sekadar me-request lagu.

Bahkan, ada momen di mana saya diberi kesempatan emas: ikut siaran langsung! Gemetar tapi luar biasa bangga. 

Saya sengaja membawa kaset dari rumah. Bukan kaset rock, melainkan kaset lawak Sersan Prambors. 
Saat on air, mic menyala, saya putar lagu-lagu jenaka seperti *Cipika Cipikong*, *Gadis Bisu*, hingga *Bebi Kambek*.
"Gila lu, Yok! Malah muter lagu ginian!" bisik Aton di dalam studio sambil menahan tawa agar tidak bocor ke mic.


Lagu-lagu konyol itu sukses besar membuat pendengar tersenyum simpul dan membuat seisi studio ngakak jungkir balik.

Tapi dasarnya kru EDPLIB itu asik dan jahil, keisengan saya dibalas di hari lain. 

Suatu sore saya me-request lagu "Runaway" Bon Jovi yang gahar. 
Begitu lagunya diputar, yang keluar dari speaker malah lagu: *"Cipikaaa... cipikoooong..."*


Senyapnya Udara dan Kenangan Berwarna Biru

Hampir setahun EDPLIB menjadi detak jantung hiburan anak muda Cilegon. Kehadiran mereka membuat kota kecil ini terasa lebih hidup dan modern. Namun, sebuah hukum tak tertulis di dunia penyiaran bersiap menghampiri kami.

Suatu hari sepulang sekolah, saya duduk di depan Tape compo andalan:  Toshiba Boombeat. 
Tangan saya memutar knob ke kanan dan ke kiri, mencari koordinat frekuensi EDPLIB yang biasa.
Putar ke kiriiii,  putar ke kanan, Sreeek... sreeek...*
Hanya ada suara angin kosong. 
Kosong melompong....
Tidak ada siaran radio...

"Lhoo? Kok gak ada? Wah... ada yang gak beres nih," firasat saya mulai tidak enak.



Besoknya di sekolah, kabar burung berembus kencang:

EDPLIB DIGEREBEK POLISI!

Sontak kami terkejut. 
Sepulang sekolah, kami langsung memacu sepeda menuju stasiun radio kesayangan. 

Begitu sampai, dada kami rasanya amblas. 
Rumah itu sudah sepi, di halaman hanya ada satu motor, sendal jepit,  dan pintu yang terbuka, memperlihatkan ruangan yang sudah melompong. 

Mixer, tape deck, kaset, pemancar, kabel-kabel, hingga antena tinggi yang biasa gagah berdiri, semuanya lenyap!

Kami hanya bertemu salah satu kru radio: Mas Budi, ciri khasnya tidak berubah, masih memakai jaket longgar yang dijahit dari kain sarung kotak-kotak warna hijau dan motor Honda GL 100. Wajahnya nampak lesu.

"Tiba-tiba kemarin polisi datang," ceritanya dengan suara pelan, matanya menatap ruang studio yang kosong. 
"Semua alat disita. Teman-teman yang kemarin titip kaset di studio juga cuma bisa pasrah, semua dibawa polisi."

Kami semua terdiam, diselimuti rasa kehilangan yang mendalam. 
Kami tahu, sejak awal radio ini memang radio ilegal alias radio gelap. cuman gak nyangka aja kok akhirnya seperti ini ๐Ÿ˜ž

EDPLib sendiri merupakan kepanjangan dari Electronic Data Processing Librarian PT Krakatau Steel. Awalnya, ini hanyalah proyek iseng-iseng kreatif para karyawan muda di bagian IT tersebut untuk mengisi waktu luang. Siapa sangka, keisengan itu justru menjelma menjadi oase bagi dahaga hiburan anak-anak Cilegon.

Kisah Radio EDPLib resmi berakhir di hari itu. Udara Cilegon kembali ke desis kemeresek gelombang AM yang membosankan.

Beberapa minggu setelah kejadian itu, saya sedang mengayuh sepeda di sekitar Jalan Kotasari. Dari arah depan, sebuah becak melintas. Di atasnya, duduk seorang pria yang sangat saya kenal.

"Yok! Sini, Yok!" panggilnya melambaikan tangan.

"wah! Mas Obeng!"

Becak itu berhenti sejenak. Mas Obeng tersenyum, lalu merogoh tas dan menyerahkan selembar sticker berukuran 10 x 20 cm berwarna biru dengan font EDPLIB warna putih ke tangan saya.

"Buat kenang-kenangan. Jangan lupain EDPLib, ya," katanya ramah.

Itu adalah sebuah stiker resmi Radio EDPLIB. Sederhana, namun nilainya luar biasa bagi saya. 


Bertahun-tahun stiker itu menempel erat di meja belajar saya, menjadi saksi bisu masa remaja yang penuh cerita.

Sayangnya, stiker bersejarah itu hilang entah ke mana saat keluarga kami pindah rumah beberapa tahun kemudian.

Stikernya mungkin sudah hilang, studionya sudah kosong melompong dimakan waktu, dan perangkatnya mungkin sudah jadi rongsokan.

Namun, satu hal yang tidak akan pernah bisa disita polisi adalah kenangan hangat yang pernah mereka pancarkan ke atmosfer Cilegon.

Terima kasih, Mas Obeng, Mas Agung, Mas Budi, Mas Iwan, dan seluruh kru EDPLIB. 
Kalian telah mengajari kami arti kreativitas, persahabatan, dan memberi warna indah di masa remaja kami. 
Di mana pun kalian berada saat ini, semoga kehidupan kalian selalu bahagia, sehat, dan senantiasa diberkahi Allah SWT. 

....EDPLib....Sign off....

 

#radio

#edplib

#cilegon

#electronicdataprocessinglibrarian

#krakatau steel





Rabu, 16 Agustus 2023

Kisah masa kecil (cilegon)

Saya dilahirkan hari rabu di klinik bersalin dekat penjara cipinang.

Ya karena dulu Bapak dan ibu sempat menumpang di Jalan Taman Cipinang. Rumah Pakdhe dan Budhe.

Bapak yang kerja di KS cilegon sejak 1974 membawa ibu ke cipinang entah naik bus atau kendaraan lain saya tidak ingat. Supaya ibu bisa melahirkan di jakarta. Zaman itu fasilitas kesehatan cilegon sangat minim,  belum sebagus sekarang.

Bahkan jalan dan daerah cilegon masa itu masih banyak hutan dan lahan kosong, angker pula. Memang banyak kuburan keramat dan tempat bersejarah perjuangan pahlawan banten melawan penjajah. Beberapa kuburan tua sampai sekarang masih dirawat dan kerap dikunjungi peziarah dari berbagai kota.

Kata Bapak dulu abis maghrib udah gak pernah keluar rumah, selain memang tidak ada apa2, ya takut rampok begal dijalan.

Tahun 74, Di cilegon Pabrik2 KS pun baru mulai dibangun. Saya tahu, karena Saya pernah menemukan surat penunjukan bapak sebagai tim survey lapangan untuk pembangunan PLTU KS. Tentunya infrastruktur listrik pasti dibangun lebih dulu sebelum pabrik2 berdiri ya kan ?



PLTU 400MW dengan 4 cerobong asap nya menjulang menjadi kebanggaan dimasa itu.

Bapak saya selalu bangga bersama rekan2 kerjanya seperjuangan yg turut bekerja keras membangun PLTU itu. Bahkan pertemanan dengan rekan kerja terus akrab terjalin sampai masa setelah pensiun.



Jumat, 04 Agustus 2023

Kisah Naik Angkutan Umum

 KIRI PIR! / STOP BANG / MINGGIR / DEPAN..!

Unik!  4 kata tersebut seperti sebuah kata istilah dalam angkutan perkotaan (bis/angkot). Supir bakal paham jika empat kata di atas terdengar, supir bakal berhenti untuk menurunkan penumpang. Elu pasti pernah dengar atau elu sendiri yg ngomong gitu kalo mau turun dari angkot. Hahaha

Tapi kadang ada aja orang yang gak mau buang-buang waktu ngeluarin suaranya yang merdu, dan hanya terdengar "tok-tok-tok", maka supir pun berhenti. Ternyata si penumpang memukul pelan bagian atap angkot.

TAHAN,TAHAN,TAHAN..

Ini kita dengar lebih sering di bis yang ada kernetnya. Sang kernet pengendali otak supir , kernet sepanjang jalan terus gelantungan di pintu bis sambil sesekali masuk ke badan bis untuk menagih ongkos.

Nah, kalo ada yg mau naek apalagi ibu2, si kernet akan mengeluarkan "mantra" dan memukul berkali-kali badan bis lalu teriak "TAHAN, TAHAN, TAHAN.." sekejap pun si supir langsung berhenti sambil sesekali main gas, bruumm bruummm bruumm , sok sokan buru2 jalan, padahal kan dia juga butuh penumpang , tapi si supir terus "MENAHAN" kakinya supaya gak nginjek gas, hahaha ada2 aja ya.


KIRI DULU, KIRI DULU..

Nah untuk turun dari bus harus  kaki kiri dulu. Dan kata-kata ini khusus kita dengar pada bis kota/antar kota yang terburu-buru, alias gak bisa berhenti sejenak agar penumpang turun dengan leluasa, karena jika bis berjalan pelan dan si penumpang turun dengan kaki kanan duluan, so pasti si penumpang terguling ke jalan. Gak percaya? Coba dah tes sekali-sekali. hahahaha

Kamis, 06 Juli 2023

Kisah Kaca Spion, Andi Noya

 Kaca Spion



Sejak bekerja saya tidak pernah lagi berkunjung ke Perpustakaan Soemantri Brodjonegoro di Jalan Rasuna Said, Jakarta .

Tapi, suatu hari ada kerinduan dan dorongan yang luar biasa untuk ke sana .

Bukan untuk baca buku, melainkan makan gado-gado di luar pagar perpustakaan.
Gado-gado yang dulu selalu membuat saya ngiler.

Namun baru dua tiga suap, saya merasa gado-gado yang masuk ke mulut jauh dari bayangan masa lalu.

Bumbu kacang yang dulu ingin saya jilat sampai piringnya mengkilap, kini rasanya amburadul.

Padahal ini gado-gado yang saya makan dulu. Kain penutup hitamnya sama.

Penjualnya juga masih sama. Tapi mengapa rasanya jauh berbeda?
Malamnya, soal gado-gado itu saya ceritakan kepada istri.

Bukan soal rasanya yang mengecewakan, tetapi ada hal lain yang membuat saya gundah.

Sewaktu kuliah, hampir setiap siang, sebelum ke kampus saya selalu mampir ke perpustakaan Soemantri Brodjonegoro.

Ini tempat favorit saya.

Selain karena harus menyalin bahan-bahan pelajaran dari buku-buku wajib yang tidak mampu saya beli, berada di antara ratusan buku membuat saya merasa begitu bahagia.

Biasanya satu sampai dua jam saya di sana .

Jika masih ada waktu, saya melahap buku-buku yang saya minati.

Bau harum buku, terutama buku baru, sungguh membuat pikiran terang dan hati riang.
Sebelum meninggalkan perpustakaan, biasanya saya singgah di gerobak gado-gado di sudut jalan, di luar pagar.

Kain penutupnya khas, warna hitam. Menurut saya, waktu itu, inilah gado-gado paling enak seantero
Jakarta . Harganya Rp 500 sepiring sudah termasuk lontong.

Makan sepiring tidak akan pernah puas. Kalau ada uang lebih, saya pasti nambah satu piring lagi.

Tahun berganti tahun. Drop out dari kuliah, saya bekerja di Majalah TEMPO sebagai reporter buku Apa dan Siapa Orang Indonesia .

Kemudian pindah menjadi reporter di Harian Bisnis Indonesia.

Setelah itu menjadi redaktur di Majalah MATRA.

Karir saya terus meningkat hingga menjadi pemimpin redaksi di Harian Media Indonesia dan Metro TV.
Sampai suatu hari, kerinduan itu datang.

Saya rindu makan gado-gado di sudut jalan itu.

Tetapi ketika rasa gado-gado berubah drastis, saya menjadi gundah.

Kegundahan yang aneh. Kepada istri saya utarakan kegundahan tersebut.

Saya risau saya sudah berubah dan tidak lagi menjadi diri saya sendiri.

Padahal sejak kecil saya berjanji jika suatu hari kelak saya punya penghasilan yang cukup, punya mobil sendiri, dan
punya rumah sendiri, saya tidak ingin berubah.

Saya tidak ingin menjadi sombong karenanya.
Hal itu berkaitan dengan pengalaman masa kecil saya di Surabaya .

Sejak kecil saya benci orang kaya. Ada kejadian yang sangat membekas dan menjadi trauma masa kecil saya.

Waktu itu umur saya sembilan tahun.

Saya bersama seorang teman berboncengan sepeda hendak bermain bola.

Sepeda milik teman yang saya kemudikan menyerempet sebuah mobil. Kaca spion mobil itu patah.
Begitu takutnya, bak kesetanan saya berlari pulang.

Jarak 10 kilometer saya tempuh tanpa berhenti.

Hampir pingsan rasanya. Sesampai di rumah saya langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur.

Upaya yang sebenarnya sia-sia. Sebab waktu itu kami hanya tinggal di sebuah garasi mobil, di Jalan Prapanca.

Garasi mobil itu oleh pemiliknya disulap menjadi kamar untuk disewakan kepada kami. D

engan ukuran kamar yang cuma enam kali empat meter, tidak akan sulit menemukan saya. Apalagi tempat tidur di mana saya bersembunyi adalah satu-satunya tempat tidur di ruangan itu.

Tak lama kemudian, saya mendengar keributan di luar.
Rupanya sang pemilik mobil datang.

Dengan suara keras dia marah-marah dan mengancam ibu saya.

Intinya dia meminta ganti rugi atas kerusakan mobilnya.
Pria itu, yang cuma saya kenali dari suaranya yang keras dan tidak bersahabat, akhirnya pergi setelah ibu berjanji akan mengganti kaca spion mobilnya.

Saya ingat harga kaca spion itu Rp 2.000. Tapi uang senilai itu, pada tahun 1970, sangat besar.

Terutama bagi ibu yang mengandalkan penghasilan dari menjahit baju.

Sebagai gambaran, ongkos menjahit baju waktu itu Rp 1.000 per potong. Satu baju memakan waktu dua minggu.

Dalam sebulan, order jahitan tidak menentu. Kadang sebulan ada tiga, tapi lebih sering cuma satu. D

engan penghasilan dari menjahit itulah kami - ibu, dua kakak, dan saya - harus bisa bertahan hidup sebulan.
Setiap bulan ibu harus mengangsur ganti rugi kaca spion tersebut.

Setiap akhir bulan sang pemilik mobil, atau utusannya, datang untuk mengambil uang.

Begitu berbulan-bulan. Saya lupa berapa lama ibu harus menyisihkan uang untuk itu.

Tetapi rasanya tidak ada habis-habisnya. Setiap akhir bulan, saat orang itu datang untuk mengambil uang, saya selalu ketakutan.

Di mata saya dia begitu jahat. Bukankah dia kaya? Apalah artinya kaca spion mobil baginya?

Tidakah dia berbelas kasihan melihat kondisi ibu dan kami yang hanya menumpang di sebuah garasi?

Saya tidak habis mengerti betapa teganya dia. Apalagi jika melihat wajah ibu juga gelisah menjelang saat-saat pembayaran tiba.

Saya benci pemilik mobil itu. Saya benci orang-orang yang naik mobil mahal.

Saya benci orang kaya.
Untuk menyalurkan kebencian itu, sering saya mengempeskan ban mobil-mobil mewah.

Bahkan anak-anak orang kaya menjadi sasaran saya.
Jika musim layangan, saya main ke kompleks perumahan orang-orang kaya.
Saya menawarkan jasa menjadi tukang gulung benang gelasan ketika mereka adu layangan.

Pada saat mereka sedang asyik, diam-diam benangnya saya putus dan gulungan benang gelasannya saya bawa lari.

Begitu berkali-kali. Setiap berhasil melakukannya, saya puas. Ada dendam yang terbalaskan.
Sampai remaja perasaan itu masih ada. Saya muak melihat orang-orang kaya di dalam mobil mewah.

Saya merasa semua orang yang naik mobil mahal jahat. Mereka orang-orang yang tidak punya belas kasihan.

Mereka tidak punya hati nurani.
Nah, ketika sudah bekerja dan rindu pada gado-gado yang dulu semasa kuliah begitu lezat,

saya dihadapkan pada kenyataan rasa gado-gado itu tidak enak di lidah.

Saya gundah. Jangan-jangan sayalah yang sudah berubah. Hal yang sangat saya takuti.

Kegundahan itu saya utarakan kepada istri. Dia hanya tertawa. ''Andy Noya, kamu tidak usah merasa bersalah.

Kalau gado-gado langgananmu dulu tidak lagi nikmat, itu karena sekarang kamu sudah pernah merasakan berbagai jenis makanan. D

ulu mungkin kamu hanya bisa makan gado-gado di pinggir jalan.

Sekarang, apalagi sebagai wartawan, kamu punya kesempatan mencoba makanan yang enak-enak.

Citarasamu sudah meningkat,'' ujarnya. Ketika dia melihat saya tetap gundah, istri saya mencoba meyakinkan,

"Kamu berhak untuk itu. Sebab kamu sudah bekerja keras."
Tidak mudah untuk untuk menghilangkan perasaan bersalah itu.

Sama sulitnya dengan meyakinkan diri saya waktu itu bahwa tidak semua orang kaya itu jahat.

Dengan karir yang terus meningkat dan gaji yang saya terima, ada ketakutan saya akan berubah.

Saya takut perasaan saya tidak lagi sensitif. Itulah kegundahan hati saya setelah makan gado-gado yang berubah rasa.

Saya takut bukan rasa gado-gado yang berubah, tetapi sayalah yang berubah. Berubah menjadi sombong.
Ketakutan itu memang sangat kuat. Saya tidak ingin menjadi tidak sensitif.

Saya tidak ingin menjadi seperti pemilik mobil yang kaca spionnya saya tabrak.
Kesadaran semacam itu selalu saya tanamkan dalam hati. Walau dalam
kehidupan sehari-hari sering menghadapi ujian. Salah satunya ketika mobil saya ditabrak sepeda motor dari belakang.

Penumpang dan orang yang dibonceng terjerembab.

Pada siang terik, ketika jalanan macet, ditabrak dari belakang, sungguh ujian yang berat untuk tidak marah.

Rasanya ingin melompat dan mendamprat pemilik motor yang menabrak saya.

Namun, saya terkejut ketika menyadari yang dibonceng adalah seorang ibu tua dengan kebaya lusuh.

Pengemudi motor adalah anaknya. Mereka berdua pucat pasi.
Selain karena terjatuh, tentu karena melihat mobil saya penyok.
Hanya dalam sekian detik bayangan masa kecil saya melintas.

Wajah pucat itu serupa dengan wajah saya ketika menabrak kaca spion.

Wajah yang merefleksikan ketakutan akan akibat yang harus mereka tanggung.

Sang ibu, yang lecet-lecet di lutut dan sikunya, berkali-kali meminta maaf atas keteledoran anaknya.

Dengan mengabaikan lukanya, dia berusaha meluluhkan hati saya. Setidaknya agar saya tidak menuntut ganti rugi.
Sementara sang anak terpaku membisu. Pucat pasi. Hati yang panas segera luluh.

Saya tidak ingin mengulang apa yang pernah terjadi pada saya.
Saya tidak boleh membiarkan benih kebencian lahir siang itu.

Apalah artinya mobil yang penyok berbanding beban yang harus mereka pikul.
Maka saya bersyukur. Bersyukur pernah berada di posisi mereka.

Dengan begitu saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan.

Setidaknya siang itu saya tidak ingin lahir sebuah benih kebencian.

Kebencian seperti yang pernah saya rasakan dulu. 
Kebencian yang lahir dari pengalaman hidup yang pahit................

Senin, 13 Juni 2022

5 Dzikir yang Disukai Allah SWT



1.Laa Ilaaha Illallahu Wahdahu La Syarikalah Lahul Mulku Walahul Hamdu Wa Huwa Alaa Kulli Syaiin Qadir,sebanyak 100X - seratus kali dalam sehari

ู…َู†ْ ู‚ุงู„ ู„ุง ุฅู„ู‡َ ุฅู„َّุง ุงู„ู„ู‡ُ ูˆุญุฏَู‡ُ ู„َุง ุดุฑِูŠูƒَ ู„َู‡ُ، ู„َู‡ُ ุงู„ู…ู„ْูƒُ، ูˆู„َู‡ُ ุงู„ุญู…ْุฏُ، ูˆู‡ُูˆَ ุนَู„َู‰ ูƒُู„ِّ ุดูŠุกٍ ู‚ุฏูŠุฑٌ، ูِูŠ ูŠูˆู…ٍ ู…ุงุฆَุฉَ ู…ุฑุฉٍ، ูƒุงู†ุชْ ู„َู‡ُ ุนِุฏْู„َ ุนุดุฑِ ุฑู‚ุงุจٍ، ูˆูƒُุชِุจَุชْ ู„َู‡ُ ู…ุงุฆَุฉُ ุญุณู†َุฉٍ، ูˆู…ُุญِูŠَุชْ ุนู†ู‡ ู…ุงุฆَุฉُ ุณูŠِّุฆَุฉٍ، ูˆูƒุงู†َุชْ ู„َู‡ُ ุญِุฑْุฒًุง ู…ู†َ ุงู„ุดูŠุทุงู†ِ ูŠَูˆْู…َู‡ُ ุฐَู„ِูƒَ ุญุชู‰ ูŠُู…ْุณِูŠَ، ูˆู„ู… ูŠุฃุชِ ุฃุญุฏٌ ุจุฃูุถู„َ ู…ِู…َّุง ุฌุงุกَ ุจِู‡ِ، ุฅู„َّุง ุฃุญุฏٌ ุนَู…ِู„َ ุนู…ู„ًุง ุฃูƒุซุฑَ ู…ِู†ْ ุฐู„ِูƒَ

Artinya; “Barangsiapa yang mengucapkan, ‘Laa ilaaha ulallah wahdahu la syarikalah lahul mulku walahul hamdu wa huwa alaa kulli syaiin qadir,' sebanyak seratus kali dalam sehari, maka pahala yang ia dapatkan sama saja dengan memerdekakan sepuluh orang budak, serta ditulis untuknya seratus kebaikan dan dihapuskan darinya seratus kejelekan


2. subhanallah wa bihamdihi setiap hari sebanyak 100 kali.

ู…َู† ู‚ุงู„: ุณุจุญุงู†َ ุงู„ู„ู‡ِ ูˆุจِุญَู…ุฏِู‡ِ، ููŠ ูŠَูˆู…ٍ ู…ِุฆุฉَ ู…َุฑَّุฉٍ، ุญُุทَّุชْ ุฎุทุงูŠุงู‡، ูˆุฅู†ْ ูƒุงู†ุชْ ู…ِุซู„َ ุฒَุจَุฏِ ุงู„ุจَุญุฑِ 

Artinya, “Dan, barang siapa yang membaca subhanallah wabihamdihi setiap hari sebanyak 100 kali, maka baginya akan dihapuskan segala dosa walaupun dosanya itu laksana buih di lautan.'' (Muttafaq alaih).


3. laa haula wa laa quwwata illaa billaah.


ุฃู„َุง ุฃุฏُู„ُّูƒَ ุนู„َู‰ ูƒَู„ِู…َุฉٍ ู‡ูŠ ูƒَู†ْุฒٌ ู…ِู† ูƒُู†ُูˆุฒِ ุงู„ุฌَู†َّุฉِ؟ ู„ุง ุญَูˆْู„َ ูˆู„َุง ู‚ُูˆَّุฉَ ุฅู„َّุง ุจุงู„ู„َّู‡ِ  

"Tidakkah kamu mau aku tunjuki salah satu harta simpanan di surga? Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).


4. istighfar

ุฅู†َّู‡ُ ู„ูŠُุบุงู†ُ ุนู„ู‰ ู‚َู„ุจูŠ، ูˆุฅู†ِّูŠ ู„ุฃุณุชุบูِุฑُ ุงู„ู„َّู‡َ ููŠ ูƒู„ِّ ูŠูˆู…ٍ ู…ุงุฆุฉَ ู…َุฑَّุฉٍ 

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya benar-benar terhalang atas hatiku dan sungguh aku benar-benar beristighfar kepada Allah di dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR Muslim).


5, subhanallah walhamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar.

ุฃَู†ْ ุฃَู‚ُูˆู„َ ุณُุจْุญَุงู†َ ุงู„ู„ู‡ِ، ูˆَุงู„ْุญَู…ْุฏُ ู„ِู„َّู‡ِ، ูˆَู„َุง ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„َّุง ุงู„ู„َّู‡ُ، ูˆَุงู„ู„َّู‡ُ ุฃَูƒْุจَุฑُ، ุฃَุญَุจُّ ุฅِู„َูŠَّ ู…ู…َّุง ุทَู„َุนَุชْ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุดَّู…ْุณُ 

Abu Hurairah, berkata, “Rasulullah saw bersabda, 'Sesungguhnya membaca subhanallah walhamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu adalah lebih aku cintai daripada segala sesuatu yang terkena sinar matahari.” (HR. Muslim).

Dzikir yang malaikat bingung mencatat ganjaran pahalanya

Bismillahirrahmanirrahim.

Dalam hadits riwayat Ibnu Majah diceritakan bahwa seseorang membaca kalimat:

ูŠَุง ุฑَุจِّ ู„َูƒَ ุงู„ْุญَู…ْุฏُ ูƒَู…َุง ูŠَู†ْุจَุบِู‰ ู„ِุฌَู„ุงَู„ِ ูˆَุฌْู‡ِูƒَ ูˆَู„ِุนَุธِูŠู…ِ ุณُู„ْุทَุงู†ِูƒَ

"Ya Rabbi lakal hamdu kamaa yanbaghii lijalaali wajhika wa ‘adhiimi sulthaanik".

“Ya Rabbi, bagiMu segala puji sebagaimana seharusnya nya; bagi kemuliaan wajahMu dan keagungan kekuasaanMu

Dua malaikat yang hendak mencatat ganjarannya “kebingungan” tidak tahu bagaimana mencatat ganjaran ucapan tersebut. Maka mereka pun naik ke langit melaporkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

"Wahai Tuhan kami, sesungguhnya hambaMu telah berdzikir dengan kalimat yang kami tidak mengetahui bagaimana harus menulisnya” kata dua malaikat tersebut.

Allah Azza wa Jalla bertanya kepada mereka, padahal Dia telah mengetahui apa yang terjadi. 

Wahai malaikat, apa yang diucapkan hambaku itu?”

Wahai Tuhanku, ia mengucapkan "Ya Rabbi lakal hamdu kamaa yanbaghii lijalaali wajhika wa ‘adhiimi sulthaanik."

Allah Azza wa Jalla pun memberikan keputusan-Nya :

Tulislah sebagaimana yang diucapkan oleh hambaKu itu hingga kelak ia berjumpa denganKu dan Aku sendiri yang akan memberikan ganjaran kepadanya.

Yuk kita Amalkan

Selasa, 10 Mei 2022

Doa Tahlil

1. Pengantar Al Fatihah

ุฅِู„َู‰ ุญَุถْุฑَุฉِ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ุงู„ْู…ُุตْุทَูَู‰ ุณَูŠِّุฏِู†َุง ู…ُุญู…َّุฏٍ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูˆَุงٰู„ِู‡ِ ูˆَุฃَุฒْูˆَุงุฌِู‡ِ ูˆَุฃَูˆْู„َุงุฏِู‡ِ ูˆَุฐُุฑِّูŠَّุงุชِู‡ِ ، ุงู„ْูَู€ู€ุงุชِุญَุฉُ

ุซُู…َّ ุฅِู„َู‰ ุญَุถْุฑَุฉِ ุฅِุฎْูˆَุงู†ِู‡ِ ู…ِู†َ ุงู„ْุฃَู†ْุจِูŠَุงุกِ ูˆَุงู„ْู…ُุฑْุณَู„ِูŠْู†َ ูˆَุงู„ْุฃَูˆْู„ِูŠَุงุกِ ูˆَุงู„ุดُّู‡َุฏَุงุกِ ูˆَุงู„ุตَّุงู„ِุญِูŠْู†َ ูˆَุงู„ุตَّุญَุงุจَุฉِ ูˆَุงู„ุชَّุงุจِุนِูŠْู†َ ูˆَุงู„ْุนُู„َู…َุงุกِ ุงู„ْุนَุงู…ِู„ِูŠْู†َ ูˆَุงู„ْู…ُุตَู†ِّูِูŠْู†َ ุงู„ْู…ُุฎْู„ِุตِูŠْู†َ ูˆَุฌَู…ِูŠْุนِ ุงู„ْู…َู„َุงุฆِูƒَุฉِ ุงู„ْู…ُู‚َุฑَّุจِูŠْู†َ، ุฎُุตُูˆْุตًุง ุฅِู„َู‰ ุณَูŠِّุฏِู†َุง ุงู„ุดَّูŠْุฎِ ุนَุจْุฏِ ุงู„ْู‚َุงุฏِุฑِ ุงู„ْุฌِูŠْู„َุงู†ِูŠ ، ุงู„ْูَู€ู€ุงุชِุญَุฉُ

ุซُู…َّ ุฅِู„َู‰ ุฌَู…ِูŠْุนِ ุฃَู‡ْู„ِ ุงู„ْู‚ُุจُูˆْุฑِ ู…ِู†َ ุงู„ْู…ُุณْู„ِู…ِูŠْู†َ ูˆَุงู„ْู…ُุณْู„ِู…َุงุชِ ูˆَุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ِูŠْู†َ ูˆَุงู„ْู…ُุคْู…ِู†َุงุชِ ู…ِู†ْ ู…َุดَุงุฑِู‚ِ ุงู„ْุฃَุฑْุถِ ุฅِู„َู‰ ู…َุบَุงุฑِุจِู‡َุง ุจَุฑِّู‡َุง ูˆَุจَุญْุฑِู‡َุง ุฎُุตُูˆْุตًุง ุฅِู„َู‰ ุงٰุจَุงุฆِู†َุง ูˆَุฃُู…َّู‡َุงุชِู†َุง ูˆَุฃَุฌْุฏَุงุฏِู†َุง ูˆَุฌَุฏَّุงุชِู†َุง ูˆَู…َุดَุงูŠِุฎِู†َุง ูˆَู…َุดَุงูŠِุฎِ ู…َุดَุงูŠِุฎِู†َุง ูˆَุฃَุณَุงุชِุฐَุฉِ ุฃَุณَุงุชِุฐَุชِู†َุง ูˆَู„ِู…َู†ْ ุฃَุญْุณَู†َ ุฅِู„َูŠْู†َุง ูˆَู„ِู…َู†ِ ุงุฌْุชَู…َุนْู†َุง ู‡ٰู‡ُู†َุง ุจِุณَุจَุจِู‡ِ ، ุงู„ْูَุงุชِุญَุฉُ

ุซُู…َّ ุฅِู„َู‰ ุฌَู…ِูŠْุนِ ุฃู‡ْู„ِ ุงู„ْู‚ُุจُูˆْุฑِ ู…ِู…َّู†ْ ุฐُูƒِุฑَุชْ ุฃَุณْู…َุงุคُู‡ُ ูِูŠْ ู‡ٰุฐِู‡ِ ุงู„ุฑِّุณَุงู„َุฉِ ุญَุถْุฑَุฉِ ุฑُูˆْุญِ … ูˆَุญَุถْุฑَุฉِ ุฑُูˆْุญِ … ูˆَุญَุถْุฑَุฉِ ุฑُูˆْุญِ … ุฑَุญِู…َู‡ُู…ُ ุงู„ู„ู‡ُ ูˆَุบَูَุฑَู‡ُู…ْ، ุงู„ْูَุงุชِุญَุฉُ

Ila hadlratin-nabiyyil-musthafรข sayyidinรข Muhammadin shallallahu ‘alaihi wa sallama wa รขlihi wa azwรขjihi wa awlรขdihi wa dzurriyyรขtihi al-fรขtihah


Tsumma ilรข hadlrati ikhwรขnihi minal-anbiya’i wal-mursalรฎn wal-auliya’i wasy-syuhadรข’i wash-shรขlihรฎn wash-shaแธซรขbati wat tรขbi‘รฎn wal-‘ulamรข’il-‘รขmilรฎn wal-mushannifรฎnal-mukhlishรฎn wa jamรฎ‘il-malรขikatil-muqarrabรฎn, khusรปshan ilรข sayyidinรขsy-syaikh ‘abdil qรขdir al-jรฎlรขnรฎ, al-fรขtihah


Tsumma ilรข jamรฎ‘i ahlil-qubรปri minal-muslimรฎna wal-muslimรขti wal-mu’minรฎna wal-mu’minรขti min masyรขriqil-ardli ilรข maghรขribihรข barrihรข wa bahrihรข khushushan ilรข abรข’inรข wa ummahรขtinรข wa ajdรขdinรข wa jaddรขtina wa masyรขkhinรข wa masyรขyikhi masyรขyikhinรข wa asรขtidzati asรขtidzatinรข wa liman aแธซsana ilainรข wa liman ijtama‘nรข hรขhunรข bisababihi, al-fรขtihah


Tsumma ilรข jamรฎ‘i ahlil-qubรปri mimman dzukirot asmรข’uhu fi hรขdzihir risรขlati, hadlrati rรปhi…, wa hadlrati rรปhi…, wa hadlrati rรปhi…, rohimahumullรขhu wa ghafarahum, al-fรขtihah


Artinya: "Kepada yang terhormat Nabi Muhammad SAW, segenap keluarga, istri-istrinya, anak-anaknya, dan keturunannya. Bacaan Al-Fatihah ini kami tujukan kepada Allah dan pahalanya untuk mereka semua. Al-Fatihah…

Lalu kepada segenap saudara beliau dari kalangan pada nabi, rasul, wali, syuhada, orang-orang saleh, sahabat, tabi‘in, ulama al-amilin (yang mengamalkan ilmunya), ulama penulis yang ikhlas, semua malaikat Muqarrabin, terkhusus kepada Syekh Abdul Qadir al-Jilani, Al-Fatihah.

Kemudian kepada semua ahli kubur Muslimin, Muslimat, Mukminin, Mukminat dari Timur ke Barat, baik di laut dan di darat, khususnya bapak kami, ibu kami, kakek kami, nenek kami, guru kami, pengajar dari guru kami, mereka yang telah berbuat baik kepada kami, dan bagi ahli kubur/arwah yang menjadi sebab kami berkumpul di sini. Bacaan Al-Fatihah ini kami tujukan kepada Allah dan pahalanya untuk mereka semua. Al-Fatihah.

Kemudian kepada semua ahli kubur, yang namanya disebutkan dalam risalah ini. Kepada…, dan kepada…, dan kepada …. Semoga Allah merahmati dan mengampuni mereka. Bacaan Al-Fatihah ini kami tujukan kepada Allah dan pahalanya untuk mereka semua. Al-Fatihah."



Baca yasin


lanjutkan

(1) Baca Surat Al Ikhlas 3 kali

ุจِุณْู…ِ ุงู„ู„ู‡ِ ุงู„ุฑَّุญْู…َู†ِ ุงู„ุฑَّุญِูŠْู…ِ. ู‚ُู„ْ ู‡ُูˆَ ุงู„ู„ู‡ُ ุงَุญَุฏٌ. ุงَู„ู„ู‡ُ ุงู„ุตَّู…َุฏُ. ู„َู…ْ ูŠَู„ِุฏْ ูˆَู„َู…ْ ูŠُูˆْู„َุฏْ. ูˆَู„َู…ْ ูŠَูƒٌู†ْ ู„َู‡ُ ูƒُูُูˆًุง ุงَุญَุฏٌ

Bismillaahirrohmaanirrohiim. Qul huwallahu ahad, allahu somad, lam yalid wa lam ylad, wa lam yakul lah kufuwan ahad (3X)

Artinya, “Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Katakanlah, ‘Dialah yang maha esa. Allah adalah tuhan tempat bergantung oleh segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya."

(2) Tahlil dan Takbir

ู„ุงَ ุงِู„َู‡َ ุงِู„ุงَّ ุงู„ู„ู‡ُ ูˆَุงู„ู„ู‡ُ ุงَูƒْุจَุฑُ

Laa ilaaha illallahu, Allahu Akbar

Artinya, “Tiada tuhan yang layak disembah kecuali Allah. Allah maha besar.”

(3) Surat Al Falaq

ุจِุณْู…ِ ุงู„ู„ู‡ِ ุงู„ุฑَّุญْู…َู†ِ ุงู„ุฑَّุญِูŠْู…ِ. ู‚ُู„ْ ุงَุนُูˆْุฐُ ุจِุฑَุจِّ ุงู„ْูَู„َู‚ِ. ู…ِู†ْ ุดَุฑِّ ู…َุง ุฎَู„َู‚َ. ูˆَู…ِู†ْ ุดَุฑِّ ุบَุงุณِู‚ٍ ุงِุฐَุง ูˆَู‚َุจَ. ูˆَู…ِู†ْ ุดَุฑِّ ุงู„ู†َّูَุงุซุงุชِ ูِู‰ ุงู„ْุนُู‚َุฏِ. ูˆَู…ِู†ْ ุดَุฑِّ ุญَุงุณِุฏٍ ุงِุฐَุง ุญَุณَุฏَ

Bismillaahirrohmaanirrohiim. Qul a’uudzu birabbil falaq. Minsyarri maa khalaq. Waminsyarri ghaashiqin idzaa waqob. Waminsyarrinnaffaa saatifil uqad. Waminsyarril haasidzin idaa hasad.

Artinya, “Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada tuhan yang menguasai waktu subuh dari kejahatan makhluk-Nya. Dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang mengembus nafasnya pada buhul-buhul. Dan dari kejahatan orang-orang yang dengki apabila ia mendengki."

(4) Tahlil dan Takbir


ู„ุงَ ุงِู„َู‡َ ุงِู„ุงَّ ุงู„ู„ู‡ُ ูˆَุงู„ู„ู‡ُ ุงَูƒْุจَุฑُ

Laa ilaaha illallahu, Allahu Akbar

Artinya, “Tiada tuhan yang layak disembah kecuali Allah. Allah maha besar.”


(5) Surat An Nas

ุจِุณْู…ِ ุงู„ู„ู‡ِ ุงู„ุฑَّุญْู…َู†ِ ุงู„ุฑَّุญِูŠْู…ِ. ู‚ُู„ْ ุงَุนُูˆุฐُ ุจِุฑَุจِّ ุงู„ู†َّุงุณِ. ู…َู„ِูƒِ ุงู„ู†َّุงุณِ. ุงِู„َู‡ِ ุงู„ู†َّุงุณِ. ู…ِู†ْ ุดَุฑِّ ุงู„ْูˆَุณْูˆَุงุณِ ุงู„ْุฎَู†َّุงุณِ. ุงู„َّุฐِู‰ ูŠُูˆَุณْูˆِุณُ ูِู‰ ุตُุฏُูˆْุฑِ ุงู„ู†َّุงุณِ. ู…ِู†َ ุงู„ْุฌِู†َّุฉِ ูˆَุงู„ู†َّุงุณِ

Bismillaahirrohmaanirrohiim. Qul a'uudzu birabbinnaas. Malikinnaas. Ilahinnaas. Minsyarril was waasil khannaas. Alladzii yuwas wasufii shudhuurinnaas. Minaal jinnati wannaas.

Artinya, “Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada tuhan manusia, raja manusia. Sesembahan manusia, dari kejahatan bisikan setan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia. Dari setan dan manusia.’”


(6) Tahlil dan Takbir

ู„ุงَ ุงِู„َู‡َ ุงِู„ุงَّ ุงู„ู„ู‡ُ ูˆَุงู„ู„ู‡ُ ุงَูƒْุจَุฑُ

Laa ilaaha illallahu, Allahu Akbar

Artinya, “Tiada tuhan yang layak disembah kecuali Allah. Allah maha besar.”


(7) Surat Al Baqarah 1 - 5

ุงู„ู…ّ. ุฐَู„ِูƒَ ุงู„ูƒِุชุงุจُ ู„ุงَุฑَูŠْุจَ ูِูŠْู‡ِ ู‡ُุฏَู‰ ู„ِู„ْู…ُุชَّู‚ِูŠْู†َ. ุงู„َّุฐِูŠْู†َ ูŠُุคْู…ِู†ُูˆู†َ ุจِุงู„ْุบَูŠْุจِ ูˆَูŠُู‚ِูŠْู…ُูˆู†َ ุงู„ุตَّู„َุงุฉَ ูˆَู…ِู…َّุง ุฑَุฒَู‚ْู†َุงู‡ُู…ْ ูŠُู†ْูِู‚ُูˆู†َ. ูˆَุงู„َّุฐِูŠْู†َ ูŠُุคْู…ِู†ُูˆู†َ ุจِู…َุง ุงُู†ْุฒِู„َ ุงِู„َูŠْูƒَ ูˆَู…َุง ุงُู†ْุฒِู„َ ู…ِู† ู‚َุจْู„ِูƒَ ูˆَุจِุงู„ْุงَุฎِุฑَุฉِ ู‡ُู…ْ ูŠُูˆู‚ِู†ُูˆู†َ. ุงُูˆู„َุฆِูƒَ ุนَู„َู‰ ู‡ُุฏًู‰ ู…ِّู† ุฑَّุจِّู‡ِู…ْ، ูˆَุงُูˆู„َุฆِูƒَ ู‡ُู…ُ ุงู„ْู…ُูْู„ِุญُูˆู†َ

Alif laammiim. Dzaalikal kitaabu laaroiba fiihi hudan lil muttaqiin. Alladziina yu'minuuna bilghoibi wayuqiimuunash sholaata wa mimmaa rozaknaa hum yunfiquuna. Walladziina yu'minuuna bimaa unzila ilaika wamaa unzila minqoblika wabil aakhiroti hum yuuqinuun. Ulaa'ika 'alaahudan mirrobbihim wa ulaaika humul muflihuun.

Artinya, “Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Alif lam mim. Demikian itu kitab ini tidak ada keraguan padanya. Sebagai petunjuk bagi mereka yang bertakwa. Yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada kitab Al-Qur’an yang telah diturunkan kepadamu (Muhammad SAW) dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya, serta mereka yakin akan adanya kehidupan akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari tuhannya. Merekalah orang orang yang beruntung.”


(8) Surat Al Baqarah ayat 163

ูˆَุงِู„َู‡ُูƒُู…ْ ุงِู„َู‡ٌ ูˆَّุงุญِุฏٌ ู„ุงَ ุงِู„َู‡َ ุงِู„ุงَّ ู‡ُูˆَ ุงู„ุฑَّุญْู…َู†ُ ุงู„ุฑَّุญِูŠู…ُ

Wa ilaahukum ilaahuw waahid, laa ilaaha illaa huwar-rahmaanur-rahiim

Artinya, “Dan Tuhan kalian adalah Tuhan yang maha esa. Tiada tuhan yang layak disembah kecuali Dia yang maha pengasih lagi maha penyayang.”


(9) Ayat Kursi - Surat Al Baqarah ayat 255

ุงู„ู„ู‡ُ ู„ุงَ ุงِู„َู‡َ ุงِู„ุงَّ ู‡ُูˆَ ุงู„ْุญَู‰ُّ ุงู„ْู‚َูŠُّูˆู…ُ، ู„ุงَ ุชَุงْ ุฎُุฐُู‡ُ ุณِู†َุฉٌ ูˆَู„ุงَ ู†َูˆْู…ٌ، ู„َّู‡ُ ู…َุง ูِู‰ ุงู„ุณَّู…َูˆَุงุชِ ูˆَู…َุง ูِู‰ ุงู„ْุงَุฑْุถِ، ู…َู†ْ ุฐَุง ุงู„َّุฐِู‰ ูŠَุดْูَุนُ ุนِู†ْุฏَู‡ُ ุงِู„ุงَّ ุจِุงِุฐْู†ِู‡ِ، ูŠَุนْู„َู…ُ ู…َุง ุจَูŠู†َ ุงَูŠْุฏِูŠْู‡ِู…ِ ูˆَู…َุง ุฎَู„ْูَู‡ُู…ْ، ูˆَู„ุงَ ูŠُุญْูŠِุทُูˆู†َ ุจِุดَูŠْุกٍ ู…ِّู†ْ ุนِู„ْู…ِู‡ِ ุงِู„ุงَّ ุจِู…َุง ุดَุงุกَ، ูˆَุณِุนَ ูƒُุฑْุณِูŠُّู‡ُ ุงู„ุณَّู…َูˆَุงุชِ ูˆَุงู„ْุงَุฑْุถَ، ูˆَู„ุงَ ูŠَุฆُูˆุฏُู‡ُ ุญِูْุธُู‡ُู…ُุง، ูˆَู‡ُูˆَ ุงู„ْุนَู„ِู‰ُّ ุงู„ْุนَุธِูŠْู…ُ

Allaahu laa ilaaha illaa huw, al-hayyul-qayyum, laa ta'khuzuhu sinatuw wa laa na'um, lahu maa fis-samaawaati wa maa fil-ar, man zallazii yasyfa'u 'indahuu illaa bi'idznih, ya'lamu maa baina aidiihim wa maa khalfahum, wa laa yuhiituna bisyai'im min 'ilmihii illaa bimaa syaa', wasi'a kursiyyuhus-samaawaati wal-ard, wa la ya'uduhu hifduhumaa, wa huwal-'aliyyul-'aziim

Artinya, “Allah, tiada yang layak disembah kecuali Dia yang hidup kekal lagi berdiri sendiri. Tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberikan syafa’at di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu dari ilmu-Nya kecuali apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat menjaga keduanya. Dia maha tinggi lagi maha agung.”


(10) Istighfar

Dibaca 3 kali

ุงَุณْุชَุบْูِุฑُุงู„ู„ู‡َ ุงู„ْุนَุธِูŠْู…َ
Astaghfirullahal 'adziim

Artinya, “Saya mohon ampun kepada Allah yang maha agung.” (3 kali). (Allah) yang tiada tuhan selain Dia yang maha hidup, lagi terjaga. Aku bertobat kepada-Nya.”


(11) Hadits keutamaan Tahlil

ุงَูْุถَู„ُ ุงู„ุฐِّูƒْุฑِ ูَุงุนْู„َู…ْ ุงَู†َّู‡ُ ู„َุงุงِู„َู‡َ ุงِู„َّุง ุงู„ู„ู‡ُ، ุญَูŠٌّ ู…َูˆْุฌُูˆْุฏٌ
Afdhaludzikri fa'lam annahu laa ilaaha illallah, hayyu maujuud

Artinya: “Sebaik-baik zikir–ketahuilah–adalah lafal ‘La ilฤha illallฤh’, tiada tuhan selain Allah, zat yang hidup dan ujud.”

ู„َุงุงِู„َู‡َ ุงِู„َّุง ุงู„ู„ู‡ُ، ุญَูŠٌّ ู…َุนْุจُูˆْุฏٌ
Laa ilaaha illallah, hayyu ma'buud

"Tiada tuhan selain Allah, zat yang hidup dan disembah.”

ู„َุงุงِู„َู‡َ ุงِู„َّุง ุงู„ู„ู‡ُ، ุญَู‰ٌّ ุจَุงู‚ٍ ุงู„َّุฐِูŠْ ู„َุง ูŠَู…ُูˆْุชُ
Laa ilaaha illallah, hayyu baaq alladzuu lla yamuutu

Artinya: “Tiada tuhan selain Allah, zat kekal yang takkan mati.”


(12) Tahlil 33 kali

ู„َุงุงِู„َู‡َ ุงِู„َّุง ุงู„ู„ู‡ُ

Laa ilaaha illallah

“Tiada tuhan selain Allah.”


(13) Membaca dua kalimat syahadat

ู„َุง ุงِู„َู‡َ ุงِู„َّุง ุงู„ู„ู‡ُ ู…ُุญَู…َّุฏٌ ุฑَّุณُูˆْู„ُ ุงู„ู„ู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ

Laa ilaha Illallah muhammadurrasulullah shallallahu 'alaihi wasallam

Artinya: “Tiada tuhan selain Allah. Nabi Muhammad SAW utusan-Nya.”


(14) Shalawat nabi

ุงَู„َّู„ู‡ُู…َّ ุตَู„ِّ ุนَู„َู‰ ุณَูŠِّุฏِู†َุง ู…ُุญَู…َّุฏٍ، ุงَู„َّู„ู‡ُู…َّ ุตَู„ِّ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„ِّู…ْ

Artinya, “Ya Allah, limpahkan shalawat untuk Sayyidina Nabi Muhammad SAW. Ya Allah, limpahkan shalawat dan salam untuknya (Nabi Muhammad SAW). (2 kali)”

  ุงَู„َّู„ู‡ُู…َّ ุตَู„ِّ ุนَู„َู‰ ุณَูŠِّุฏِู†َุง ู…ُุญَู…َّุฏٍ، ูŠَุง ุฑَุจِّ ุตَู„ِّ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„ِّู…ْ  

Artinya, “Ya Allah, limpahkan shalawat untuknya (Nabi Muhammad SAW). Tuhanku, limpahkan shalawat dan salam untuknya (Nabi Muhammad SAW).”


(15) Tasbih

ุณُุจْุญَุงู†َ ุงู„ู„ู‡ِ ูˆَุจِุญَู…ْุฏِู‡ِ، ุณُุจْุญَุงู†َ ุงู„ู„ู‡ِ ูˆَุจِุญَู…ْุฏِู‡ِ.* 10  ุณُุจْุญَุงู†َ ุงู„ู„ู‡ِ ูˆَุจِุญَู…ْุฏِู‡ِ، ุณُุจْุญَุงู†َ ุงู„ู„ู‡ِ ุงู„ْุนَุธِูŠْู…ِ ูˆَุจِุญَู…ْุฏِู‡ِ  

Artinya, “Maha suci Allah dan dengan memuji-Nya. Maha suci Allah dan dengan memuji-Nya. (10 kali). Maha suci Allah dan dengan memuji-Nya. Maha suci Allah yang maha agung dan dengan memuji-Nya.


(16) Sholawat Nabi

ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุตَู„ِّ ุนَู„َู‰ ุญَุจِูŠْุจِูƒَ ุณَูŠِّุฏِู†َุง ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَุนَู„َู‰ ุขู„ِู‡ِ ูˆَุตَุญْุจِู‡ِ ูˆَุณَู„ِّู…ْ 
(3 kali)

ุงَุฌْู…َุนِูŠْู†َ

Artinya, “Ya Allah, tambahkanlah rahmat dan kesejahteraan untuk kekasih-Mu, yaitu pemimpin kami, Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya semua. (3 kali). Al-Fatihah.”


(17) Surat Al-Ahzab ayat 56

  ุงِู†َّ ุงู„ู„ู‡َ ูˆَู…َู„ุงَุฆِูƒَุชَู‡ُ ูŠُุตَู„ُّูˆู†َ ุนَู„َู‰ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ، ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„َّุฐِูŠْู†َ ุขู…َู†ُูˆْุง ุตَู„ُّูˆْุง ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„ِّู…ُูˆุง ุชَุณْู„ِูŠْู…ًุง

Artinya, “Sungguh Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bacalah shalawat untuknya dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”  

(18) Surat Al Fatihah

ุจِุณْู…ِ ุงู„ู„ู‡ِ ุงู„ุฑَّุญْู…َู†ِ ุงู„ุฑَّุญِูŠْู…ِ. ุงَู„ْุญَู…ْุฏُ ู„ِู„ู‡ِ ุฑَุจِّ ุงู„ْุนَุงู„َู…ِูŠْู†َ. ุงَู„ุฑَّุญْู…َู†ِ ุงู„ุฑَّุญِูŠْู…ِ. ู…َุงู„ِูƒِ ูŠَูˆْู…ِ ุงู„ุฏِّูŠْู†ِ. ุงِูŠَّุงูƒَ ู†َุนْุจُุฏُ ูˆَุงِูŠَّุงูƒَ ู†َุณْุชَุนِูŠْู†ُ. ุงِู‡ْุฏِู†َุง ุงู„ุตِّุฑَุงุทَ ุงู„َّู…ُุณْุชَู‚ِูŠْู…َ. ุตِุฑَุงุทَ ุงู„َّุฐِ ูŠْู†َ ุงَู†ْุนَู…ْุชَ ุนَู„َูŠْู‡ِู…ْ ุบَูŠْุฑِ ุงู„ْู…َุบْุถُูˆْุจِ ุนَู„َูŠْู‡ِู…ْ ูˆَู„َุง ุงู„ุถَّุงู„ِّูŠْู†َ. ุงَู…ِูŠู†ْ

Bismillaahirrohmaanirrohiim. Alhamdulillaahi robbil'aalamiin. Arrohmaanir rohiim. Maalikiyaumiddin. Iyyaakana'budu wa iyyaakanasta'iin. Ihdinash shiroothol mustaqiim. Shiroothol ladziina an'amta' alaihim ghoiril maghdhuubi'alaihim waladhaalliin.

Artinya, “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terlontar. Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Yang maha pengasih lagi maha penyayang. Yang menguasai hari pembalasan. Hanya kepada-Mu kami menyembah. Hanya kepada-Mu pula kami memohon pertolongan. Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Kauanugerahi nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat. Semoga Kaukabulkan permohonan kami.”


5. Doa Tahlil

ุฃَุนُูˆุฐُ ุจِุงู„ู„َّู‡ِ ู…ِู†َ ุงู„ุดَّูŠْู€ุทَุงู†ِ ุงู„ุฑَّุฌِูŠู€ู…ِ , ุจِุณْู…ِ ุงู„ู„ّٰู‡ِ ุงู„ุฑَّุญْู…ٰู†ِ ุงู„ุฑَّุญِูŠْู…ِ , ุงู„ْุญَู…ْุฏُ ู„ِู„ّٰู‡ِ ุฑَุจِّ ุงู„ْุนَุงู„َู…ِูŠْู†َ ุญَู…ْุฏًุง ูŠُّูˆَุงูِู‰ ู†ِุนَู…َู‡ُ ูˆَูŠُูƒَุงูِู‰ุกُ ู…َุฒِูŠْุฏَู‡ُ، ูŠَุง ุฑَุจَّู†َุง ู„َูƒَ ุงู„ْุญَู…ْุฏُ ูƒَู…َุง ูŠَู†ْุจَุบِูŠْ ู„ِุฌَู„َุงู„ِ ูˆَุฌْู‡ِูƒَ ูˆَุนَุธِูŠْู…ِ ุณُู„ْุทَุงู†ِูƒَ، ุณُุจْุญَุงู†َูƒَ ู„َุง ู†ُุญْุตِู‰ ุซَู†َุงุกً ุนَู„َูŠْูƒَ ุฃَู†ْุชَ ูƒَู…َุง ุฃَุซْู†َูŠْุชَ ุนَู„َู‰ ู†َูْุณِูƒَ، ูَู„َูƒَ ุงู„ุญَู…ْุฏُ ู‚َุจْู„َ ุงู„ุฑِّุถَู‰ ูˆَู„َูƒَ ุงู„ุญَู…ْุฏُ ุจَุนْุฏَ ุงู„ุฑِّุถَู‰ ูˆَู„َูƒَ ุงู„ุญَู…ْุฏُ ุฅِุฐَุง ุฑَุถِูŠْุชَ ุนَู†َّุง ุฏَุงุฆِู…ًุง ุฃَุจَุฏًุง

ุงู„ู„َّู‡ُู€ู…َّ ุตَู„ِّ ุนู„َู‰ ุงู„ุฐَّุงุชِ ุงู„ู…ُูƒَู…َّู„َุฉِ ูˆَุงู„ุฑَّุญْู…َุฉِ ุงู„ู…ُู†َุฒَّู„َุฉِ ุณَูŠِّุฏِู†َุง ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَุนَู„َู‰ ุงَู„ِู‡ِ ูˆَุตَุญْุจِู‡ِ ูˆَุณَู„ِّู…ْ

ูˆَุตَู„ِّ ุงู„ู„َّู‡ُู€ู…َّ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูŠَุง ุฐَุง ุงู„ุจَู‡َุงุกِ ูˆَุงู„ุฌَู„َุงู„ِ ุจُูƒْุฑَุฉً ูˆَุฃَุตِูŠْู„ًุง

ุงู„ู„َّู‡ُู€ู…َّ ูƒَู…َุง ุฎَุตَّุตْุชَู†َุง ุจِูƒِุชَุงุจِูƒَ ุงู„ูƒَุฑِูŠْู…ِ ูˆَู‡َุฏَูŠْุชَู†َุง ุฅِู„َู‰ ุตِุฑَุงุทِูƒَ ุงู„ู…ُุณْุชَู‚ِูŠْู…ِ، ูˆุฃَุตْู„ِุญْ ุจِู‡ِ ู…ِู†َّุง ุฌَู…ِูŠْุนَ ู…َุง ูَุณَุฏَ، ูˆَุทَู‡ِّุฑْ ุจِู‡ِ ู…ِู†َّุง ู…َุง ุธَู‡َุฑَ ูˆَู…َุง ุจَุทَู†َ

ุงู„ู„َّู‡ُู€ู…َّ ุงุดْุฑَุญْ ุจِุงู„ู‚ُุฑْุขู†ِ ุตُุฏُูˆْุฑَู†َุง ูˆَูŠَุณِّุฑْ ุจِู‡ِ ุฃُู…ُูˆْุฑَู†َุง ูˆَุนَุธِّู…ْ ุจِู‡ِ ุฃُุฌُูˆْุฑَู†َุง ูˆَุญَุณِّู†ْ ุจِู‡ِ ุฃَุฎْู„َุงู‚َู†َุง ูˆَูˆَุณِّุนْ ุจِู‡ِ ุฃَุฑْุฒَุงู‚َู†َุง ูˆَู†َูˆِّุฑْ ุจِู‡ِ ู‚ُุจُูˆْุฑَู†َุง

ุงู„ู„َّู‡ُู€ู…َّ ุงุฌْุนَู„ْ ุซَูˆَุงุจَ ู…َุง ู‚َุฑَุฃْู†َุงู‡ُ ูˆَุจَุฑَูƒَุฉَ ู…َุง ุชَู„َูˆْู†َุงู‡ُ ูˆَุตَู„َّูŠْู†َุงู‡ُ ุนَู„َู‰ ู†َุจِูŠِّูƒَ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ّٰู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูˆَู…َุง ู‡َู„َู„ْู†َุง ู‡َุฏِูŠَّุฉً ุจَุงู„ِุบَุฉً ูˆَุฑَุญْู…َุฉً ู…ِู†ْูƒَ ู†َุงุฒِู„َุฉً ู†ُู‚َุฏِّู…ُู‡َุง ูˆَู†ُู‡ْุฏِูŠْู‡َุง ุงِู„َู‰ ุญَุถَุฑَุงุชِ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ุงู„ุฃَูƒْุฑَู…ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ّٰู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ، ุซُู…َّ ุงِู„َู‰ ุฃَุฑْูˆَุงุญِ ุขุจَุงุฆِู‡ِ ูˆَุฅِุฎْูˆَุงู†ِู‡ِ ู…ِู†َ ุงู„ู†َّุจِูŠِّูŠْู†َ ูˆَุงู„ู…ُุฑْุณَู„ِูŠْู†َ ูˆَุฅِู„َู‰ ู…َู„َุงุฆِูƒَุฉِ ุงู„ู„ّٰู‡ِ ุงู„ْู…ُู‚َุฑَّุจِูŠْู†َ ูˆَุงู„ูƒَุฑُّูˆْุจِูŠِّูŠْู†َ، ูˆَุงِู„َู‰ ุฃَุฑْูˆَุงุญِ ุณَุงุฏَุงุชِู†َุง ุฃَุจِูŠ ุจَูƒْุฑٍ ูˆَุนُู…َุฑَ ูˆَุนُุซْู…َุงู†َ ูˆَุนَู„ِูŠٍّ، ูˆَุฅِู„َู‰ ุงู„ุจَู‚ِูŠَّุฉِ ุงู„ุนَุดْุฑَุฉِ ุงู„ู…ُุจَุดَّุฑَุฉِ ุจِุงู„ุฌَู†َّุฉِ ูˆَุณَุงุฆِุฑِ ุงู„ุตَّุญَุงุจَุฉِ ูˆَุงู„ู‚َุฑَุงุจَุฉِ ูˆَุงู„ุชَّุงุจِุนِูŠْู†َ ูˆَุฅِู„َู‰ ุฃَุฑْูˆَุงุญِ ุงู„ุญَุณَู†ِ ูˆَุงู„ุญُุณَูŠْู†ِ ูˆَุฃُู…ِّู‡ِู…َุง ุณَูŠِّุฏَุชِู†َุง ูَุงุทِู…َุฉَ ุงู„ุฒَّู‡ْุฑَุงุกِ ูˆَุณَูŠِّุฏَุชِู†َุง ุฎَุฏِูŠْุฌَุฉَ ุงู„ูƒُุจْุฑَู‰ ูˆَุณَูŠِّุฏِู†َุง ุญَู…ْุฒَุฉَ ูˆَุงู„ุนَุจَّุงุณِ ูˆَุงู„ุดُّู‡َุฏَุงุกِ ุงู„ุจَุฏْุฑِูŠِّูŠْู†َ ูˆَุงู„ุฃُุญُุฏِูŠِّูŠْู†َ ูˆَุฅِู„َู‰ ุฃَุฑْูˆَุงุญِ ุงู„ุฎِุถْุฑِ ูˆَุฅِู„ْูŠَุงุณَ ูˆَุณَูŠِّุฏِู†َุง ุนَุจْุฏِ ุงู„ู„ّٰู‡ِ ุงุจْู†ِ ุนَุจَّุงุณٍ ูˆَุฅِู„َู‰ ุฃَุฑْูˆَุงุญِ ุงู„ุฃَุฑْุจَุนَุฉِ ุงู„ุฃَุฆِู…َّุฉِ ุงู„ู…ُุฌْุชَู‡ِุฏِูŠْู†َ ูˆَู…ُู‚َู„ِّุฏِูŠْู‡ِู…ْ ูِูŠ ุงู„ุฏِّูŠْู†ِ ูˆَุฅِู„َู‰ ุฃَุฑْูˆَุงุญِ ุงู„ุนُู„َู…َุงุกِ ุงู„ุนَุงู…ِู„ِูŠْู†َ ูˆَุงู„ู‚ُุฑَّุงุกِ ูˆَุฃَุฆِู…َّุฉِ ุงู„ุญَุฏِูŠْุซِ ูˆَุงู„ู…ُูَุณِّุฑِูŠْู†َ ูˆَุณَุงุฏَุงุชِู†َุง ุงู„ุตُّูˆْูِูŠَّุฉِ ุงู„ู…ُุญَู‚ِّู‚ِูŠْู†َ ูˆَุฅِู„َู‰ ุฑُูˆْุญِ ุงู„ู‚ُุทْุจِ ุงู„ุฑَّุจَّุงู†ِูŠِّ ูˆَุงู„ุนَุงุฑِูِ ุงู„ุตَّู…َุฏَุงู†ِูŠِّ ุณَูŠِّุฏِูŠْ ุนَุจْุฏِ ุงู„ู‚َุงุฏِุฑِ ุงู„ุฌَูŠْู„َุงู†ِูŠّ ูˆَุณَูŠِّุฏِูŠْ ุฃَุญْู…َุฏَ ุงู„ุจَุฏَูˆِูŠِّ ูˆَุณَูŠِّุฏِูŠْ ุฃَุญْู…َุฏَ ุงู„ุฑِّูَุงุนِูŠِّ ูˆَุณَูŠِّุฏِูŠْ ุฅِุจْุฑَุงู‡ِูŠْู…َ ุงู„ุฏَّุณُูˆْู‚ِูŠِّ ูˆَุณَูŠِّุฏِูŠْ ุฃَุจِูŠ ุงู„ู‚َุงุณِู…ِ ุงู„ุฌُู†َูŠْุฏِ ุงู„ุจَุบْุฏَุงุฏِูŠِّ ูˆَุณَูŠِّุฏِูŠْ ุฃَุญْู…َุฏَ ุงุจْู†ِ ุนَู„ْูˆَุงู†َ ูˆَุณَูŠِّุฏِูŠْ ุฃَุจِูŠ ุทَุงู„ِุจٍ ุงู„ู…َูƒِّูŠِّ ูˆَุฅِู„َู‰ ุฃَุฑْูˆَุงุญِ ูƒُู„ِّ ูˆَู„ِูŠٍّ ูˆَูˆَู„ِูŠَّุฉٍ  ู„ِู„ّٰู‡ِ ู…ِู†ْ ู…َุดَุงุฑِู‚ِ ุงู„ุฃَุฑْุถِ ูˆَู…َุบَุงุฑِุจِู‡َุง ุจَุฑِّู‡َุง ูˆَุจَุญْุฑِู‡َุง ุฃَูŠْู†َู…َุง ูƒَุงู†ُูˆْุง ูˆَูƒَุงู†َ ุงู„ูƒَุงุฆِู†ُ ูِูŠ ุนِู„ْู…ِูƒَ ูˆَุญَู„َّุชْ ุฃَุฑْูˆَุงุญُู‡ُู…ْ ูŠَุง ุฑَุจَّ ุงู„ุนَุงู„َู…ِูŠْู†َ

ูˆَุฅِู„َู‰ ุฃَุฑْูˆَุงุญِ ุณَุงุฏَุงุชِู†َุง ุฃَู‡ْู„ِ ุงู„ู…ُุนَู„َّุง ูˆَุงู„ุดُّุจَูŠْูƒَุฉِ ูˆَุงู„ุจَู‚ِูŠْุนِ ูˆَุฃَู…ْูˆَุงุชِ ุงู„ู…ُุณْู„ِู…ِูŠْู†َ ูƒَุงูَّุฉً ุนَุงู…َّุฉً ูˆَูِูŠ ุตَุญَุงุฆِูِ ู…َู†ْ ู„َุง ุฒَุงุฆِุฑَ ู„َู‡ُ ูˆَู„َุง ุฐَุงูƒِุฑَ ู„َู‡ُ ุนُู…َّ ุงู„ุฌَู…ِูŠْุนَ ุจِุฑَุญْู…َุชِูƒَ ูŠَุง ุฃَุฑْุญَู…َ ุงู„ุฑَّุงุญِู…ِูŠْู†َ

ุงู„ู„َّู‡ُู€ู…َّ ุงุฑْุญَู…ْู‡ُ ุจِุงู„ู‚ُุฑْุขู†ِ ุงู„ุนَุธِูŠْู…ِ ุฑَุญْู…َุฉً ูˆَุงุณِุนَุฉً، ูˆَุงุบْูِุฑْ ู„َู‡ُ ู…َุบْูِุฑَุฉً ุฌَุงู…ِุนَุฉً ูŠَุง ู…َุงู„ِูƒَ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ูˆَุงู„ุขุฎِุฑَุฉِ ูŠَุง ุฑَุจَّ ุงู„ุนَุงู„َู…ِูŠْู†َ

ุงู„ู„َّู‡ُู€ู…َّ ุฃَู†ْุฒِู„ْ ูِูŠْ ู‚َุจْุฑِู‡ِ ุงู„ุฑَّุญْู…َุฉَ ูˆَุงู„ุถِّูŠَุงุกَ ูˆَุงู„ู†ُّูˆْุฑَ، ูˆَุงู„ุจَู‡ْุฌَุฉَ ูˆَุงู„ุฑَูˆْุญَ ูˆَุงู„ุฑَูŠْุญَุงู†َ ูˆَุงู„ุณُّุฑُูˆْุฑَ، ู…ِู†ْ ูŠَูˆْู…ِู†َุง ู‡َุฐَุง ุฅِู„َู‰ ูŠَูˆْู…ِ ุงู„ุจَุนْุซِ ูˆَุงู„ู†ُّุดُูˆْุฑِ، ุฅِู†َّูƒَ ู…َู„ِูƒٌ ุฑَุจٌّ ุบَูُูˆْุฑٌ

ุงู„ู„َّู‡ُู€ู…َّ ุงุฌْุนَู„ِ ุงู„ู‚ُุฑْุขู†َ ุงู„ุนَุธِูŠْู…َ ูِูŠ ู‚َุจْุฑِู‡ِ ู…ُุคْู†ِุณًุง، ูˆَูِูŠ ุงู„ู‚ِูŠَุงู…َุฉِ ุดَุงูِุนًุง، ูˆَูِูŠ ุงู„ุญَุดْุฑِ ุถِูŠَุงุกً ูˆَุธِู„ًّุง ูˆَุฏَู„ِูŠْู„ًุง، ูˆَูِูŠ ุงู„ู…ِูŠْุฒَุงู†ِ ุฑَุงุฌِุญًุง ، ูˆَุนَู„َู‰ ุงู„ุตِّุฑَุงุทِ
ู†ُูˆْุฑًุง ูˆَู‚َุงุฆِุฏًุง، ูˆَุนَู†ِ ุงู„ู†َّุงุฑِ ุณِุชْุฑًุง ูˆَุญِุฌَุงุจًุง، ูˆَูِูŠ ุงู„ุฌَู†َّุฉِ ุฑَูِูŠْู‚ًุง

ุงู„ู„َّู‡ُู€ู…َّ ุนَุจْุฏُูƒَ ูˆَุงุจْู†َ ุนَุจْุฏَูŠْูƒَ ุฎَุฑَุฌَ ู…ِู†ْ ุฑَّูˆْุญِ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ูˆَุณَุนَุชِู‡َุง ูˆَู…َุญْุจُูˆْุจِู‡ِ ูˆَุงَุญِุจَّุงุฆِู‡ِ ูِูŠْู‡َุง ุงِู„َู‰ ุธู€ُู€ู„ْู…َุฉِ ุงْู„ู‚َุจْุฑِ ูˆَู…َุง ู‡ُูˆَ ู„َุง ู‚ِูŠْู‡ِ ูƒู€َุงู†َ ูŠَุดْู‡َู€ุฏُ ุงَู†ْ ู„َุง ุงِู„َู‡َ ุงِู„َّุง ุงَู†ْุชَ ูˆَุงَู†َّ ู…ُุญَู…َّุฏًุง ุนَุจْุฏُูƒَ ูˆَุฑَุณُูˆْู„ู€ُู€ูƒَ ูˆَุงَู†ْุชَ ุงَุนْู„َู…ُ ุจِู‡ِ

ุงู„ู„َّู‡ُู€ู…َّ ุงِู†َّู‡ُ ู†َุฒَู„َ ุจِูƒَ ูˆَุงَู†ْุชَ ุฎَูŠْุฑُ ู…َู†ْุฒُูˆْู„ٍ ุจِู‡ِ ูˆَุงَุตْุจَุญَ ูู€َู€ู‚ِู€ูŠْุฑًุง ุงِู„ู€َู‰ ุฑَุญْู…َุชِูƒَ، ูˆَุงَู†ْุชَ ุบَู†ِูŠٌّ ุนَู†ْ ุนَุฐَุงุจِู‡ِ ูˆَู‚ู€َู€ุฏْ ุฌِุฆْู†َุงูƒَ ุฑَุงุบِุจِูŠْู†َ ุงِู„ู€َู€ูŠْูƒَ ุดُูู€َู€ุนَุงุกَ ู„ู€َู€ู‡ُ، ุงู„ู„َّู‡ُู€ู…َّ ุงِู†ْ ูƒَุงู†َ ู…ُุญْุณِู†ًุง ูَุฒِุฏْ ูِูŠْ ุงِุญْุณَุงู†ِู‡ِ ูˆَุงِู†ْ ูƒู€َุงู†َ ู…ُุณِูŠْุฆًุง ูَุชَุฌَุงูˆَุฒْ ุนَู†ْู‡ُ ูˆَู„ู€َู€ู‚ู€ِّู€ู‡ِ ุจِุฑَุญْู…َุชِูƒَ ุฑِุถَุงูƒَ ูˆَู‚ِู‡ِ ูِุชْู†َุฉَ ุงْู„ู‚ู€َู€ุจْุฑِ ูˆَุนَู€ู€َุฐุงุจَู‡ُ ูˆَุงูْุณَุญْ ู„ู€َู€ู‡ُ ูِูŠْ ู‚ู€َู€ู€ุจْุฑِู‡ِ ูˆَุฌَุงูِ ุงْู„ุงَุฑْุถَ ุนَู†ْ ุฌَู†ْุจَูŠْู‡ِ ูˆَู„ู€َู€ู€ู‚ู€ِّู€ู‡ِ ุจِุฑَุญْู…َุชِูƒَ ุงْู„ุงَู…ْู†َ ู…ِู†ْ ุนَุฐَุงุจِูƒَ ุญَุชَّู‰ ุชَุจْุนَุซَู€ู€ู‡ُ ุขู…ِู†ًุง ุงِู„ู€َู‰ ุฌَู†َّุชِูƒَ ุจِุฑَุญْู…َุชِูƒَ ูŠَุงุงَุฑْุญَู…َ ุงู„ุฑَّุงุญِู…ِูŠْู†َ

ุงู„ู„َّู‡ُู€ู…َّ ุงุบْูِุฑْ ู„َู‡ُ ูˆَุงุฑْุญَู…ْู‡ُ ูˆَุนَุงูِู‡ِ ูˆَุงุนْูُ ุนَู†ْู‡ُ

ุงู„ู„َّู‡ُู€ู…َّ ุงุบْูِุฑْ ู„َู‡ุง ูˆَุงุฑْุญَู…ْู‡ุง ูˆَุนَุงูِู‡ุง ูˆَุงุนْูُ ุนَู†ْู‡ุง ูŠَุง ุฑَุจَّ ุงู„ุนَุงู„َู…ِูŠْู†َ

ูˆَุงุฌْุนَู„ِ ุงู„ู„َّู‡ُู€ู…َّ ุซَูˆَุงุจًุง ู…ِุซْู„َ ุซَูˆَุงุจِ ุฐَุงู„ِูƒَ ูِูŠ ุตَุญَุงุฆِูِู†َุง ูˆَูِูŠ ุตَุญَุงุฆِูِ ูˆَุงู„ِุฏِูŠْู†َุง ูˆَู…َุดَุงุฆِุฎِู†َุง ูˆَุงู„ุณَّุงุฏَุงุชِ ุงู„ุญَุงุถِุฑِูŠْู†َ ูˆَูˆَุงู„ِุฏِูŠْู‡ِู…ْ ูˆَู…َุดَุงุฆِุฎِู‡ِู…ْ ุฎَุงุตَّุฉً ูˆَุฅِู„َู‰ ุฃَู…ْูˆَุงุชِ ุงู„ู…ُุณْู„ِู…ِูŠْู†َ ุนَุงู…َّุฉً

ุงู„ู„َّู‡ُู€ู…َّ ุฐَูƒِّุฑْู†َุง ู…ِู†ْู‡ُ ู…َุง ู†َุณِูŠْู†َุง ูˆَุนَู„ِّู…ْู†َุงู‡ُ ู…َุง ุฌَู‡ِู„ْู†َุง ูˆَุงุฑْุฒُู‚ْู†َุง ุชِู„َุงูˆَุชَู‡ُ ุขู†َุงุกَ ุงู„ู„َّูŠْู„ِ ูˆَุฃَุทْุฑَุงูَ ุงู„ู†َّู‡َุงุฑِ، ูˆَุงุฌْุนَู„ْู‡ُ ุญُุฌَّุฉً ู„َّู†َุง ูˆَู„َุง ุชَุฌْุนَู„ْู‡ُ ุญُุฌَّุฉً ุนَู„َูŠْู†َุง

ุงู„ู„َّู‡ُู€ู…َّ ุจِูَุถْู„ِูƒَ ุนُู…َّู†َุง، ูˆَุจِู„ُุทْูِูƒَ ุญُูَّู†َุง، ูˆَุนَู„َู‰ ุงู„ุฅِุณْู„َุงู…ِ ูˆَุงู„ุฅِูŠْู…َุงู†ِ ุฌَู…ْุนًุง ุชَูˆَูَّู†َุง ูˆَุฃَู†ْุชَ ุฑَุงุถٍ ุนَู†َّุง، ูˆَุงุฎْุชِู…ْ ุจِุงู„ุตَّุงู„ِุญَุงุชِ ุฃَุนْู…َุงู„َู†َุง

ุฑَุจَّู†َุงٓ ุงٰุชِู†َุง ูِู‰ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ุญَุณَู†َุฉً ูˆَّูِู‰ ุงู„ْุงٰุฎِุฑَุฉِ ุญَุณَู†َุฉً ูˆَّู‚ِู†َุง ุนَุฐَุงุจَ ุงู„ู†َّุงุฑِ

  ุจِุฑَุญْู…َุชِูƒَ ูŠَุง ุฃَุฑْุญَู…َ ุงู„ุฑَّุงุญِู…ِูŠْู†َ، ูˆَุงู„ْุญَู…ْุฏُ ู„ِู„ّٰู‡ِ ุฑَุจِّ ุงู„ْุนٰู„َู…ِูŠْู†َ


A'udzubillahi minassyaithaanir rajiim.

Bismillahirrahmanirrahim.

Al-hamdu lillฤhi rabbil-'alamin hamdaay yuwaafii ni'amahuu wa yukaafiu maziidah. Yaa rabbanaa lakal hamdu kamaa yanbaghii lijalaali wajhika wa 'adhii-mi sulthaanik. Subhaanaka laa nuhsi tsanaa a alaika anta kamaa atsnaita 'alaa nafsika, falakal hamdu qablar ridha walakal hamdu ba'dar ridha walakal hamdu idzaa radiita 'anna daa iman abadan.

Allahumma sholli 'aladzaatil mukammalati warrohmatil munajjalati Sayyidinaa Muhammadin wa 'ala alihi wa shahbihi wasallam.

Wassholli Allahumma รกlaihi yaa dzal bahaai waljalali bukrotan waashila.

Allahumma kamaa khissostanaa bikitaabikal karlimi

hadaitanaa llaa sirootikal mustaqiim, wa aslih bihi minna jamiia' maa fasad, wa tohhir bihi minnaa maa dzohara wamaa bathana.

Allahummassrah bilqur'aaani suduu ronaa wa yassir bihi umuu rona wa 'adhim bihi ajuu ronaa wahassin bihi akhlaagonaa wawassi' bihi arjaqnaa wa nawwir bihi qubuuronaa.

Allahumma tsawaaba maa qaraa naahu wabarakata maa talaunahu wasollainaahu 'alaa nabiiyika Muhammad Shallallahu alaihi wasallama wama halalnaa hadiyyata baalighata warahmata minka naajilata nuqaddimuha wanuhdiihaa ilaa hadaratinnabiyyil akrami shallalahu 'alaihi wasallam, tsamma ilaa arwaahi aabaa ihii wa ikhwaanihil minannabiyyiinaa walmursaliina wa ilaa malaaikatillahil muqarrabiin walkarrubiyyiin, wailaa arwaahi saadaatina abii bakri wa umara wa ustmanaa wa 'ali wa ilalbaqiyyatil asratil mubassarati biljannati wasaairis sohaabati walqaraabati wattabi'iina waila arwahil hasani wal husaini waamihimaa sayyidatina fatimatajjahra i wasayyidatina khadiijatal kubra wasayyidatina hamzah wal abbasi wassahaadaill badriyyina wal ahuddiyiina wa ilaa arwahil khidri wa ilyaasa wasayyidina abdillahibni abbasi wa ilaa arwahil arba'atil aimmatil muztahidiina wamuqallidiihim fiddiin wa ilaa arwahil ulamail 'aamiliina wal qurraai wa aimmatil haditsii walmufassirina wasaa datinas sufiyyatil muhaqqina wa ilaa ruuhi qutbir rabbaniyyi wal 'arifis somadaniyyi sayyidii 'abdil qaadiril zalailaa niyyi wa sayyidil ahmadal badawiyyi wasayyidi ahmadarrifaaiyyi wasayyidi ibraahiimad dasuuqiyyi wasayydidi abil qaasimiil junaidil bagdaadiyyi wa sayyidi ahmadabni 'alwaana wasayyidi abii thaalibil makkiyyi wa ilaa arwahi kulli waliyyi wawaliyyatil lillaahi min masyaariqil ardhi wamaghaaribiha barrihaa wabahrihaa ainamaa kaanu wakaanal kaa inu fii ilmika wahallat arwaahuhum Yaa Rabbal 'Aalamaiin.

Wa ilaa arwaahi sadaatina ahlil mu'alla wassyubaikati walbaqii'i wa amwaatil muslimiina kaaffatan 'aammatan wafii sohaaifi man laa zaaira lahu walaa dzaakira lahu 'ammal zamii'a birahkmatika Aaa Arhamar Rahimiin.

Allahummarhamhu bilqur'aanil 'adziimi warohmatan waasi'atan, wagfirlahu magfirotan jaamia'tan Yaa Maalikadunyaa wal aakhiroti Yaa Rabbal'alamin.

Allahumma anjil fii Qobrihir-Rahmata waddiyaa a wannuur, walbahjata warauha waraihaana wassuruura, minyauminaa hadzaa ilaa yaumil ba'tsi wannusyuur, innaka malikun robbun gofuur.

Allahummaj'alil qur'aanal adziima fii qabrihi mu nisan, wafiil qiyaamati syaafi'ann, wafiil hassri dhiyaa an wa dzilla wadaliila, wafiil miijaani raajihan, wa 'alaas siraati nuu ran waqaaidaa, wa 'aninnaari sitran wahijaaba, wafiljannati rafiiga.

Allahumma 'abduka wabna 'abdaika khorja mirruhid-dunyaa wasa 'atiha wamahbuu bihi wawahibaihi fiiha ilaa dzullamatil qabri wamaa Huwa Laa qiihi kaana yasshadu allaa ilaha illaa anta wa anna Muhammadan 'abduka warasuuluka wa Anta a'lamu bihi.

Allahumma Innahu ajala bika wa Anta Khoiru manjuulin bihi waasbaha faqiiran ilaa rahmatika, wa Anta Ghaniyyun an 'adzaa bihi wa qad ji naka raa gibiina ilaika syufa'aa alahu, Allahumma inkaana muhsinan fajid fii ihsaanihi wa inkaana muhsilan fatajaa waj anhu walaqayyihi birahmatika ridhooka waqihi fitnatal qabri wa 'adzaa bahu wagsah lahu fii qabrihi wajaa fil ardhi anjanbaihi walaqayyihi birahmatikal tamna min 'adzaa bika hattaa tab'atsahu aamina llaaa jannatika birahmatika yaa arhamarar raahimiiin.

Allahummagfirlahu warhamhu wa'aafihi wa'fuanhu.

Allahummagfirlaha warhamha wa'aafiha wa'fuanha Yaa Rabbal 'Alamin.

Waj'ali Allahumma tsawaa ban mitsla tsawaabi dzaalika fii sohaa ifinaa wa fii sohaaifi walidiinaa wamasyaa ikhina wassaadaatil haadiriina wawalidiihim wamasyaa ikhihim khaasota wa llaa amwaatil muslimiin 'aammah.

Allahumma dzakkir naa minhu maa nasiina wa 'Aallimnaahu maa jahilnaa warjuqnaa tilaa wa tahu aana allaili wa atraafan nahaar, waj'alhu hujatal lanaa walaa taj'alhu hujjatan 'alainaa.

Allahumma bifadlika 'ummanaa, wabilutfika huffanaa, wa 'alal islaami wal-iimaani jam'an tawafana wa anta raadhi'anna, wakhtim bissoolihati a'maalana. Rabbana aatina fid dunya hasanatan wafil aakhiroti hasanatan waqinaa 'adzaabannar, birahmatika Yaa Arhamar Raahmiin, walhamdulillahi Rabbil 'Aalamiin.