Selasa, 20 Januari 2026

Al Fatihah Surah penuh makna mendalam

 



17 Kali

Dalam sehari semalam, tanpa kita sadari, ada tujuh belas kali lidah ini kembali ke pintu yang sama.

Pintu itu bernama Al-Fātiḥah.


Bukan kebetulan ia diulang.

Bukan pula sekadar syarat sah.

Ia adalah perjalanan pulang

yang diulang agar kita tak tersesat terlalu jauh.


Tujuh belas kali sehari, kita diajari cara berdiri sebagai manusia.


Al-ḥamdu lillāhi rabbil ‘ālamīn.

Tujuh belas kali kita dilatih untuk tidak memulai hidup dengan keluhan.

Bukan karena hidup selalu baik, tetapi karena Tuhan tetap Rabb—Pengasuh—bahkan saat dunia terasa tidak ramah.

Al-Fātiḥah tidak mengajarkan syukur setelah bahagia, tetapi syukur sebelum segalanya masuk akal.


Ar-raḥmān ir-raḥīm.

Tujuh belas kali kita diingatkan:

Tuhan tidak mendekati manusia dengan ancaman terlebih dahulu, tetapi dengan kasih.

Rahmat yang mendahului murka.

Dalam dunia yang keras, ayat ini mengoreksi cara kita mencintai: tegas tanpa kehilangan welas asih.


Māliki yawmid-dīn.

Tujuh belas kali kita diingatkan bahwa hidup bukan hanya hari ini.

Bahwa kekuasaan, popularitas, dan kemenangan….semuanya sementara.

Ada hari ketika semua topeng runtuh, dan yang tersisa hanyalah siapa kita sebenarnya.

Ayat ini menjaga manusia dari mabuk kuasa dan putus asa.


Iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn.


Inilah inti.

Tujuh belas kali sehari kita meluruskan relasi:

menyembah tanpa memperalat Tuhan,

dan meminta tolong tanpa merasa mandiri secara palsu.

Ini ayat yang mematahkan kesombongan spiritual sekaligus menyembuhkan kelelahan jiwa.



Ihdinaṣ-ṣirāṭal mustaqīm.


Tujuh belas kali kita mengakui sesuatu yang jarang diucapkan dengan jujur:

bahwa kita bisa salah arah.

Bahwa kecerdasan, pengalaman, dan niat baik belum tentu cukup.

Hidayah bukan hadiah sekali jadi, tetapi kebutuhan harian, seperti napas. Petunjuk yang kita minta sebanyak 17 kali ini adalah nafas kehidupan kita


Ṣirāṭallażīna an‘amta ‘alaihim.


Tujuh belas kali kita diminta untuk bercermin pada mereka yang hidupnya diberkahi,

bukan yang sekadar viral.

Bukan yang paling lantang, tetapi yang paling lurus.

Ini ayat yang mendidik kita memilih teladan, bukan sekadar tokoh.


Ghairil maghḍūbi ‘alaihim walāḍ-ḍāllīn.


Tujuh belas kali kita diingatkan bahwa kebenaran bisa rusak oleh dua hal:

kesombongan yang tahu tapi menolak,

dan ketulusan yang tersesat tanpa ilmu.

Ayat ini menjaga iman dari keras kepala dan juga kebodohan yang sesat


Al-Fātiḥah dibaca tujuh belas kali karena manusia mudah lupa.

Lupa bersyukur.

Lupa arah.

Lupa batas.

Lupa bahwa hidup ini bukan sekadar tentang berhasil, tetapi tentang benar, dalam pelukan kasihNya


Dan karena itu pula shalat sehari- semalam tidak diberi satu Al-Fātiḥah saja.

Ia diberi tujuh belas.

Agar ketika satu bacaan dibaca tanpa hati,

masih ada enam belas kesempatan untuk kembali.


Mengulang-ulang bacaan al-Fatihah sampai 17 kali itu seperti mengulang kalimat cinta berkali-kali untukNya



Tabik,

Nadirsyah Hosen (penulis)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar