Langsung ke konten utama

Usus Buntu 1992

Usus Buntu – 1992 




Tahun 1992, masa remaja yang penuh cerita.
Aku masih inget  banget, hari itu lagi ujian sekolah, kertas soal baru dibagikan. 
Perutku tiba-tiba nyeri, menusuk seperti alarm tubuh, mual dan rasanya mau muntah. Aku buru-buru mengisi pilihan ganda, hanya sepuluh menit selesai, lalu menyerahkan kertas.  

“Wah cepat sekali?” tanya guru dengan heran.  
“Ya Pak, izin perut saya sakit,” jawabku sambil menahan rasa.  

Aku berlari keluar, buru² naik angkot Kopragon Suzuki Carry hijau. Jalanan sepi, angin siang menampar wajah. Sampai pemberhentian bunderan Untirta, Tapi begitu turun, baru berjalan beberapa langkah, mual tak tertahankan, hoek muntah!!! di pinggir jalan, keringat bercucuran, langka kupercepat menuju rumah.  

Di rumah, ibu dan adik panik. Bapak segera pulang, wajahnya tegang. Tak banyak kata, hanya tindakan: membawaku ke RS.  

Di IGD, dokter menekan  perutku atas, tengah dan pas ditekan di bawah kanan
“Aduh… sakit sekali, Dok!”  
Dokter menyuruh mengangkat kaki.
Lho kok gak kuat, perut sakit banget.

Dokter mengangguk, tenang tapi tegas:  
“Ini usus buntu. Harus dioperasi.”  




Karena fasilitas kota terbatas, aku dibawa dengan ambulans Mitsubishi L300 menuju RS Pelni Jakarta. Sirene meraung, bapak dan ibu mengiringi dari belakang. 
Tau gak sih, perjalanan terhambat kirab remaja di Balaraja. Inget kirab remaja tahun 1992 yg diprakarsai pemerintah waktu itu? 
Suara drumband dan lagu mars membahana, membuat ambulans terjebak. 

Aku hanya bisa tersenyum getir:  
“Waduh, bahkan ambulans pun kalah sama kirab remaja…”  
"Masih lama ya pak?' Tanyaku ke pak supir 
"Gak tau nih dik, kita gak bisa lewat"

Obat nyeri bekerja, rasa sakit mereda. Aku menatap langit sore itu dari jendela ambulans, seolah perjalanan ini adalah ujian lain dalam hidup.  

Sampai di RS Pelni sudah malam.








Lorong panjang temaram menyambut. Bau khas rumah sakit bercampur dengan aura angker, melewati kamar jenazah yang membuat bulu kuduk merinding. 
Tapi di balik itu, ada wajah ramah suster cantik yang sigap: Mbak Zahara dan Weny. Senyum mereka seperti cahaya kecil di tengah suramnya lorong.  

Kamar rawatku berdua dengan Heri Maskita Ketaren, anak kelas 2 SMA 68 yg hampir sebaya. Ia ditemani bapaknya, menunggu pemeriksaan paru-paru. 
Malam itu kami sama-sama remaja yang harus berjuang, ditemani bapak yang tidur di kursi, sementara ibu dan adik menginap di rumah Budhe di Cipinang.  

Pagi datang, persiapan operasi dimulai. 
Kateter dipasang, aku meringis sambil bercanda:  
“Duh, maluuuu… anu saya dipegang pegang.”  
Suster hanya tersenyum, menenangkan.  

Ternyata dipasang kateter itu sesakit itu rasanya.

Lalu usus dibersihkan dengan cairan, membuat tubuh terasa plong. Aku digiring ke ruang operasi, memakai baju hijau. 

Dokter bedah tersenyum, berkata:  
“Selamat tidur.”  

Mataku berat, cahaya silau, lalu gelap. Tidur paling lelap yang pernah kurasakan.  

Beberapa jam kemudian, samar-samar kudengar suara:  

“Halo Yok, Suryo Saputro, bangun…!”  

Aku membuka mata, bingung. Operasi sudah selesai. Alhamdulillah, semuanya lancar.  

Perawat mengingatkan setengah mengancam:

“Awas, jangan turun dari tempat tidur, jangan angkat kaki. Jahitan bisa sobek.”  

Aku kembali ke kamar rawat. 
setelah operasi, saya pun harus istirahat total, bapak & ibu bergantian menjaga saya, pakdhe Aziz, Pakde Diono, Bude Mami, mas Edy, Mba Nana, Mba yuni juga menjenguk, .Budhe Tati yg memang lucu beberapa kali melawak yg tentu saja membuat perut saya jadi sakit lagi hahahaha.

suasana agak mencekam.
Malam pertama setelah operasi, kamar sebelah kanan terdengar suara mengaji, qodarullah, esok paginya kami dengar info bahwa pasien kamar sebelah kanan meninggal dunia.
malam kedua, kamar sebelah kiri ndilalah kami dengar juga meninggal. 
duh, makin begidig lah suasana. 

untung ada temen ngobrol sekamar, mas Heri bawa walkman kecil yg ada speakernya, dia setel metallica album "kill em all" full satu kaset bolak balik side A side B, jadi lumayan lah ada hiburan dikit.

Setelah 3 hari hanya makan infus, akhirnya usus menunjukkan aktifitasnya : kentut hahaha

Pagi berikutnya, sarapan rumah sakit datang: bubur ayam hangat, teh manis, roti lembut. Entah kenapa, rasanya nikmat sekali. Mungkin karena tubuh lelah, mungkin karena rasa syukur.  
Kami makan di belakang kamar, disitu pemandangannya taman hijau, lumayan lah mengibur hati yg sumpek seharian tidur di kamar melulu.

kyk gini taman dibelakang kamar


akhirnya saya diperbolehkan pulang. 
tak lupa saya pamit sama mas Heri, teman sekamar,  dan mbak suster yang sudah merawat saya dengan baik.

Alhamdulillah.
pulang ke rumah lagi. 

Di balik rasa sakit, ada kenangan hangat: wajah bapak-ibu yang cemas, suster yang sigap, dokter cekatan, bahkan makanan sederhana yang terasa istimewa.
Semua menjadi mozaik perjalanan hidup — fase remaja saya. 

---

Komentar

Postingan populer dari blog ini

anak kecil dan operator telpon, sally & paul

  Saya baca cerita ini sudah lama sekali di internet, cerita ini sederhana, tapi saya suka.  Cerita seorang operator telepon dan anak kecil...  Reader's Digest Classic, originally published in 1966 as "The Voice in the Box" Waktu saya masih amat kecil, ayah sudah memiliki telepon di rumah kami. Inilah telepon masa awal, warnanya hitam, di tempelkan di dinding, dan kalau mau menghubungi operator, kita harus memutar sebuah putaran dan minta disambungkan dengan nomor telepon lain. Sang operator akan menghubungkan secara manual. Dalam waktu singkat, saya menemukan bahwa, kalau putaran di putar, sebuah suara yang ramah, manis, akan berkata : "Operator". Dan si operator ini maha tahu. Ia tahu semua nomor telepon orang lain! Ia tahu nomor telepon restoran, rumah sakit, bahkan nomor telepon toko kue di ujung kota. Pengalaman pertama dengan sang operator terjadi waktu tidak ada seorangpun dirumah, dan jempol kiri saya terjepit pintu. Saya berputar putar kesakitan dan mem...

Radio FM EDP Lib

Radio EDP LIB Cilegon  MEMOAR SEBUNGKUS STIKER BIRU: KISAH RADIO " GELAP " EDPLIB CILEGON Sunyinya Kota Baja dan Desis Gelombang AM Bagi anak-anak Cilegon yang tumbuh di era 80-an akhir dan awal 90-an, pilihan hiburan kami tidak banyak. Kota Baja ini rasanya sepi sekali setelah jam sekolah usai. Kalau mau mendengarkan musik di radio, pilihannya cuma satu: Radio “Top” di frekuensi AM 1152 Khz. Kalau bosan, kami harus memutar *tuning* agak jauh mencari radio “PBS” (Pahla Budi Sakti) AM 648 yang ada di Serang. Mendengarkan radio AM zaman itu butuh kesabaran tingkat dewa. Suaranya jauh dari kata jernih. Begitu ada lampu neon di rumah yang dinyalakan, langsung muncul suara interferensi yang khas: *“Zzzsssrrrrrzzz…”* berisik sekali. Lagunya? Ah, monoton. Putarannya tidak jauh dari Pop mendayu-dayu, Dangdut, Iwan Fals, Pance Pondaag, artis-artis JK Records - lagu cengeng. Tidak ada yang sehitz radio-radio Jakarta. "Bapak lu tuh, tiap hari dengerinnya lagu itu-itu mulu. Kuping ...

Doa sholat hajat

Bacaan Doa Setelah Sholat Hajat Lengkap Beserta Latin dan Artinya Doa Sholat Hajat  - Setiap manusia pasti memiliki hajat atau kebutuhan baik yang bersifat khusus pribadi maupun yang bersifat umum. Namun terkadang hajat kita susah untuk terlaksana oleh karena itu kita di anjurkan untuk mengerjakan sholat hajat agar Allah SWT segera mengabulkan apa yang menjadi hajat kita. Sholat Hajat  ialah sholat sunnah yang dikerjakan untuk meminta kepada Allah SWT supaya yang menjadi hajat kita cepat dikabulkan oleh Allah. Waktu mengerjakannya yang baik menurut para ulama yaitu setelah mengerjakan sholat Isya sampai menjelang sholat Shubuh. Untuk bacaan  niat sholat hajat  adalah sebagai berikut: Niat Sholat Hajat أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْحَاجَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى Ushollii sunnatal haajati rok'aataini lillaahi ta'aala. Artinya: "Aku niat shalat sunah hajat dua rakaat karena Allah Ta'ala." Jumlah rakaat sholat hajat dikerjakan paling sedikit 2 rakaat dan paling banyak t...